“My life is made up of ‘I’m sorry’. I feel like I have to apologize to people, to things, to life itself. It’s like, ‘I’m sorry to be here’. I don’t want to disturb anyone.”
— Yohji Yamamoto

blake kathryn

Janaina Medeiros

Origami Around
Peter Solarz
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost

❣ Chile in a Photography ❣
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day
AnasAbdin
$LAYYYTER
Three Goblin Art
todays bird
almost home
No title available

titsay

izzy's playlists!
Mike Driver

Andulka

tannertan36
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Singapore
seen from United States

seen from Finland
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Germany
@chocohazel
“My life is made up of ‘I’m sorry’. I feel like I have to apologize to people, to things, to life itself. It’s like, ‘I’m sorry to be here’. I don’t want to disturb anyone.”
— Yohji Yamamoto
sesuai kesanggupan
Allah tuh nggak pernah menyusahkan makhluk-Nya. semua ibadah dilakukan sesuai kesanggupan.
kalau nggak sanggup sholat sambil berdiri, kita boleh sholat sambil duduk. masih nggak sanggup? boleh sambil tiduran. sedang dalam perjalanan jauh? boleh dijamak bahkan diqoshor.
kalau nggak sanggup puasa karena sakit, boleh berbuka. puasanya diganti pada hari lain. masih nggak sanggup juga? boleh bayar fidyah.
zakat hanya berlaku bagi yang hartanya sudah mencapai nisab. haji hanya berlaku bagi yang mampu: secara finansial, secara lahir. yang sanggup, yang mampu saja.
sesuai kesanggupan itu, berlaku nggak cuma untuk urusan ibadah mahdhah. ibadah muamalah juga. bekerja, kalau nggak sanggup lagi boleh berhenti. menikah, kalau nggak sanggup lagi boleh berpisah. memaafkan orang lain, kalau nggak sanggup, boleh minta orang itu jangan menampakkan dirinya lagi di hadapan kita.
yang tahu batas kesanggupan kita, ya diri kita sendiri. Allah nggak akan kok ngasih sesuatu di luar kemampuan. ya rezeki, ya ujian. perintah dan larangan Allah juga sudah ditakar. semuanya sesuai dengan kemampuan kita, kesanggupan kita.
nggak usah berkecil hati kalau kamu sampai pada batas tidak sanggup-mu. nggak apa-apa. Allah ngerti. Allah nggak akan marah apalagi murka. Allah sayang kamu.
kalau kamu, sayang nggak sama dirimu sendiri?
Cerpen: Sombar
Sebenarnya yang menyedihkan itu bukan karena orang terdekatmu lebih cepat terkabul doa-doanya. Tentu, itu adalah kabar bahagia. Itu adalah kabar yang juga kau nantikan. Sebab kau tahu dia orang yang baik, anak dari ibu yang baik. Jikapun bisa, bahkan, kau ingin dia mendapatkan seisi dunia tepat di waktu yang dia mau.
Yang menyedihkan adalah karena orang-orang menganggap kau terluka atas kebahagiaannya, lalu ia seolah turut mengaminkan pernyataan itu.
Maksudku, terserah anggapan semua orang. Sangat mungkin bagi orang lain untuk salah paham atasmu, sebab kalian tidak saling mengenal. Tapi ketika orang terdekatmu turut mengira kau terluka dan bahkan bertanya di suatu siang di bulan-bulan awal kalian berjarak; itu yang menyakitkan.
Sebab ternyata kehadiranmu hanya segitu nilainya. Sebab ternyata kau dinilai akan terluka atas kebahagiaan orang yang hidupnya kau doakan. Begitulah malangnya hidupmu baginya.
Ternyata sejak awal selalu begitu. Kau hanya serupa sombar yang hampir tumbang, tidak kuat penopangnya, tidak juga akan dilirik orang saat harinya sedang baik-baik saja, tetapi kau selalu ada disana—lalu ditinggalkan.
kau. selalu. mudah. untuk. ditinggalkan.
Sebab aku tidak punya jawabannya.
Sebagai orang dewasa dengan rutinitas yang tidak biasa, berkenalan dengan orang baru sering kali terasa menakutkan. Rasanya seperti sedang bersiap untuk dihakimi tentang siapa aku dan bagaimana bentuk hidup yang kujalani.
Aku tidak pernah berharap orang lain memahami. Tapi terus terang, beberapa komentar tetap saja terdengar menyesakkan. Satu-dua kalimat yang disampaikan membuatku merasa tertinggal, berbeda, bahkan memalukan.
Aku belajar meromantisasi hidupku sendiri. Kukira, dengan menunjukkan bahwa aku mencintai takdirku, orang-orang akan berhenti bertanya, berhenti menghakimi, atau setidaknya berhenti menatapku kecewa. Tapi ternyata tidak. Sebagian justru melihatnya sebagai bentuk ketidakseriusan. Seolah aku hanya sedang menyia-nyiakan waktu, potensi, dan masa muda yang tidak akan kembali.
Tapi mungkin yang paling sulit untuk diakui adalah aku mengerti mengapa mereka berpikir demikian.
Karena di dalam diriku sendiri, aku juga sering melihat diriku dengan cara yang sama. Seolah ada bagian dari hidupku yang terasa seperti cacat; sesuatu yang harus selalu dijelaskan, dibenarkan, atau jika ingin lebih mudah—disembunyikan.
Sebab aku tidak punya jawabannya.
Bagiku hidup tidak pernah sederhana. Walau mungkin berlebihan, tapi aku merasa tidak pernah benar-benar hidup “layak” sebagai diriku sendiri. Usia belasan kuhabiskan untuk mengambil alih peran, lalu berduka, lalu disfungsi sebab kedukaan yang terlalu panjang. Maka anggap saja hidupku sejauh ini dipenuhi dengan bagian yang rumit, rumpang, tidak selesai, atau apa saja yang bahkan tidak mampu kusederhanakan dalam kata.
Kukira aku sudah melangkah jauh. Kukira aku sudah cukup lapang menerima bagianku. Kukira aku sudah mencintai diriku, takdirku, hidupku, terlepas dari apapun yang bisa orang hadapkan sebagai komparasi.
Tapi ternyata, mencintai diri sendiri lengkap dengan semua yang kubawa memerlukan waktu yang panjang, jauh lebih panjang dari yang pernah kukira.
Ramadhan Journal: 30. Raya
“Live your life like every day is Ramadan, and the akhirah will become your Eid.”
