#MenyusuiRarra: To Do List
Beberapa hari yang lalu, ada pesan masuk via whatsapp dan DM instagram.
“Adek, bagi tips pumping dong!”
“Mbak, bisa sharing cara naikin produksi ASI gak?”
“Cara ASI tambah banyak gimana mb?”
Sebenarnya... setelah kupikir-pikir, ASInya Rarra ini tidak terlalu banyak. Maksudku, masih ada bu-ibu lain yang baby-nya seumuran Rarra tapi 2 kulkas freezer aja udah mau penuh aja. ASI yang ada alhamdulillah Allah berikan sesuai kebutuhan Rarra. Akhir-akhir ini, frekuensi pumping memang jauh berkurang. Biasanya sehari bisa 5 kantong ASI. Sekarang pumping sehari paling hanya 2-3x aja. Karena saya sendiri merasa kulkas freezer sudah mau penuh, sementara Rarra punya waktu yang (ternyata) cukup banyak dengan saya untuk DBF. Tujuan saya memang lebih ke DBF. Bukan breastfeed dengan media.
Teman-teman yang sharing dengan saya kebanyakan bingung praktik konkritnya, bahkan bila ini adalah pengalaman hamil yang kedua. Ada yang cerita bahwa kehamilan pertamanya tidak ASI ekslusif (dengan berbagai alasan misalnya terkena sufor karena produksi ASI benar-benar seret, atau karena dukungan lingkungan yang kurang) atau tidak pumping karena bisa langsung DBF 24 jam sementara yang kehamilan berikutnya bukan kehamilan tunggal. Cerita saya ini adalah apa-apa yang sudah saya kerjakan di awal demi menggenjot produksi ASI saat itu. Hasilnya mungkin berbeda yaa untuk tiap orang karena kondisi dan masalah tiap orang juga berbeda. Semoga bisa diambil manfaatnya. Dimodifikasi saja sesuai kebutuhan. Saya juga memodifikasi apa yang saya baca di ignya mb @olevelove (mamak pertetean sejagat instagram),@asiku.banyak, teman-teman saya khususon mama 4 anak dr. Rani dan mama Nindy. Hehe.
Pertama, saya perbaiki asupan nutrisi saya. Minum 3L/hari. Lebih mudah bila menyediakan botol khusus 500 cc atau 1 L sehingga mudah mengontrol dan menjamin jumlahnya. Pagi hari, saya sarapan seperti biasa plus asifit dan tablet Fe. Tidak ada sarapan khusus karena waktu itu bulan puasa dan masih rempong dengan urusan memandikan bayi. Siangnya, suami selalu sediakan 1 mangkuk bubur kacang hijau untuk appetizer, makanan utama, air minum, segelas jamu (yang cuma saya minum beberapa hari di awal karena pahit 😭) atau ASI BOOSTER TEA (ABT), asifit dan tablet Fe. Malamnya makan seperti biasa plus ABT dan air minum. Di sela-sela itu saya selalu ngemil. Bukan snack khusus untuk booster asi sih. Pokoknya kudu banyak makan! Bahkan biasanya, setelah nyusui, berasa banget haus dan laparnya. Pasti makan/minum banyak lagi 😄.
Sebenarnya ada banyak ASI booster yang tersedia di pasaran. Tapi, saya hanya mencoba ABT, teh celup dan cookies mama bear. Untuk saya, ABT lebih banyak bermanfaat dibandingkan teh celup mama bear. Aromanya sama, tapi jauh lebih kuat aroma ABT. Bahkan, bau keringat saya pun berubah. Agak berbau rempah-rempah gitu. Aroma mama bear lebih bersahabat dan rasanya lebih ringan dibandingkan ABT. Cookies mama bear menurut saya enak juga. Tapi, lagi-lagi belum banyak efek yang saya rasakan saat itu. Plus, juga karena saya tidak terlalu suka ngemil snack macam cookies begitu. Saya lebih senang ngemil buah-buahan. Lebih segar dan menurut saya juga punya efek hidrasi. Makin banyak minum, makin turah juga ASInya. Hehe.
