âHappy birthday brooo Agung!!!â kalimat yang hampir memecahkan keheningan kantor di pagi itu.
Cepat-cepat aku meresponnya sebelum seluruh isi kantor mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hari itu.âSssst! Jangan keras-keras, diam-diam sajaâ
Sebelum kalimat ucapan tersebut dilanjut, Roni teman satu kantorku yang memang super aktif, tak jarang dia menjadi salah satu andalan para atasan disini, mengerti kode yang telah kuberikan.
Alhasil hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku, itupun hanya tetangga tempat duduk ku, selain Roni tentunya.
Setelah jeda beberapa menit dalam tempat duduk-yang-sangat-nyaman ku, pikiranku kembali melayang melewati beberapa tahun silam lamanya, melewati jutaan kepingan kenangan, baik buruk, suka duka, canda tawa, aku berusaha untuk mengingat momen tersebut. Menggali makna, apakah kepingan cerita tersebut telah memberikan makna selama ini? Ataukah hanya sia-sia.
Semua ucapan kebahagiaan dan harapan yang terus menerus muncul di layar notifikasi handphone-ku serasa sia-sia dan kubiarkan, tak ada artinya. Jika memang diri ini sudah melewati 23 tahun yang terekam dan terisi oleh jutaan momen yang telah dilalui tetapi tidak menibulkan sebuah kebermanfaatan satupun kepada penghuni dunia lainnya.
Jutaan pertanyaan tetiba muncul, memenuhi sisi otak kiri. Pertanyaan yang terus membesar dan terus memaksa untuk dikeluarkan adalah âSudah berapa banyak orang mendapatkan manfaat dari apa yang kau lakukan? Dan sudah berapa banyak orang yang kau sia-sia kan kebaikannya?â Kedua pertanyaan tersebut seakan-akan menghantui diriku, membodoh-bodohi diriku. Otakku terus berputar merefleksikan segala langkah dan tingkah yang telah kulakukan seakan-akan mencari sebuah jawaban.
Seseorang tetiba muncul dalam pikiranku, bak sebuah hologram dalam game console yang sering kumainkan akhir-akhir ini. Dia tak kukenal. Seorang pria berambut ikal cukup panjang, berpakaian putih rapih dan memiliki tatapan tajam. Dia seakan memberikan pesan, sebuah sandi, isyarat bahwa masih banyak orang-orang yang secara sengaja maupun tidak sengaja kita abaikan di dunia ini, banyak yang kita remehkan hal remeh di dunia ini. Aku takut ketika hal sekecil itu akan membawaku ke Neraka kelak.
Khawatir bukan main, jika memang selama hidup di dunia ini yang tersimpan hanyalah kilauan permata semata, fana, tanpa memikirkan bekal apa yang sudah dipersiapkan saat menghadapi keabadian yang sesungguhnya.
âSelamat ulang tahuun bro!â Deni tetiba menghampiri meja dan berhasil memecah lamunanku.
âOh, iya makasih Den!â. Sahutku dingin.
Sembari menatapku dengan heran âKenapa lo? Tumben-tumbenan murung gini, kan hari ini hari ulang tahun loâ
âGue tersadar, bahwa selama ini gue masih belum baik hidup di dunia ini, belum berhasil jadi orang baik buat orang-orang di sekitar gue, bahkan diri gue sendiri.â
Sembari mengulang kembali lamunanku, âGue lebih memilih diam menjauhi hingar bingar dunia pada hari ini, gue takut hari ini adalah hari pengulangan yang terakhir buat gue, semakin banyak orang yang inget hari ini hari ulang tahun gue, semakin beban yang gue rasain karena merekalah entitas yang membuat gue jadi diri gue saat ini, gue hutang kebaikan sama mereka semua.â
âOke deh bro, yang penting selamat! Semoga berkahâ Seakan Deni mengerti kode yang ku berikan saat itu.
Hening dan syahdu, suasana yang aku pilih pada hari itu, hari yang mungkin sebagian orang bahagia merayakannya. Tapi aku bukanlah mereka, aku lebih memilih diam dan termenung akan apa yang telah aku lalui selama hidup menumpang di dunia ini.
Ya, tapi aku tetap bahagia akan terjadinya hari ini, bukan kepalang. Selain diberikan ucapan bahagia olehmu, aku bersyukur telah diberikan kehidupan hingga saat ini, diberikan rasa kasih sayang oleh kedua orang tua, kerabat dekat dan orang sekitarku yang membuatku semakin âhidupâ di alam semesta ini.
Memang, rasa syukur dan bahagia akan selalu mengalahkan rasa takut yang belum tentu terjadi.
âAgung, ayo balik!â saut Roni yang telah siap siaga untuk meninggalkan ruangan.
Hari pengulangan itu memang hari penuh renungan. Mengulang untuk mendulang kebaikan, lagi.