Ramadhan mengajarkan kita cara hidup yang sebenarnya. Bukan sekadar menahan haus dan lapar, tetapi menahan diri dari segala yang melalaikan—menghitung detik demi detik lalu menjaganya agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Ramadhan datang sebagai latihan untuk masa yang lebih panjang dari singkatnya tiga puluh hari, walau seringkali kita hanya memperlakukannya serupa musim: datang, kita hidupkan; lalu pergi, kita tinggalkan. Padahal, yang seharusnya terbentuk bukanlah kebiasaan sementara, tetapi ketakwaan yang menetap.
Namun, justru di titik berakhirnya inilah pertanyaan muncul—pertanyaan yang seringkali ingin kita hindari; bagaimana menjaga agar semangatnya tidak berhenti di akhir bulan? Bagaimana mempertahankan kesadaran bahwa kita beribadah kepada Allah yang sama di bulan apapun sepanjang tahun? Bahwa setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban? Bahwa amal sekecil apa pun tetap bernilai? Bahwa menahan diri adalah bentuk cinta dan kepatuhan kepadaNya?
Hidup seperti setiap hari adalah Ramadhan berarti menjaga hati sebab keyakinan kepadaNya. Menahan lisan meski tidak sedang berpuasa, dan memilih taat bukan hanya karena suasana.
Barangkali hidup setelah Ramadhan akan sunyi, barangkali lebih sepi. Tapi meski tidak selalu terasa ringan, hidup selalu layak diperjuangkan.
Jika Ramadhan adalah waktu kita berlatih, maka bulan-bulan selepasnya adalah pembuktian: apakah benar kita berupaya berubah, atau hanya terbawa suasana.
Akhirat, pada akhirnya, akan menjadi hari raya yang sebenar-benarnya. Bukan sebatas euforia setelah sebulan menahan, tetapi kemenangan setelah seumur hidup berjuang.
Semoga Allah menerima amal-amal kita. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya.
Eid Mubarak, everyone<3
Selamat menjawab banyak pertanyaan.
Ramadhan Journal: 29. Seperti Akar
Ada tumbuhan yang justru menemukan kekuatannya di tanah yang tampak tidak menjanjikan. Pohon kurma misalnya, ia tumbuh di tanah berpasir, dikenal sebab ketahanannya. Kurma bukanlah tumbuhan yang dimanjakan oleh musim yang mudah, tetapi dibentuk oleh “keterbatasan” yang terus-menerus.
Kurma tidak tumbuh dengan tergesa. Ada jeda panjang yang sunyi, yang secara zahir seolah tidak sedang terjadi apa-apa di hidupnya. Padahal dari dalam tanah, ada kehidupan yang tumbuh, ada kehidupan yang sedang diperjuangkan dengan sabar.
Musim kering mengajarkan akar untuk tidak berhenti di permukaan, tetapi terus menembus dan terus mencari. Kemudian dari pencarian itu, mereka tumbuh—lebih kokoh, lebih tinggi, seolah lebih siap menghadapi apa pun yang datang setelahnya. Tumbuh tidak selalu berarti menjadi rimbun; kadang ia berarti mengakar lebih dalam, diam-diam, jauh dari yang bisa dilihat.
Bisa jadi gambaran seperti ini yang akan kita temui selepas Ramadhan. Ketika suasana sudah usai, ketika yang tersisa adalah sepi. Ada hari-hari dimana kita perlu memaksakan diri untuk tetap memberi, bahkan ketika kita merasa tidak punya apa-apa. Ada waktu-waktu ketika doa harus terus diulang, meski seolah belum tampak ada yang berubah. Juga ada ayat-ayat yang harus tetap dibaca, meski hati tidak selalu merasa terpikat.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu, di amal shalih yang mana, hati kita mulai melunak. Di sedekah yang ke berapa, Allah melapangkan. Di munajat yang seperti apa, akhirnya doa dikabulkan. Atau di ayat yang mana, hati kita kembali bergetar.
Maka teruslah bergerak, tetaplah beramal.
Sebab tumbuh tidak selalu besar dan rimbun, tumbuh juga bisa kuat dan mengakar. Maka jadilah seperti akar yang terus menembus ke dalam tanah yang kering, tanpa tahu persis di titik mana ia akan menemukan air.
Ramadhan Journal: 28. Lelah
Ramadhan datang sebagai ayyāman ma‘dūdāt—hari-hari yang terhitung. Tidak panjang. Tidak lama. Namun tetap saja, di sebagian harinya kelelahan mungkin terasa menumpuk. Ibadah mulai terasa berat. Sementara rahmat dan ampunan terus terbuka, terus hadir bersama malam-malam kemuliaan yang harus diisi dengan ibadah.
Ada satu ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Ibn al-Jawzi—bahwa kuda pacu, ketika mendekati garis akhir, justru semakin mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Barangkali kuda pacu menjadi pelajaran bagi kita bahwa yang diperhitungkan adalah tentang bagaimana kita mengakhiri.
Sebagaimana sabda Rasulullahﷺ:
“Sesungguhnya amalan itu dinilai dari penutupnya.”
Mari kita sejenak mengingat masa-masa awal kenabian. Sebelum shalat lima waktu diwajibkan, ada satu ibadah yang lebih dulu diperintahkan—qiyāmul lail. Di saat semuanya masih terasa berat, belum stabil, bahkan belum sepenuhnya jelas dipahami, Allah memerintahkan malam untuk dihidupkan.
“Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit, yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu …”
— Qs. al-Muzzammil: 2-3
Seakan yang disiapkan bukan sekadar apa yang bisa dilakukan di siang hari, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu. Perintah ini turun kepada orang-orang dengan hari yang padat, di usia yang telah matang. Siang mereka tetap berjalan—dengan segala urusan dan beban yang menyertainya. Lalu malamnya, mereka berdiri. Lama—bahkan lebih lama dari nyenyak tidurnya. Berulang, dari malam ke malam. Mengadukan segala berat yang mereka bawa dari siang harinya
Hingga kaki Rasulullah ﷺ bengkak karena lamanya berdiri. Maka barangkali rasa lelah itu menyertai sejak awal. Barang kali, rasa lelah juga dirasakan oleh orang-orang yang imannya tidak diragukan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya engkau akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar kepayahanmu.”
Semoga dari malam-malam yang kita hidupkan, lelah bukan pertanda bahwa kita tidak menikmati sajian keberkahan. Semoga lelah hanya turut serta untuk menambah kadar kepayahan; untuk menambah apa yang akan kita peroleh sebagai ganjaran.
Ramadhan Journal: 27. The Exception
Dalam perjalanan kita sebagai hamba, sering kali terasa seakan-akan Allah membatasi kita dengan banyak larangan. Padahal jika kita jujur melihat, apa yang Allah haramkan itu sangat sedikit dibandingkan dengan yang Dia halalkan.
Para ulama menetapkan sebuah kaidah: asal dari segala sesuatu adalah halal, sampai ada dalil yang mengharamkannya. Artinya, titik awal hidup seorang muslim adalah kelapangan, bukan pembatasan.
