Lautan Langit, Kurniawan Gunadi
Jakarta, 30 Januari 2021

JVL
wallacepolsom
Three Goblin Art
Xuebing Du
Game of Thrones Daily
No title available
Stranger Things
No title available
DEAR READER
sheepfilms
AnasAbdin
h
tumblr dot com
will byers stan first human second

oozey mess

if i look back, i am lost
🪼
trying on a metaphor
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from South Africa
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@dwinissa
Lautan Langit, Kurniawan Gunadi
Jakarta, 30 Januari 2021
“Allah, sungguh aku tak berharap apapun dari perjuanganku. Pun tentang hasil akhirnya, sudah sejak awal kuserahkan kepada-Mu. Aku hanya berharap, semua yang kuusahakan, termasuk perjalanan panjang memperbaiki niat dan menggenapkan langkah-langkahnya, akan menjadi amal shalih yang kelak bersaksi di hadapan-Mu, bahwa telah kugadaikan keinginan dan keakuanku. Sebab, aku tahu, jika semua untuk-Mu, inginku sudah tak penting lagi. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.”
—
Suara : @dokterfina Cerita : @kurniawangunadi Backsound : cold - Jorge Mendez
© Medan, 4 Juni 2015
IA YANG SEDANG MENUJU KESINI
Ia sedang bersiap, entah memersiapkan apa. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bila ia sedang bersiap. Aku juga akan bersiap.
Ia datang dari jauh, entah dari mana aku tidak tahu. Yang pasti, dia datang dari jauh. Buktinya kami belum juga bertemu meski waktu sudah bertahun berlalu.
Ia pasti orang baik. Aku yakin dia orang baik. Karena aku juga pasti menolak orang yang tidak baik, setidaknya dalam batas pengetahuanku tentangnya.
Ia pasti sedang berdoa. Entah apa yang dia doakan. Aku merasa sedang berusaha mewujudkan doanya itu. Belajar menjadi orang baik, mencari ilmu tentang segala sesuatu untuk hari nanti. Bersiap diri. Belajar ini dan itu. Agar ketika ia datang, ia takjub karena doa-doanya menjadi kenyataan dalam diriku.
Ia pasti sedang menuju ke sini. Aku tidak tahu sudah sampai mana perjalanannya. Tapi aku percaya, ia sedang ke sini.
Kita sudah pernah melewati November tahun kemarin, November tahun sebelumnya, dan November tahun sebelumnya lagi, lalu kini berakhirnya November di tahun ini. Butuh waktu yang tidak sebentar memang untuk menyadari bahwa diri dipenuhi segala bentuk keegoisan, kekanak-kanakan, ketidakbijaksanaan, dan segala kealfaan lainnya.
Perasaan - perasaan yang menyesakkan setiap kali hujan turun, tempat dan kenangan yang menyeruak silih berpapasan, malam - malam terjaga ataupun mimpi - mimpi yang menghantui, ruang - ruang kosong yang sengaja disembunyikan di balik renyahnya tawa, atau harapan yang sebelumnya masih mengendap di dasar rasa. Ah kita sudah mulai terbiasa dengan itu semua.
Luka dari segala kejadian pahit sudah kita biarkan mengering meski sesekali ada saja waktu dimana mereka tergambar dalam bayang - bayang. Penerimaan yang bagi sebagian orang membutuhkan waktu yang tidaklah sebentar. Menerima takdir yang saat itu begitu sulit untuk ditelan bulat - bulat. Menerima bahwa diri begitu banyak salah dimana - mana. Berterima kasih. Dan terakhir mulai memaafkan diri sendiri. Mungkin terbilang bertahun. Sampai akhirnya kita menyadari bahwa hal - hal yang terjadi di belakang telah menuntun kita untuk bertumbuh sejauh ini. Takdir yang pahit memang tetap akan terasa pahit ketika kita masih bersikukuh bahwa bukan ini yang seharusnya terjadi, menolaknya mentah - mentah. Masih begitu baiknya Tuhan mengajarkannya sekalipun lewat kepahitan, Ia pun tidak lupa menambahkan kita kekuatan, itu artinya Ia sayang dan tentunya agar kita bisa banyak belajar. Mungkin agar kelak kita tidak mengulangi kesalahan - kesalahan yang sama lagi. Mungkin agar kita lebih kuat lagi dalam ujian - ujian berikutnya. Mungkin agar kita bisa lebih bijak lagi menyikapi peristiwa - peristiwa selanjutnya.
Setidaknya kali ini kita sudah berhasil melaluinya kembali.
