Semalam, aku kehilangan semua perihalmu, tiba-tiba.
Kenangannya tak lagi bisa ku abadikan.
Caraku melukiskan, caraku menarasikan, hilang dari ingatan.
Aku menidur lelapkanmu bersama air mata yang tersisa, janji yang tak lagi bisa kuraba, atau sekedar bisik sapamu yang tak kutemui lagi setiap paginya.
Sesuatu yang terasa asing, atau lantaran telah masing-masing?
Maka sejak saat itu, meski bisa, aku tak lagi berniat membuka jendela, menyimpan huru-hara hari-hari kita pada laci meja.
Bukan lagi sebab lelah berupaya, sebab bahagia bukan tentang siapa yang tinggal, tapi perihal pulang yang mampu mendekap, menenangkan segala resah pada tempat yang seharusnya. Dekap paling hening, tapi tulusnya adalah yang paling. Dimana luka bertemu sembuh, dan kecewa berganti bahagianya.















