Es ist zu ende.
Tiap perasaan memiliki pusaran rasa yang berbeda ketika diceritakan sekarang atau di masa depan. Oleh karenanya aku kali ini ingin menuliskan sedikit apa yang tengah mengganggu pikiran hingga fokus agak teralihkan.
Hari ini adalah malam tarawih terakhir puasa di tahun 2019. Besok adalah puasa terakhir Ramadhan tahun ini dan lusa sudah Hari Raya Idul Fitri. Hari ini aku datang ke sebuah acara buka bersama dengan teman sekelas masa SMA. Ya, ini jadwal buber terakhir juga di bulan puasa tahun ini. Agak sedikit bimbang sebenarnya tadi sore ketika aku hendak datang ke acara itu. Ada sedikit perasaan mengganjal dan was-was, terlebih ini adalah acara buber campuran dari dua kelas, yaitu alumni kelas 10 dan kelas 12. Dan aku berasal dari alumni kelas 10 yang sama. Sedikit khawatir aku tak bisa berbaur dengan teman-teman di sana. Terlebih, mostly alumni kelas 10 juga menjadi alumni kelas 12 yang sama. Perasaan tersisihkan itu nyata.
Itu alasan pertama. Alasan kedua, ada sosok yang sedikit banyak ingin kuhindari tapi juga ingin kutemui. Ya kuakui, sedikit harapan juga ada. Secuil remah-remah perasaan jaman-jaman sekolah itu kiranya belumlah tuntas sepenuhnya. Hingga pergolakan batin itu bermuara pada kata ya, aku akan datang.
Dan begitulah, kecanggungan itu berusaha kutepis. Terlebih pada sosok teman laki-laki. Apalagi ketika ia telah tiba. Seseorang yang sempat memiliki arti tersendiri di kehidupan remajaku. Yah.. waktu berjalan, buka bersama, canda tawa, berfoto, dan ternyata kecanggungan di antara kami tak terhapuskan.
Dari situ aku sadar. Bahwa perasaan ini satu arah. Hanya aku yang mungkin masih mengkristalkannya di sudut hati sana. Meringkuk meski kecil. Gelap tapi ia ada. Senyumku yang tak bisa leluasa menguar seperti biasa dan keramahannya yang juga ternyata tertahan makin membuatku yakin. Aku harus mengakhiri segala perasaan itu. Dan berhenti menjadikannya salah satu sosok yang mungkin kelak bisa berada di sisiku.
Perasaan ini harus selesai. Jawaban itu telah kudapat. Saat itu aku putuskan, mungkin hari itu adalah terakhir kalinya aku akan ikut buka bersama dengan mereka. Karena kecanggungan yang kurasa, kecanggungan yang mereka rasa, dan kecanggungan yang kutemui di dalam dirinya telah cukup jadi pembulat tekadku. Mungkin inilah akhirnya, inilah ujungnya. Meski tak menutup kemungkinan perasaan yang sama itu terulang kembali atas kuasa Ilahi. Aku hanya bisa berdoa semoga yang terbaik. Bukan aku hendak memutuskan tali silaturahmi, tapi... Perasaan mengganjal ini biarlah sampai di sini.
Terimakasih untuk kalian. Terimakasih untukmu.
Seseorang yang kutahu dulu pernah tulus memberikan perasaannya padaku. Terimakasih.
Es ist zu ende ~ It's all over.
June 3rd, 2019. Monday.









