“Tepat hari ini satu tahun yang lalu, bapak saya mati,” kata saya. Saya kemudian menyodorkan sepotong foto pada teman jalan yang bertanya kemana kita hari ini.
Lalu pergilah kami ke sebuah titik yang sangat spesifik di tepi East River: patung The Knotted Gun.
Tiga puluh tahun lalu, bapak saya bergaya di bawah moncong revolver yang bertalian ini. Gambar itu tersimpan bersama lima lembar foto lain di beberapa tempat di New York, Vermont, dan Boston.
Tak banyak cerita menyertai foto itu. Hubungan kami rumit. Komunikasi kami terbatas. Terlalu banyak kisah yang saya ketahui hanya sepenggal dari lembar-lembar foto atau dokumen yang tercecer—bukan dari tutur. Tak banyak cerita soal New York—baik sebagai cerita perjalanan ataupun sebagai cerita pencapaian yang ia bangga-banggakan.
Meski begitu, kota ini tetap jadi tanah yang sama sekali asing tetapi sekaligus yang paling ingin saya pijak.
Mungkin dulu, di bawah patung ini, ia berangan-angan memberikan sepotong kehidupan di kota asing ini untuk saya dan mulai menyusun strategi. Ia meninggalkan petunjuk di sana-sini, membuat sketsa peta, dan menepikan beberapa kerikil.
Sejak ia mati, saya makin sadar bahwa yang ia tinggalkan adalah senukil petunjuk agar saya bisa hidup menjawab rahasia-rahasia tentang siapa, dari mana, mengapa, dan untuk apa kita dilahirkan.
Bagaimana realita membatalkan bayangan Amerika yang ada di benakmu?
Pertanyaan itu seperti menodong langsung pada saya. Padahal itu adalah pertanyaan Cressida Leyshon, editor fiksi majalah New Yorker, pada imigran-penulis saat membuka salah satu bincang-bincang di rangkaian New Yorker Festival di panggung di hadapan saya. Itu adalah hari kesekian saya berada di New York.
Kemudian penulis-penulis itu bercerita tentang hari-hari pertamanya di Amerika.
Min Jin Lee baru berumur tujuh tahun saat mendarat pertama kali di bandara JFK di Queens, kota New York dari Korea, dan merasakan kecewa. Orang-orang yang berpakaian ringkas, sebagaimana lazimnya orang hendak bepergian, dengan segera meniadakan bayangan Amerika di benak Lee yang penuh dengan Cinderella mengenakan couture atau gaun menjuntai-juntai.
Ocean Vuong kecil tiba di New England dari kamp pengungsian di Filipina setelah terusir dari Vietnam. Amerika di benaknya dibangun dari tempat tinggal pertamanya—apartemen dengan satu kamar tidur tanpa perabotan. Ia tinggal di lingkungan orang-orang Amerika keturunan Puerto Riko dan Jamaika yang telah membuat Vuong di kemudian hari tak menyangka bahwa Amerika didominasi orang kulit putih.
Sementara saya menghabiskan siang hari pertama di New York hanya dengan tertidur pulas, bangun di larut malam, kemudian memasak Indomie. Saya didera cemas membayangkan betapa asing Amerika bagi saya.
Saya tidak tahu persis apakah cemas itu berasal dari ketakutan menghadapi yang asing, ketakutan menjadi yang asing, ketakutan menjadi terasing—atau ketakutan dari ketiganya sekaligus.
Malam 15 September 1983, Michael Stewart (1958—1983) dihajar polisi New York di stasiun bawah tanah First Avenue saat ia turun dari kereta lajur L dalam perjalanan pulang ke Brooklyn.
Seniman grafiti itu dihajar atas coretan di dinding kereta bawah tanah yang entah buatan siapa. Dia mati tiga belas hari setelah dibawa ke rumah sakit dengan tubuh yang memar dan otak yang rusak.
Jean-Michel Basquiat (1960—1988), seniman grafiti New York keturunan Haiti-Puerto Rico, menggambarkan responsnya atas peristiwa itu dengan mencorat-coret tembok studio milik Keith Haring (1958—1990) di Lower East Side di hari kematian temannya itu.
Coretan itu akan hilang seandainya Haring tidak memotong, membingkainya dalam bilah berwarna emas, dan memajangnya di atas tempat tidurnya hingga ia mati. Lukisan itu diberi nama The Death of Michael Stewart (1983).
Saya bertemu Basquiat setelah berada dalam antrian cukup panjang di bawah matahari Sabtu sore di musim panas yang terik. Museum Guggenheim di Manhattan sedang memamerkan “Basquiat’s ‘Defacement’: The Untold Story” sebagai representasi karya-karya skena seni kota New York tahun 80-an ketika Basquiat dan para seniman lain berjuang untuk berdamai dengan amarah atas kematian kolega mereka yang mengguncang.
Apa boleh ngabisin nyawa orang karena dia corat-coret properti orang, Pak Pulisi?
Polisi adalah garda terdepan kekerarasan terhadap kulit hitam di New York. Meski demikian, mereka seringkali lolos begitu saja dari jerat sistem peradilan pidana Amerika. Itu terus menerus berlangsung hingga tahun 2014 saat polisi menjerat leher Eric Garner juga hingga hari ini di tahun 2020 saat leher George Floyd didengkèk lutut polisi.
Dan mereka sama-sama mati usai napas yang tersengal-sengal sambil berkata lirih, “Saya tidak bisa bernapas.”
Ketegangan rasial yang memicu kebrutalan polisi itu tentu memicu amarah publik. Bagi komunitas seni di Lower East Side New York, amarah ini diejawantahkan melalui karya-karya dalam pameran yang dikuratori oleh Chaédria LaBouvier ini. Selain Defacement, dipamerkan juga karya Basquiat yang lain seperti Irony of a Negro Policeman dan La Hara (bahasa slang Nuyorican/Boricua yang berarti polisi—1981) yang menggambarkan seorang polisi bertulang putih muncul di belakang gerbang penjara hitam berdampingan dengan karya-karya lain dari Andy Warhol, David Hammons, Eric Drooker, George Condo, dan Stewart sendiri.
Di hadapan Defacement berbingkai emas itu saya menekur.
Saya teringat lagi pertanyaan saya yang kini baru terasa penuh prasangka. Saya ajukan pertanyaan itu pada induk semang berkulit hitam pemilik rumah di Brooklyn yang saya tumpangi saat pertama kali tiba di kota ini:
Apakah aman jika saya pulang malam dan berjalan sendirian di daerah sekeliling rumah ini?
Memori lain berseliweran. Teman saya, perempuan berkulit putih penuh privilese orang lokal Lower East Side—tempat dulu Basquiat, Stewart, dan kawan-kawan berkesenian—nyeletuk pada suatu sore saat jalan-jalan membantu saya mengorientasi kota:
Jangan khawatir kalau kamu tersesat, polisi akan sangat membantu.