Sejak awal penciptaan manusia, Allah telah menggambarkan keluasan ini dengan sangat jelas. Ketika Adam ‘alaihissalam diizinkan tinggal di surga, Allah berfirman:
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.’” — QS. Al-Baqarah: 35
Allah memulai dengan keluasan: makanlah sesukamu. Lalu satu pengecualian: jangan dekati pohon ini; hanya satu di tengah begitu banyak kenikmatan surga.
Ayat ini Allah abadikan hingga hari kiamat seolah untuk mengajarkan manusia bahwa hidup ini pada asalnya lapangan. Lalu al-Hakim, hanya melarang yang sedikit sesuai dengan hikmah dan ketetapanNya sebagai ujian bagi keimanan kita.
Tapi dalam kenyataannya, sering kali kita merasa meninggalkan yang haram itu berat. Padahal jika dipikirkan, meninggalkan sesuatu sebenarnya tidak membutuhkan usaha sebesar melakukan sesuatu. Untuk tidak melakukan yang haram, kita hanya perlu menahan diri, tidak melangkah, tidak mendekat, tidak mencari tahu, dan menghentikan diri kita sendiri dari berbuat.
Sebaliknya, untuk menjalankan perintah Allah justru sering kali kita membutuhkan usaha yang lebih besar. Shalat perlu ditegakkan, infak perlu dikeluarkan, berbakti perlu kesabaran, ilmu perlu dipelajari—dan seterusnya. Menjalankan perintah Allah memerlukan tindak, gerak, ikhtiar, kesungguhan dan konsistensi yang berulang-ulang, bertahun-tahun, dalam berat maupun ringan.
Lalu kenapa meninggalkan yang haram terasa sangat sulit?
Mungkin karena kita belum sepenuhnya melihat dengan cara pandang yang benar.
Sebagaimana seorang anak yang terus saja ingin memasukkan tangannya ke dalam colokan listrik. Ia tertarik dan merasa itu adalah kegiatan menyenangkan. Ketika dicegah, bisa jadi ia akan menangis, seakan-akan dirampas dari sesuatu yang ia suka. Padahal ia dicegah karena yang mencegah mengetahui adanya bahaya yang belum ia pahami.
Begitu juga kita dengan larangan-larangan Allah. Bisa jadi kita melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan sehingga kitq merasa dibatasi. Sementara Allah al-‘Alimul Hakim mengetahui akibat yang jauh lebih besar dari kesenangan kita yang terbatas dan sementara.
Allah ta’ala berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.’” — QS. Al-Baqarah: 219
Ada manfaat yang diakui, sebagaimana gugatan orang-orang yang membenarkan—namun mudharatnya jauh lebih besar. Maka apa-apa yang diharamkan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena ada bahaya yang ingin Allah jauhkan. Dan di titik ini, yang dituntut adalah ketaatan; meski akal kita yang terbatas belum mampu menjangkau hikmahnya.
“Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita.” — Ust. Salim A. Fillah
Ramadhan Journal: 26. Usaha Tidak Mengkhianati Hasil
Kalimat “usaha tidak akan mengkhianati hasil” sering dijadikan pengingat untuk terus berjuang. Ungkapan ini seakan menegaskan bahwa setiap usaha pasti akan berbuah sesuai harapan—seakan-akan orang yang “gagal” adalah mereka yang tidak cukup berusaha. Padahal jika tolak ukurnya adalah pencapaian dunia, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada usaha yang telah ditempuh dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil yang diharapkan tidak kunjung datang.
Mungkin persoalannya bukan pada usaha, melainkan pada cara memaknai hasil.
Jika hasil dimaknai sebagai ridha Allah, maka benar, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Bagi seorang mukmin, menerima apa pun ketetapan Allah adalah bagian dari perjalanan menuju keridhaanNya. Apa yang terjadi setelah usaha bukanlah keberhasilan atau kegagalan, melainkan bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Allah asy-Syakur bahkan menegaskan bahwa kebaikan sekecil zarrah—partikel terkecil pun tidak akan luput dari penilaianNya.
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
— QS. Al-Zalzalah: 8
Ayat ini mengingatkan bahwa nilai dari sebuah amal tidak ditentukan oleh besar kecilnya hasil yang terlihat di dunia, melainkan oleh apa yang tercatat di sisi Allah.
Sebab apa yang kita kejar sebagai tujuan di dunia sebenarnya adalah bagian dari ujian tentang sabar dan syukur, sementara hasil selalu berada dalam keputusan Allah.
Allah berfirman,
“Sekiranya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi. Tetapi Dia menurunkan rezeki itu menurut ukuran yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” — QS. Asy-Syura: 27
Ketika menafsirkan ayat ini, para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak selalu memberikan kelapangan dunia kepada setiap hamba bukan karena ketidakmampuanNya, melainkan karena hikmahNya. Jika seluruh manusia dilapangkan rezekinya tanpa batas, sebagian dari mereka justru akan melampaui batas, menjadi lalai, atau terjerumus dalam kerusakan. Karena itu Allah mengatur rezeki dan keadaan hidup manusia dengan ukuran yang paling sesuai bagi masing-masing hamba.
Apa yang Allah tahan dari seorang hamba bisa jadi justru merupakan bentuk penjagaanNya.
Namun menerima takdir bukan berarti beramal dengan setengah hati. Justru seorang mukmin dituntut memiliki sikap itqān—melakukan amal dengan kesungguhan dan kualitas terbaik. Rasulullahﷺ bersabda, “Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqān: penuh kesungguhan dan ketelitian.”
Di sinilah letak keseimbangan iman; berusaha dengan penuh kesungguhan dan ketelitian, namun menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Sebab kebahagiaan seorang mukmin terletak pada keimanan dan amal-amal shalihnya.
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” — QS. An-Nahl: 97
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang mudah menerima ketetapanNya; hati yang tetap tenang dalam iman kepada takdirNya.
Aulia kepada Aulia
Ramadhan Journal: 25. Haditsul Ifk
Ada sebuah surah dalam Al-Qur’an yang tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi tentang apa yang terjadi di balik pintu-pintu rumah. Tentang percakapan yang berlangsung dalam ruang privat. Tentang alasan-alasan yang manusia bisikkan kepada dirinya sendiri ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Surah ini menarik garis yang jelas tentang rasa malu, kepercayaan, dan kehormatan. Juga memperingatkan betapa cepatnya rumor menyebar, sering kali jauh lebih cepat daripada kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.
Peristiwa yang melatari turunnya sebagian ayat dalam Surah An-Nur adalah sebuah fitnah yang tersebar pada komunitas Muslimin di awal. Sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Haditsul Ifk, fitnah yang diarahkan kepada Aisyah bint Abi Bakr radhiallahu ‘anha.