Selanjutnya, menyusui secara langsung (direct breastfeeding/DBF) dan pumping. Sesungguhnya, di masa-masa menggenjot produksi ASI itu saya dan Rarra belum terlalu pintar menyusu/i secara DBF. Puting lecet, perlekatan belum baik, sehingga efeknya saya emosi terus, nangis terus karena kesakitan. Sedangkan Rarra nangis karena masih lapar dan belum puas. Waktu itu justru saya lebih semangat pumping dibanding DBF.
Jadwal pumping cukup rutin 3-4 jam sekali. Dengan durasi 20-30 menit. Masing-masing PD 10-15 menit. Saya pakai Spectra 9+ yang punya mode massage dan expression. Dalam 10 menit itu, biasanya saya mulai dengan 2 menit massage dan 8 menit expression. Expression kadang saya lanjutkan hingga ASIP hanya berupa tetesan saja. Rata-rata 8-13 menit. Mode massage dibutuhkan untuk menimbulkan let down reflex (LDR). Biasanya, bila sudah biasa pumping, LDR bisa terpicu meski kurang dari 2 menit mode massage.
Sesi pumping ini awalnya kejar-kejaran dengan jam Rarra menyusu. Pada awalnya, Rarra menangis minta menyusu saat saya selesai pumping atau ketika PD sudah hampir kosong. Tentu saja Rarra marah karena masih lapar 😂😅. Akhirnya, jadwal pumping diubah. Sesi pumping dimulai setelah Rarra menyusu dan dimulai dari PD yang baru saja Rarra susui kemudian dilanjutkan ke sisi sebelahnya dan dikerjakan bergantian PD kanan dan kiri. Namun, sesi pumping ini tetap disesuaikan dengan jadwal 2-3 jam sekali.
Misalnya, jam 01.00 Dbf kanan, pumping kiri. 04.00 dbf kiri, pumping kanan.
07.00 dbf kanan, pumping kiri.
Dan seterusnya.
Prinsip pumping dan dbf adalah sama, mengosongkan PD. Semakin sering PD dikosongkan, makin sering pula PD penuh dengan volume yang makin banyak.
Sesi pumping rata-rata 20-30 menit. Di luar ini, saya selalu sempatkan untuk power pumping 1x/hari selama 1 jam. 10 menit PD kanan-10 menit PD kiri, masing-masing 3x bergantian. Baiknya memang dikerjakan di malam hari, karena hormon produksi ASI terbanyak di malam hari. Tapi, karena saya kelelahan, sesempatnya saya saja. Kadang saya lakukan subuh, kadang saya lakukan pagi hari. Jadwal ini juga ada baiknya mempertimbangkan bukan hanya stamina ibu, tapi juga ketenangan bayi. Misalnya bayi lebih lama tidur saat malam hari, maka lebih baik bila dikerjakan saat malam hari. Pokoknya sempatkan sehari 1x.
Untuk DBF, perhatikan betul-betul apakah DBF efektif atau tidak. Beberapa yang mungkin bisa diperhatikan adalah durasi menyusu bayi adalah 15 menit tanpa terputus. Hal ini berkaitan dengan komposisi ASI itu sendiri. Awal menyusu, ASI mengandung banyak laktosa yang memancing bayi untuk menyusu lebih semangat sedangkan di akhir sesi menyusu lemak yang lebih banyak ada sehingga menimbulkan efek kenyang dan bayi berhenti menyusu di menit-menit ke-15. Perhatikan juga perlekatan bayi pada bagian payudara yang gelap. Di banyak literatur disebutkan bahwa bagian gelap payudara bagian atas lebih banyak terlihat dibanding yang bawah karena posisi mulut bayi lebih banyak menutupi bagian bawah, bibir bawah bayi menghadap ke luar, dan dagu menempel ke payudara ibu. Nafas dan suara menelan bayi bersinergi dengan jeda nafas yang agak panjang. Bagian pipi tampak gerakan mengunyah. Jadi, bukan gerakan bibir saja yang tampak mengenyot. Bila beberapa tanda ini tidak ditemui pada bayi, bisa jadi perlekatan belum baik. Biasanya bayi akan sangat rewel karena masih lapar. Kemungkinannya antara lain adalah posisi menyusu yang kurang pas serta bisa jadi ada lip/tongue tie (nah yang terakhir ini bisa diperiksakan ke DSA saja ya).