Saat menuruni tangga menuju subway bawah tanah lajur C di Rockaway Avenue, Brooklyn, saya mengingat kembali perkataan teman tentang New York yang katanya menyenangkan untuk ditinggali—meskipun bau pesing. Waktu itu kami sedang berjejalan di kereta Jakarta-Bogor di jam pulang kerja.
“Kamu akan menikmatinya,” katanya.
Kota ini, di kepala orang-orang, barangkali terlalu dibentuk oleh film atau video game. Atau untuk beberapa yang lain dibentuk melalui perjalanan Holden Caulfield di Catcher in The Rye: New York adalah perihal angsa-angsa di Central Park, dansa-dansi di Edmont Hotel, klab malam di Greenwich Village, atau ski es di Rockefeller Center.
Imaji kota ini, bagi saya, tidak dibentuk oleh hal-hal itu.
New York terbentuk dari gambar kamar-kamar kontrakan yang sumpek di borough di seberang megah dan sibuknya Manhattan: Brooklyn—khususnya di kecamatan Crown Heights, Bedford-Stuyvesant, atau Bushwick. Narasi kota ini dibentuk oleh iklan-iklan para induk semang gadungan di Craigslist yang menjanjikan mimpi-mimpi tidur enak di kamar modern bermandi cahaya matahari tanpa gangguan sirine yang bising dengan waktu perjalanan ke tempat kerja hanya 20 menit.
Merasakan kota, saya bilang, bergantung dari mana dan sebagai apa kamu memasukinya.
Saya selalu menjawab bahwa New York tidak melulu indah seperti yang dibayangkan. Kamu bisa bilang New York menyenangkan karena kamu memasukinya sebagai tamu yang diundang dalam sebuah konferensi atau mungkin sebagai pelancong di musim gugur. Kamu hanya akan mengenal kota ini dari jendela di kamar hotelmu atau dari beberapa blok jalan menuju Times Square.
Kota ini lebih dari itu. Kota ini punya obsesi pada hal-hal yang tinggi. Gedung-gedung menjulang mencakar langit jadi metafora bahwa orang-orang berambisi meraih puncak kemegahan hidup di kota ini.
Tapi di sisi lain, jika kita melihat ke bawah, jalanan seperti bopeng-bopeng di sarung tinju yang jadi tanda betapa keras pukulan dihujamkan berkali-kali untuk menumbangkan lawan. Kota ini membuka ruang bagi siapapun yang bersusah payah mengalahkan lawan dan meraih puncak—dengan cara apapun.
Membicarakan eksploitasi tubuh dengan puitis—tapi gelap dan nakal—membuat Prenjak menjadi film Indonesia pertama yang meraih predikat film pendek terbaik dalam kategori Semaine de la Critique rangkaian Film Festival Cannes.
Ciblek
Ciblek (Prinia familiaris) akan punya makna yang beda jika Anda googling dengan menyematkan kata Jogja setelahnya. Berbagai ragam soal praktik prostitusi akan membanjiri halaman-halaman pencarian. Dari tempat prostitusi, cerita pekerja seks, Jogja underground stories, perlawanan moralitas agama, hingga peringkusan oleh aparat.
Ciblek di Jogja bisa berarti sebuah akronim: cilik-cilik betah melek. Istilah ini beken dilekatkan pada perempuan remaja yang keluar malam. Propaganda Orde Baru dan pamali Jawa yang menabukan perempuan keluar malam membuat akronim ini kian bergeser menjadi cilik-cilik isa digemblek. Istilah ini menjadi melekat dengan perempuan remaja pekerja seks.
Mereka bekerja di Alun-alun Kidul, menepi dari wilayah Pasar Kembang yang sudah dikuasai oleh perempuan dewasa.
Mereka biasanya menjual batang-batang korek api dengan harga yang lebih mahal dari harga biasanya. Harga itu adalah untuk nyala yang digunakan untuk melihat vagina. Scene pendek pada dua film Garin Nugroho—Daun di Atas Bantal (1998) dan Aach… Aku Jatuh Cinta (2015)—akan mengingatkan kita pada praktik prostitusi ini.
Prenjak
Wregas Bhanuteja memvisualkan cerita itu—yang hanya ia dengar dari temannya dan tak sempat ia lihat langsung—menjadi Prenjak. Ia memfilmkan visual cerita yang begitu mengganggu benaknya ini. Karena tak pernah melihatnya (tapi saya yakin ia pernah melihat ini di secuplik scene film Garin), ia berusaha mengkontekstualisasi praktik prostitusi 80-an ini ke dalam imajinasi pribadinya yang kelahiran 1992.
Yang menjual korek adalah Diah (Rosa Winenggar). Harga korek itu 10 ribu rupiah per batang. Jarwo (Yohannes Budyambara) awalnya membelinya satu batang, kemudian mengeluarkan tiga lembar sepuluh ribu yang lusuh. Di sebuah gudang restoran kecil pada saat jam istirahat, transaksi itu terjadi. Dengan nyala korek itu, Jarwo bisa melihat vagina Diah di gelap bawah meja.
Diah adalah seorang single parent yang ekonominya terdesak meskipun ia bekerja di restoran itu. Ia butuh duit untuk bayar kontrakan. Ia mendesak Jarwo untuk membeli koreknya. Si juru masak ini terpaksa mesti meninggalkan tugasnya membuat pizza dan menerima tawaran Diah.
Interpretasi ciblek di 12 menit film ini terasa segar. Ia bukan lagi soal prostitusi, tapi juga soal keluarga. Di titik ini lah ciblek menemukan bentuknya yang lebih elegan. Mungkin dari sini pula film ini tak mau diberi judul ciblek, tapi lebih memilih nama lainnya yang berarti sama tapi lebih elegan: prenjak.
Film-film Wregas, jika dikelompokkan, hanya terdiri dari dua kategori saja: realis dan eksperimental. Di filmnya yang realis, film Wregas bertumpu pada kekuatan narasi yang ia sendiri merasa sayang jika harus diotak-atik dalam bentuk eksperimental yang nyeni. Narasinya sudah terlalu kuat.
Kekuatan narasi di film-film Wregas itu lekat dengan tema keluarga. Senyawa (2012) bercerita tentang gadis Kristiani yang merekam Ave Maria bersamaan dengan lantunan ayat Quran yang dibaca ayahnya sebagai hadiah untuk mendiang ibunya. Lemantun (2014) bercerita tentang bagi-bagi warisan berupa lemari di sebuah keluarga kecil di Yogyakarta. Sisanya, The Floating Chopin (2014) dan Lembusura (2014) sangat kental sebagai film ekperimental.
Burung lainnya
Saya sulit setuju dengan komentar bahwa film ini rawan terpeleset pada wacana patriarkis, misoginis, dan/atau eksibisonis.
