#MenyusuiRarra: Part 3
Apakah kemudian drama per-ASI-an ini selesai? Tentu saja belum. Bahkan saat aku mengetik ini, drama ini belum selesai. ASIku sudah berlimpah. Namun, putingku yang lecet menahanku untuk memberikannya pada Rarra. Tetap kuberi, namun dengan derai airmata kesakitan. Setiap kali Rarra menangis minta menyusu, aku stress, dan langsung terbayang sakitnya. Puting yang lecet kanan kiri pula... tak ada pilihan lain selain tetap memberikannya dengan penuh kesakitan. Bila Rarra menyusu di sisi kanan, nyeri di luka lecetnya terasa menggigit sekali hingga juga terasa di payudara kiri. Payudaraku terasa panas dan kebas saking nyerinya. Berulang kali kubilang pada suamiku, “Kasih jeda panjang untuk punya anak lagi ya.” Atau “aku gak mau punya anak lagi. Cukup 1.” Saking menakutkannya pengalaman menyusui ini. Suamiku tak pernah menjawab pernyataanku yang kedua.
Suamiku pun stress melihat kami berdua. Rarra menangis karena belum puas menyusu. Aku menangis karena kesakitan.
Di tengah kebingungan ini, aku bersyukur karena tak pernah berhenti berusaha mencari solusi. Sebanyak mungkin aku membaca cara menyusui yang benar dari media sosial macam instagram hingga youtube. Kutanya kanan-kiri apakah pengalamanku ini sama seperti pengalaman mereka? Bagaimana dulu mereka menyelesaikannya?
“Wajar kok lecet itu. Dulu putingku itu udah kiwir-kiwir seperti mau lepas. Pernah juga berdarah-darah hingga ke daster. Tapi tetap kuberikan. Kamu pasti bisa.”
Kalimat ini menghiburku. Juga tidak. Seolah bilang bahwa kesakitanku belum ada apa-apanya. Menurut suami, orang lain menganggapku terlalu cengeng.
Kalimat yang cukup menenangkan datang dari mama persusuan Rarra. Dia bilang, dia pun mengalami masalah yang sama. Masalah yang paling sering dialami itu memang masalah perlekatan bayi. Diapun dulu belajar dan tanya sana sini. Dia bagi link youtube dari channel mama panutannya.
“Dulu aku bahkan sampe anak usia 2 bulan masih susah latch on-nya kok mbak... tapi pasti bisa!”
Lalu? Gak mungkin kan aku membiarkan ini semua menunggu Rarra 2 bulan atau bahkan menunggu putingku kiwir-kiwir mau lepas dan berdarah-darah?
Pernah suatu ketika, saya sendiri di kamar. Suami saya entah mengurus apa malam itu. Rarra menangis ingin menyusu. Namun lagi-lagi, perlekatan yang tidak sempurna dan luka lecet itu membuat proses menyusui ini dipenuhi tangisan Rarra yang marah. Saya gendong dan peluk ia erat. Saya menangis tanpa berkata apa namun dalam hati, “naaaakkk, udah dong jangan nangiiis. Tadi kan udah nyusunyaa.. maaf ya nak, ibu ndak kuat sakitnya...” Rarra menangis dan merengek. Terbersit pula pikiran jahat, “parasit apa iniii yg ada di pelukanku??” Kemudian saya istighfar. Sekelebat teringat berita-berita kriminal di tv, “IBU MEMBUNUH ANAKNYA SENDIRI YANG MASIH BERUSIA 1 BULAN.” Terbayang juga isi berita serupa yang bilang “di pipinya penuh cubitan dan sudutan rokok.” Kemudian saya menjadi takut dan memandang wajah Rarra yang masih nangis. Pikir saya saat itu, “astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah... dia masih bayi. Dia menangis bukan karena apa. Dia hanya bisa menangis untuk bilang ‘BU, AKU MASIH LAPAR.’ Bukan karena ingin menguji kesabaranku atau ingin nakal... setelahnya aku peluk ia erat-erat... kami mulai lagi proses (belajar) menyusui yang menyakitkan itu.
