Dikala skripsi melanda pikiran, saya mulai terjebak dalam nostalgia masa lalu yang entah mengapa membuat diri ini merasa terbawa arus emosi tabularasa yang menyelimuti batin, ahh sudahlah mari seruput kopinya
My Thought, Wacana Dewi
Show & Tell

No title available
macklin celebrini has autism

❣ Chile in a Photography ❣
YOU ARE THE REASON
Keni
NASA

No title available

tannertan36
Noah Kahan
Today's Document
cherry valley forever
KIROKAZE

@theartofmadeline
🩵 avery cochrane 🩵
hello vonnie
art blog(derogatory)
No title available
One Nice Bug Per Day
No title available

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from India
@dewikarinasaa-blog
Dikala skripsi melanda pikiran, saya mulai terjebak dalam nostalgia masa lalu yang entah mengapa membuat diri ini merasa terbawa arus emosi tabularasa yang menyelimuti batin, ahh sudahlah mari seruput kopinya
My Thought, Wacana Dewi
Therefore I tell you, do not worry about your life, what will you eat or drink, or about your body, what you will wear. Isn't there more to life than food and more to the body than clothing? Look at the birds in the sky; They do not sow, or reap, or gather into barns, yet He feed them. Aren't you more valuable than they are ? . Can any one of you by worrying add a single hour to your life ?
#BibleSays
Dialektika Kedewasaan part 1
Kedewasaan akan tercermin ketika diuji dalam sebuah kondisi yang mendesak diri kita untuk bergerak maju dan meninggalkan keegoisan, yang kemudian mendegradasi keegoan ini dengan peleburan yang menghasilkan sikap dewasa. Entah berapa banyak orang yang dikenal bijak dan santun, namun terkadang belum mampu memposisikan kedewasaan sikapnya dalam beberapa problematika. Sehingga hipotesanya yakni manusia bercitra bijak belum tentu mampu bersikap dewasa ketika diperhadapkan dengan sebuah masalah.
Apakah menjadi dewasa itu sulit ?
Tidak ada yang instan dalam proses menuju penguasaan diri. Kelemahan tiap manusia secara general ada pada ketidakmampuan dalam mengontrol dirinya dengan baik. sehingga hal ini mengharuskan manusia untuk tidak pernah berhenti belajar, karena selama kita hidup maka kita akan terus belajar, salah satunya adalah belajar menjadi pribadi yang dewasa.
Tiap Individu memiliki hak untuk menyatakan perspektifnya di muka umum. walaupun pandangannya dianggap sebagai minoritas , Namun individu lain patut menghargai dan mendewasakan sikap dalam menyikapi perbedaan tersebut
#DewiKarinasaSays
Idelisme Kepemimpinan di Indonesia
Jika negara kita ibarat pohon,
Pemimpin Ibarat akar yang menentukan substrat hidup untuk pohonnya,
Rakyat Ibarat batang pohon yang tumbuh mengikuti letak akarnya.
Jika akar mengalirkan racun pada batang pohonnya, pohon akan mati. Begitupun ketika akar memilih tempat hidup yang salah, pohon tidak akan tumbuh seperti seharusnya.
Tiada satupun negara yang mampu dijalankan tanpa adanya kepemimpinan yang layak. Indonesia telah 71 tahun dijalankan oleh beragam pemimpin yang melukis negara kita sedemikian rupa dengan berbagai jatuh-bangun yang dinamis hingga saat ini. Kita pernah berjaya dan dikenal dunia masa pemerintahan Soekarno, kita juga pernah melalui penderitaan krismon pada masa Soeharto, dan berbagai gejolak hingga pemerintahan negara kita sekarang.
Jika kita cermati perubahan antar periode kepemimpinan, ternyata degradasi berbagai sudut telah menjadi celah besar pembeda kepemimpinan saat ini dengan dahulu. Contohnya, dahulu pemimpin sangat dijunjung tinggi hingga terjadi penobatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Hal tersebut merupakan perwujudan kepercayaan dan kekompakan yang sempat terjalin antar rakyat dan pemimpin masa lalu. Namun, kondisi saat ini berbeda. Seolah sangat jauh kesepakatan antar rakyat dan pemimpin sehingga kini banyak kita temui aksi perlawanan seperti demonstrasi anarkis, apatisme, gerakan melepas, hingga aksi persuasif memojokkan dan aksi kontras lain yang ditujukan pada pemerintah.