Film ini tak bisa disebut patriarkis hanya karena Jarwo menyarankan Diah untuk bersuami agar urusan finansialnya selesai. Di film ini, Diah dengan sendirinya melawan stereotip itu dengan tetap bekerja dan mengambil kuasa atas dirinya sendiri—juga anaknya.
Film ini tak bisa disebut misoginis dan/atau eksibisonis cuma karena Diah terasa menikmati saat melihat penis Jarwo. Menurut saya, Diah yang dipaksa (atau lebih tepatnya terpaksa) melihat penis Jarwo bukan suatu pelecehan. Bukan juga sebuah ujud ketakberdayaan perempuan pada kuasa laki-laki.
Yang terjadi justru sebaliknya. Diah adalah perempuan yang mampu bergulat hingga akhir. Saat dia yang menawarkan korek, dialah yang memegang kuasa dengan menegaskan aturan main permainan. Dan yang paling kuasa adalah melarang Jarwo untuk memegang vaginanya.
Saat Diah terpaksa mesti mengiyakan tawaran Jarwo untuk melihat penisnya dalam hitungan 30 detik korek gas, Diah memegang kendali dengan otonomi penuh: memejam atau melihat.
Saya justru khawatir, pandangan komentator lah yang misoginis dan patriarkis. Perempuan seringkali distereotip sebagai manusia yang lemah dan perlu dikasihani. Persepsi ini berkontribusi pada konstruksi sosial (yang disokong nilai-nilai religiusitas) yang selalu menempatkan perempuan di bawah laki-laki dalam relasi apapun, termasuk relasi dalam film Prenjak ini.
Alih-alih sebagai sentral cerita, alat kelamin di film ini memang hanyalah scene yang diperlukan untuk mengalirkan narasi besar yang dibangun Wregas: woman who struggles until the end. Ini bisa kita lihat dari bagaimana penis dan vagina itu digambarkan.
Di Prenjak, alat kelamin ditampilkan as it is—apa adanya, sederhana, dalam cahaya yang remang. Dan karena itulah ia jadi puitis. Ia tak memaksakan diri menjadi alat kelamin yang digambarkan sebagai barang yang lux dengan cara yang binal, sensual, dan bikin ngaceng. Di sisi lain, ia juga tak ditampilkan dalam bentuknya yang grotesk sebagai kelamin yang menjijikan, tempat keluarnya kotoran, atau sebagai komoditas yang dieksploitasi serampangan.
Vagina dan penis yang ditampilkan secara gamblang juga berhasil membikin efek kejut pada konstruksi sosial kita yang diam-diam masih menabukan kelamin dan hal-hal di sekitarnya—seksualitas, moralitas, identitas. Kemunculannya di layar berhasil membuat penonton jadi kikuk, mesti tertawa tapi berubah getir saat akhir cerita. []
Suratno Warsito tertegun kala bertemu segerombolan monyet kebingungan di lahannya. Dalam benaknya, ia gusar.
Pembukaan lahan serampangan untuk sawit telah mengusir monyet-monyet itu dari rumahnya—hutan rimbun di sekitar Desa Merarai Satu, Sungai Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat. Area keseluruhan dari penanaman sawit di Kalimantan kini telah mencapai 2.8 juta hektar.
Ancaman ini akan terus terjadi. Laju perusakan hutan di Borneo (Kalimantan, Malaysia, dan Brunei), diperkirakan hanya akan menyisakan seperempat dari luasan asli tutupan hutan jika tren saat ini dibiarkan.
Suratno beserta petani sawit swadaya yang bergabung di Koperasi Rimba Harapan berinisiatif meredam laju perusakan ini dengan menerapkan praktik sawit lestari. Lelaki yang menjadi ketua koperasi itu merelakan tiga hektar lahannya untuk jadi rimbun dan membentuk kanopi yang cukup rapat sebagai rumah satwa—termasuk bagi monyet-monyet yang ia temui tadi. Upaya di tengah tudingan buruk yang selama ini dituduhkan pada industri sawit.
Ikhtiar dari jantung kehidupan dunia
Inisiatif Suratno tak bisa dibilang singkat. Tahun 1996, beberapa tahun setelah ia bertransmigrasi, sawit mulai tumbuh subur di Kalimantan—jantung kehidupan dunia. Komoditi ini mulai menjadi pilihan perusahaan sebagai substitusi dari karet yang jadi komoditi utama kala itu.
Tahun 2004, Suratno mulai berpikir untuk membuka lahan sawit. Ia akhirnya meneguhkan menjadi petani sawit swadaya dengan membuka lahan sendiri di Merarai Satu. Setahun kemudian perkembangan petani sawit swadaya semakin merata di Kabupaten Sintang.
Tanpa disangka, sejak awal, praktik sawit Suratno telah menerapkan konsep lestari. Salah satunya, ia tak membuka lahan dengan membakar—cara yang disebut-sebut sebagai faktor utama meningkatnya kebakaran hutan di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Belakangan baru ia tahu bahwa praktiknya ini ternyata dikategorikan ramah lingkungan setelah WWF-Indonesia bersama Fasilitator Daerah Sawit Lestari (Fasda) mengenalkan konsep sawit berkelanjutan pada tahun 2013.
Gayung bersambut, konsep WWF yang senada dengan praktik petani sawit swadaya itu membuat Suratno bersama dua kelompok tani mulai merintis Koperasi Rimba Harapan—koperasi petani sawit swadaya pertama, setidaknya di Kalimantan, dengan visi mewujudkan kesejahteraan anggota melalui pembangunan kebun sawit swadaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Tak hanya tertuang dalam aturan, visi ini mulai terinternalisasi dalam praktik sehari-hari perkebunan sawit. Petani-petani berinovasi dengan menerapkan tumpang sari di sekitar sawitnya yang sudah masuk usia empat tahun tanam. Sayur-sayuran dan buah-buahan lebih dulu menghasilkan uang dibanding sawit yang belum terlihat hasil panennya.
Praktik ini adalah sukses terbesar yang tak kasat mata. Usaha ini telah menciptakan sensitifitas ramah lingkungan pada industri sawit yang disebut-sebut sebagai faktor utama deforestasi. Petani sawit swadaya pelan-pelan mengubah wajah buruk industri sawit ini. Ini juga membuktikan kepercayaan bahwa permasalahan utama deforestasi bukan terletak pada sawit, tetapi bagaimana praktik sawit ini diproduksi.
Sertifikasi RSPO dan sawit lestari
Suratno menyimpan kagum seusai melakukan studi banding ke Ukui, Riau. Ia dan kawan-kawannya pulang ke Sintang dengan satu tekad bersama: mencontoh Asosiasi Amanah, asosiasi petani sawit swadaya, yang memproduksi sawit lestari dan meraih Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO).
