Menonton Puno: Letter to The Sky
Merasa bersalah karena belum mengapresiasi salah satu pertunjukan yang indah...banget. Akhir Agustus lalu, aku berkesempatan buat nonton pertunjukannya Papermoon Puppet Theatre di Bandung, iya mereka “ngamen” ke Jakarta dan Bandung sembari ngumpulin uang buat bikin pesta boneka - acara festival wayang boneka dua tahunan.
Sampai saat ini aku ngetik, kalau dingat-ingat lagi duh aku masih kagum sama penampilannya. Gak habis-habis aku mikir, kok bisa? Purfeect :”) Dari awal pertunjukkan di mulai bahkan aku udah mau nangis bukan karena alur ceritanya tapi karena keindahannya. Permainan warna lighting, gemulai gerak puppeteers, alunan musik.. duh aku udah jatuh dari awal!
Ceritanya berdurasi 50 menit, duduknya ngampar tapi gak terasa pegel, Emosiku? jangan tanya.. keaduk! Menonton cerita Papa Puno, gak ada istilah habis nangis ketawa - dibalik! dibawa ketawa trs sesegukan. Beberapa mungkin karena iba, rindu, yang lain aku yakin karena satu frekuensi - sama-sama ditinggal Ayah.
Bercerita tentang keluarga mungil, Tala dan Papa Puno yang hidup berdua berbahagia. Saling sayang. Dicinta teman dan kerabat. Mungkin karena masih punya Papa, walaupun tanpa Ibu, Tala gak kelihataan sedih dan suka mengungkit. Malah ikutan bantuin Papa ngeceng hehe.
Di awal sudah ada sinyal “utusan Tuhan” yang mengintai, memberi rambu kalau waktu Papa udah gak banyak. Ketika saat itu tiba, Tala kosong. Sedih karena rindu tapi juga bingung, bagaimana bisa di saat akan terjatuh dia malah melambung tinggi, di saat hujan dia tidak basah?
Aku yakin, walaupun alur ceritanya terspoil ke mana-mana. Gak akan cukup untuk benar-benar menggambarkan pengalaman yang didapat karena kami diminta merekam dengan mata dan hati. Dari Tala aku belajar untuk mengapresiasi kehadiran orang-orang (orang tua lengkap terutama) yang masih mengelilingi dan menyayangiku.
250k for 50 minutes filling my heart. Worth it, Mbak Ria!