Hari Kanker Sedunia: Mengenal Kanker Leher Rahim
Bertepatan dengan peringatan Hari Kanker Sedunia (4 Februari), topik kali ini hendak membahas kanker pembunuh perempuan nomor satu di Indonesia, yaitu kanker serviks (leher rahim).
Kanker terjadi karena pertumbuhan sel tidak normal yang tidak terkendali yang dapat menyebar jauh dari tempat asalnya.
Penyebab kanker serviks adalah human papilloma virus (HPV). Virus ini memiliki lima belas subtipe yang bersifat memicu kanker (onkogenik). Akan tetapi, penyebab yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah subtipe 16 dan 18. Kedua subtipe itu menghasilkan protein yang menginaktivasikan gen yang menekan tumor. Hal itu menyebabkan risiko sel normal menjadi sel kanker meningkat.
Kanker leher rahim sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Selain hubungan seksual, faktor risiko kanker leher rahim, antara lain merokok, ibu atau saudara kandung yang memiliki riwayat kanker leher rahim, kondisi pertahanan tubuh penderita yang sedang tidak baik (imunosupresi), dan rendahnya partisipasi tes penapisan.
Penderita awalnya tidak memiliki keluhan. Selanjutnya, penderita dapat mengalami perdarahan, nyeri pada pangul, atau keluarnya cairan dari kemaluan.
Jika penderita terinfeksi HPV, sel-sel normal leher rahim akan berubah menjadi lesi prakanker dalam waktu 2-3 tahun. Pada tahap awal, lesi dapat kembali normal. Lesi atau kerusakan sel tersebut dapat menjadi kanker dalam waktu 3-17 tahun jika tidak diobati. Oleh karena itu, deteksi dini prakanker penting dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain vaksinasi HPV dan tes penapisan (pap smear dan inspeksi visual dengan asam asetat). Vaksinasi sebaiknya diberikan pada wanita yang belum pernah kontak seksual. Hingga saat ini, vaksinasi telah dikembangkan untuk beberapa tipe, yaitu tipe 6, 11, 16, 31, 33, 45, 52, dan 58. Pemberian vaksin diharapkan dapat mencegah kanker serviks hingga 70%.
Tes penapisan berperan untuk mendeteksi lesi prakanker sehingga dapat diberikan terapi sebelum terjadi kanker. Tes tersebut sebaiknya dilakukan pada wanita yang aktif secara seksual, terutama pada usia 30-50 tahun.
Tes inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) menggunakan cuka dapur yang dioleskan ke leher rahim. Tes ini lebih mudah dan hasil cepat keluar. Jika terdapat lesi prakanker, warna putih akan muncul. Tes pap smear, yang menurunkan insidens sebesar 60-90% dan kematian sebesar 90% ini, berperan dalam melihat kondisi jaringan yang memerlukan mikroskop. Hasil pemeriksaan penapisan akan menentukan tindakan selanjutnya, antara lain mengulang tes penapisan atau melakukan biopsi dengan kolposkopi untuk menegakkan diagnosis.
Sumber
1. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan RI. Buku acuan pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara. Jakarta: Depkes RI; 2009.
2. Benign and malignant conditions. In: Collins S, Arulkumaran S, Hayes K, Jackson S, Impey L. Oxford handbook of obstetrics and gynaecology. 3rd ed. United Kingdom: Oxford University Press; 2013.
3. Cervical cancer. In: Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM, Bradshaw KD, Cunningham FG. Williams gynecology. 2nd ed. New York: McGraw Hill; 2012.
4. Marth C, Landoni F, Mahner S, McCormack M, Martin AG, Colombo N. Cervical cancer: ESMO clinical practice guidelines. Ann Oncol 2017;28(Suppl4): iv72-iv83
Dipublikasikan juga pada :
“Hari Kanker Sedunia: Mengenal Kanker Leher Rahim” https://medium.com/@claragunawaan/hari-kanker-sedunia-mengenal-kanker-leher-rahim-66efaa1391a
http://beranisehat.com/archives/hari-kanker-sedu…nker-leher-rahim/











