Depok, Agustus 2021
Sendiri, mencoba kuat.
Setiap kegelisahan atau ketakutan itu hadir, segera berwudhu, ngaji, sholat sunnah, dzikir, atau segera memejamkan mata sambil terus beristighfar.
Hari hari diisi dengan rutinitas nyiramin tanaman, bebersih rumah, nyuci nyetrika, dan sesekali olahraga lantai atau jalan agak jauh buat beli telur. Mau jogging di hutan kampus, nggak berani sendirian. Mau muterin kota, nggak berani nyetir sendiri. Aku yang dari dulu sukanya mobilan muterin kota sambil dengerin playlist galau, begitu pindah kesini langsung menciut keberaniannya. Bahkan tiap ke basement buat manasin motor-mobil aja ngerasa takut kalo dilihatin sama Pak Satpam. Hidup di kota besar benar-benar menakutkan buatku. Segala sesuatunya terasa berbahaya. Beban kerja pun berkali lipat lebih besar. Benar kata orang, ibukota itu keras. Apalagi buatku yang jago kandang begini.
Berkali-kali rasanya ingin telpon suami minta dia cepat pulang. Tapi malu. Sungguh malu. Perjuanganku disini rasanya nggak ada apa apanya dibanding apa yang dia hadapi disana. Setiap kali nangis dan ingin telpon suami, selalu cancel. Sungguh malu menunjukkan air mata di depan orang yang seharusnya berderai air mata lebih banyak dari aku.
Entah apakah ini PTSD atau bukan, entah kapan aku akan memberanikan diri periksa ke psikiater. Tapi yang jelas bayang bayang itu masih terekam jelas di kepalaku, dan muncul setiap kali aku sendiri di malam hari atau sedang jaga di bangsal covid. Aku yang seorang tenaga medis saja ternyata mengalami hal ini, bagaimana dengan suamiku? Dia yang semalaman berada di dalam ruangan itu, dengan hazmat dan berderai air mata, tiap beberapa menit mengendorkan dan memasang ulang jackson rees yang terpasang di kedua orangtuanya. Dia yang dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan kedua orangtuanya berjuang untuk bernapas, hingga kritis dan harus dilarikan ke ICU, hingga di hari terakhir dia harus menerima kenyataan menjadi yatim piatu dalam <24 jam. Saat itu aku kuat, lebih tepatnya mencoba untuk menjadi yang paling kuat. Tidak menangis, berjalan tegak, rasional dan tenang. Tapi pertahananku runtuh seketika saat dia terisak dalam pelukanku, memanggil Abi dan Ibu.
2 bulan pernikahan kami, Allah sudah karuniakan berbagai ujian. Mulai dari penyakit, kehilangan belasan juta, hingga kepergian kedua orangtua yang bersamaan. Tapi aku yakin Allah siapkan hal baik lainnya dibalik semua ujian ini. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, rabbanaa laa tu`aakhidznaa in nasiinaa au akhtha`naa, rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa israng kamaa hamaltahuu 'alalladziina ming qablinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qaumil-kaafiriin. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kamiâŠ.














