— the only real way to strength is through pain.
Cosimo Galluzzi
RMH

Love Begins
art blog(derogatory)
$LAYYYTER

shark vs the universe
Fai_Ryy
🪼
NASA
d e v o n
No title available
No title available

tannertan36
Game of Thrones Daily
The Stonewall Inn

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON

Discoholic 🪩

gracie abrams

Andulka
seen from United States

seen from Canada

seen from Sweden
seen from Belgium

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from France
seen from South Africa
seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
@etalasememori
— the only real way to strength is through pain.
Kita mungkin tidak bisa memperbaiki semuanya dari apa yang sudah terjadi dan dengan begitu mudahnya memaafkan. Tetapi kita bisa menjauh dari semua hal yang menyakiti dan mengganggu suasana hati.
I’m trying my hardest to not act how i feel.
Don’t expect to get what you give. Not everyone has a heart like u.
There's no need to rush. If something is meant to be, it will happen. In the right time, with the right person, for the best reason.
Katanya, “Jangan dulu menikah. Menikah itu banyak sekali ujiannya, berat, cobaannya luar biasa dalam pernikahan.”
Bedanya dengan sebelum menikah apa? Gak ada ujian hidup? Toh, sama saja. Hidup memang selalu ada jalannya.
Kenapa khawatir memikirkan sesuatu yang seharusnya bukan urusan kita. Kalau Allah kasih ujian pasti Allah kasih bahagia lebih besar dari ujiannya dalam pernikahan yang sebetulnya kita gak bisa hitung pake kalkulator manusia, masih bersyukur gak kamu punya pasangan? Pasti bersyukur.
Semoga Allah bahagiakan setiap hati yang didalamnya ada perasaan yang tak mampu dipikulnya dan tak bisa ia jelaskan kepada siapapun.
Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu, dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan.
Indah menjadi terang
Lupa ada masanya
Bisa padam sesukanya
Dipaksa hilang saat ada mentarinya
Tak tahu bagaimana cara mematikan
Kepada sesuatu yg telah tertanamkan
Jangan lupa pulang.
Tapi jangan sampai lupa
Pilihan itu tetap ada
Toh manusia tugasnya berusaha, seperti hari itu.
Menikmati senja dengan hati yang berbunga
Sampai jumpa, rindu.
Sebagian orang percaya bahwa yang disebut rumah tak selalu berupa sebuah bangunan, bisa jadi berupa hati atau ingatan seseorang. Dan senyummu itu, adalah pintu dari salah satu atau malah kedua-duanya yang ingin sekali aku kunci sendiri dari dalam.
Akhir-akhir ini hidup terlalu penuh oleh sesak perihal duniawi, rasanya hampir saja tak bisa bernafas, berkali-kali menghela berkali-kali pula tercekik.
Awal dan pagi adalah sebuah intuisi yang tidak akan berseberangan, mereka hanya datang sebentar, kemudian pergi. Lalu esok kembali menyapa dengan menawarkan sesuatu yg baru, dan hatimu? Aku tidak pernah tahu.
Ketidak Sempurnaan.
Dia tidaklah sempurna, maka terimalah dirinya dengan segala kurang dan lebihnya. Bukankah manusia disatukan untuk saling melengkapi? Mengisi kekosongan satu sama lain.
Mungkin dia tidak rapih, kamu yang merapihkan. Mungkin dia tidak pandai perihal ilmu syar'i, maka kamu yang akan mengajarkan.
Bukankah berjuang dan belajar bersama adalah hal yang menyenangkan. Kamu akan tertawa dengan tingkah ketidak tahuan dirinya.
Bila semuanya ingin terlihat saling membenarkan, sangat sulit bukan. Ketika semua sudah merasa sama-sama berlebihan akan muncul perdebatan.
Kamu juga harus tahu, tahun pertama mungkin akan terasa menyenangkan. Dan seterusnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi gesekan.