Asosiasi Amanah yang terdiri dari petani di Kecamatan Ukui, Riau, berhasil menjadi asosiasi petani sawit swadaya pertama di Indonesia dan kedua di dunia yang memperoleh sertifikat RSPO pada tanggal 29 Juli 2013.
RSPO menjalankan empat misi utama dalam mentransformasi praktik sawit ke arah yang lebih berkelanjutan. Pertama, RSPO memajukan produksi, pengadaan, dan penggunaan produk sawit berkelanjutan. Kedua RSPO mengembangkan, menerapkan, memverifikasi, menjamin dan meninjau secara berkala standar global yang dapat dipercaya untuk seluruh rantai pasokan sawit berkelanjutan. Ketiga, RSPO memantau dan mengevaluasi dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial dari penyerapan sawit berkelanjutan di pasar. Keempat, RSPO melibatkan semua pemangku kepentingan di seluruh rantai pasokan, termasuk pemerintah dan konsumen.
Mengacu pada misi itu, Asosiasi Amanah mempraktikan kumpulan prinsip dan kriteria lingkungan dan sosial yang digagas RSPO untuk memproduksi sawit dengan sertifikasi berkelanjutan. Sebagai contoh, petani sawit swadaya mulai mempertimbangkan area high conservation value (HCV) dalam membuka lahan.
Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas transfer knowledge soal manfaat yang didapat dari pentingnya melindungi HCV demi menjaga kelestarian habitat beserta tanaman dan hewan yang ada di dalamnya dan menjaga ekosistem area sehingga berdampak positif terhadap kelangsungan usaha perkebunan sawit.
Berkat pengetahuan tersebut, para petani menjadi lebih menaruh perhatian terhadap bantaran sungai yang terdapat di dalam atau pun di sekitar lahan perkebunan mereka. Faktor lingkungan telah menjadi pertimbangan anggota Asosiasi Amanah dalam perluasan kebun sawit. Peluasan lahan hanya dilakukan ke kawasan yang diperuntukkan bagi perkebunan, bukan kawasan bernilai konservasi tinggi maupun daerah perlintasan satwa.
Pada pertemuan tahunan RSPO, dua orang petani yang tergabung di Koperasi Rimba Harapan akhirnya dinobatkan menjadi fasilitator RSPO karena turut menggagas sawit lestari. Mereka kemudian mendapatkan penguatan kapasitas dan menularkan sawit berkelanjutan di Kalimantan Barat.
Upaya kecil berandil besar
Seorang perempuan barangkali tak akan pernah menyangka bahwa kecantikannya bisa meredam laju perusakan hutan yang begitu cepat. Dari pilihan lipstik, sabun, losion, dan kosmetik lain untuk kecantikannya, ia bisa turut andil “mendinginkan” dunia.
Ada label Roundtable of Sustainable Palm Oil (RSPO) pada produk-produk yang menggunakan sawit berkelanjutan. Label ini menjadi penanda bahwa produk tersebut memiliki dampak minimum terhadap lingkungan dan bertanggung jawab karena dihasilkan dengan cara-cara yang mempertimbangkan pelestarian habitat, kehidupan, dan sumber daya alam.
WWF-Indonesia mengupayakan #BeliYangBaik agar publik turut memainkan peran konsumen bijak yang mengkonsumsi produk ramah lingkungan, salah satunya produk berlabel RSPO. Pilihan konsumsi produk-produk tersebut akan berkontribusi pada perbaikan sawit yang lebih ramah lingkungan.
Tak hanya itu, membeli produk berlabel RSPO juga bisa menciptakan pasar bagi petani-petani sawit swadaya yang mempraktikkan sawit berkelanjutan. Upaya ini akan memutus rantai industri sawit yang dikuasai perusahaan-perusahaan besar yang merusak. Pada saat yang sama, industri sawit akan berpindah pada petani sawit swadaya pelaku sawit berkelanjutan. Ini akan membantu meningkatkan kesejahteraan para petani sawit swadaya.
Sertifikasi RSPO jadi rantai yang menghubungkan konsumen dengan produsen dalam upaya menciptakan sawit lestari. Menggunakan kosmetik bersertifikasi RSPO adalah andil yang sama besar dengan konsep sawit lestari yang dipraktikkan petani sawit swadaya.
Upaya bahu-membahu ini mesti terus dilakukan untuk melindungi hutan tropis Indonesia. Hutan yang menjadi rumah bersama bagi manusia; monyet beserta dua belas persen spesies binatang mamalia lain (termasuk spesies yang terancam punah seperti orang utan, harimau sumatra, dan badak); sepuluh persen spesies tumbuhan dunia; serta tujuh belas persen spesies burung yang dikenal dunia.
Di rentang waktu yang cukup lama, perempuan yang karib dengan laut itu tergeming. Baginya, membiarkan kakinya diciumi buih ombak adalah serupa ziarah. Ia mengingat kembai lelaki itu--yang pergi melaut, membiarkan perahu terbawa siur. Lepas dari rangkul pasir.
Hujan tak pernah sederas hari itu. Tetapi perempuan itu tetap teguh melepas sauh, melarung perahu pada gelap yang misterius. Di hatinya ia yakin, lelaki itu akan pulang dengan bau amis yang khas, sebelum laut surut menyisakan satu kilometer pantai.
Di atas pantai yang hitam, buih ombak terasa selalu putih. Perempuan itu tak pernah menyangka hari itu laut sangat kelabu. Laut membiaskan harinya yang sungguh muram.
Mula-mula adalah kabut. Lalu titik menjadi perahu yang samar mendekat. Baru kian nyata jala, ikan, dan hasil laut lain bersama bau amis itu. Lalu, bagaimana mungkin perempuan itu tak mencari sepasang mata tajam yang selalu menatapnya dengan penuh cinta dan sebidang dada berbulu tempatnya berbenam.
Tapi perempuan itu tak akan pernah lagi menemukannya. Di pagi itu, matanya hanya menemui kilau pasir memantulkan matahari pagi. Ombak menghempas dengan lidah-lidah halus yang mendesis menciumi kakinya. Mendesis membisikkan segala kisah laut yang gelap, gelombang yang menghempas, dan badai yang berkecamuk.
Ia kembali mengingat lelaki dengan bau amis yang khas itu, yang selalu menggulung tembakau dalam lembaran daun, dalam suatu musim ketika hujan berderai dingin. Camar terbang rendah, hinggap di menara suar. Riak yang tenang, katamu, tak akan melahirkan pelaut yang tangguh.
Charlie Chaplin mungkin tak akan pernah menjejakkan kakinya di stasiun Cibatu, Garut bila ia tak mencecap keindahan Garut dalam sepotong postcard. Adalah Thilly Weissenborn (1917), mat kodak dari Perancis, yang membubuhkan hasil jepretannya dalam kartu pos itu.
