Saya baru baru ini sedang mengikuti kelas katekisasi di gereja, ya, atas suruhan dan paksaan mama tentu saja, bukan kehendak saya. Yang pertama, sebenarnya apasih katekisasi itu? Katekisasi adalah bentuk pembinaan iman yang dilaksanakan oleh gereja kepada warganya agar para warga nya ini diharapkan mampu menjadi dewasa dan mengenal Tuhan ( Yesus ) sebagai Juruselamatnya. Salah satu alasan saya menjadi seorang yang bertuhan namun tidak ber agama adalah, saya tidak ingin menganggap Tuhan siapapun sebagai juruselamat saya. Mengapa? Ya karna saya tidak ingin doktrin dari orangtua saya berlanjut hingga saya dewasa. Saya pernah menjadi orang yang tidak menganggap bahwa tuhan itu ada (agnostik ateis) namun setelah itu saya malah bertanya tanya, sebenarnya tuhan itu ada atau tidak sih? Kenapa saya tidak pernah merasakan eksistensi dari tuhan sendiri? (agnostik teis). Namun ketika saya berada di dua posisi tersebut saya merasa kurang nyaman, hingga pada suatu titik dimana saya merasa bahwa saya sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri karna kuasa saya atas dunia ini sangat kecil, saya sangat lemah dan saya butuh untuk dikuatkan terlepas dari penguatan orang orang disekitar saya. Mulai saat itu saya merasa bahwa saya butuh Tuhan di sisi saya, namun beranjak dewasa, pertanyaan pertanyaan yang selama ini saya tanyakan kepada diri saya sendiri belum terpecahkan. Di dunia ini terdapat banyak agama dan kepercayaan, masing masing dari penganutnya beranggapan bahwa tuhan dan kepercayaannya lah yang paling benar. Loh? Mengapa demikian? Saya terlahir di sebuah keluarga dengan latar belakang kekristenan yang sangat kental. Kakek nenek saya merupakan bagian dari gereja dan keluarga besar saya pun rata rata punya andil dalam keagamaan. Semakin saya bertambah dewasa, saya merasa bahwa manusia dapat dengan gampang mentafsirkan tuntunan tuhan dalam kitab suci, dan banyak pula manusia yang memakan mentah mentah tafsiran tersebut tanpa berpikir lebih jauh. Hana kecil seorang kristen yang taat dan lugu, semakin bertambah besar semakin bertambah pula pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam pikirannya. Mulai dari pertanyaan, siapa Yesus itu? Lalu, bagaimana bentuk dan rupa Nya? Mengapa Dia di salibkan? Mengapa Dia disebut juruselamat? Mengapa saya harus menyembah Dia? Mengapa di dalam Kristen, hanya orang orang yang datang kepada Nya lah yang akan selamat? Menjadi orang yang agamis atau bahkan terlalu agamis itu sebenarnya menjengkelkan jika orang orang tersebut memaksakan kehendaknya dan tidak mengindahkan pilihan atau opini dari orang yang berbeda dengan dia. Semakin saya dewasa (dan saat itu masih menjadi kristen) saya tidak mengerti kenapa hanya orang orang yang mengikuti Yesus lah yang bisa masuk ke dalam surga. Lantas saat itu saya ( yang mulai bertanya tanya ) berfikir, "apakah Tuhan sejahat itu? apakah orang orang baik di pedalaman sana yang tidak mengenal Tuhan, tidak pantas untuk masuk surga? apakah orang orang yang berbuat baik sepanjang hidupnya walaupun tidak mengenal Tuhan, lantas mereka tidak layak untuk masuk surga? Bagaimana dengan orang orang dari agama lain? Apakah Tuhan tega memasukan mereka ke dalam neraka hanya karena kepercayaan mereka tidak tertuju kepada Tuhan Yesus? Secara singkatnya saya berfikir, wah, mengapa harus se egois itu ya. Semakin lama saya diberikan 'makanan' kekristenan, semakin saya bertanya tanya dan semakin tidak nyaman pula posisi saya. Jujur, saya mencintai Yesus dan Allah sama besarnya, walaupun saya tidak pernah berdoa dengan cara islam. Saya pun tidak tau datang darimana perasaan ini namun ketika saya berdoa dan menyebut nama Nya, saya merasa tenang aman nyaman dan dilindungi. Lalu, singkatnya saya memilih untuk menjadi seorang deis karna saya tahu di agama abrahamik, tidak boleh memiliki lebih dari 1 tuhan. Hati saya memberontak. Mengapa??? Mengapa saya tidak boleh mencintai Dia dalam berbagai versi? Mengapa saya hanya boleh memilih satu? Di dalam kitab Keluaran 20:3 ada tertulis "Janganlah ada padamu allah lain di hadapanku" Tapi maaf, saya tidak bisa karena saya tidak nyaman. Jujur ketika mengikuti kelas katekisasi, hati saya terus memberontak dan tidak tenang dan juga, banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Saya merasa tidak nyaman karena sang guru terus berkata hanya orang kristen yang akan begini hanya orang kristen yang akan begitu, lalu bagaimana dengan orang orang diluar kristen yang hidupnya berbuat baik? Dan lagi alasan saya keluar dari agama pemberian orangtua saya ini adalah karena saya tidak nyaman dengan orang orang yang terus berkata bahwa kekristenan adalah bekal nanti ketika di surga. Oh ayolah, kamu mampu berfikir kok tanpa perlu di warning ketika kamu tidak mau berbuat baik kamu akan mendapat siksa neraka dan jika kamu berbuat baik maka kamu akan mendapatkan tempat di sorga. Saya pribadi tidak peduli dengan konsep surga dan neraka, yang saya semogakan adalah semoga orang orang yang semasa hidupnya berkelakuan baik dan berguna bagi orang lain akan ditempatkan di tempat yang paling baik setelah kematiannya. Bagi saya, saya tidak perlu di iming imingi sorga dan neraka. Dan bagi saya juga, Tuhan tidak se pahit itu langsung mengirimkan orang orang ke neraka seperti apa yang banyak orang (agamis) di dunia bilang. Saya yakin, Ia memiliki banyak pertimbangan yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia dan saya yakin Tuhan adalah sosok pengasih dan bukan nya monster yang dapat melakukan apa saja ketika 'kurcaci' nya tidak mau menuruti apa yang telah di ajarkan Nya. Saya adalah seorang deis, saya cinta Tuhan dari agama abrahamik (Kristen,Islam,Katolik) dan saya nyaman akan itu karna saya tau sosok Tuhan tidak se-bitter yang orang orang bilang atau bahkan dituangkan dalam kitab suci. Saya ingin mengenal Tuhan secara pribadi sebagai sahabat dan kawan akrab, dan selama hidup saya akan berusaha untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain serta berbuat baik kepada siapapun dalam kondisi apapun walaupun suatu saat nanti misalnya kepercayaan saya tentang Tuhan itu salah, saya tau saya tidak akan mati dengan sia sia. Terserah Tuhan mau menempatkan saya dimana nanti, entah di surga atau neraka ( yang tidak dapat dibuktikan secara autentik ) saya tidak peduli karena tujuan hidup saya adalah berlaku baik dan berguna untuk orang lain terlepas dari iming iming hal hal surgawi.