Bisakah melewatinya bersama tanpa ada rasa dendam dan marah yang berkesudahan?
Bisakah gesekan membuat kamu dan dirinya saling mendewasakan dan semakin kokoh dalam hubungan?
Kembali lah kepada hakikat para wanita harus lebih mengalah, tak perduli siapa yang salah, lambat laun separuhmu akan sadar. Dan membuat semuanya akan baik-baik saja.
Jangan malu untuk meminta maaf pada dirinya, jangan malu untuk mengekspresikan rasa sayangmu pada dirinya, dan seterusnya.
Ingatlah, pasanganmu bukanlah malaikat sempurna tak bercela, dia adalah manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan alpa, jika kamu lihat sesuatu yang tak kamu senangi darinya, maka sesungguhnya betapa banyak hal lainnya yang kamu sukai dan ridha.
Ia adalah pilihanmu yang kamu sendiri memilihnya untukmu, karena itu janganlah kamu mencela apa yang telah kamu pilih untukmu, sebab itu konsekuensi atas pilihanmu.
Maka berjalanlah bersama, melangkahlah dengan bergandengan, saling melengkapi dan membahu.
Saling memahami, memaafkan, menasehati dengan penuh kasih dan meridhoi satu dengan lainnya.
Suami, kamu adalah imam, maka jadilah imam yang baik dan tahu arah.
Istri, kamu adalah mitranya, patuhlah padanya dan dukung dia dalam ketaatan.
Ustadz Abu Salamah hafizahullah.
Semoga kamu yang sudah menapaki hidup bersama semakin diberi kesabaran dan kelapangan hati satu sama lain. Dia adalah takdir-mu, terima lah.
Semoga kamu yang masih dalam perjalanan diberi kesabaran dan keistiqomaan hingga ia datang menjemputmu. Dia adalah takdir-mu, terima lah.
Aku ingin menemanimu di kerumunan asing, berteduh di bawah langit yang sebelumnya belum pernah kita lihat, atau di kota yang katamu menawarkan sejuta mimpi. Dimanapun dan kapanpun kau bisa menggenggam tanganku, biarkan langkah pertama kita adalah sunyi yang dipadati syukur tanpa henti.
“Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. Semakin dalam lukanya ia akan dingin, kaku dan semakin membisu. Bukan karena tak memaafkan. Tapi lebih kepada ia takut menyakiti lebih dalam. Ia memeluk luka dan kesakitannya sendiri, ia telan sendiri semua rasa pilunya.”
—
kata Bapak, dibalik diamnya seorang perempuan, ia hanya ingin waktumu yang lebih lama dari biasanya; hanya ingin perhatianmu yang lebih hangat dari sebelumnya. Jangan malah didiemin-apalagi dicuekin, dia pasti tidak akan suka, dia pasti akan sangat membeku, dia pasti akan sangat terluka. (via andromedanisa)
Perempuan itu ketika marah justru ia akan diam. perempuan yang paham akan dirinya, dia akan riuh dalam doa. medoakan yang baik-baik, menjadi pendoa yang terbaik. ia tak akan rapuh namun ia akan memilih diam dan riuh doanyanya dilangit. demikianlah perempuan. ah, akupun seorang perempuan..:”))
"Jika kamu bisa menjaga, maka disini aku sanggup menunggu."
Tepi
Namaku udara.
Yang terbiasa dengan ruang hampa.
Namaku air.
Yang kedalamannya menghanyutkan tapi kau genang, tak mengalir.
Namaku kertas.
Yang dalam gegap gempitanya huruf dan angka, lekas retas untuk kau hempas.
Namaku tanah.
Yang tangguhnya kau buat pecah sebelum merekah.
Panggil aku sepi.
Dengan jutaan perasaan yang enggan menepi, dalam riuhnya isi kepala yang tak mau pergi.
Bukan, kita bukan patung yang kau tertawakan ketika diam tak berdaya.
Jangan kau kira senyap nya malam ini tak berapi.
Jutaan percik kecil dari titik yang luput kita pandang akan siap pada waktunya.
Entah kapan, akan meraja.
Menjadi kebangkitan atas suara yang tak pernah terbaca dalam nada.
Bukan, bukan salah siapa-siapa.
Mungkin memang kita (yang memang) akan kalah pada akhirnya.