Thilly memotret lanskap Garut dengan lengkap untuk kemudian mencetaknya di sebuah studio foto lux Artelir yang berada di bagian atas Garoetse Apotheek di Societeit Straat (kini Apotek Garut di jalan A. Yani). Tak hanya merekam lanskap alam serupa sawah, perkebunan, gunung, kawah, dan situ; Thilly juga memotret kehidupan masyarakat dan arsitektur bangunan.
Salah satu karya foto arsitekturalnya adalah bangunan-bangunan di Kampung Papandak, Paseh, Garut. Bangunan ini adalah rumah adat Sunda dengan konstruksi julang ngapak dengan cagak gunting di ujung atap. Julang ngapak adalah gaya arsitektur tiang untuk menopang bentuk rumah panggung yang berdinding bilik. Cagak gunting, di ujung atap, menyiratkan bentuk atap melengkung serupa gunting yang menganga.
Dari foto ini lah, Soewarno Darsoprajitno--mantan Kepala Museum Geologi Bandung--yakin bahwa bangunan Tehnische Hoogeschool te Bandung adalah modernisasi dari rumah adat Sunda.
Sementara majalah Mooi Bandoeng (1935), Almanak voor Bandoeng (1937), dan Hein Buitenweg menyebut bentuk bangunan yang sekarang menjadi Aula Barat dan Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini diambil dari gaya arsitektur Rumah Gadang di Sumatera Barat. Guru Besar Arsitektur ITB, Prof. Ir. Van Romondt, berbeda lagi. Menurutnya, atap ITB diambil dari bentuk atap rumah Batak.
Perdebatan ini muncul ketika Haryoto Kunto, dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, membahas asal-usul gedung yang dibangun tahun 1920 tersebut. Bangunan ini dirancang Ir. Maclaine Pont--arsitek mazhab Indo-Europeeschen Architectuur stijl. Ia memadukan gaya arsitektur bangunan tradisional nusantara dengan keterampilan teknik konstruksi Barat.
Dari foto ini juga lah, Abah Kuswandi--pensiunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII--membangun dua rumah Papandak di daerah Cimurah, Karangpawitan, Garut. Rumah ini didirikan untuk mempertahankan tradisi dari bentuk julang ngapak cagak gunting yang kini tak lagi bisa kita temukan dalam bentuk asli, kecuali dalam buku fotografi Tante Thill, begitu ia biasa disebut, yaitu Vastgelegd voor later.
Meski bangunan di Kampung Papandak dengan bentuk tersebut kini telah hilang, kampungnya masih bisa ditemukan dengan nama kampung yang masih sama, Kampung Papandak. Ia berada di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Garut. Abah Kuswandi merinci, jika ingin menuju ke sana, dari jalan raya Wanaraja, setelah Pasar Wanaraja belok kanan ke arah kawah gunung Talaga Bodas. Setelah menempuh beberapa kilometer, belok kiri menuju Kampung Papandak. "Kampung Papandak di Garut merupakan salah satu kampung tempo dulu yang hilang," sesalnya.
Rumah Papandak "tiruan" yang dibuat Abah Kuswandi ini berada pada satu komplek bernama Rumah Bambu beserta bangunan khas sunda lain seperti bale patemon, saung rangon, dan leuit. Leuit adalah tempat penyimpanan cadangan padi, sedangkan Saung Ranggon adalah tempat petani menarik tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah atau sejenisnya. Keduanya dibuat dari bambu dengan konstruksi tinggi sampai 3 meter.
Di petak-petak Papandak ini juga ia getol mengumpulkan berbagai barang berupa foto-foto lama, peta kuno, beragam jenis daun teh, harimau Sancang pengganggu kebun teh yang telah diawetkan, dan berbagai informasi lainnya tentang teh dan budaya tani Parahyangan.
Rindu memang kadang menyusup dari sebuah foto. Tapi dalam mata Abah Kuswandi, rindu itu tak ia terjemahkan hanya jadi kenangan tertinggal. Ia bangun kembali rumah sejarah. Tempat Tante Thill memotret objek fotonya. Tempat Chaplin diundang kembali untuk menjejakkan kakinya. Tempat masa silam datang kepada kita. Dan kitalah yang menjadi tamu.
Saya bayangkan Karel Frederik Holle, dengan topi fez ala Turki, sedang mendongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet pada anak-anak petani di kebun tehnya. Anak-anak asik saja menyimak basa Sunda Holle yang fasih--basa Sunda dari mulut preanger planter Amsterdam yang mengelola kebun teh Waspada di Dayeuh Manggung, kaki gunung Cikuray, Garut.
Holle kecil beserta adik-adiknya dibawa ayah-ibunya ke Hindia Belanda untuk mencari penghidupan setelah usaha pengolahan gulanya bangkrut. Tapi hidupnya masih jauh dari senang. Ibunya yang sedang mengandung tua mangkat tak lama setelah adik bungsunya meninggal. Anaknya yang lain juga menyusul. Tapi yang paling membuat Holle kecil sedih adalah kepergian ayahnya yang tiba-tiba di Bolang, di daerah Bogor sekarang.
Holle pada akhirnya dititipkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkantor di Istana Bogor. Ia dididik hingga umur 18 tahun untuk bekerja menjadi sekretaris di kantor pemerintah. Setelah diberi modal, Holle mulai merintis membuka perkebunan teh Waspada di Garut. Di sini lah Holle mengembangkan diri. Kebunnya dijadikan semacam perkebunan eksperimen untuk meneliti berbagai segi pertanian seperti tentang pencetakan sawah kering di tempat-tempat yang tinggi untuk menanam sayur mayur dan cara pengembangan ikan di kolam-kolam kecil.
Holle dikenal berjasa bagi pribumi. Ia mendirikan Kweekschool voor Onderwijzers op Inlandsche Schoolen (Sekolah Pendidikan Guru untuk Pribumi). Ia ditugaskan pemerintah untuk menyusun buku-buku bacaan serta pelajaran Basa Sunda. Holle, dibantu Moesa dan penulis yang tinggal di distrik Limbangan, menelurkan 13 judul buku, di antaranya Katrangan tina Perkawis Mijara Laoek Tjai (Moehamad Oemar), Wawatjan Djaka Miskin (Wira Tanoe Baija), Wawatjan Woelang Poetra (Adi Widjaja), Wawatjan Woelang Krama (Moehamad Moesa), dan Wawatjan Radja Darma (Danoe Koesoema).
Lewat abah Kuswandi lah cerita ini sampai. Abah Kuswandi adalah pensiunan PT Perkebunan Nusantara VIII. Ia berkarier pertama kali sebagai anggota staf PT Perkebunan XIII yang sekarang bergabung dengan PTPN VIII. Kuswandi bertugas mendampingi para keturunan preanger planter menelusuri kembali jejak leluhurnya di Indonesia.