Peristiwa ini bermula ketika Rasulullahﷺ dan para sahabat kembali dari sebuah perjalanan. Dalam perjalanan pulang menuju Madinah, rombongan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Saat sedang beristirahat, Aisyah radhiallahu ‘anha keluar dari tandunya untuk mencari kalungnya yang terjatuh. Tanpa disadari, rombongan berangkat kembali sebab mengira Aisyah radhiallahu ‘anha tetap berada di dalam tandu.
Ketika Aisyah kembali dan mendapati rombongan telah pergi, ia memilih menunggu di tempat itu, berharap mereka akan menyadari ketidakhadirannya dan kembali mencarinya. Pagi harinya, seorang sahabat bernama Safwan ibn al-Mu’attal radhiallahu ‘anhu yang berjalan di belakang rombongan menemukannya. Ia mengenali Aisyah, lalu menuntun untanya agar ia dapat menaikinya dan berjalan kaki hingga keduanya kembali ke Madinah. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan di antara keduanya radhiallahu ‘anhuma ‘ajmain; tidak sepatah kata pun. Namun bahkan sebuah perjalanan sunyi pun tetap tidak selamat dari lisan-lisan manusia.
Pemandangan keduanya tiba bersama menjadi bahan bagi sebagian orang untuk menyebarkan tuduhan yang keji. Fitnah itu pertama kali dihembuskan oleh Abdullah ibn Ubay ibn Salul, seorang tokoh munafik di Madinah. Walaupun tidak menyebutkan secara eksplisit, Abdullah ibn Ubay ibn Salul menghembuskan kecurigaan kesana-kemari. Lalu kecurigaan itu dengan mudah berpindah dari satu lisan ke lisan yang lain. Sebagian orang terus saja mengulanginya tanpa benar-benar memeriksa kebenaran. Sebagian lain hanya mendengar, namun tetap membiarkan kabar itu beredar.
Fitnah ini tidak berhenti dalam sehari dua hari. Ia berlarut-larut, hingga menyesakkan hati Aisyah dan mengguncang rumah tangga Rasulullahﷺ. Bagi Rasulullahﷺ, ini situasi yang sangat sulit. Beliauﷺ adalah suami Aisyah sekaligus pemimpin masyarakat Madinah. Tuduhan itu menyangkut kehormatan rumah tangganya dan telah menjadi pembicaraan publik. Namun selama wahyu belum turun, beliauﷺ tidak memiliki dasar ilahi untuk memutuskan perkara.
Dalam situasi tersebut, Rasulullahﷺ juga mengajak beberapa sahabat terdekat untuk bermusyawarah. Di antara yang beliau mintai pendapat adalah Usamah ibn Zaid dan Ali ibn Abi Talib. Usamah membela Aisyah dan mengatakan bahwa ia tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan. Sementara Ali menyarankan agar Rasulullahﷺ menanyakan keadaan Aisyah kepada orang yang paling dekat dengannya. Maka Rasulullahﷺ pun bertanya kepada pelayan Aisyah, Barirah, yang juga bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat sesuatu dari Aisyah kecuali kebaikan.
Kemudian, di tengah fitnah yang berlarut-larut dan guncangan pada rumah tangga Rasulullahﷺ, Allah menurunkan beberapa ayat dalam Surah An-Nur yang membela dan membersihkan kehormatan Aisyah bint Abi Bakr. Allah menyebut peristiwa itu sebagai al-ifk—sebuah kebohongan besar.
Turunnya sebagian ayat pada surah An-Nur tidak hanya menyelesaikan sebuah fitnah besar, tetapi juga membangun adab di masyarakat yang mengajarkan bahwa ketika batas-batas tentang kehormatan, kepercayaan, dan kehati-hatian dalam menyikapi pemberitaan dilanggar, dampaknya bisa jadi tidak langsung terasa di ruang publik, namun langsung terasa di dalam rumah. Sebab sering kali, tuduhan yang berpindah dari lisan ke lisan telah lebih dulu menghancurkan sebelum kebenaran sempat berbicara.
Ramadhan Journal: 24. A Young Man and the Prophet’s Prayer
Di generasi sahabat, ada seorang pemuda yang dikenal karena kecintaannya pada ilmu. Ia adalah sepupu Rasulullahﷺ. Sejak kecil ia sering berada di dekat beliau—membantu hal-hal kecil di rumah Rasulullahﷺ, menyiapkan air wudhu, menemani perjalanan, atau sekadar berada di sekitar majelis beliau.
Suatu malam, ketika bermalam di rumah Rasulullahﷺ, ia ingin melihat bagaimana beliau beribadah di malam hari. Ketika Rasulullahﷺ bangun untuk shalat malam, ia ikut berdiri untuk shalat di samping beliau. Lalu Rasulullahﷺ memindahkannya ke posisi yang benar di sebelah beliau.
Pada kesempatan lain, Rasulullahﷺ mendoakannya:
“Ya Allah, berilah ia pemahaman yang mendalam tentang agama dan ajarkan kepadanya tafsir Al-Qur’an.”
Doa itu kemudian benar-benar terwujud dalam kehidupannya.
Ketika Rasulullahﷺ wafat, usianya masih sangat muda. Ia tidak mengalami masa panjang bersama beliau sebagaimana banyak sahabat senior. Karena itu, ia menaruh kesungguhan besar untuk belajar dari mereka yang telah lebih lama hidup bersama Rasulullahﷺ.
Bahkan ketika mendengar ada seorang sahabat yang meriwayatkan hadits dari Rasulullahﷺ, ia rela mendatangi rumah sahabat tersebut dan menunggu di depan pintunya hingga ia keluar, meskipun debu gurun menutupi kepalanya. Sebab baginya, ilmu adalah sesuatu yang harus didatangi dengan kesungguhan.
Pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab, ada sebuah majelis yang sering dihadiri oleh para sahabat senior—terutama para ahlul Badr. Di antara mereka, kadang terlihat seorang pemuda. Sebagian dari mereka sempat merasa heran dan mempertanyakan mengapa seorang pemuda—yang seusia dengan putra-putra mereka dan bukan termasuk ahlul Badr, berada di majelis yang sama.
Untuk menjawab fenomena ini, Umar ibn al-Khattab bertanya kepada mereka tentang makna Surah An-Nashr:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” — QS. An-Nashr: 1–3
Para sahabat menjawab sesuai makna yang tampak: bahwa ketika pertolongan Allah dan kemenangan datang, Muslimin diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampun kepadaNya.
Lalu ketika Umar bertanya kepada pemuda tersebut, ia menjawab bahwa surah an-Nashr merupakan isyarat bahwa tugas Rasulullahﷺ telah mendekati kesempurnaan. Surah ini adalah isyarat bahwa masa beliau di dunia tidak akan lama lagi. Umar kemudian berkata bahwa ia memahami ayat itu sebagaimana yang dikatakan oleh pemuda tersebut.
