"Ulang tahun Mutia besok, ngga usah dirayain ya Neng.. Kita belajar menghargai masa kecil anak seusianya yang mungkin keluarganya belum prioritasin ngerayain ulang tahun..."
Sepenggal telefon ibu sore itu, aku terdiam sambil mengiyakan. Syukurlah, aku dan bapaknya Mutia tumbuh dengan value orang tua yang tidak jauh berbeda. Sederhana dan cukup, tidak berlebih.
Sudah penghujung bulan Nopember dan akhir bulan depan Mutia genap berusia satu tahun, memang bukan pencapaian yang luar biasa, tetapi juga bukan sesuatu yang luput untuk disyukuri bersama.
Entah siapa yang memulai, perayaan ulang tahun di benak anak-anak pasti meriah, setidaknya itulah yang aku ingat dari masa kecil dulu, melihat teman saudara dan kerabat merayakannya. Keluarga kami terbilang cukup, tumpeng dan doa bahkan lebih dari sekadar cukup. Tapi, ternyata perasaan anak-anak sukar untuk berbohong, ada binar mata yang berbeda saat melihat perayaan ulang tahun sebayanya, mungkin itulah yang ditangkap orang tua kami. Tentunya, bukan hal yang mudah bagi anak-anak, pun bagi orang tuanya. Barangkali, ada dada yang lebih sesak di saat yang sama, menyaksikan anak-anaknya hanya berdecak kagum pada pesta yang menarik.
Aku pun, sejujurnya memori itu masih ada. Pesta yang meriah, kue yang enak, kostum yang mahal dan segala pernak pernik hal yang sedang naik daun bagi anak-anak pada masanya. Mewah. Pasti rasanya menyenangkan, pikirku waktu itu. Meskipun seandainya aku kembali ke masa itu, aku pun akan tetap bahagia dengan rasa cukup yang diberikan keluarga kami, tapi bukan hal yang aneh jika terkadang rasa 'ingin' ini terkadang cukup mengganggu, kan? Jadi apakah mestinya lebih baik tidak tahu mewahnya pesta orang lain?
Ternyata, merasa cukup itu tidak mudah.
Baik bagi anak-anak, ataupun yang seharusnya sudah bukan lagi anak-anak.
Semoga apapun yang aku pilih baik untukku maupun untuk keluarga kecilku saat ini, semuanya terlepas dari bayangan memori masa kecil. Semoga anakku tumbuh sehat jiwa raganya, tak perlu susah payah menebus keinginan orangtuanya.
Adalah hal yang menakutkan lebih dari ketakutan. Unfinished bussiness. Yang tanpa sadar menjadi pertimbangan untuk memutuskan banyak hal, membiarkannya menjadi alasan untuk semua hal yang dipilih, memberinya seluruh kendali penuh. Maka lepaskan, biarkan jalanmu mengalir tanpa paksaan, tanpa beban masa lalu yang seharusnya tak perlu kau bayar.