Dari kunjungan-kunjungan tersebut, abah Kuswandi mendapat wawasan tambahan atas sejarah teh yang sering ia baca. Ia getol mengumpulkan berbagai barang berupa foto-foto lama, peta kuno, beragam jenis daun teh, harimau Sancang pengganggu kebun teh yang telah diawetkan, dan berbagai informasi lainnya tentang teh dan budaya tani Parahyangan. Petak-petak saung, bangunan Papandak penyimpan memoar tentang teh, dan bangunan lain berada pada satu komplek yang ia beri nama Rumah Bambu. Rumah ini berada di Kampung Cimurah, Karangpawitan, tak jauh dari kota Garut.
Di sepetak saung, abah Kuswandi bercerita tentang bagaimana Holle sangat berperan pada sejarah teh yang tak bisa dipisahkan dari sejarah tatar Parahyangan. Ia bercerita tentang Holle yang menerbitkan buletin Mitra Noe Tani. Di buletinnya ini, Holle tak hanya memuat cara bertani dengan benar, tetapi juga memuat puisi dan dongeng Sunda untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Abah Kuswandi menutupnya dengan cerita Holle yang pindah ke Bogor karena sakit pada tahun1889, kebun tehnya bangkrut, hingga pada akhirnya, tahun 1896, Holle pergi selama-lamanya menyusul ibunya yang dimakamkan di Tana Abang, Batavia.
Saya bayangkan Karel Frederik Holle, dengan topi fez ala Turki, terdiam dan memandangi kebun tehnya. Tapi pikirannya melangut pada orang-orang pribumi. Dalam pikirannya, barangkali ia tak akan menyangka, karena cintanya, anak-anak yang dulu didongenginya mendendangkan Kinanti ketika ia tiada.
Malah abdi mantri guru
Dikukut basa keur leutik
Dilebetkeun ka sakola
Saban sasih nampi gajih
Pasihan ti Kanjeng Holla
Abdi nuhun laksa keti.
Under the cloudy gray sky, slight rain, you came to me with a cup of Papua Arabica coffee while I was bitting sweet crunchy pisang goreng. It was just one morning on the first day of 2014 at the North of Bandung.
Without any bla-bla-bla, you said you’re bored with any kind of wishes that people made on the night before year changes. “It’s so cliché,” you grumbled. That ritual will be forgotten right after the day of a new year comes. It’s like this morning, the rest of fireworks and trumpet from the night before had been gradually disappeared by the misty drizzle of the new year rain.
So I offered an agreement. We dare to challenge each other. We made a challenge-list to be exchanged, instead of wish-list. A wish just a wish, that rarely comes with any efforts to make it true. Here they are some challenges that I gave and must be achieved on this year.
Begin with passport! Go abroad to meet a strangers and make them friends. Master local language in conversational level. You can also plan a two-week-road-trip or solo trip. Climb at least two mountains without leave any rubbish. Emphasize on “without leave any rubbish.”
Make a complete opus based on this journey. Write down your story in the middle of your hustle and bustle writings about politics. Publish it, both story of your journey and your story of “serious” political issue, at least five on national newspapers or magazine and one on scientific journal.
Otherwise, arranged photo story that captured by your own cool camera, your various own perspective. Publish on Berjalan Berdua we made together. Like what Proust said, “The only real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”
Be an “organic religionist”—a modified term from Gramsci’s “organic intellectual.” The way to become much closer to God is helping the poor or otherwise giving preferential treatment to those who have been discriminated against and persecuted—the impoverished and marginalized such as farmers, lower-class workers, beggars, and prostitutes. It is more imperative now than ever to rejuvenate the social struggle. Join their community and involve on empowerment project.
And, oh, you said you want to have a cool private library for you and your future kids? Stay read a book a month (even more) so that, beside you could collect the books, you could also have library of thought on your mind.
The last, I think it will be funny for you to become a cooking expert. Rendang should be on the top of the list of your cooking expertise. Hahaha.
The rain hadn’t stopped falling when you bitted the last piece of pisang goreng.
We’re going to across 2014, just as far away as we can go, with that idea swim gently in our minds. Good luck.
Di pondokan, di sebuah desa yang agak jauh dari kota besar itu, kau menginap barang beberapa hari untuk merasakan sejuknya udara kaki gunung dari balik selimutmu yang tebal. Menunggu pagi yang selalu bermula dari recok ibu-ibu di pemandian umum yang berjarak hanya sepelempar dari kamarmu itu.
Sambil senyum-senyum, kau dengar percakapan-percakapan sederhana mereka: tentang KB yang jebol, tentang harga tahu yang naik, tentang mitos si burung hantu, tentang keruwetan berkas permohonan dana BOS...
Lalu ibu-ibu selesai cuci dan mandi. Obrolan berganti suara anak-anak mengaji dari Madrasah yang gedungnya belakang-membelakangi tempat pemandian umum itu.
Dan pagi di tempatmu selalu dibuat dari hal-hal sederhana itu.
Dari balik selimutmu yang tebal dengan mata yang masih setengah terbuka, kau mencoba beranjak, berniat mengubah pagi menjadi cerita pendek yang ringan atau esai yang renyah.
Kau mungkin tak pernah sadar. Kau, yang asik menulis di ruang tamu pondokan sepi itu, persis seperti apa yang selalu kau ceritakan dengan mengebu-gebu ketika kita kesana-kemari membicarakan masa depan.
Kau selalu memimpikan hidup yang diam-diam telah jadi keseharianmu.
Sketsa Tony Rafty: Indian Troops Attacking Position in Surabaya 1945
Tak lama setelah Agustus itu, di Surabaya, orang-orang mabuk kemenangan. Mereka mulai fasih mengucap merdeka. Namun kemudian mereka diuji kembali, seperti sukacita orang-orang Roma yang diuji letus Vesuvius.
Indonesia yang seumur jagung didatangi kembali Angkatan Laut Belanda. Laksamana Shibata Yaichiro—penyokong Republik pada senjata-senjata Jepang—dipaksa menyerah ketika Belanda mencapai Surabaya sebagai representasi sekutu. Belanda menguasai Surabaya dan memerintahkan Indonesia untuk menyerahkan semua senjatanya pada Sekutu. Rakyat Indonesia, yang sedang mabuk kemenangan karena baru mengucap merdeka, bergejolak.
Bung Tomo—yang jadi figur, simbol, dan tokoh revolusi—meneriakkan semangat revolusi ke seluruh penjuru kota melalui radio lokal. Pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi mengumumkan bahwa perang mempertahankan Indonesia adalah perang di jalan Tuhan dan menjadi kewajiban semua umat Islam. Kyai dan santri-santri dari pesantren di Jawa Timur tumpek-blek di Surabaya.