Saat itulah tampak kedalaman pemahaman yang Allah karuniakan kepadanya.
Ia tidak hanya menerima doa Rasulullahﷺ tapi ia juga menghidupinya. Dengan kesungguhan belajar dan kedekatannya dengan Al-Qur’an, ia kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling dalam pemahamannya terhadap Kitab Allah. Karena keluasan ilmunya, ia dijuluki Habr al-Ummah dan Turjuman al-Qur'an.
Ia juga meriwayatkan sekitar 1.660 hadits dari Rasulullahﷺ. Penjelasan-penjelasannya tentang Al-Qur’an kemudian diwarisi oleh banyak murid dari kalangan tabi’in dan menjadi salah satu fondasi paling penting dalam tradisi tafsir umat Islam.
Dari keberkahan doa Rasulullahﷺ dan kesungguhan seorang pemuda, Allah berkahi umat ini dengan lautan ilmu; Abdullah Ibn Abbas radhillahu ‘anhu.
Ramadhan Journal: 23. Titik Balik Kejayaan
Dalam sejarah, kita dapati bahwa perintah shalat merupakan titik balik yang penting dalam perjalanan dakwah. Rasulullahﷺ bahkan menjemput perintah shalat langsung ke langit; peristiwa yang tidak pernah dialami oleh nabi mana pun sebelumnya.
Perintah itu datang pada masa ketika Rasulullahﷺ berada dalam kondisi yang sangat berat, baik sebagai pribadi maupun sebagai rasul. Beliau baru saja kehilangan dua orang terkasih yang selama ini menjadi penopang utama dakwahnya: Khadijah radhiallahu ‘anha dan Abu Thalib. Tidak lama setelah itu, Rasulullahﷺ pergi ke Thaif dengan harapan mendapatkan penerimaan, namun yang beliau dapati justru penolakan dan penghinaan. Semua itu terjadi setelah tiga belas tahun dakwah di Mekkah yang penuh dengan penentangan. Padahal Mekkah adalah tanah kelahiran beliau, kota tempat beliau dihormati dengan gelar al-Amin selama puluhan tahun sebelum kenabian.
Di tengah kesedihan dan kepayahan itulah Allah mengangkat Rasulullahﷺ dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj. Rasulullahﷺ menjemput perintah shalat langsung dari langit sebagai hadiah dan penghiburan dari Allah.
Tidak lama setelah perintah shalat, keadaan mulai berubah. Madinah berkembang sebagai pusat dakwah, dan hanya butuh dua tahun sebelum kemudian Allah memberikan kemenangan bagi Muslimin dalam Perang Badar. Setelah itu kemenangan demi kemenangan menyusul, penerimaan terhadap Islam semakin luas, keadaan Muslimin kian membaik, Fathu Makkah terjadi di tahun ke delapan, bahkan kurang dari dua dekade berikutnya, dua imperium besar pada masa itu—Persia dan Romawi mulai terbuka.
Perubahan besar dalam perjalanan umat ini datang setelah titik balik yang pertama: perintah shalat.
Rasulullahﷺ bersabda:
“Kesucian itu separuh dari iman. Ucapan Alhamdulillah memenuhi timbangan. Subhanallah wal hamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi. Shalat adalah nur, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah dhiya’.” — HR. Muslim
Para ulama menjelaskan bahwa nur adalah cahaya yang lembut dan menenangkan, seperti cahaya purnama yang teduh dan nyaman. Sementara dhiya’ adalah cahaya yang menyilaukan dan panas, seperti cahaya matahari yang terik, yang panasnya terasa berat dan melelahkan.
Itulah sebabnya mengapa sabar tidak pernah ringan untuk dijalani, sabar memerlukan upaya dan kesungguhan. Adapun shalat, seharusnya merupakan hal yang ringan dan menggembirakan. Bahkan ketika Rasulullahﷺ berbicara tentang shalat, beliauﷺ mengaitkannya dengan kenikmatan, kegembiraan, ketenangan hati dan peristirahatan dari lelahnya dunia.
Rasulullahﷺ bersabda,
“sedangkan kebahagiaan dan kegembiraan hatiku (qurrata ‘ain) dijadikan dalam sholat.”
dalam hadits yang lain,
“Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat”
Lebih dari sekadar kewajiban, shalat sejatinya adalah bukti bahwa kita dicintai. Shalat adalah kesempatan untuk bermunajat kepada Allah—setidaknya lima kali sehari—dalam kondisi apa pun di hari-hari kita. Shalat adalah kebutuhan, kenyamanan, kenikmatan, dan titik balik kejayaan hidup seorang Muslim.
Lalu muncul pertanyaan: mengapa bagi sebagian orang shalat justru terasa berat dan tidak menyenangkan?
Analoginya mungkin seperti ini,
sebagian besar dari kita tentu sepakat bahwa bubur ayam adalah makanan yang lembut, nyaman dan mudah ditelan. Namun, bagi seseorang yang sedang mengalami sakit tenggorokan, bahkan menelan bubur pun bisa terasa menyakitkan.
Dalam keadaan seperti itu, apakah kita akan mengatakan bahwa buburnya yang salah? Apalagi orang yang menghidangkan bubur yang keliru? Tentu tidak.
Kita dapat dengan mudah mengakui bahwa yang sedang bermasalah adalah tenggorokan kita. Kita sedang sakit dan membutuhkan pengobatan.
Demikian pula dengan shalat. Ketika ia mulai terasa berat, bukan berarti shalat kehilangan sifatnya sebagai nur. Boleh jadi, masalahnya terletak pada hati-hati kita; yang sedang lelah, lalai, kotor, atau terluka.
Maka mohonlah ampunan kepada Allah. Mintalah karunia berupa hati yang hidup; hati yang Allah beri hidayah untuk terus merasa butuh memperbaiki shalat-shalat kita. Mintalah hati yang mampu merasakan kenikmatan dalam setiap gerakan shalat. Mintalah hati yang bahagia setiap menyambut seruan kejayaan.
Ramadhan Journal: 22. Ilāf — Diplomasi Ekonomi Quraisy
Pada masanya, Quraisy dikenal sebagai suku yang memegang kendali besar atas kegiatan distribusi ekonomi di Jazirah Arab. Kafilah-kafilah mereka bergerak melintasi gurun, menghubungkan berbagai wilayah yang berjauhan. Setiap tahun mereka menempuh dua perjalanan dagang besar. Pada musim dingin kafilah Quraisy bergerak ke selatan menuju Yaman, wilayah yang lebih hangat dan menjadi salah satu pusat perdagangan di bagian selatan Jazirah. Pada musim panas mereka menuju ke utara ke wilayah Syam, daerah yang lebih sejuk dan terhubung dengan pasar-pasar besar di kawasan Mediterania. Tradisi perjalanan ini bahkan diabadikan oleh Allah dalam Surah Quraisy sebagai rihlah syitā’ wa shaif.