Degradasi berupa krisis kepercayaan kepada pemerintah terjadi karena pemimpin bangsa selalu familiar dengan gagasan yang menjadi janji bagi kemakmuran masyarakat. Namun, janji tersebut sering teringkari dan menyebabkan turunnya kepercayaan rakyat yang kemudian mencetak trauma di hati bangsa. Jera yang dialami masyarakat akhirnya diwujudkan dengan ketidakpatuhan terhadap pemerintah. Kondisi itu diperparah dengan fakta: “Rata-rata masyarakat Indonesia awam terhadap detail sistem pemerintahan dan kurang kedewasaan berpolitik” yang berimbas: masyarakat mudah terprovokasi argumen negatif. Dan dengan kepercayaan masyarakat yang kronis, upaya perbaikan pemerintah terhalangi dan kepemimpinan mengalami keadaan pesimis.
Ironis bila problematika yang menyangkut keberlangsungan negara ini terus berlanjut. Kepemimpinan Indonesia bisa menjadi label buruk bahkan nasib masa depan negeri ini mengambang.
Pemuda bangsa dengan segala kemampuannya adalah putra mahkota sekaligus aset paling berharga bagi negeri ini. Cepat atau lambat, kepemimpinan negeri ini akan segera berpindah ke tangan pemuda. Namun, demi kesiapan dan perbaikan kepemimpinan Indonesia di masa depan, pemuda membutuhkan keteladanan yang sesuai dengan ideologi dan cita-cita bangsa. Keteladanan yang ideal untuk diterapkan adalah keteladanan yang berlandaskan Pancasila.
Kriteria dasar kelayakan pemimpin Indonesia terpatri dalam nilai-nilai pancasila. Keteladanan berdasarkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yaitu bahwa kriteria pemimpin bangsa masa depan adalah pemuda yang patuh pada ajaran agama. Keteguhan seorang pemimpin memegang ajaran agama akan menjauhkannya dari penyimpangan, misalnya korupsi. Pada sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, diteladankan bahwa ketika menjalankan roda pemerintahan, seorang pemimpin harus berpedoman pada HAM dan menerapkan keadilan. Sekaligus mencitrakan pemimpin Indonesia dengan segala kredibilitas nasionalisme yang mengalir dalam jiwanya. Sedangkan sila “Persatuan Indonesia” mengajarkan kecintaan yang tulus kepada indonesia dan tekat yang kuat dalam mempertahankan kesatuan ditengah beragam perbedaan di negeri ini, sesuai dengan semboyan kita: Bhineka Tunggal Ika. Kemudian, sila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan” terkandung kriteria mutlak seorang pemimpin yaitu kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang dicerminkan dengan musyawarah mufakat dalam usahanya memakmurkan masyarakat. Dan sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” menegaskan keadilan yang menjadi pondasi dalam menjalankan amanat rakyat. Dengan kata lain, setiap WNI berhak mendapatkan perlakuan yang sama di mata pemerintahan.
Demi terwujudnya kepemimpinan yang layak bagi masa depan Indonesia, kredibilitas generasi penerus bangsa dengan segala karakter nasionalismenya patut menjadi dedikasi untuk dibangun. Sejalan dengan itu, peranan keteladanan pancasila berkaitan dengan kepemimpinan Indonesia amat vital dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan tanggung jawab tinggi, diharapkan generasi muda berkarakter bangsa Indonesia mampu menjalankan kepemimpinan Indonesia dengan peningkatan kredibilitas, dan membawa bangsa mencapai kedaulatan utuh. Jika bukan generasi muda, siapa lagi yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini?
