DELETE SOON!
Belakangan ada beberapa hal yg selalu mengganggu pikiranku. Pikiran ini dapat membunuh karakterku secara perlahan-lahan. Ya, skripsi dan kemampuan diri. Skripsi adalah salah satu bentuk tanggung jawab kepada orang tua yg harus diselesaikan. Aku adalah seorang mahasasiwi tingkat akhir yg sudah menempuh 5 tahun bangku perkuliahan. 4 tahun belajar dan 1 tahun mengerjakan tugas akhir. Ya, 1 tahun, waktu yg relatif lama untuk mengerjakan tugas akhir. Aku pikir, lama sekali waktu mengerjakan tugas akhirku. Awalnya, semangatku begitu menggebu membuat berbagai macam target dan menyusul time schedule. Tapi ternyata, apa yg aku buat meleset dab akhirnya pengerjaan tugas akhir ini masih berlanjut hingga akan genap setahun. Rasanya sekarang hanya menjalani ada yg ada di depan saja. Membuat target tetap dilakukan tetapi tidak terlalu ngoyo seperti waktu awal. Aku butuh fokus untuk mengerjakan tugas akhirku. Karena banyak faktor yg 'mengharuskan' aku untuk membuat skripsi yg sempurna. Entah itu mencari literatur, metodologi, saat berlangsungnya penelitian di lab, hingga tata cara penulisan atau format penulisan skripsi. Semua harus dipikirkan baik-baik dan matang. Aku butuh fokus agar tugas akhir ini segera selesai. Capek juga ya mendengar orang bertanya "skripsi udah sampai mana?" "udah lulus belum?" "kapan lulusnya? Kok gak selesai-selesai skripsinya". Mereka tidak tahu apa yg telah aku lalui sehingga tugas akhir ini terkesan lama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi semangat atau beban. Untukku, kalimat-kalimat pertanyaan itu lebih besar porsi bebannya. Aku selalu mengerjakannya sedangkan mereka tidak tahu. Mereka juga selalu menganggapnya mudah padahal aku bertaruh seluruh pikiran, tenaga, waktu, dan biaya untuk apa yg mereka anggap sepele. Kemudian, masalah kemampuan diri. Disini lebih spesifik ke mengemudikan kendaraan. Jujur, aku sangat berhasrat besar sekali untuk bisa mengendarai motor ataupun mobil agar mobilitasku tidak terhambat. Aku pernah beberapa kali latihan mobil dan motor hingga akhirnya aku bisa. Tetapi aku masih takut untuk mengendarainya ke jalan raya sendirian. Masih belum terbiasa. Kadang masih suka latihan tapi tidak rutin. Kata beberapa orang, latihannya harus rutin biar terbiasa bawa ke jalan raya. Iya, aku setuju dengan itu. Tapi, hal itu butuh waktu dan fokus juga bukan? Satu sisi mereka selalu bilang selesaikan dulu tugas akhirnya, tetapi satu sisi lagi mereka selalu bilang lancarin lagi naik mobilnya biar bisa nganter mamah kemana-mana. Ya aku juga mau bisa nganterin mamah kemana-mana tanpa harus ada orang lain. Tapi kan aku juga harus menyelesaikan skripsi juga. Jadi gimana? Pikiran-pikiran tersebut yang menyita waktuku selama beberapa bulan terakhir bahkan mungkin setahun terakhir. Aku suka tersinggung aja kalau ada suatu acara yg dilaksanakan malam hari. Aku suka merasa bersalah karena belum bisa mengendarai kendaraan sendiri. Di sisi lain, setiap mau lancarin mobil lagi secara intens, tiap hari juga aku melakukan penelitian yang biasanya dimulai pagi hari hingga sore atau bahkan malam hari. Aku sudah lelah untuk mengeluhkan hal ini kepada orang-orang. Setiap aku mendengar 'sindiran' tentang kedua hal tersebut, aku hanya bisa diam. Tapi pikiran-pikiran di otakku ini begitu kacau. Daripada yg keluar adalah suatu kata yg menyakitkan hati lebih baik aku diam saja. Lagian aku selalu berusaha membuat strategi untuk dapat menjalankan keduanya secara bersamaan. Tapi belum kutemukan strateginya.












