Bolehkah aku menjadi adikmu? Kan kubantu kau untuk melewati setiap fase kesulitan hidupmu. Kelak, kamu tidak perlu takut berbagi cerita denganku. Sebab aku akan menyiapkan kedua telingah dan perasaanku untuk setia mendengar ceritamu.
Bolehkah aku memanggilmu dengan leluasa? Sebanyak kata yang tak sempat kulantunkan dalam bait doa-doa kita. Kau tersenyum setiap kali aku memanggilmu, sebab aku paham betul bahwa kau lebih senang aku memanggilmu dengan panggilan itu bila harus dengan panggilan ‘sayang’.
Aku paham, setiap laki-laki punya caranya sendiri dalam mengungkapkan panggilan sayangnya. Dan aku bahagia, setiap kali kau bahagia.
Ya, sebab aku adalah adikmu. Aku merasakan setiap perasaan yang kau rasa. Jangan tanya mengapa, sebab jauh sebelum kita bersama. Kau lebih tahu alasannya.
Jangan lupa sholat tepat waktu di masjid ya. Sebab aku adikmu, dan sudah menjadi kewajibanku mengingatkanmu.
Aku tidak akan mengingatkanmu sudah makan apa belum, sebab perutmu akan berteriak jika sudah waktunya. Tapi untuk sholat tepat waktu di masjid, perut manusia tidak akan pernah berteriak meminta untuk melaksanakannya.
Jangan pernah bosan ya, jangan pernah lagi bertanya kenapa. Terlihat kejam katanya, tapi demikianlah bentuk cinta. Percayalah, aku mencintaimu. Jangan tanya lagi karna apa. Kau pun sudah tahu jawabannya :)
Maaf ya, jika selama menjadi adikmu aku selalu mengulang-ulang perkataanku. Hal itu kulakukan semata karna aku takut setiap kataku ada yang menyakiti hatimu.
Sudah sholatkah, sudah baca Al-Qur'ankah, sudah menelpon/ berbakti pada bapak ibu kah, sudah melakukan kebaikan hari inikah, dan pengulangan kata yang menurut orang itu membosankan.
Jangan pernah bosan, ya mas. Jangan pernah lupa dengan kesepakatan kita. Kita telah bersepakat untuk membersamai, untuk tidak sungkan menasehati, untuk tumbuh dan menua nanti dalam kebaikan sampai surga tentunya.
Kita ke surga bersama kan? Itu janji yang kupegang darimu, itu kata-kata yang membuatku luluh dan akhirnya memilihmu.
Barangkali itu panggilan sayangku padamu. Aku tidak akan memanggilmu selain pada itu. Tidak dengan sayang, cinta, manis, lelakiku, abang, kakak, ayah ataupun abi.
Bagiku, panggilan ‘mas’ itu manis. Sudah mewakili semuanya. Hormat, santun, cinta, sayang, dan baktiku nantinya. Jika, takdir-Nya menyatukan kita.
Aku malu (emoticon malu). Aku malu, sebab sampai detik menuliskan ini aku tidak tahu kamu itu seperti apa. Ya semoga, kamu adalah apa yang aku semogakan, bapak ibu harapkan.
Mas, aku menuliskan ini di penghujung Ramadhan 1439 H. Ini bagian salah satu doa-doa kebaikan. Bukan hanya doaku saja untukmu, tapi ada pula doa bapak ibu, saudara kandung, ipar, sepupu, dan teman-temanku untuk kebersamaan kita.
Aku tidak tahu, ingin menuliskan apa di jurnal Ramadhan menulis kali ini. Yang aku tahu hanya satu mas, memohonkan.
Memohonkan agar Dia mengampuni dan merahmati kita di bulan ini. Sebab celakalah kita, jika kita keluar di bulan Ramadhan namun rahmat dan ampunan Allah tidak kita dapatkan.
Mas, sebentar lagi ramadhan pergi. Sedih? Jelas. Dan ku rasa kita sedang merasakan perasaan yang sama saat ini, kehilangan.
Jika kelak kamu membaca tulisan ini. Kamu jangan malu ya, berbahagialah. Sebab ada wanita yang begitu tulus mengabadikanmu dalam tulisannya. Dan itu, aku, adikmu.
Wanita cantik yang kamu cintai karna-Nya..
Penghujung Ramadhan 1439 H ||