Mejadi Wanita dalam penantian dimulai dengan penyerahan tanpa ragu kepada Yesus. kekuatan dan disiplin yang diperlukan untuk menjadi wanita yang rajin,beriman,baik,penuh pengabdian,murni,aman,puas,penuh keyakinan dan sabar
Lady In Waiting
Faith won't make our life free from problems, nor make us straight path without any obstacles. But with faith, we are strong enough to face it all because faith renews our strength. 1 Corinthians 16:13 (WEB) Watch! Stand firm in the faith! Be courageous! Be strong!
The Bible Says
Belajar Dari Budaya Patriarki Yahudi Dalam Konteks Era masa kini
Bahan ayat Alkitab : 1 Timotius 2 :8-15
(8 ) Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci tanpa marah dan tanpa perselisihan. (9)Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal. (10) tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. (11) Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. (12) Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. (13)Karena Adam yang pertama dijadikan , kemudian barulah Hawa. (14)Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. (15)Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak , asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.
Ayat tersebut menjelaskan tentang konteks budaya orang yahudi yang menganggap laki-laki paling utama, sedangkan perempuan dianggap kelas dua yang dikesampingkan. Orang yahudi ketika itu menganut budaya patriarki yang lebih meninggikan derajat laki-laki, bahkan merendahkan derajat perempuan. Suara-suara perempuan dianggap tidak ada artinya, hal ini nampak terimplementasi diranah hukum yang mana perempuan tidak bisa dijadikan sebagai saksi dalam suatu perkara di pengadilan. Sehingga hal ini mengharuskan hanya laki-lakilah yang bisa menjadi saksi. Budaya patriarki yahudi juga nampak dalam praktek rumah peribadatan yang memberikan sekat pemisah antara perempuan dan laki-laki. Melalui ayat Alkitab yang terdapat dalam 1 Timotius 2 :8-15, menjabarkan tentang kehidupan jemaat efesus yang digembalakan timotius diera kaum yahudi. Ketika di sebuah rumah ibadat, Paulus menemukan perempuan yang berdandan menyolok. Sehingga ketika itu Paulus mengatakan kepada Timotius, “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal (1 Timotius 2:9). Saat ibadah berlangsung beberapa perempuan cenderung menampilkan dan menojolkan dirinya, hal ini menyebabkan mereka tidak fokus untuk mendengarkan pengajaran firman. Melihat kejadian tersebut Paulus mengatakan “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1Timotius 2 :11-12)
Berbicara soal budaya patriarki kaum yahudi jika dilihat dari relevansi era masa kini, sangatlah tidak cocok. Dalam belajar dan memahami firman Tuhan, kita harus mengerti konteksnya lalu tidak serta merta hal tersebut dicocokkan dan diterapkan untuk konteks saat ini,karena hal tersebut berbeda dan jika budaya Patriarki yahudi diterapkan dalam kehidupan bergereja maupun di masyarakat umum, sangatlah tidak relevan karena diera masa kini kita sudah mengenal arti dari pergerakan emansipasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan bagi perempuan. Sehingga relevansi budaya patriarki yahudi yang terdapat dalam ayat 1 Timotius 2:8-15 yang tidak bisa dipaksakan harus diterapkan dalam konteks saat ini.
Technology and Faith
Jika berbicara tentang status quo, teknologi tidak bisa lepas dari kehidupan manusia yang semakin sekuler. Ketika semua urusan bisa dijangkau dengan teknologi, maka manusia makin menginginkan hal yang serba praktis. Begitupun hubungan antara teknologi dan keimanan. Bila kembali pada sejarah masa lalu yang disebut sebagai the dark age. Sebelum adanya revolusi didunia percetakan, Alkitab hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu seperti para pendeta,kaum biarawan. Masyarakat tidak bisa dengan sembarangan mengakses bahkan memiliki alkitab tersebut untuk dibaca,karena ketika itu sebagian besar masyarakat tidak bisa membaca huruf dengan baik, sehingga apapun ajaran Alkitab yang disampaikan oleh para pendeta atau biarawan hanya bisa mereka dengar saja tanpa bisa dicerna dan dibandingkan secara langsung melalui Alkitab.