Kekuatan perdagangan Quraisy tidak berdiri hanya di atas rute dagang yang panjang. Di balik perjalanan kafilah mereka, ada sesuatu yang lebih mendasar: ilāf. Ilāf adalah jaringan perjanjian keamanan yang memungkinkan kafilah Quraisy bergerak melintasi berbagai wilayah tanpa diganggu. Di Jazirah Arab pada masa itu, perjalanan dagang bukan sekadar soal jarak. Gurun yang luas berada di bawah kendali banyak kabilah, dan kafilah yang melintas tanpa perlindungan sering menjadi sasaran perampokan. Tanpa jaminan keamanan, perjalanan dagang hampir mustahil dilakukan.
Dengan Ilāf, kafilah Quraisy dapat melewati banyak wilayah tanpa harus terus-menerus hidup dalam ketakutan. Perjalanan mereka menjadi lebih stabil. Perdagangan berkembang. Barang-barang dari selatan dapat sampai ke utara, dan komoditas dari utara kembali mengalir ke selatan.
Tak ayal, Ilāf menjadi kekuatan yang dibanggakan dalam perekonomian Quraisy.
Yang menarik adalah, setelah menyebut ilāf dan pola perjalanan dagang, dua ayat berikutnya justru mengarahkan Quraisy kepada sesuatu yang lain. Allah memerintahkan mereka untuk menyembah Rabb pemilik rumah ini—Rabb yang memberi mereka makan ketika lapar dan memberi mereka keamanan dari rasa takut.
Bagi masyarakat yang hidup dari perdagangan jarak jauh seperti Quraisy, dua hal ini adalah fondasi utama. Tanpa kecukupan pangan, tidak ada komoditas yang diperdagangkan. Tanpa keamanan, tidak ada kafilah yang berani menempuh perjalanan melintasi gurun yang penuh ancaman.
Dengan kata lain, perdagangan Quraisy, jaringan Ilāf, dan perjalanan dagang yang mereka banggakan; berdiri di atas dua nikmat itu: makanan dan keamanan.
Maka setelah menyebut ilāf dan rihlah mereka, Al-Qur’an mengarahkan Quraisy kepada sumber dari kedua nikmat itu: bahwa keamanan dan kecukupan yang mereka nikmati berasal dari Rabb pemilik Ka’bah.
Seakan Allah ingin menyadarkan Quraisy bahwa perdagangan yang mereka banggakan itu sendiri adalah ayat kauniyah yang Allah hamparkan—tanda bahwa Dialah satu-satunya yang berhak disembah.
Ramadhan Journal: 21. Question Number One
Sebagian dari kita mungkin merasa telah banyak mengecewakan orang lain. Atas sikap kita, pilihan yang kita ambil, bahkan atas perubahan yang kita jalani. Ada masa ketika langkah yang kita pilih tidak lagi sejalan dengan harapan orang-orang di sekitar kita. Harapan keluarga, teman, atau lingkungan yang selama ini merasa mengenal kita dengan cara tertentu.
Sekalipun dalam ilmu kita yang sempit, kita merasa benar. Rasa bersalah tetap datang bersama beban yang tidak ringan. Kita mulai mempertanyakan diri sendiri: apakah kita terlalu keras, terlalu berbeda, atau terlalu egois dalam mengambil jalan hidup. Kadang bukan karena kita yakin mereka lebih benar, tapi kita merasa tersiksa ketika melihat wajah-wajah yang kecewa.
Dalam keadaan seperti itu, manusia sering terjebak pada satu keinginan yang mustahil: memuaskan hati semua orang. Kita mulai menimbang setiap keputusan dengan ukuran penerimaan manusia—apakah mereka akan sepakat, apakah mereka akan kecewa, apakah mereka akan tetap menyukai kita setelahnya, dan seterusnya. Tanpa sadar, standar benar dan salah pun perlahan bergeser.
Padahal bagi seorang Muslim, ada satu pertanyaan yang seharusnya selalu didahulukan sebelum semuanya: “apakah dengan melakukan ini Allah akan ridha?”
Pertanyaan ini yang seharusnya menjadi kompas sebelum kita menoleh ke arah mana pun. Sebab jika kompas arah telah jelas, perjalanan tidak lagi akan ditentukan oleh sorak sorai maupun cacian manusia.
Dari Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullahﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” — HR. Tirmidzi.
Namun mencari ridha Allah sering kali disalahpahami dengan seolah-olah mengabaikan manusia. Padahal tidak demikian. Justru sering kali ridha Allah hadir melalui bagaimana kita memperlakukan manusia. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, menolong yang membutuhkan, berderma, tidak mengambil hak orang lain, memuliakan tamu, menyambung silaturahmi—dan banyak lagi jalan-jalan “manusiawi” menuju ridha-Nya.
Sehingga mengejar ridha Allah tidak menjadi pembenaran untuk bersikap keras atau menutup hati terhadap orang lain. Ini bukan soalan hitam dan putih. Justru mengejar ridha Allah harusnya menjadi pegangan agar setiap pilihan tetap dibingkai dengan akhlak, kelembutan, dan tanggung jawab kepada sesama.
Namun tetap saja, dalam sejarah, kita dapati kenyataan yang sama. Rasulullahﷺ yang akhlaknya sempurna pun pernah mengecewakan orang lain. Abu Lahab yang dahulu sangat bergembira atas kelahirannya justru menjadi salah satu penentang paling keras dakwah. Abdullah bin Ubay bin Salul yang hampir dilantik menjadi raja di Madinah kehilangan seluruh rencananya setelah hijrah. Bagi sebagian orang, dakwah beliau dianggap memecah belah kaum, memutus kekerabatan, dan menggugurkan harapan-harapan yang telah lama dipupuk.
Lalu apakah Rasulullahﷺ harus berhenti menyampaikan kebenaran demi memuaskan hati semua orang? Tentu tidak.
Maka, jika pertanyaan pertama telah dijawab dengan jujur, apapun yang datang selanjutnya, tidak akan memengaruhi tindakan kita. Bukan karena kita meremehkan perasaan orang lain, tetapi karena kita memahami batasnya. Kita tetap berusaha berlaku baik, menjaga hubungan, dan memenuhi hak-hak manusia. Hanya saja, arah hidup kita tidak ditentukan oleh penerimaan manusia.
Lalu jika dengan mengejar ridha Allah manusia sampai terbagi dalam menilai kita, anggap saja itu memang bagian dari konsekuensi. Karena sejak awal memang mustahil untuk memuaskan hati semua orang.