Di suatu subuh pada hari yang kini kita kenal dengan Hari Pahlawan, tentara asal Britania membombardir Surabaya setelah komandannya, Mallaby (yang juga bagian dari Allied Forces Netherland East Indies), tewas. Hampir 6.000 rakyat Indonesia gugur dalam pertempuran. Ribuan orang lari menyelamatkan diri dari kota yang hancur ini.
Pengorbanan dan perlawanan mereka menjadi simbol dan terus membakar semangat revolusi. Revolusi jadi semacam laku yang senantiasa “belum selesai.” Semangatnya terus-menerus menjadi napas dalam tiap kerja. Pramoedya Ananta Toer, dari medan perang antara ratusan pemuda melawan militer Belanda yang ingin negeri ini Hindia Belanda Kembali, mencatat dalam Di Tepi Kali Bekasi: sebuah revolusi besar sedang terjadi, “revolusi jiwa—dari jiwa jajahan dan hamba menjadi jiwa merdeka.” Jiwa merdeka adalah tujuan. Jiwa merdeka adalah makna dari mereka yang gugur, terbaring, tinggal jadi (mengutip sajak Chairil Anwar) “tulang yang berserakan, antara Krawang dan Bekasi.”
Lalu tersebutlah Idrus—seorang yang kerap dicap kontrarevolusi karena suara sumbangnya. Melalui noveletnya, Surabaya, ia menyelewengkan hari Pahlawan yang sakral itu. Surabaya, salah satu noveletnya yang diterbitkan Merdeka Press tahun 1947, menjadi satu suara lain yang merekam tumbuh kembang revolusi Indonesia. Surabaya kemudian menjadi sebuah cerita pendek yang dikumpulkan bersama karya Idrus yang lain dalam sebuah buku berjudul Dari Ave Maria ke Jalan lain Ke Roma.
Sejak pertama membaca “Surabaya”, Idrus langsung menyuguhkan realita yang karikatur. “Orang-orang dalam mabuk kemenangan. […] Kepercayaan kepada diri sendiri dan cinta tanah air meluap seperti ruap bir. Pemakaian pikiran menjadi berkurang, orang-orang bertindak seperti binatang […]” Orang-orang Surabaya digambarkan sebagai “[…] cowboy-cowboy. Di pinggang mereka revolver-revolver dan pisau belati.” Namun revolver-revolver yang mereka pegang hanya ditembakkan ke atas. “… sekarang mereka bersorak gembira mendengar setiap tembakan.” Pemimpin-pemimpin tentarapun hanya berkata dengan kepastian seratus persen, “Surabaya akan kita rebut kembali! Selekas mungkin!” Namun, setelah maju ke garis depan, masih ada tank-tank dan kapal terbang musuh. Idrus dengan keras mengatakan,“Kedua benda itu tidak bisa digertak dengan perkataan bual belaka.”
Orang-orang Surabaya terjebak slogan-slogan revolusi. Barangkali Idrus dalam “Surabaya” ini mengamini tesis Tan Malaka dalam Aksi Massa yang terbit tahun 1926. “Revolusi,” ujar Tan, “bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan. “Surabaya” memotret realitas itu dengan tajam: revolusi yang terjadi tak bisa begitu saja lahir atas perintah yang hanya jatuh pada slogan.
Dalam “’Terus Terang’—Pedoman Idrus”, sebuah wawancara pada tahun 1948 yang terbit pada mingguan Siasat, Idrus memerikan keberaniannya memotret realitas yang tak diindah-indahkan dalam cerita-ceritanya. Orang-orang banyak bertanya mengapa saya membuat tulisan yang panjang tentang kotoran sapi di jalan ketika kita dikerubungi keindahan-keindahan. Realisme bagi saya adalah sesuatu yang lebih tinggi. Kotoran sapi yang saya lukiskan dapat menjadi pupuk bagi Indonesia dan masyarakatnya yang telah tidur selama 350 tahun. Kita telah punya banyak penulis yang melukiskan kelembutan angin. Kotoran Sapi ini menjadi antitesis dari fantasi yang digambarkan pada era-era sebelumnya. “This cow shit is the antithesis of the fantasies of an earlier era. I'm convinced that out of the present antithesis and the old thesis will emerge a synthesis. It is this synthesis that I'm pursuing, but I haven't yet achieved it.”
Tulisan Idrus tersebut menjadi prosa yang khas, yang jauh berbeda dari gaya Pujangga Baru. Holmes (1955) menyebutkan bahwa, “The polished, pretty sentences of Pudjangga Baru days were replaced by short, punching phrases filled with a biting irony describing the misery of the ordinary Indonesian under the Japanese heel.” Dengan kata-katanya yang lugas, “Surabaya” menjadi semacam evolusi Idrus dari gaya romantik ke gaya khas satir—tragis tapi komikal.* Jassin, dalam pengantar novelet Surabaya yang diterbitkan Merdeka Press tahun 1947, mengatakan “Di kala mana sedang Revolusi berkobar dengan hebatnya dengan semboyan-semboyan yang berapi-api, pengarang telah melihat dan mengeritik berbagai kekurangan yang dilihatnya.”
Ringkas, lincah, dan lugas, Idrus menjungkirbalikkan “kesakralan” revolusi. Idrus menggambarkan kegelisahan dan keluhan yang kerap berseliweran saat itu sesuai dengan sinisme massa yang meragukan janji-janji revolusi di tengah-tengah kemelaratan dan kesengsaraan zaman.
“Surabaya”adalah letupan revolver yang tidak ditembakkan ke arah tempat Tuhan lama—ke atas. “Surabaya” menjadi peluru skeptisitas Idrus yang ditembak-tembakkan ke arah masyarakat sebagai kritik di tengah gegap gempita semboyan revolusi.
* Idrus sempat bekerja di Balai Pustaka. Ceritanya, Ave Maria dan Kejahatan Membalas Dendam, ditulis di awal perkenalannya dengan figur seperti Sutan Takdir Alisjahbana di Balai Pustaka. Namun, karena gajinya kecil akhirnya Idrus pindah dan bekerja di Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa yang berada di bawah Seksi Propaganda Sendenbu buatan Jepang. Pada saat itulah karyanya yang tajam ditulis.
Semisal kita di padang Edelweiss, dengan kaki berjulur lurus ke depan. Kita menghadap ke barat membiarkan punggung diseka sepenggalah matahari. Malam baru saja membuat kita mengeluh tentang dingin yang menusuk tulang, tapi pagi datang mendekap --dengan cahaya mentari yang malu-malu.
Kau sesekali menyeruput teh di gelas yang kau genggam dengan erat. Dan aku membisikkan sebaris kalimat dari Bukan Pasar Malam, untukmu.
"Dan terasalah olehku betapa gampangnya orang yang hidup dalam kesengsaraan itu kadang-kadang--dengan diam-diam--menikmati kebahagiaan."