Agar bisa mendengar kabar baik berupa injil, masyarakat harus menunggu pengajaran yang disampaikan oleh para pendeta dan biarawan secara lisan. Pada masa the dark age, masyarakat seakan dikekang oleh aturan gereja, sehingga tak heran adanya penjualan surat pengampunan dosa yang dilakukan oleh gereja menimbulkan banyak kontroversi. Ketika masuk di ranah abad pencerahan, manusia sangat mengagungkan ilmu pengetahuan, di masa inilah banyak lahir para tokoh-tokoh filsuf. Sehingga ilmu filsafat mulai berkembang di eropa hingga membuat masyarakat semakin sekuler dan tidak lagi mempercayai otoritas gereja. Diera Modernisasi saat ini, teknologi juga menguasai disetiap lini kehidupan keimanan manusia mulai dari semakin maraknya aplikasi alkitab dihandphone,kidung jemaaat yang bisa didownload secara gratis kemudian juga adanya siaran streaming khotbah pendeta yang sangat mudah diakses di youtube. Maka tidak heran jikalau ketika hari minggu sebagai hari sabat yang mana umat kristiani berbondong-bondong merayakannya di gereja, namun problem saat ini adalah masyarakat banyak yang lebih memilih membawa alkitab elektronik ketimbang membawa alkitab yang berupa buku. Disamping itu banyak juga masyarakat lebih memilih mengakses streaming video ibadah via youtube ketimbang langsung hadir di gereja, lantas bagaimana esensi persekutuan yang kita makna sebagai berkumpulnya orang-orang percaya dalam suatu tempat ? apakah dengan adanya teknologi, iman kita bisa semakin bertumbuh atau mengalami degradasi iman ?. Ibadah itu sendiri dapat dilakukan secara vertical dan horizontal, vertical diartikan sebagai adanya relasi antara manusia dengan Tuhan dan horisontal terkait dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Maka dari itu, ibadah yang dilakukan di gereja sangatlah penting untuk menjalin hubungan dengan Allah dan antar saudara seiman. Karena esensi ibadah tidak lepas dari bagian liturgi yang meliputi memuji Tuhan,berdoa,mengumpulkan persembahan yang semuanya merupakan bagian dari penyembahan kepada Tuhan. Maka dari itu jikalau karena adanya teknologi manusia lebih memilih untuk melihat khotbah di youtube dari pada hadir secara langsung di gereja, itu merupakan salah satu kesalahan fatal yang dapat menghalangi hubungan manusia dengan Allah. teknologi saat ini seringkali dijadikan mammon bagi manusia. Terlepas dari itu semua, ibadah di gereja sangatlah penting dilakukan untuk mempererat hubungan manusia dengan Allah secara vertical, serta secara horizontal individu bisa bertemu dengan saudara seiman yang akan saling menguatkan dalam persekutuan. Baiklah dengan teknologi, manusia bisa menggunakannya untuk menambah pengetahuan saja, namun jangan sampai menTuhankan teknologi sebagai hal yang utama. Teknologi yang berkembang saat ini, dapat memungkinkan manusia terjebak dalam dogma sekuler yang semakin menjauhkan manusia dengan identitas keimanannya. Ada baiknya jikalau manusia bisa memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menunjang pertumbuhan rohani melalui akses ilmu yang bisa dengan mudah didapatkan lewat internet. Sehingga teknologi yang sudah ada bisa dijadikan kawan dalam mendukung pertumbuhan iman Kristen, seperti halnya teknologi dapat digunakan sebagai sarana pengungkapan makna iman kita melalui tulisan. Contohnya saja kita dapat menuliskan gagasan maupuan hasil renungan alkitab yang kemudian dapat kita sharingkan via social media. Sehingga gagasan dan ide tersebut juga bisa menjadi berkat bagi orang lain yang membaca tulisan kita di social media. Dengan adanya teknologi yang sudah tidak bisa kita tolak lagi, maka kita sebagai umat kristiani harus lebih selektif dan efisien dalam memanfaatkan teknologi tersebut, jangan sampai kita menTuhankan teknologi sebagai segala-segala dalam hidup kita, sehingga secara tidak sadar kita bisa menjadi hamba teknologi. Maka dari itu modernisasi yang makin mengkokohkan teknologi, tak pelak membuat manusia bergantung kepada produk modernisasi tersebut. Dengan adanya teknologi ini, biarlah keimanan manusia bisa tetap dipupuk dalam pondasi framework yang kokoh dalam menghadapi perkembangan modernisasi yang semakin hari makin tak terkontrol dan tidak dapat dihindari.