Boleh jadi, setelah kita menjawab pertanyaan pertama, pertanyaan-pertanyaan berikutnya tidak lagi perlu ada. Kita hanya menjalankan konsekuensi dari hidup yang memilih mengejar ridha Allah.
Dan konsekuensi itu; apapun bentuknya tetap akan memuliakan kita, pasti akan memuliakan kita.
Ramadhan Journal: 20. Khadijah binti Khuwailid — The First Believer
Ketika kita membaca kisah awal Islam, sering kali perhatian kita tertuju pada keberanian dakwah Rasulullahﷺ di hadapan kaum Quraisy. Kita mengingat penolakan, ejekan, dan tekanan yang beliau hadapi sejak wahyu pertama turun.
Hari ini kita akan berhenti sejenak untuk mengamati sisi manusiawi dari seseorang yang mengemban amanah berat: ke mana Rasulullahﷺ pulang setelah semua itu?
Rumah itu adalah dekap Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha.
Seorang suami pulang di tengah malam dengan tubuh gemetar dan ketakutan, meminta untuk diselimuti tanpa menjelaskan apa-apa. Dalam keadaan seperti itu, banyak orang tentu akan panik dan segera meminta penjelasan. Namun ketenangan Khadijah binti Khuwailid menakjubkan.
Di saat Rasulullahﷺ masih terguncang atas pengalaman itu, Khadijah sudah lebih dulu melihat sesuatu yang lebih jelas: bahwa peristiwa itu pasti bukan kehinaan, melainkan permulaan dari hal yang besar. Ia tidak membombardir Rasulullah dengan pertanyaan, tidak pula memperlihatkan ketakutan. Ia menentramkan hati beliau, menyelimuti beliau, dan kemudian berkata dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menghinakan seseorang seperti beliauﷺ seseorang yang menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu mereka yang tertimpa kesulitan.
Kata-kata itu lahir dari hati yang jernih, lebih dari sekadar ucapan menenangkan. Kata-kata itu adalah kesaksian dari seorang istri yang mengenal suaminya dengan sangat baik. Khadijah melihat dengan jelas kebaikan yang dimiliki suaminya—amal-amal terbaiknya, potensinya, kemuliaan akhlaknya, juga ketulusannya terhadap manusia.
Dukungan Khadijah tidak berhenti pada keyakinan. Sebagai saudagar yang pernah memiliki 2/3 kekayaan di kota Mekkah, ia menjadikan hartanya sebagai penopang dakwah. Ketika tekanan Quraisy semakin berat dan Muslimin menghadapi masa-masa sulit, sebagian besar perjuangan ditopang oleh harta Khadijah.
Bertahun-tahun kemudian, pengorbanan itu menjadi semakin nyata. Harta yang dahulu melimpah, perlahan habis sebab digunakan untuk menopang perjuangan. Tak jarang saudagar kaya itu kelaparan, pakaiannya pun penuh dengan tambalan. Nama besar yang dimiliki Khadijah tidak lagi berarti di hadapan permusuhan Quraisy.
Suatu ketika Rasulullahﷺ memandang istrinya yang telah menanggung begitu banyak kepayahan, bertanya dengan penuh kelembutan:
“Dahulu engkau wanita mulia dan bangsawan. Kini engkau dihina oleh orang lain. Semua orang menjauhimu. Kekayaanmu habis. Apakah engkau menyesal bersuamikan Muhammad?” tanya Rasulullahﷺ pada Khadijah.
Khadijah menjawab dengan keteguhan:
“Wahai suamiku, wahai nabi Allah. Bukan itu yang kami tangisi. Kemuliaan dan kekayaan yang kami miliki, diserahkan pada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang kami tak punya apa-apa, tetapi engkau terus memperjuangkan agama ini. Seandainya aku mati, namun perjuangan ini belum selesai. Maka galilah lubang kuburku. Ambillah tulang belulangku untuk dijadikan jembatan menyeberangi sungai atau lautan,” jawab Khadijah.
Dari jawaban itu tampak bahwa cinta Khadijah kepada suaminya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari iman yang kokoh kepada Allah dan keyakinan pada risalah yang suaminya bawa.
Khadijah binti Khuwailid mencintai suaminya beserta apa yang diperjuangkan oleh orang yang ia cinta. Ia menjadi orang pertama yang percaya, orang pertama yang menenangkan, orang pertama yang memberi harapan, dan orang yang memastikan bahwa ketika dakwah ini masih rapuh dan penuh tekanan, Rasulullahﷺ tidak pernah benar-benar berjuang sendirian.
Dakwah besar yang kelak mengubah dunia berawal dari sesuatu yang tampak sederhana namun tidak ternilai harganya; keimanan kepada Allah dan kepercayaan seorang istri kepada suaminya.
Ramadhan Journal: 19. Ikrimah ibn Abi Jahl — A Side Story of Fathu Makkah
Nama Ikrimah bin Abi Jahl sejak awal berdiri di barisan yang memusuhi Islam. Ia adalah putra dari Abu Jahl—pembesar Quraisy yang begitu keras menentang dakwah Rasulullahﷺ
Permusuhan itu terus berlanjut. Kematian ayahnya dalam Perang Badar tidak membuat Ikrimah melunak. Kebenciannya terhadap Rasulullahﷺ dan Muslimin semakin kuat, seolah meneruskan kebencian yang diwariskan dari ayahnya.
Kiprah Ikrimah dalam Perang Uhud dianggap cukup krusial. Ia menekan barisan Muslimin ketika keadaan berbalik setelah sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka. Sementara itu, Khalid—sahabatnya di medan perang—memimpin manuver lain yang menentukan. Perang Uhud pun menjadi salah satu peperangan paling berat dalam sejarah awal Islam
Lalu waktu bergerak menuju perubahan besar.
Ketika terjadi Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ memberikan amnesti luas kepada penduduk Makkah. Meski demikian, ada segelintir orang yang disebut secara khusus; yang jika ditemukan, bahkan jika mereka bergantung pada kiswah Ka’bah, hukuman harus tetap dijatuhkan.
Di antara segelintir nama itu adalah Ikrimah.
Mendengar kabar tersebut, Ikrimah melarikan diri dari Makkah dan berusaha menyeberangi laut menuju Habasyah. Kebenciannya terhadap kaum Muslimin, serta bayang-bayang kebencian ayahnya, membuatnya merasa tidak akan ada lagi jalan pulang.
Namun, Maha Baik Allah mengaruniakan kepadanya seorang istri yang pantang menyerah. Di tengah ketidakmungkinan yang Ikrimah bayangkan, Umm Hakim bint al-Harith datang menemui Rasulullahﷺ dan meminta jaminan keamanan bagi suaminya. Rasulullahﷺ pun mengabulkan permintaan itu.