Terima kasih juga kepada orang - orang terpilih yang banyak mengajarkan warna dan makna dalam hidup
Kini kaki - kaki kita mulai melangkah kembali. Melanjutkan bulan - bulan selanjutnya. Bertemu November selanjutnya dan bulan - bulan selanjutnya lagi. Semoga Tuhan memperkenankan. Semoga dengan diri yang lebih baik.
Jakarta, 30 November 2020
Kalau Memang Ia
Rasa khawatir itu bergandengan erat dengan harapan, tak kala doa-doa itu terucap dalam hati. Segala sesuatu membuat pikiranku ke mana-mana, ketidakpastian yang ingin segera kutemukan jawabannya. Hari menghitung hari, menunggumu datang beserta dengan niat dan tindakan yang sesuai.
Aku tak pernah sekhawatir ini dalam berdoa, sekaligus tak pernah seberharap ini. Biar tak ada keraguan dan penyesalan di kemudian hari, aku selalu berusaha untuk membuat pikiranku lebih jernih. Bahwa, semua kemungkinan itu mungkin untuk terjadi dan aku harus bersiap.
Kalau memang ia, mudahkanlah jalannya. Kalau ada hambatan, kuatkanlah dirinya. Kalau ada godaan, pandulah ia tetap pada niatnya. Doaku sederhana, semoga kamu tak tersesat ketika datang kepadaku. ©kurniawanguandi
Perjuangkan Lagi
Kalau kamu yakin akan sesuatu, kemudian kemarin gagal mendapatkannya. Jangan ragu untuk memperjuangkannya lagi. Berapa kalinya, tergantung batas yang kamu buat sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk merelakannya.
Karena mungkin setelah waktu berlalu. Dan kita tumbuh menjadi pribadi yang bertambah ilmu, menjadi lebih siap. Kita mungkin akan menyesal kalau hanya sekali berjuang saat itu. Kita menyadari betapa bodoh, kekanak-kanakannya, dan betapa gegabahnya keputusan kita.
Perjuangkanlah, lagi!
©kurniawangunadi | Purworejo, 19 juli 2020
Hutang Rasa
Tak menjadi dewasa kita hanya dengan berlalunya masa, pun sebab tambahnya usia, melainkan juga dari banyaknya pisah-jumpa dengan sekian persona manusia, bersua dengan orang-orang bijaksana.
Kepada mereka kita berhutang rasa. Mereka yang telah berjasa menjadikan setiap peristiwa lebih bermakna.
Di situasi yang pelik, di setiap detak dan detik. Di segala rintik, di setiap percak dan percik. Di seluruh titik, di setiap yang biak maupun yang baik, adalah kita tuk selalu menjaga agar yang apik tetaplah apik tak mudah berbolak-balik.
Teruntuk mereka kita haturkan semanis-manis doa; yaa Rabbana jagalah guru, orang tua, saudara, kawan serta orang-orang baik dimanapun adanya. Balaslah mereka dengan kebaikan yang paripurna. Dan semoga bersama mereka Kau kumpulkan kami sehidup sesurga.
***
Kota Sejuta Rindu, 26 April 2020
Cianjur 28 Mei 2020
Beberapa hari yang lalu menemukan foto ini dengan catatan kecil di baliknya. Iya catatan yang ditulis oleh bapak kalau - kalau lupa kapan foto ini diambil. Calon santriwati katanya hehehe, agak terharu sebenarnya bacanya. Seperti alarm pengingat untuk diriku sendiri. Itu artinya beliau mengharapkan aku menjadi seorang anak yang shalihah. Iya selama ini entah bapak ataupun mama berharap ketiga anaknya selain sukses dan bahagia di dunia mereka berharap anak - anaknya tumbuh dan paham dengan agama agar bisa menjadi syafaat yang baik untuk di akhirat kelak. Iya Aamiin.
Tepat hari ini usiaku bertambah 1, oh atau mungkin kita sebut saja berkurang. Dihabiskan untuk apa saja waktu - waktu sebelumnya tentu banyak membekas dalam ingatan. Sejauh ini banyak hal yang kusadari bahwa diri ini masih banyak sisi kurangnya dimana - mana, masih banyak alfa disana - sini. Semoga masih tetap ada keinginan untuk tetap belajar dan memperbaiki.
Selamat terus bertumbuh.
Semoga Allah selalu mengiringi.
Cianjur, 28 Mei 2020
Bergeraklah, tak hanya berdoa.
Doa adalah senjata, berikhtiar adalah tentang bagaimana kita menggunakan senjata itu. Agar senjata itu tidak hanya disimpan tatkala kita akan berangkat berperang, mengikhtiarkan apa-apa yang ingin kita miliki dalam kehidupan kita.
Agar kita segera tahu, jawaban apa yang kita dapatkan dari doa-doa itu. Agar kita tidak lama-lama mendoakan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Agar kita bisa segera beranjak, menuju doa-doa yang baru, mengikhtiarkan yang lain. Agar kita tak berlama-lama hidup dalam asumsi, dalam menduga-duga, dalam ketidakpastian yang kita buat sendiri.