Teknologi bukanlah tujuan tetapi alat, manusia tidaklah boleh dikuasai oleh teknologi, tetapi manusia harus menguasainya agar tujuan teknologi dapat tercapai sesuai yang dikehendaki Tuhan, yaitu sebagai pengabdi kepada Tuhan dan sesama manusia (I Kor. 6:12). Dalam Lukas 6:48 dikatakan bahwa, “ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun”. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya membangun kehidupan atas suatu dasar yang kokoh, sehingga manusia tidak terhanyut oleh pengaruh negatif teknologi modern. Albert Einstein berkata, “Religion without scienceis blind, and science without religion is lame” (agama tanpa pengetahuan adalah buta dan pengetahuan tanpa agama adalah pincang). Kita mengetahui bahwasanya sejak dulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena adanya sebuah kebutuhan dan keinginan manusia untuk menunjang aktivitasnya.
Secara filosofis, setelah kejatuhan ke dalam dosa, ide dan pemikiran manusia selalu dipengaruhi oleh dua kekuatan: manusia dengan ide dan pemikiran yang telah dipulihkan oleh Allah atau ide dan pemikiran yang tetap dalam dosa. Dua pengaruh ini akan tampak terlihat pada tujuan dan karya-karya manusia dalam Iptek. Beberapa contoh dapat diketengahkan sebagai berikut: Pertama, dalam sejarah air bah dengan jelas bahwa Allah memerintahkan Nuh membuat kapal untuk menyelamatkan ia dan keluarganya dari kebinasaan akibat air bah dan kebobrokan moral dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam kapal ataupun bahan telah ditentukan oleh Allah (Kej 6:14-15). Kedua, ketika Musa diperintahkan untuk membuat Kemah Suci (Kel 25:9), Allah sendiri telah menjadi arsitek yang merencanakan ruang-ruang, dimensi dan bahan untuk kemah suci tersebut (Kel 25:1-27:21). Kemudian kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci tersebut (Kel 40:35). Ketiga, tentang Bait Suci dan istana yang dibangun oleh Salomo (1 Raj 7-8). Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa Allah tidak pernah menghalangi ataupun menutup segala perkembangan IPTEK. Kita pun melihat dalam contoh-contoh ini bahwa setiap teknologi selalu di kaitkan dengan keselamatan dan maksud Allah terhadap manusia dan dunia. Akan tetapi di sisi lain, kita akan melihat bahwa Allah juga menentang setiap penciptan teknologi yang bermotivasikan kebesaran diri, kelompok, ataupun bangsa. Beberapa contoh adalah ketika Allah memporak-porandakan Babel (Kej 11:1-9), yang ditentang bukanlah pendirian kota dan menara Babelnya tapi motivasi mereka yang mencari nama dan ingin menyamai Allah (Kej 11:4). Kemudia kemewahan, gemerlap teknologi di zaman Salomo dapat menyebabkan dia banyak mengoleksi wanita asing sehingga dia kemudian jatuh kepada penyembahan berhala (1 Raj 11:1-13), Ketika murid-murid menunjuk pada bangunan Bait Suci, Yesus mengatakan bahwa bangunan tersebut akan diruntuhkan (Mat 24:1-2). Tuhan Yesus juga menentang penyalahgunaan fungsi Bait Suci yang dibangun selama empat puluh enam tahun menjadi arena komersil (Yoh 2:16). Dari tinjauan Alkitab ini bisa disimpulkan bahwa Iptek telah dimulai sejak awal sejarah manusia. Manusia memiliki daya cipta Iptek karena dia diciptakan sebagai gambar Allah dan sebagai pribadi yang berakal budi. Allah sendiri adalah pencipta alam semesta, pendorong dan pencetus ide terhadap lahirnya Iptek. Kita harus ingat bahwa Yesus sendiri adalah tukang kayu (Mrk 5:3). Ia adalah seorang yang mengerti pondasi dan mekanika tanah (Mat 7:24-27). Allah tidak pernah membatasi daya cipta dan kreasi manusia akan Iptek. Namun, perlu juga dicatat bahwa ide dan tujuan penciptaan Iptek dan produknya oleh manusia akan dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap Allah, manusia dan alam semesta. Kehidupan manusia secara ringkas dapat disebutkan hasil positif dan hasil negatif dari Iptek. Secara positif, hasil dan penemuan teknologi telah banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi umat manusia. (Robertus Hary, 2016)
Firman Tuhan dalam Ibrani 11 :1 tertulis, ”Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Dalam ayat ini tersirat 2 makna dari iman yakni pikiran dan perbuatan. Melalui ayat tersebut, dapat dijadikan sebagai pondasi iman Kristen untuk lebih selektif menerima perkembangan teknologi modernisasi. Ketika kita sudah jadi imbas dari kemajuan teknologi, maka kita harus menyeleksi aspek-aspek mana yang sesuai dengan iman Kristen. Sehingga kita mampu secara dewasa menyikapi perkembangan zaman saat ini dengan tetap berpegang teguh pada keimanan dan be different young, serta tidak mudah terpengaruh pada arus duniawi.
Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahkan oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12 : 2) "Religion speak to humanity most powerfully and authoritatively at the limits of human control over daily life. Technology extends the boundaries of human control, thus the operating arena of religion is diminished"
Menanti yang terbaik dari Allah
Tuhan, Engkau Allah yang Mahakuasa, Engkau tahu segala sesuatu tentang aku dan mengasihiku lebih daripada yang dapat dilakukan oleh siapa pun juga. Engkau tahu bagaimana perasaanku, apa yang aku butuhkan dan bagaimana masa depanku. aku mengaku bahwa aku telah mencoba mengatur semuanya dengan tanganku sendiri. aku mengaku merasa takut untuk sepenuhnya percaya pada-Mu. hari ini aku berjanji unntuk memandang pada-Mu untuk masa depanku- dan bukan memandang keadaan-keadaan lahiriahku. Terima kasih karena Engkau mengerti betapa lemahnya rasanya diriku, tetapi Engkau menjadi kekuataan bagiku dan di dalamku. Aku mengasihimu dan aku memilih untuk percaya pada-Mu
What is your plan?
Masa depan semacam misteri yang tidak dapat kita tebak begitu saja. Rancangan sang ilahi lebih mengindahkan masa hidup manusia. Rencana sang ilahi memberikan gradasi hidup dan perjuangan untuk selalu berlomba-lomba menemukan rencanaNya. Proverbs 19:21 (ERV) "People might make many plans, but what the LORD says is what will happen."... I'll write for next script
Prayer is the breath of life for every believer. When we pray, the power of God will be revealed upon us. May we be more active to state of all our requests in prayer to God. "James 5 : 16b (NIV)" ...The prayer of a righteous person is powerful and effective.
The Bible says
Heart -worth it-
"Pada akhirnya aku harus merapikan hatiku kembali sebelum terjatuh semakin dalam" Serupa? Ya semakin serupa dengan kejadian beberapa Bulan lalu yang lara alami. Finally, hati tak pernah padam dalam merasa, hati tak pernah membohongi realitas, hati pun menjadi tajam ketika logika tak mampu menerima rasa. Posisi diri lara saat ini sedang dalam keadaan bahagia. Lara menjadi semakin semangat ketika seseorang yang membuatnya nyaman hadir tanpa sengaja dengan goresan momen yang special. Revolusi diri lara menjadi menggebu ketika banyak momen tertangkap bersama dengan dia, lelaki yang menginspirasi lara untuk belajar. Namun, lara menyadari bahwa terang tidak dapat bertemu dengan gelap. Lara pun termenung dengan dilematis hatinyaa.........
Belajarlah
Belajar menghargai sekecil apapun usahamu. ketika di peradabkan pada sebuah dilematika yang mengajarkan manusia untuk memilih bertahan atau berbalik arah pada kesalahan masa lalu. kita tidak akan memahami bagaimana lelahnya berjuang,bagaimana bersyukurnya diri ini melewati kegagalan berkai-kali.