Umm Hakim menyusulnya hingga ke tepi laut dan berkata, “Wahai putra pamanku, aku datang kepadamu dari sisi orang yang paling gemar menyambung silaturahmi, paling baik, dan paling penyayang. Janganlah engkau membinasakan dirimu. Aku telah meminta jaminan keamanan untukmu dari Rasulullahﷺ dan beliau telah memberikannya.” Lalu Allah al-Hadi tanamkan hidayah di hati Ikrimah.
Ketika kabar kepulangannya sampai kepada Rasulullahﷺ, beliau lebih dahulu menasihati para sahabat agar menjaga lisan mereka tentang ayahnya. Rasulullah bersabda:
“Akan datang kepada kalian Ikrimah bin Abi Jahl sebagai seorang mukmin yang berhijrah. Maka janganlah kalian mencela ayahnya, karena mencela orang yang telah mati hanya akan menyakiti yang masih hidup dan tidak sampai kepada orang yang telah mati itu.”
Seumur hidupnya Ikrimah hidup di bawah bayang-bayang permusuhan ayahnya terhadap Islam. Setelah Perang Badar, alasannya untuk membenci Rasulullahﷺ dan kaum Muslimin bahkan bertambah karena dendam atas kematian sang ayah. Namun orang yang dahulu paling ia benci justru menjaga perasaannya—bahkan sebelum ia menyatakan keimanannya.
Ikrimah pun akhirnya memeluk Islam, menyusul sahabat lamanya di medan perang, Khalid ibn Walid radhiyallahu ‘anhu.
Ikrimah tidak pernah merasa ringan terhadap masa lalunya. Setelah masuk Islam, ia bersungguh-sungguh dalam keimanan dan ikut serta dalam berbagai peperangan setelah wafatnya Rasulullahﷺ, termasuk dalam perang melawan kemurtadan pada masa Abu Bakr juga dalam pembebasan wilayah Syam.
Dalam Perang Yarmuk, Ikrimah dikenal memimpin salah satu serangan paling berani. Ketika tekanan pasukan Bizantium semakin kuat, ia mengumpulkan barisan Muslimin dan mengajak mereka berbaiat untuk tidak mundur. Di antara mereka terdapat Al-Harith ibn Hisham, Ayyash ibn Abi Rabi‘ah, dan Dirar ibn al-Azwar—orang-orang Quraisy dengan masa lalu yang mirip dengannya. Dengan keberanian besar, mereka terus maju menahan musuh hingga terluka parah di medan jihad.
Kisah mengenai akhir hidupnya diriwayatkan oleh Ibn Katsir. Ketika seseorang dari barisan Muslimin datang membawa air kepada para sahabat yang terluka parah di medan Yarmuk. Ia mendapati Ikrimah dalam keadaan hampir wafat. Ketika air hendak diberikan kepadanya, Ikrimah melihat Al-Harith yang juga kehausan lalu meminta agar air itu diberikan kepadanya terlebih dahulu. Ketika air dibawa kepada Al-Harith, ia melihat sahabat lain yang lebih membutuhkan dan meminta agar air itu diberikan kepadanya. Air itu pun dibawa kepada sahabat berikutnya, namun sebelum sempat diminum ia telah wafat. Ketika pembawa air kembali kepada Al-Harith, ia pun telah wafat. Lalu ketika ia kembali kepada Ikrimah, ia juga telah wafat. Tidak seorang pun dari mereka sempat meminum air itu.
Ikrimah menjemput cita-citanya yang jujur: syahid di jalan Allah. Bahkan pada saat-saat terakhir hidupnya, ia bahkan syahid dalam keadaan mengamalkan itsar—mendahulukan saudaranya atas dirinya sendiri—sebuah tingkatan ukhuwah yang paling tinggi, khas ksatria yang membanggakan.
Dari rumah Abu Jahl, Allah mengangkat Ikrimah radhiyallahu ‘anhu dalam kemuliaan.
Ramadhan Journal: 18. Jeda
Dalam satu ceramahnya, Ust. Nuzul Dzikri mengutip nasihat ulama dalam Shaidul Khatir, bahwa tidak seyogianya seseorang yang memiliki akal sehat memutuskan suatu perkara secara spontan tanpa pertimbangan. Sebuah keputusan seharusnya lahir dari pemikiran yang matang, dari istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah, dan dari musyawarah selama perkara itu berada dalam ranah kesepakatan.
Namun tabiat jiwa manusia memang cenderung tergesa-gesa. Bahkan Allah menyebutkan sifat ini dalam Al-Qur’an:
“…dan manusia memang bersifat tergesa-gesa.” — Al-Isra: 11
Karena itu Rasulullahﷺ mengingatkan agar manusia tidak menuruti tabiat tersebut. Beliauﷺ bersabda:
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan."
Para ulama menjelaskan bahwa ketergesaan sering kali menjadi pintu utama penyesalan. Bahkan disebutkan oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah bahwa banyak kesalahan manusia bermula dari keputusan yang diambil sebelum suatu perkara dipahami secara utuh.
Tidak jarang keputusan yang paling keliru justru lahir dari kegembiraan yang berlebihan. Sebagaimana diibaratkan oleh para ulama, keadaan itu mirip seperti orang yang sedang dimabuk cinta; ia tidak lagi mampu melihat sesuatu secara nyata, utuh dan rasional. Dan di saat itulah kewaspadaan berada pada titik paling lemah.
Karena itu syariat tidak hanya mengajarkan tentang benar dan salah, tetapi juga mendidik jiwa agar tidak tergesa-gesa dalam menentukan. Salah satu bentuk pendidikan jiwa paling nyata yang syariat tetapkan adalah puasa.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih manusia untuk meredam dorongan yang meledak-ledak, menahan impulsivitas, dan belajar mengendalikan diri sebelum bertindak; singkatnya, menyelipkan jeda sebelum segala reaksi.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa apabila seseorang yang sedang berpuasa dipancing emosinya atau diajak bertengkar, maka hendaklah ia berkata:
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” — HR. Bukhari dan Muslim.
Seolah-olah Rasulullahﷺ mengajarkan bahwa puasa adalah pengingat bagi diri sendiri: bahwa saat itu kita sedang melatih jiwa untuk tidak menuruti dorongan spontan.
Sebab keputusan yang keliru sering kali bukan lahir karena kita tidak mampu membedakan benar dan salah, tetapi karena ketergesaan yang menyempitkan ruang berpikir kita. Akhirnya kita bereaksi dan menentukan sesuatu karena emosi yang sementara. Karena itu, sebelum setiap reaksi apalagi keputusan dalam hidup, selipkan jeda—agar akal sempat berfungsi sebagaimana mestinya.