Mimpi-Mimpi yang Datang Tentang Kamu
Aku pikir perasaanku padamu usai lima tahun yang lalu. Aku pikir aku sudah melangkah cukup jauh untuk bisa menoleh ke tempat di mana kamu meninggalkanku dan tersenyum sambil berkata, "Oh, aku pernah ada di situ, dan sekarang aku ada di sini." Aku kira aku sudah tumbuh lebih kuat untuk bisa melepaskan kamu sepenuhnya. Aku kira orang-orang yang datang ke hidupku sudah cukup menimbun namamu dalam kenangan.
Nyatanya, aku salah.
Sejujurnya aku enggan mengakui bahwa mungkin saja aku merindukan kamu. Aku kerap kali berkata pada diriku sendiri bahwa kamu tidak sehebat itu, kamu tidak seistimewa itu, dan perasaanku padamu semata timbul karena aku punya kecenderungan meromantisasi perasaanku sendiri. Tapi tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal ketimbang rindu, yang dapat menjelaskan kenapa kamu datang lagi dan lagi ke dalam tidurku. Kenapa, di antara semua orang di dunia ini yang bisa saja muncul secara acak menyusup ke alam bawah sadarku, selalu kamu yang hadir. Orang-orang yang kadang muncul di mimpiku tidak membuatku bangun sambil menangis, tidak membuatku kesulitan bernapas sewaktu aku membuka mata, tidak membuat hatiku gamang seolah ada yang hilang.
Cuma kamu, Lana.
Dan fakta yang satu itu membuatku merasa menjadi manusia paling payah, paling tidak berdaya, paling menyedihkan satu dunia.
Aku tidak begitu ingat bagaimana mimpi pertama datang. Tapi aku ingat kapan dia muncul. 2020 bukan tahun yang paling baik buatku, Lana, dan kamu hadir sewaktu aku berada di bulan-bulan paling kelam dalam dua puluh enam tahun usiaku sekarang. Aku bangun dengan perasaan heran, pertama kali. Berpikir bahwa mungkin saja percakapanku dengan Yusuf (atau Aldi, aku lupa) mengingatkan aku akan kamu. Tanpa sadar namamu terselip ke alam bawah sadarku, dan muncul dalam bentuk bunga tidur.
Aku ingat mimpi-mimpi yang datang setelah itu, meski tidak jelas. Aku ingat bagaimana kita duduk di sofa, mendengarkan Aldi bermain gitar sambil tertawa, dengan matahari menyirami punggung sofa dari balik jendela. Aku ingat bagaimana kamu tersenyum menyapa ayahku di dalam mimpi, menemaninya makan gorengan sambil bercerita seolah kalian teman dekat yang lama tidak bersua. Aku ingat bagaimana aku dan Yusuf masuk ke kamarmu, duduk di ranjang, menghiburmu dari entah kesedihan yang datang dari apa. Sudah lima tahun sejak aku melihatmu, Lana, tapi senyumanmu seolah abadi di dalam kepala.
Sesungguhnya aku tidak lagi ingin membuka laman ini. Aku menutup blog ini dalam rangka merayakan kemampuanku melangkah maju; meninggalkan kamu. Dalam catatan-catatan di laman blog ini, kamu hidup sebagai bintang kejora di hidupku yang kadang hitam dan abu-abu. Tapi di sinilah aku, menulis untukmu lima tahun kemudian, semata melepaskan rindu yang masih enggan aku akui keberadaannya.
Beberapa bulan lalu, aku cari kontakmu, aku temukan fakta bahwa seseorang menamaimu 'Mas Nana'. Seseorang yang bukan aku. Seseorang yang tidak aku ketahui siapa, tapi kuanggap sebagai orang yang istimewa untukmu. Aku menulis soal kamu lagi, setelah itu. Membayangkan aku duduk di kursi meja makan, menatapmu tersenyum lebar di pelaminan. Aku membayangkan hari itu, di tengah teman-teman tidak tahu seberapa dalam perasaanmu untukmu, aku melepaskan kamu pergi. Aku menanggalkan namamu dari hidupku, menutup rapat-rapat setiap percik harap yang mungkin saja masih aku simpan. Tulisan itu berfungsi sebagai katalis bagi perasaanku yang masih tersisa. Dan aku berharap tulisan ini punya peran yang sama.
Aku akan melepaskan kamu, Lana. Aku harus mencoba. Aku sedang mencoba. Tidak pernah lelah aku berdoa, semoga kamu selalu bahagia.
