2 hari pasca keluar dari RS, malam harinya, Rarra kulihat kuning lagi. Kami panik. Esoknya, kami berencana ke Surabaya karena jadwal kontrolku. Rencananya sekalian ingin kuperiksakan Rarra ke DSA Surabaya. Tapi bila kondisi Rarra begini, kami ragu. Suami menawarkan untuk membawa ke UGD. Aku menolak. Menolak berpisah lagi dengan Rarra karena sudah pasti akan disarankan opname lagi. Tapi aku takut dia kejang karena kuningnya.
Tahu apa yang kulakukan? Menangis (well, apalagi yang bisa dilakukan ketika bingung cobak?). Pada akhirnya kami bertahan. Aku berjuang agar Rarra malam itu banyak menyusu. Tidak peduli putingku mungkin sobek sebagaimana.
Esoknya kami tetap berangkat ke Surabaya.
***
“Alhamdulillah beratnya naik. Meski hanya sedikit. Kuning ya bayinya? Sekarang masih kuning kah? Yuk diperiksa. Oh enggak, ini gak kuning. Diagnosisnya, bayi sehat. Jadi saya tidak beri terapi apa-apa ya. Lanjutkan imunisasi di faskes pertama.” Ucapan DSA Surabaya ini menenangkanku. Tapi kemudian aku ragu.
“Semalam sepertinya kuning dokter...”
Beliau tersenyum seperti paham betul kekhawatiran dan kebodohan orang tua baru.
“Bayi ASI menjadi kuning di awal kehidupannya itu wajar kok. Bahkan bisa berulang selama kurang lebih 1 bulan usianya. Tapi, selama bayinya rajin menyusu, banyak kencing dan bisa BAB, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bawa ke UGD saat bayi tampak lemas dan tidak aktif, kurang menyusu atau BAKnya sedikit. Itu sudah tanda bahaya.”
Lagi-lagi, ini menenangkanku juga tidak. Aku tenang karena tanda bahaya itu tak kutemui pada Rarra. Dia sangat senang menyusu. Cenderung marah karena kadang karena kesakitan, aku paksa ia melepaskan diri dari payudaraku. Hanya saja, bila kuning lagi, aku tak mau Rarra terlambat dibawa ke UGD. Tanda bahaya yang beliau rincikan itu sudah masuk dehidrasi berat menurut takaranku. Tapi, ya sudahlah, mari bersyukur, Rarra sehat dan tidak kuning. Mungkin lampu kamarku saja yang bikin mataku siwer melihat kulitnya.
Keluar dari ruang periksa, Rarra menangis minta menyusu. Kususui ia di ruang khusus laktasi di RS itu. Dalam ruangan itu, ada seorang ibu juga yang sedang menyusui bayinya. Kami berbincang basa-basi dan beliau menyarankan untuk membawa anak saya juga saya konsultasi ke klinik laktasi di RSIA lain.
“Dulu puting saya pun lecet karena perlekatannya kurang baik. Sampai berdarah mbak.. aduh rasanya itu yaa.. setelah ke klinik laktasi disana, saya diajari bagaimana menyusui yang benar, posisinya, perlekatannya.. alhamdulillah sekarang sudah enggak. Anak saya yg pertama waktu itu. Kuning juga. Fototerapi 3 hari. Syukur yang ini tidak. Janjian dulu per telpon. Nanti akan dihubungi lagi oleh operatornya bila jadwal sampeyan dengan konselornya cocok.”
Sepulang dari RS itu, saya meminta suami saya mengantar ke RS yang ibu tadi maksud. Mungkin bisa konsul hari itu juga, supaya penderitaan menyusui ini segera berakhir. Namun, sayangnya, karena hari itu hari Sabtu, pelayanan klinik laktasi ternyata libur. Hanya dari Senin hingga Jumat di jam kerja. Aku tahu, aku masih perlu bersabar menahan perihnya lecet di payudaraku ini...
***
Lupa tepatnya kapan akhirnya saya bisa konsultasi ke konselor laktasi hari itu. Saya menyetir, sedangkan Rarra digendong ART saya. Suami saya tidak bisa ikut karena mertua yang harus dirawat di RS.