Kubuat tanda di titik itu, di halaman sebelum bagian ke-12 dari cerita. Kuletakkan.
Aku membenarkan kain yang membebat leher. Menghela napas. Dan meminta teh dari gelas di genggammu yang erat.
Kabut berangsur pudar dengan Water yang lamat-lamat terdengar dari pemutar musikmu. Hangat matahari datang rekah-merekah dengan bisikmu yang pelan-pelan--"Happiness doesn’t take its time to judge who should get its taste."
Pada tanggal 30 September, satu masa yang tersohor sebagai hitam-kelam sejarah Indonesia, trio folk asal Bandung bernama Tigapagi menelurkan debut full albumnya, Roekmana’s Repertoire. “Kita juga ingin mencatat sejarah,” begitulah, kira-kira, kata mereka.
Ihwal pemilihan tanggal ini, pada awalnya saya skeptis karena sudah terlalu banyak karya tafsiran yang kait-berkait dengan peristiwa di tanggal ini. Saya sudah agak bosan dengan riuh-gemuruh wacana tentang 30 September 1965 yang mendengung-dengungkan hal-hal yang hampir seragam: tentang korban dan pelaku, tentang PKI dan Orde Baru, serta pada akhirnya mengajak (untuk tidak menyebut berpropaganda) sadar bahwa kita harus melawan, bahwa kita tidak boleh melupakan bagian sejarah ini, bahwa kita harus #melawanlupa. Semua menafsir 65 dengan nada yang juga seragam: sedih, kelam, dan gelap.
Kemudian muncul single “Alang-alang.” Lagu ini dibuka dengan suara tawa anak-anak yang nyaru dengan suara kicau burung dan kemudian disusul suara flute yang menjauhkan lagu ini dari kesan sedih, kelam, gelap, dan menggiring kita pada suasana yang sedikit riang. Namun, ketika ditilik, saya kemudian membayangkan sebuah paradoks, di balik nada yang sedikit riang ini, liriknya didendangkan oleh kakek yang bernostalgia mengenang anaknya yang berada di entah. Kakek itu mulai memainkan gitar dengan airmata yang sedikit-sedikit merembes sejak lirik “Cuma pilu… Cuma pilu….” dan memuncak di “Anakku hilang tak kembali….” yang terus berulang hingga akhir lagu. Di sana, tersembunyi rasa kehilangan yang dalam dan sangat personal. “Alang-alang” membuat saya bergidik akan kebaruan dan kesegarannya menafsir peristiwa G30S. Meskipun single ini dirilis pada Hari Tani (yang kata press release-nya disambung-sambungkeun), saya tetap menganggap ini adalah tafsir yang apik dan epic atas G30S.
Secara konsep, Roekmana’s Repertoire lebih terasa sebagai perwujudan ide Sigit. Ide Sigit ini terus berkembang bersama pengembaraan musiknya hingga menjadi additional player di SORE dan membuat project bersama Achmar Firza Paloh atau Ade Paloh di Marsh Kids. Kedekatannya ini, tak ayal, membuat ide Sigit terpengaruh (atau mungkin dipengaruhi) Ade. Ini terlihat dari peran keduanya yang signifikan, bahkan terasa dominan. Sigit mendominasi dengan menulis lirik; bermain gitar, bass, dan keyboard; mengisi suara latar di hampir seluruh lagu; dan turut mengaransemen seksi alat musik gesek. Sementara Ade memainkan peran besar menjadi produser. Peleburan ide ini membuat Roekmana’s Repertoir dibumbui rempah-rempah SORE, terutama dalam “Alang-alang” yang dinyanyikan langsung Ade Paloh, “Happy Birthday” dan aransemen flute pada “We Were Lost in Our Hometown”.
Peran Prima Dian Febrianto dan Eko Sakti Oktavianto pada awalnya terasa tak lebih dari permainan gitar, piano, dan kecapi mengiringi vokal Sigit yang kadang Ade-esque. Namun perannya dalam mencipta nada yang meleburkan tangga nada diatonik dan pentatonik tak bisa diremehkan. Mereka mengikat perjalanan musikalitas pada Roekmana’s Repertoir yang berjalan jauh dan menjejakkannya kembali pada ciri khas awal Tigapagi. Mereka mematangkan materi lagu yang dulu turut didukung oleh Aryanti, Joshua Agus Siregar, Indra Kusharnandar, dan Alfa Haga Rachmadi—formasi awal Tigapagi. Beberapa lagu seperti “Erika”, “S(m)unda”, “Batu Tua”, “Sorrow Haunts“ (dulu “Sorrow Sound”), “Tangan Hampa dan Kaki Telanjang”, “Happy Birthday”, “The Way”, dan “Tertidur” bukan lah nomor baru dan tak jarang dimainkan oleh mereka.
Pujian patut dilayangkan pada permainan alat musik gesek yang mempermatang lagu-lagu Tigapagi. Saya sudah terbiasa mendengar Tigapagi tanpa ditemani suara gesek violin, viola, dan selo. Tapi string section di album ini membantu menciptakan suasana kelam khas Tigapagi, bahkan lagu-lagu di album ini, terutama nomor “Batu Tua”, bisa menggeser lagu “Gugur Bunga”—dengan gesekan biolanya itu—dari tangga lagu tersuram versi saya. Penghargaan untuk string section arranger Bilawa Ade Respati, Fiola C. Rondonuwu, dan Sigit; pemain violin Fiola C Rondonuwu, Alvin Witarsa, Fahriza Luddin, dan Putu Sandra D. Kusuma; pemain viola Fiola dan Arisa Sofiani; serta pemain selo Mega Ariani.
Album ini merangkum 14 lagu dalam satu track saja sebagai kesatuan yang utuh, terus berputar sambung-menyambung. Bahkan di akhir, di menit 01.05.00, lagu bisa disambung dengan awal lagu. Alih-aliih untuk membuat orang mendengarnya dengan utuh dari lagu pertama hinggga ke-14, hal ini adalah strategi agar orang susah membajak isi CD. Track yang berdurasi 65 menit dalam satu file membuatnya jadi bermega-mega bytes dan memperbesar kemungkinan susah diunduh. Apalagi kalau mau mengunduh lagu per lagu.
Album ini juga dimeriahkan oleh beberapa musisi tamu. Cholil Mahmud memainkan vokal pada “Pasir”—tak melunturkan timbre-nya dalam balutan nada gitar diatonis-pentatonis. Vokal Ida Ayu Made Paramita Sarasvati dalam “Erika” memberi warna tersendiri dalam album ini. Dan Aji Gergaji menutup Roekmana’s Repertoire dengan petikan gitar elektrik dan suara rendah lirik dramatik
“Kutertidur sendiri lagi. Namun kini, mungkin abadi…”
Kemudian, lagi, suara tawa anak-anak yang nyaru dengan kicau burung. Akhir yang juga berarti awal.