Penso Quindi Spero
Saya selalu menjadi orang yang sok tahu dalam menjalani hidup terutama ketika ada kesempatan berbicara di depan orang banyak. Salah satu kutipan yang sering saya ulang, biasanya di akhir acara, adalah: “kita bisa bertahan tanpa makanan selama beberapa pekan, tanpa minuman selama beberapa hari, dan tanpa udara selama beberapa menit. Akan tetapi kita kita tak akan pernah bisa bertahan hidup, walaupun sesaat, tanpa harapan. Percayalah, tak pernah ada momen ketika kutipan itu saya ucapkan suasana menjadi hening, selalu ada tepuk tangan bahkan kadang-kadang diiringi teriakan riuh. Padahal andaikata orang-orang yang mendengar tadi mengambil waktu sejenak, untuk diam dan merenung, mungkin respon yang lebih tepat adalah lirih, “apa iya?”
Harapan memang memiliki ironinya sendiri. Banyak manusia yang kemudian memutuskan mengakhiri hidupnya ketika beban hidup menjadi begitu tak tertanggungkan masa depan tampaknya akan menjadi lebih buruk lagi. Akan tetapi, bukankah harapan juga menyimpan potensi untuk menjadi racun? Lihatlah, betapa banyak orang-orang yang menderita karena menjadi korban PHP. Tentu saja ada “palsu” yang ditempel pada “harapan” pada terma itu, tetapi tetap saja “palsu” itu baru disadari atau menjadi jelas ketika peristiwanya telah terjadi. Sebelum momen yang busuk itu terjadi, harapan adalah harapan. Semua harapan murni, 24 karat. Titik.
Matsumoto dan Willingham (2006) menunjukkan bahwa atlit Olimpiade yang mendapatkan medali perunggu jauh lebih bahagia (mereka menganalisa senyum para atlit dari foto-foto momen pemberian medali) dibanding penerima medali perak. Medvec, Madey, dan Gilovich (1995) menemukan penjelasan bahwa kekecewaan yang terjadi pada peraih medali perak disebabkan karena mereka sebenarnya memiliki peluang yang begitu besar untuk meraih medali emas. Pikiran perandaian “hampir saja saya meraih medali emas” hanya mungkin dimiliki oleh peraih perak, sementara pemegang medali perunggu malah akan berpikir, “hampir saja saya menjadi peringkat empat.” Pada titik ini, harapan membuat kita memiliki pembanding ketika kenyataan hadir. Semakin tinggi harapan di taruh, semakin besar kekecewaan saat kenyataan yang tak sesuai harapan benar-benar terjadi (metafora “sakitnya seperti jatuh terhempas dari tempat yang tinggi” begitu pas dalam kasus ini). Semakin besar kemungkinan apa-apa yang kita harapkan terjadi, lalu kemudian hasilnya ternyata tak seperti itu, semakin besar pula rasa sakit yang muncul.
Tanyakan apa definisi kecewa kepada Edison Cavani, penyerang PSG yang menjebol gawang Marc-Andre ter Stegen pada menit ke-62. Gol-nya itu tak hanya membuat Barca harus mencetak tiga gol dalam tempo kurang dari 30 menit, tetapi membuat semua Le Parisian merasa tak akan ada lagi yang bisa menghalangi mereka ke fase berikutnya. Mungkin di kepala mereka berdentang-dentang kalimat porter di film Titanic, “Yes madam, God Himself could not sink this ship.” Dan kita tahu sama tahu, kapal tidak ditenggelamkan Tuhan (secara langsung), tetapi oleh es.
Mungkin Cavani masih larut dalam kesedihannya, saya kira Pirlo lebih siap memberi jawaban untuk pertanyaan mengenai apa itu kekecewaan dan sengkarutnya dengan harapan. Andrea Pirlo, dalam Penso Quindi Gioco (dalam terjemahan bahasa Inggris buku ini berjudul I Think Therefore I Play, yang tentu saja terinspirasi dari kalimat terkenal René Descartes, cogito ergo sum, I think, therefore I am.) memberi penjelasan terkait perkara ini dengan begitu mengerikan sekaligus jenaka. Pada bab 12, Pirlo menyatakan bahwa ia sempat berpikir untuk berhenti dari sepak bola setelah kejadiaan Istanbul (iya, final Liga Champion, 25 Mei 2005, yang paling ingin dilupakan Milanisti itu). Bayangkan saja, Milan yang sudah unggul tiga gol dari Liverpool di babak pertama, malah menang lewat drama penalti. Pirlo menceritakan bahwa seolah-olah semua pemain Milan, perlu rasanya untuk sama-sama berpegangan tangan untuk kemudian melompat bunuh diri dari Jembatan Bosphorus demi menghilangkan rasa yang sungguh mencekik itu.
Kejadian laknat ini, membuat para pemain Milan tak lagi bisa berpikir jernih. Pirlo bahkan mengakui bahwa ia tak bisa lagi tidur lelap karena terus diganggu mimpi buruk. Pendek kata, bagi Pirlo, pertandingan melawan Liverpool itu adalah musuh terbesarnya. Ia tak pernah menonton pertandingan itu lagi, untuk selamanya. Ia memang tak perlu menonton hal yang melukainya itu karena toh final pahit itu sudah pernah ia jalani dan terus berputar berulang-ulang tanpa bisa dihentikan di dalam kepalanya. Lalu, apakah perasaan sakit tadi hilang ketika tahun 2007, Milan mengalahkan Liverpool di final kejuaraan yang sama? Nope. Paling tidak untuk Pirlo. Noda itu tetap membekas, begitu katanya. Dan sialnya, jika pada kejadian-kejadian buruk lain dalam hidupnya, ia masih mungkin mendapatkan hikmah, semacam kebijaksanaan yang memperkaya jiwa, sehingga pengalaman tadi tak terlalu pahit, untuk Istanbul Miracle (tentu istilah ini hanya cocok buat The Kopites) hanya ada satu kata yang menggambarkannya, “brengsek”.
Saya kemudian teringat salah satu nasihat yang cukup tua, “jika ingin hidup bahagia, jangan terlalu banyak memiliki harapan.” Petuah ini memang di tangan orang-orang tertentu akan membuahkan hidup yang dijalani dengan pasif, tetapi di Camp Nou, saat Barcelona sepertinya tak punya harapan, kalimat ini menemukan intrepretasi yang berbeda. Saat harapan rasa-rasanya sudah tidak ada, kerjakanlah apa-apa yang memang perlu dikerjakan, kerjakanlah sebagaimana biasanya hal itu kamu kerjakan, dan pada saatnya, mungkin sesuatu yang berbeda dari dugaan banyak orang akan terjadi. Dan kebahagiaan yang muncul dari situasi seperti ini, tidak bisa tidak, mampu memunculkan gempa dalam artian sebenarnya. Gempa kecil itu muncul dari kegilaan massal pendukung Barca sesaat setelah Sergi Roberto menerima umpan “L1 Segitiga” dari Neymar dan menceploskan bola ke gawang.
Lalu hidup seperti apa yang ingin kamu jalani, penuh harapan atau sedikit saja?
Disclaimer. Judul tulisan ini sekadar plesetan saja dari buku Andrea Pirlo bersama Allesandro Alciato yang berjudul Penso Quindi Gioco, Saya berpikir, saya bermain.Â












