Seringkali kita gagal membedakan antara "berhenti" dan "berserah".
Keduanya terlihat sama dari luar: tangan yang terkulai, bahu yang turun, dan langkah yang terhenti sejenak.
Namun, di balik diamnya tubuh itu, riuh di dalam dada bunyinya berbeda.
Menyerah kepada keadaan itu dingin dan gelap.
Ia datang seperti kabut tebal yang menyusup perlahan, membutakan matamu dari jalan keluar, hingga kau percaya bahwa tembok buntu di depanmu adalah akhir dari segalanya.
Ia memaksamu menjadi kerdil, membuatmu merasa bahwa dunialah raksasa yang tak mungkin dikalahkan.
Di titik itu, kau meletakkan pedangmu karena merasa dirimu tidak berharga.
Sementara menyerah kepada Allah… ah, itu rasanya seperti pulang.
Ia bukan tentang berhenti bergerak.
Ia adalah tentang berhenti memaksa.
Ia seperti perahu kecil di tengah samudra yang berhenti mendayung melawan badai, bukan untuk membiarkan dirinya tenggelam, melainkan untuk membiarkan angin Sang Pencipta yang mengambil alih kemudi.
Saat engkau menyerah kepada keadaan, hatimu menyempit, sesak, dipenuhi tanya "kenapa harus aku?"
Kau menjadi tawanan dari rasa kecewa.
Namun saat engkau menyerah kepada Allah, dadamu meluas seolah seluruh langit muat di dalamnya.
Kau meletakkan beban berat itu di lantai sujud, dan berkata dengan lirih: "Tuhanku, dayaku hanya sampai di sini. Maka selanjutnya, biarlah Kuasa-Mu yang bekerja."
Di sanalah letak keajaibannya.
Menyerah kepada Allah tidak membuatmu lemah; ia justru memberimu kekuatan yang tidak masuk akal.
Kekuatan untuk tersenyum saat dunia sedang menangis.
Kekuatan untuk tetap berjalan walau kakimu gemetar.
Sebab engkau tahu, kau tidak sedang berjalan sendirian.
Maka, jika hari ini bahumu terasa berat, periksalah hatimu.
Kepada siapa engkau sedang menyerah?
Jika kepada keadaan, bangkitlah dan lawan.
Tapi jika kepada Allah, sujudlah dan tenangkan jiwamu.
Karena menyerah kepada-Nya, adalah satu-satunya cara untuk menang melawan dunia.
@clichemistry