Kesulitan yang saya alami saat itu adalah latch on/perlekatan yang belum baik. Saya sulit memposisikan bayi agar menyusu dengan efektif. Akibatnya puting lecet. Tanya kanan-kiri, semuanya bilang, ITU WAJAR. Tapi untuk saya, sakitnya tidak wajar. Bikin nangis, ya Allah... coba nonton tutorial di video yang dibagi mama Nindy, belum juga berhasil. Akhirnya, solusi yang saya ambil adalah berobat ke klinik laktasi. Awalnya konselor mengidentifikasi masalah saya apa dan menyampaikan bahwa posisi menyusu saya tidak membuat nyaman saya dan Rarra. Saya duduk terlalu tegak sehingga tidak membuat Rarra mencari puting saya. Posisinya lebih kepada saya memaksa Rarra menyusu. Kurang santai. Padahal aslinya, bayi tahu bagaimana cara menyusu yang nyaman untuk ibu dan dirinya. Konselor saya membantu memposisikan saya waktu itu. Juga mengajarkan posisi menyusu dalam posisi saya berbaring. Selanjutnya, pengasuh Rarra yang kebetulan saat itu juga ikut menemani saya, diajarkan untuk memberi ASIP dengan menggunakan cup feeder. Benar-benar diwanti-wanti untuk tidak menggunakan dot/empeng untuk menghindari bingung puting.
Selanjutnya, tidak stress dan menghindari kelelahan. Saya harus banyak-banyak berterima kasih dan berbakti untuk suami saya. Suami saya saat itu benar-benar membantu saya menyusui dengan baik. Mulai dari menyiapkan dan memastikan nutrisi dan jam istirahat saya, mencuci peralatan pumping, menyusui Rarra di sebagian jam menyusui di malam hari sehingga saya masih bisa istirahat agak lama. Waktu itu memang saya menggunakan sebagian dari stok ASIP di malam hari atau di siang hari bila puting saya terlalu lecet untuk disusukan pada Rarra. Orang tua, kakak-kakak dan ART di rumah juga benar-benar support saya untuk menyusui dengan optimal. Menyediakan menu makan yang bergizi, tidak mengizinkan mengerjakan pekerjaan domestik, membelikan ASI booster dll. Benar-benar rezeki besar untuk Rarra dan saya.
Jadi bisa saya bilang bahwa komitmen untuk menyusui eksklusif haruslah datang dari ibu dan lingkar terdalam ibu.
Menghindari stress juga bisa dimulai dari diri sendiri. Jangan iri melihat kulkas yang penuh ASIP dan dipamerkan ibu-ibu lain ya bu... Sesungguhnya mereka hanya ingin mengapresiasi diri sendiri saja. Tapi, sebenarnya semuanya juga melalui proses yang sama dan bertahap. Yakin aja suatu saat kita akan pamer juga. Haha.
Terakhir dan termasuk tambahannya, untuk menambah semangat, setiap harinya hasil pumping dan frekuensi DBF saya catat setiap harinya. Target saya, hasil total pumping hari itu minimal sama dengan kemarin dan tidak defisit dibandingkan dengan pemakaian stok ASIP hari itu. Saya catat jam berapa saya dbf dan pumping beserta volume ASIP yang saya dapat maupun pakai. Besoknya saya jadikan patokan untuk dbf/pumping hari itu. Mungkin bisa dilihat di lampiran foto ya catatan-catatan saya.
Saya sadar kok, apa yang saya kerjakan gak sempurna. Tapi untuk saya ini sudah sesuai dengan kondisi saya maupun Rarra. Semoga semuanya mudah dipahami, bisa diadaptasi dan membantu teman-teman sekalian ya. InsyaAllah yang berikutnya tentang cara penyimpanan ASIP yaa.
Dokumentasi pribadi: sebagian catatan jumlah ASI perahan dan jadwal menyusui. Dimulai sejak usia kurang lebih 2 minggu.