Awalnya, bu Zuma—konselor yang menangani saya, menanyakan masalah apa yang saya alami dan bagaimana pengalaman menyusui saya selama ini. Dia periksa kedua payudara saya yang lecet dan setuju bahwa masalahnya adalah perlekatan. Dia meminta saya menyusui Rarra karena dia ingin tahu bagaimana style saya dan Rarra menyusu. Menurut beliau, posisi menyusui saya kurang nyaman untuk saya maupun Rarra. Beliau menyarankan untuk duduk agak selonjor, tidak benar-benar tegap, menghadapkan badan Rarra ke badan saya sehingga perut kami bertemu dan mengajari saya memposisikan mulut Rarra supaya membungkus areola mammae saya, tidak hanya putingnya saja. Begitu badan Rarra menghadap dan menempel ke badan saya, Nyeeeessss... ada rasa hangat yang mengguyur hati saya.
“Oh inikah nikmatnya menyusui?” Terasa begitu dekat saya dan Rarra daripada sebelum-sebelumnya. Kurasa, bonding kali ini full saya rasakan manfaatnya untuk saya.
Terima kasih bu Zuma... terima kasih Rarra sayang. Baru sekarang Umma tahu rasanya, nikmatnya menyusui kamu. Kenapa gak dari awal saja sih saya ke konselor laktasi? Kesel kan jadinya. :”)
Drama ASI ini sementara selesai oleh kesempatan saya bertemu konselor laktasi. Sekarang Rarra alhamdulillah sudah jago menyusu, BBnya naik, tidak kuning lagi dan puting saya yang tidak sering lecet. Lecet sesekali karena penggunaan breastpump atau karena Rarra usil memainkan payudara saya ketika menyusu. Betul kata DSA saya, meski sudah cukup pintar menyusu, Rarra beberapa kali masih kuning. Namun, tidak ada tanda bahaya itu. Saya kembali bekerja, dan Rarra minum ASIP yang sudah saya cicil sebelum masuk kerja. Kenapa saya bilang drama ASI ini SEMENTARA selesai? Saat ini masih ada ketakutan lain yang menghantui saya: bingung puting. Rarra dititipkan ke ART saya, sepupu, tante, mertua, bahkan ibu saya sendiri dengan menggunakan botol, sesuatu yang ‘haram’ dilakukan oleh para konselor laktasi. Lebih baik pakai gelas, cup feeder, pipet atau sendok saja. Tapi, hampir semua orang tidak paham efek botol ini. Mereka cenderung kasihan, tidak tega, dan tidak telaten bila tidak pakai botol. Sementara ini saya berusaha sebisa mungkin hanya menitipkan Rarra sebentar-sebentar saja. Sehingga paparannya terhadap botol tidak sebanyak waktu kebersamaannya dengan saya untuk direct breasfeeding. Setiap pulang dari luar rumah, selalu ada perasaan deg-degan, “Rarra mau gak ya menyusu langsung?” Rasa ini terus ada karena saya tidak mau melewatkan lagi rasa nikmat dan menyenangkannya menyusui langsung. 💜🖤
Hal yang sampai saat ini kusyukuri adalah lingkaran pertemanan yang begitu mendukung ASI penuh. Terutama suami saya yang mendukung dan membantu dengan caranya, sebisanya, Mama susuannya Rarra, teman-teman sesama mama muda di media sosial (yang saat ini sedang hobi ikutan give away sana sini 😂), keluarga di rumah yang mau belajar manajemen laktasi termasuk mau berbagi space dalam freezer bahkan dititipin kulkas freezer, teman sejawat di kantor termasuk ibu-ibu bidan dengan saran domperidonnya untuk ASI booster dan minyak sladanya untuk mengatasi lecet. Terima kasih banyak... kalimat yang pernah diucapkan dr. Rani, mama super dengan 4 anak yang jadi suhu per-ASI-an saya juga menjadi motivasi saya sampai sekarang,
“Bayimu itu juga belajar kok. Nanti-nanti dia juga akan pintar juga. Gak akan ada breastpump manapun yang bisa nandingi hisapannya untuk ngosongkan payudara sehingga ASImu pun nanti akan terus banyak. Percaya deh, payudaramu itu gak akan kosong dan pasti cukup untuk anakmu. Susui terus yaa! Semangat! Pasti bisa!”










