Tidak mudah untuk mengakui kerapuhan atau menyadari bahwa sebenarnya diri ini sangat rapuh.
Semua berawal dari wawancara psikologi di salah satu RS terbesar di Jatim untuk syarat mendaftar PPDS di center tersebut, salah satu psikiater yang mewawancaraiku menyampaikan hasil MMPIku saat itu. Beliau kaget dengan hasilnya dan mengatakan bahwa mood of depresion ku tinggi sekali, beliau bertanya ada apa? apa ada masalah? sering sedih akhir-akhir ini? ku jawab tidak ada. Sampai pada pertanyaan-pertanyaan beliau untuk menggali tentang depresiku tersebut. Hampir semua pertanyaan beliau ku jawab "iya" dalam hati, terakhir beliau menyarankan aku untuk menyelesaikan depresiku dulu, karena beliau takut jika nantinya aku diterima malah akan membebaniku selama pendidikan.
Selama perjalan pulang, banyak sekali pertanyaan dalam otakku "iyakah aku sedang depresi?" "apakah iya aku sedang tidak baik-baik saja?" "jika ya, apa penyebabnya?", karena aku juga cukup kaget dengan hasil MMPI tersebut, maka dari itu aku menceritakan kepada temanku yang sangat ku percaya, dia menyarankanku untuk berkonsultasi dengan psikiater, awalnya denial merasa aku baik-baik saja, sampai pada saat setelah shalat tiba-tiba aku menangis tak karuan tak mengerti apa penyebabnya, bukan rasa sedih lebih kepada rasa yang sepertinya tidak bisa kuungkapkan dan hanya bisa diutarakan lewat tangisan. Saat itu aku berpikir sepertinya benar aku sedang tidak baik-baik saja.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk ke poli jiwa menemui psikiater di RS sebelah. Awal masuk, aku juga tidak tau harus berkata apa, tapi saat beliau bertanya "ada yang bisa saya bantu?" ku jawab "sebenarnya saya bahagia dok" tapi dengan air mata yang mulai menetes T_T. Baiknya dokternya sangat memahami apa yang kurasakan dan selalu mendengarkan curhatanku, beliau menempatkan seolah-olah di posisiku dan memberi saran yang terbaik untuk diriku.
Hebatnya yang beliau katakan semuanya benar, beliau mengatakan aku orang yang obsesif, represif (memendam), gengsian, dan selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan semua orang walaupun sebenarnya berkebalikan. Ya, itu diriku. 100% benar. Beliau katakan bahwa yang ku lakukan selama ini hanya mengabaikan kesedihan, kekecewaan dan kerapuhanku agar aku merasa baik-baik saja dan terlihat baik-baik saja.
Satu yang belum bisa ku terima sarannya, beliau menyarankan untuk istirahat dulu dan berhenti sementara untuk tidak melanjutkan perjuanganku mendaftar PPDS periode ini. Pikirku aku sudah melakukan banyak hal, aku sudah mengorbankan banyak hal, haruskan aku berhenti dan semuanya menjadi sia-sia. hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap melanjutkannya dengan catatan untuk tidak begitu obsesi dengan tujuanku ini.
Terakhir beliau katakan "gapapa kok terlihat sedih atau kecewa di depan orang, karena itu hal yang wajar yang bahkan mungkin hampir semua orang akan merasakan hal itu, utarakan saja pada orang yang kamu percaya, jangan dipendam lama-lama capek".
Jleb, baik. ku katakakan pada diriku "It's OK not tobe OK".
Gak apa-apa jika gagal, bisa dicoba lagi
Gak apa-apa jika diseplekan, kamu tau apa yang sudah kamu usahakan.
It's OK not tobe OK, Shaf........