Nanti, selepas bertahun kita melewati jawaban-jawaban itu. Kalau memang tidak ditakdirkan untuk kita. Kita akan mendapati bahwa takdir itu adalah yang terbaik, apalagi setelah kita pernah memperjuangkannya. Kita akan memiliki himpunan hikmah yang lengkap, kita akan mememiliki pengalaman berharga dari semua doa dan ikhtiar yang pernah kita lakukan. Meski, tak pernah menjadi takdir kita.
Hingga kini kita menjalani takdir yang lain. Mungkin, sesuatu yang tak pernah ada dalam bayangan kita sebelumnya, sesuatu yang sama sekali tak pernah ada dalam rencana-rencana kita sebelumnya. Tapi, satu hal yang kita tahu, bahwa kita menjalani takdir ini dengan lapang dada.
Karena kita pernah berjuang sekeras itu, berdoa sekhawatir itu. Dan kini kita paham, bahwa apa-apa yang terbaik tidak pernah ada dalam pengetahuan kita sama sekali.
©kurniawangunadi | 27 Mei 2020 | 03.50
Sc , iG
Ramadhan Day - 3, 2020
#1Day1Juz, Juz 26 ada surah Qaaf diantaranya
Sempat ketika itu saat aku mengikuti Qiyamullail di mesjid Allathiif Bandung yang kebetulan saat itu imamnya Awbyan ( Alhamdulillah tim dari Shifmedia mengupload rekaman shalatnya di channel youtube). Ada salah satu surah yang beliau bacakan di salah satu rakaat. Para makmum dibelakang menangis tersedu, aku yang saat itu tidak tahu alasan kenapa mereka menangis di ayat - ayat tersebut hanya bisa ikut menangis karena saking emotionalnya moment saat itu, ditambah sesak di dada ingin mengakui kehinaan diri, ingatan - ingatan atas dosa apa saja yang telah aku lakukan di sepanjang hidupku terlintas di sepanjang shalat, dari memulai takbir aku sudah menangis, hingga rukuk, hingga sujud, bahkan hingga akhir salam penutup shalat. Tak rela rasanya shalat ini telah berakhir.
Lagi - lagi aku bersyukur Allah telah memberikanku kesempatan untuk pergi ke tempat yang penuh dengan sakinah ini. Semoga hingga nanti.
Cianjur, 26 April 2020
Ramadhan Day - 2, 2020
Teringat salah satu peristiwa penting 24 Agustus di tahun lalu. Hari pertama dimana aku memutuskan untuk melakukan perjalanan penting untuk merawat luka dengan pergi ke tempat yang baik dan menyibukkan diri sepanjang akhir pekan disana. Hari dimana aku memutuskan mencari ketenangan juga mencari jawaban atas segala pertanyaan, atas benang - benang kusut yang memenuhi ruang kepala, atas takdir yang menimpaku saat itu yang belum bisa aku mengerti dan aku pahami. Dengan pergi kesana apakah akan menyembuhkan luka ataukah hanya sekedar pelarianku? Ditanggal ini juga menjadi peristiwa penting lain untuk anak manusia lainnya. Iya, begitu misteriusnya skenario Allah. Betapa ingin aku menertawakan diri sendiri di sepanjang perjalanan, betapa bercampur aduknya perasaanku saat itu. Baik, satu kisah panjangku telah lewat, rencana - rencana baik lainnya kumulai susun ulang, perlu waktu yang lama untukku menerjemahkan atas segala apa yang telah terjadi, bahkan hingga kini. Semoga aku bisa mengambil banyak hikmah dari setiap peristiwa itu.
Sesampainya di tempat baik itu aku sudah larut dengan segala kegiatan dengan teman - teman lain. Gamis biru dongker, kerudung putih lebar, mushaf dan perlengkapan lainnya di dalam tas. Tidak ada waktu untuk menumpuk - numpuk perasaan sedih, tidak ada waktu untuk memupuk perasaan tidak bisa menerima kenyataan yang telah Allah tetapkan. Ternyata Allah masih menyayangiku hingga Ia perkenankan aku untuk datang ke tempat ini. Berkali - kali aku diingatkan agar aku menjadi gelas kosong terlebih dahulu, membuang segala hal - hal yang seharusnya tidak ada lagi di dalam hati, memutus rantai - rantai sedih yang seharusnya sudah selesai, hingga aku harus bersedia mengisi dan menerima hal - hal baik yang diajarkan disana. O iya aku sudah berhenti menangis sejak lama tidak usah khawatir. Hal yang paling pertama mereka ajarkan adalah menjadikan Rabbku sebagai yang pertama yang harus aku cintai, yang harus lebih dulu aku dahulukan, satu - satunya tempat berlabuhnya segala do’a dan harapan.
