Bakso Bulat sebesar Bola Futsal~
Yuuuww. Tolong judulnya sambil dinyanyiin pake nada lagu “abang tukang bakso” yaaa. Yang mari-mari sini itu loh. Hehe
Malam ini, gue sama temen gue, ferdi, berencana untuk makan bakso. Pas banget emang lagi pusing kali yaaa butuh yang seger-seger (pedes, panas, agak asam sedikit-cuka). Kebetulan kami tadi itu agak bingung menentukan mau makan bakso di mana. Alhasil muter-muterlah kami di perumahan sekitar kosan.
Setelah itu, dibawalah gue ke jalan raya. Katanya si Ferdi, dia pernah liat ada tukang bakso namanya Bakso Astaghfirullah :’) namanya aja udah mengingatkan kita akan Tuhan yaaa #hazeekkk. Awalnya gue pikir, bakso ini adalah bakso yang puedes pol gitu. Kan lagi trend banget tuh yaaa, tahu pedas, kripik setan, seblak level sekian :D
Singkat cerita, gue sama Ferdi berhasil nemuin si abang tukang bakso [mari-mari sini] (lhooo?) yang telah sekian lama menumbuhkan rasa penasaran Ferdi haha. Letaknya di sebelah kanan Jalan Raya Ceger kalau (kalau dari STAN ke kanan). Oiya buat yang belum tau, kami ini STANNERS tingkat akhir hehe. Jalan raya ceger itu ibaratkan pintu belakangnya STAN. Pintu depannya di Bintaro Jaya.
Oiya, jadi ternyata tukang bakso itu namanya bukan Tukang Bakso-Astaghfirullah. Tapi Bakso Solo Condong Raos yang punya menu spesial “Bakso Astaghfirullah”. Oalaahh, baru mudeng gueee. Untung tadi gak keluar pas ujian (lhooo?) #receh :’)
Parkirannya Alhamdulillah gak ada pungutan liar yaa (tadi sih. Gak tau kalau sebelumnya atau setelah ini). Okee, waktunya pesen. Awalnya kami ga engeh ada bakso segede bola futsal menghiasi etalase toko ini. Tapi semenjak mata gue bertemu pandang sama bakso astaghfirullah, jadilah gue penasaran. Si Ferdi ini kan orangnya emang ceplas-ceplos yaa. Langsung deh tu dia nanya sama si abang berapa harga bakso astaghfirullah. Dan taukah kalian berapa harga baksonya? Tunggu, biar gue desripsikan sebesar apa itu bakso yaasss. Kalian tau piring standar untuk makan? Naaahh, itu bakso punya diameter (sedikit) lebih kecil dari diameternya piring. Coba dibayangin dulu yaaa itu baksonya segede apa :’)
Taraaaa....
Okeey, abangnya bilang, DUA PULUH RIBU. Kami tukar pandang, langsung sparkling-sparkling gitu kayaknya mata kami. Haha, bahagia banget kami tadi tu. Bahkan sampe waktu kami makan itu bakso, kami masih menimbang dan mengukur. “murah juga ya berarti kalau kayak gini”. Bahkan kami sampe ngomongin kalau ramadhan ini, buka puasa pake astaghfirullaaah aja. Terus ditimpal Ferdi, bisa bisa gak bisa tarawih kita hi, gak bisa bangun. Wkwk [penyakit emang]. nii, tampilan baksonya pas dibelah omaygat :’)
Selain pesan menu spesial, kami juga pesan minum dong yaaa. Standar lah, es teh manis dua huehe. Awalnya gue gak sadar. Tapi si Ferdi bilang gini tiba-tiba,
“kayaknya gue bukan kenyang deh, tapi kembung (sembari ngelirik gelas es teh manisnya yang udah mau abis).”
Daaan, tet teret teteeett, ternyata ukuran gelasnya agak abnormal juga gengs. Bukan abnormal secara fisik sih. Bentuknya berbeda sama gelas biasa. Tapi kapasitasnya meeennn, lebih banyak haha. Alhamdullillaaaahh. Berarti ini tukang bakso bakal bisa gue jadiin langganan nih (dalam hati).
Terasa udah agak full tank (cukup kenyang. Si Ferdi kayaknya malah udah begah), kami menghentikan kegiatan makan sejenak sembari ngobrol. Eh tiba-tiba si mbak yang jaga kasir nanya, “mau dibungkus nggak?” Weeeww, ini mbak pengertian sekali, *perasaaaaann*.Terus kata mbaknya sambil senyum, “biasanya yang makan di sini juga pada minta dibungkus”. Okeeeyy, jadilah kita ngebungkus itu bakso :’).
Gue ngabisin minum sementara Ferdi ke kasir. Terus dia nanya ke gue, “hi ada uang tiga puluh ribu nggak?” Yaa, gue keluarin receh-receh yang gue punya kan yaaa (sebenernya itu receh hasil kembalian mesin KRL yang mulus-mulus, dan uangnya itu rata-rata uang yang versi baru terbit itu lhooo). wkwk. sayaaangg :’) Tapi pikir gue,
yhhhhaaa udahlah yaaa daripada ribet gak ada kembalian. Toh kami juga posisinya sudah ditunggu beberapa teman di tempat lain.
Ferdi kemudian berbalik dari kasir dan jalan ke arah gue.
“hi, seratus DUA PULUH lapan RIBU.”
Whhhhh????? Jujur aja, gue gak tau yang keluar dari raut wajah gue ekspresi kayak gimana. Haha. Gak kebayang juga sih. Mungkin kalau mau tau, bisa baca kisah ini dari sudut Ferdi di sini. Dan setelah menghasilkan ekspresi wajah yang gue gak tau apa itu, gue langsung ketawa-tawa aja sampe ke tempat motor. Crazy! how could it be? *Could it be, could it be~*
Ya, logikanya, kalau kata ferdi, ini bakso pake daging apa ukuran sebesar ini harganya dua puluh ribu doang. Ya memang iya sih. Untuk bakso kaya gitu, harga dua puluh ribu terlalu murah gak sih? Ya tapi juga kalau seratus dua puluh ribu, mending beli daging aseli sekilo lah yaaa terus nge-rendang wkwk
Oiya, sedih berikutnya adalah, kami nyusul temen-temen kami ke tempat makan yang lain. Tapi pas udah sampe, mereka gak ada. Ternyata mereka caws ke senayan omaygat wkwk. Jadilah ini gue di kosan sembari berkisah.
Kebetulan group rame juga, isenglah cerita kisah “unik” gue di sana. wkwk. Ternya ada yang respon kalau bakso astaghfirullah itu juga ada di Bandung :’) dan taukah kalian kalau kita bisa habisin, kita gak perlu bayar haha.
Salam,
��]:fz6











