Jangan Lupa
Kita semua sibuk, kita semua punya masalah yang harus diselesaikan. Seringkali, karena kita merasa demikian, kita jadi punya alasan untuk mengabaikan kebutuhan orang-orang dekat kita akan kehadiran kita. Kita ada, tapi pikiran kita pergi entah kemana. Sibuk melihat-lihat berita melalui HP dengan alasan refreshing pikiran, sibuk bekerja hingga lupa ada orang-orang di sekitar kita menyapa.
Siapa tahu, yang di depan kita cuma sedang butuh pelukan untuk menyadari keberadaannya dan kita di tempat yang sama. Siapa tahu, yang di sebelah kita ingin bercerita, semata-mata agar bisa berbagi pengalaman dan membagi perasaannya. Siapa tahu, mereka hanya orang - orang yang butuh kehadiran kita benar-benar hadir, bukan sekedar jasad yang ada namun pikiran entah kemana.
Mungkin itu sebabnya, ada orang - orang yang memilih berbagi dengan orang lain daripada orang tuanya; atau bersahabat dengan yang jauh daripada akrab dengan saudaranya; atau jika hilang iman maka berbagi kisah dengan pasangan orang lain. Barangkali mereka hanya butuh hadirnya kita, sebagai jiwa.
Mungkin itu juga sebabnya, ada orang yang merasa kesepian meski tidak sendirian. Karena merasa tubuh - tubuh di sekitarnya tidak benar - benar bersamanya, atau menerimanya.
Sederhana, kebutuhan psikis yang tidak terpenuhi. Mereka terlalu enggan meminta, dan kita yang terlalu sibuk untuk bertanya : apa yang kamu butuhkan untuk membuat perasaanmu lebih baik? Apa yang yang kamu butuhkan dariku? Sekedar duduk bersama sambil tertawa? Pelukan saja? Bergandengan tangan? Atau duduk berhimpitan sehingga suka dukamu bisa kurasakan? Apa kamu tidak kesepian duduk sendiri di ujung bangku?
