Hingga hari ini aku masih belajar untuk mengenaliNya, masih sedikit yang aku tahu pun yang aku pahami. Meskipun masih sering futur, lalai, dan malas. Semoga Ia masih memberiku waktu dan kesempatan untuk tetap terkoneksi baik denganNya. Aamiin
Cianjur, 25 April 2020
Ramadhan Day - 1, 2020
#1Day1Juz (Juz 24)
Bismillah. Ramadhan penuh hikmah dan ujian ditengah pandemi
Juz 24 ini terdiri dari surah Az Zumar (32 - 75), Ghafir (1 - 85), Fussilat ( 1 - 46) bersama #ngajidiallahiif
Alhamdulillah sekali rasanya dapat juz ini karena ada salah satu ayat dalam surah Az Zumar yang memberi kesan cukup dalam bertahun - tahun ke belakang hingga sekarang, bahkan semoga hingga nanti sebelum diwafatkan oleh Sang Khalik. Ayat tertera dibawah ini :)
Ayat ini cukup sering kudengar ketika shalat berjamaah dan saat momen - momen bermuhasabah bersama ustadz Hanan :’)
Bersyukur, sedih, sekaligus sakit diwaktu yang bersamaan ketika aku tahu arti dari ayat tersebut. Berada dalam satu titik yang membuat kita sadar bahwa diri ini adalah manusia yang dipenuhi dengan dosa dimana - dimana, dosa yang tidak hanya setitik hitam kecil, dosa yang tidak hanya dosa - dosa kecil, dosa yang tidak sadar dilakukan bahkan dilakukan saat keadaan sadar, dosa yang memenuhi dari atas kepala hingga telapak kaki.
Alhamdulillah. Alhamdulillah setidaknya kita sadar dengan diri yang banyak khilaf dan banyak kurang dimana - mana, setidaknya kita tidak sombong mengaku - ngaku bahwa kita adalah manusia yang sudah baik dan sombong mengaku - ngaku merasa lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Alhamdulillah juga setidaknya kita sadar kita butuh kesempatan untuk kembali ke jalan yang baik sebelum kematian menjemput, dan alhamdulillah begitu Maha Pemurah sekali Allah masih membuka pintu - pintu taubat kepada siapapun tanpa kecuali, tinggal kitanya yang bergerak ikhtiar mengetuk dan masuk ke pintu - pintu tersebut :’)
Dikutip dari https://tafsirweb.com/8715-quran-surat-az-zumar-ayat-53.html
Ayat diatas yang juga menjadi salah satu ayat favorit dari surah Az Zumar. Ayat yang begitu emosional mengaduk - ngaduk perasaan. Pengingat dan peringatan keras atas sisi neraka yang bisa mencabik - cabik, juga sisi syurga dengan segala kenikmatan dan rasa syukur yang kekal di dalamnya.
Tentunya ayat - ayat dari surah yang lain di juz 24 ini juga banyak sekali makna di dalamnya. Semoga Allah cukupkan usia kita untuk memahami dan mengamalkannya.
“Allah, sungguh aku tak berharap apapun dari perjuanganku. Pun tentang hasil akhirnya, sudah sejak awal kuserahkan kepada-Mu. Aku hanya berharap, semua yang kuusahakan, termasuk perjalanan panjang memperbaiki niat dan menggenapkan langkah-langkahnya, akan menjadi amal shalih yang kelak bersaksi di hadapan-Mu, bahwa telah kugadaikan keinginan dan keakuanku. Sebab, aku tahu, jika semua untuk-Mu, inginku sudah tak penting lagi. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.”
—
Khawatir
Kalau benar kita akan dipertemukan, bolehkah kucuri sedikit rahasiaNya? Agar aku tahu, kalau aku sedang menunggu yang baik sekaligus yang terbaik bagiNya. Aku tahu sebenarnya tidak boleh, tapi aku khawatir aku diuji melalui pernikahan. Aku selalu bermimpi melalui pernikahan, kudapati orang yang bisa berjalan seiring, bersisian, bisa menenangkan jalan ke depan.
Tapi, melihat bagaimana hidup di sekitarku. Banyak di antara temanku yang diuji melalui pasangannya; yang berkhianat, yang kasar, yang tak bertanggungjawab, dan semua hal yang kutakutkan.
Kalau benar kita akan dipertemukan, bolehkah kucuri sedikit rahasiaNya?
©kurniawangunadi / 30 Desember 2018 on instagram
May we be amongst those who are shaded by Allah SWT and May we always love each other for His sake alone.