Dalam tulisan ini, ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Dan kurasa, semuanya adalah permintaan maaf.
Pertama-tama, maafkan aku yang pergi meninggalkanmu. Entah kenapa selalu begitu. Aku selalu menjadi seseorang yang pertama mengucapkan "Daaa".
Namun ketahuilah, aku sejatinya tak ke mana-mana. Ya, fisikku melangkah ke arah lain, namun aku selalu bersamamu. Mendengarkanmu, bercerita denganmu, aku tak pernah bosan. Dan ketika kukatakan aku selalu ada, maka itu pula kebenarannya.
Jadi tetaplah jadikan aku tempatmu meluapkan isi hatimu. Sesungguhnya, aku menyukai itu.
Kedua, maafkan aku yang tak bisa memenuhi ekspektasimu. Kau mungkin ingin aku tertawa, tak hanya nampaknya saja, tapi juga tulus di dalam hati. Kau mungkin ingin aku berhenti menangis dan melanjutkan kehidupanku. Tapi sungguh aku tak bisa.
Kau tahu betul betapa bencinya aku mengulang sesuatu sedari awal setelah begitu jauh progres yang kucapai. Aku seharusnya melangkah maju, melupakan pedih hatiku, dan bercanda seperti dulu. Namun aku tak bisa, dan aku memilih untuk berdiam di tempat saja. Sampai aku tak sanggup.
Ketiga, maafkan aku yang justru gagal menjadi sandaranmu. Aku merasa, kaulah yang lebih banyak menyokongku, mendorongku dari belakang. Maaf, aku selemah ini, jasmani dan rohani, dan tak bisa berjasa apa pun untukmu.
Tapi aku berjanji, sedalam apa pun keterpurukanku, kalau kau membutuhkanku, aku tak peduli. Aku akan berlari ke arahmu dan melakukan segalanya yang kau mau.
Jangan pernah merasa bersalah.
Aku tahu dirimu. Kau mungkin, walaupun hanya sepintas, berpikir bahwa perih dan susahku saat ini, adalah ulahmu. Bisa jadi kau merasa, niat baikmu malah membawaku ke luka yang sedalam ini.
Pada akhirnya aku adalah wanita dewasa yang membuat keputusan sendiri. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu.
Aku tidak baik-baik saja, tapi aku pernah melewati yang lebih berat. Aku takkan sembuh, tapi aku masih bisa berjalan. Jangan khawatir.
Selamat Ulang Tahun. Kadomu sudah kusiapkan, dan akan kuberikan langsung padamu. Iya, terlambat pastinya. Namun aku ingin menyerahkannya padamu sendiri.
Maafkan aku, sedari dulu aku hanya menangis di depanmu. Tapi terima kasih, sudah menjadi belahan jiwaku.
Hidupmu pun tak penuh kedamaian, tapi percayalah, orang sebaik dirimu, setenang dirimu, dan selembut dirimu, akan mampu menghadapi apa pun.
Yang selalu merepotkanmu,