Teringat peti kusam Ku di angka dua puluh dua,
menunjukan isi walau hanya beberapa inci dari lubang kunci, lalu bertubi-tubi menjelaskan arti,
dan tak terasa lima tahun berlalu. Ku ingat alur yang Ku pasrahkan, hingga sampai misteri yang telah menanti.
Ijinkan malam ini Ku bercerita apa yang Ku rasa dari misteri yang telah Kau simpan.
Mari duduk bersama dan bercengkrama, dan mohon maaf sebelumnya. Malam ini hanya ada kopi beserta beberapa batang rokok, Aku tidak lagi menyajikan bir :))
Akan Ku mulai keluh-kesah kali pertama menjadi seorang pekerja.
Kala itu Ku berniat memenuhi kebutuhan sendiri, hingga memutuskan memutar jam kuliah; ke waktu malam.
Aku yang terlalu menganggap remeh akan suatu hal. Bangun dipagi hari; mencari sesuap nasi, disaat senja bergegas mencari ilmu untuk berbakti adalah hal yang mudah, tapi ternyata tidak sama sekali.
Tekanan demi tekanan silih berganti, hampir setiap hari Ku dicaci-maki, bukan karena kesalahan yang Ku buat sendiri.
Panasnya matahari pun seakan tak lagi Ku hiraukan; apalagi saat hujan.
Satu dari beberapa hal yang Ku ingat, saat itu langit mendung. Terlihat ratusan daftar nama rumah dikertas kusam yang Ku genggam, dan syukurlah ini rumah terakhir. Kan Ku selesaikan tugas Ku ini. Mungkin kala itu awan tak mampu lagi menahan air yang jatuh ke bumi, sontak pemilik rumah menutup pintu.
Entah apa yang ia pikirkan, membiarkan Ku diluar bersama gerimis yang bersambut hujan. Bergegas Ku berlari mencari perlindungan.
Tiba lah Ku di pos security kusam yang tak terawat dan tak satupun orang ada disana. Disekeliling hanya ada rumah yang berbaris rapih, serta pohon-pohon rindang yang tertiup angin. Kala itu selepas ashar.
sangat begitu sunyi, yang Ku dengar hanya suara air yang jatuh.
Termenung Ku pada kenyataan, lalu menyesal pada diri.
Aku menyesal atas apa yang Ku putuskan.
Ternyata mencari sesuap nasi itu tidak mudah. Lebih baik Ku duduk saja dibangku kelas mendengar dosen bercerita, daripada harus seperti ini.
Semua rasa berkecamuk kala itu, pikiran mendadak ruyam bercampur kesedihan.
Tak kuat rasanya untuk melanjutkan, enam bulan pun berlalu, Ku putuskan mencari tempat baru.
Entah sudah berapa ratus lembar lamaran yang terkirim, email ataupun pos, Aku mulai terbiasa melakukannya.
Dari tempat antah-berantah yang tak diketahui, dari perusahaan ternama sampai home industri.
menjadi pekerja lapangan yang berteman riuhnya jalan; hingga kantoran.
Satu hal yang patut Kau ketahui, ternyata setiap tempat yang Ku singgahi adalah jawaban dari alur yang penuh misteri.
kan Ku ceritakan salah satu nya.
Saat itu Aku menjadi pekerja lapangan (untuk kesekian kali) jalur yang Ku lalui adalah pagar panjang yang berisi gedung tinggi. Lalu bergumam dalam hati,
'apa ya rasanya kerja ditempat itu, pasti didalamnya berisi orang-orang berdasi. Ah tapi, apa iya instansi ini "wangi" '
Dua-tiga tahun berlalu, tak Ku sangka waktu menjawab pertanyaan Ku.
Lima januari dua ribu tujuh belas.
Aku berada ditempat, yang dimana Ku gumam dalam hati.
Rasanya..diluar ekspetasi.
(kembali) semua diluar kendali.
Permasalahan datang tak pernah berhenti, dari rekan satu ruangan yang sangat "bossy" sampai pada atasan sendiri. Ku debat hampir tiap hari.
Entah karena diri ini yang terlalu idealis, atau memang mereka yang bersikap sesuka hati.
Ku pikir, Aku bisa merubah proses birokrasi yang kian lama meninggi tak tau diri.
"Hey! Aku bukan remote tv yang ingin kalian ganti sesuka hati. Aku bukan penjilat para pejabat-pejabat tinggi yang tak tau diri. Aku memiliki kehendak Ku sendiri"
Sungguh itu kali pertama Ku terjun di instansi. Sangat amat mengejutkan sekali. Pejabat ditingkat menengah, seperti manusia purbakala; semua gagap teknologi. Ya, sangat "berkompeten" sekali. Mungkin ini lah salah satu yang menghambat kemajuan negara ini.
Tapi kalau soal jilat-menjilat. Mereka lah Sang Ahli.
Harga diri? tiada arti bagi mereka. Inti dari inti, atasan tertinggi senang dengan apa yang diingini.
Kemudian Ku putuskan untuk keluar dan berhenti.
Terkahir yang teringat, Aku memaki para petinggi sebelum beranjak pergi.
Satu tahun Ku bertahan dikebimbangan, memutuskan untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk dunia pekerjaan.
Gelisah, Gundah, Kesal, Benci, Dendam, Amarah,
Aku terombang-ambing di samudera yang Ku buat sendiri. Tak tau arah apalagi untuk menepi. Tiap berganti hari, hanya badai menghampiri.
Aku gusar, terperangkap dipenjara yang Ku buat sendiri.
Ruangan ini, tembok ini, jendela ini,
adalah saksi atas apa yang terjadi.
Di angka dua puluh tujuh ini, Aku sudah tak muda lagi. Aku terjebak pada mimpi abadi. Tersesat dalam asa yang tak lagi bersemi.
Tiap malam hanya ada sepi.
Aku lelah untuk mencari. Tiap Jelita yang Ku temui, hanya datang dan pergi; dan sudah Ku duga kan seperti ini.
Biarkan semesta yang berkerja untuk waktu dan rasa yang di nanti, yang Ku mau hubungan jangka panjang lalu berakhir dipelaminan, bukan hanya kebahagian semu yang tak bertuan
kembali Ku selami dunia instansi.
Kan terus Ku hadapi entah berapa banyak pertikaian yang menanti.
Aku tak mau lagi menjadi "remote tv"
akan berakhir seperti apa nanti? Aku tak peduli,
Aku tak mau tau, yang Ku ingin keadilan harus berdiri.
Entah Ku bertikai dengan para petinggi atau rekan satu ruang (lagi) tak gentar diri ini untuk melawan tirani.
Wahai Peti Kusam, kini alur Mu mulai terbaca. Kau jelaskan peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi, yang pada nantinya berhubungan di masa nanti.
Semua hal berkorelasi, dan akan berulang kembali.
rasa penasaran Ku tak lagi ber-api,
kan Ku urut tiap hal yang (pernah) terjadi,
kan Ku jadikan pedoman di langkah Ku nanti.
Namun satu yang tak Ku ketahui; isi inti dari yang Kau sembunyi.
Apakah itu kehidupan abadi?
hahaha entahlah, Aku hanya menduga.
Terima kasih telah bercengkrama dengan Ku. Tak terasa empat jam sudah habis waktu.