Yes, I miss the old days.
I've read somewhere that generasi 90an itu memang generasi yang susah move on. Selalu terkenang sama memori-memori masa lalu yang indah-indah dan bagus-bagus. Begitupun gue beberapa hari belakangan ini. Si cami tiba tiba nanya bookingan JR-Pass Kansai Area gue tahun lalu, mau kasih info ke temennya yang akan berangkat ke Jepang tahun ini. Dan itu membangkitkan kenangan gue pribadi. Ketika ditanya, gue langsung search tiket JR itu di email gue, dan ternyata tepat 1 tahun gue beli tiket itu tahun lalu.. Ga berhenti sampe disitu, tangan gue gatel buat search flight ticket gue ke Jepang yang tahun lalu itu juga. Huhu.. How i suddenly-chronically miss Japan rite now.. Kangen hecticnya persiapan kesana.. Kangen bolak-balik revisi itinerary karena mendadak nemu fastest (and cheapest) way to get to another place, kangen makan unagi murah meriah di stasiun-stasiun, kangen jajan di streetfood vendors seputaran Shinsaibashi, kangen duduk leyeh-leyeh adem di Okayama. Dan simply, kangen rasa ocha di Jepang yang super enak. Oh. My. Pretty. God. Can i just rewind that? Bulan Juni tahun lalu gue masih berada di Jepang, negara yang cantik sekali dengan segala akulturasi budaya dan gempuran perkembangan teknologinya yang massive. Kalo di review, tahun lalu gue masih senang-senang masa muda banget anaknya, kelayapan nonton konser sendiri di negeri orang, impulsifan weekend getaway ke pulau lain sama sobi gendut tercinta, impulsifan beli tiket pesawat ke 3 negara berbeda di tahun yang sama yang bikin gue bangkrut tapi hepi, dan ditutup dengan impulsifan umroh di akhir tahun juga dengan si sobi gendut! Saat itu pun gue belom kepikiran buat menikah. Apalagi untuk menghemat demi biaya pernikahan proper di Indonesia yang crazy expensive. Pikiran jangka pendek hingga menengah gue hanya "beli tiket kemana lagi abis ini?" "Libur tanggal merah hari kejepit kayanya asik buat dipake ke Bali" But now, everything has changed. Ternyata dalam satu tahun banyak banget hal-hal yang bisa terjadi di hidup orang ya. Milestone yang paling gegar tahun ini adalah: DILAMAR. Iya, DIAJAK NIKAH. Kalo kata mbak Astri bahasa syar'i-nya adalah di-khitbah. Kejadian mendadak tidak sengaja iseng-iseng punya pacar dan tidak lama kemudian dilamar itu, drastically changed my life. Rencana menikah yang sebelumnya tertutup jauh di bawah rencana rencana jangka pendek liburan dan foya foya, mendadak melejit naik ke peringkat atas prioritas gue di tahun ini. Honor-honor rapat yang tadinya diposkan untuk jalan-jalan sekarang pindah haluan ke tabungan nikah. Rencana menikah juga mempengaruhi rencana lain gue, rencana kuliah yang tadinya mau jauh sekalian di UK atau di Belanda, sekarang jadi berubah arah ke negara yang lebih deket aja asal bisa dikunjungi suami dan deket sama keluarga. Banyak orang yang menyayangkan terjadinya swifting plans yang begitu drastis di hidup gue saat ini. Bukan berarti dengan menikah gue jadi menurunkan standar goal di hidup gue, engga. Gue hanya mencoba menyesuaikan goal-goal itu dengan prioritas gue saat ini. Gue kangen jalan-jalan jauh menyaksikan budaya lain di negeri orang, yes. Gue kangen nonton konser sendirian, yes. Gue kangen bikin itinerary detail, yes. Tapi bukan berarti nanti kedepannya gue ga akan bisa jalan-jalan lagi kan? Semua hanya masalah waktu dan prioritas. Sekarang gue pun ga kalah hepi dari tahun-tahun lalu karena i have that one person to share every happiness as well as burden with, kalo kata cici. Sekarang pun pengelolaan keuangan gue lebih terarah karena punya 1 goal bersama: ngelunasin cicilan apartemen. yes i do love the old days, but i love the present and the future more.. Love, Desi.


















