Menerka Hikmah
Aku masih mengingat betul perasaan ini.
Perasaan sendiri, sepi, dan sunyi.
Dahulu, aku tidak tahu dan belum tahu namanya, belum tahu apa artinya, belum tahu apa maknanya.
Sekarang, aku mulai memahami.
Sudah sejak lama, aku bergumam dalam hati bahwa aku tidak ingin ke sini lagi, Malang, kota yang dingin tapi menyimpan banyak luka.
Luka yang sebenarnya aku goreskan sendiri dalam kesendirianku.
Luka yang sebenarnya aku pilih untuk aku merasakannya.
Mungkin ini maksud takdir yang Ia berikan padaku.
Kembali pada tempat ini.
Tempat yang aku rapalkan dalam doa untuk hanya menjadi kenangan enam tahun semata.
Tapi, nyatanya, aku meneruskan.
Mungkin ini maksud Tuhan menyuruhku mengambil jalan ini.
Untuk menamai, untuk mengerti, dan untuk mengatasi.
Kalau yang dahulu ku rasakan pedihnya hanya satu lipat, saat ini berkali-kali lipat. Aku rindu. Rindu mereka yang aku sayangi.
Tapi aku yakin ada rencana indah untuk mengatasinya. Aku yakin dengan aku memahami sekarang, aku diizinkan untuk memulihkan juga. Untuk menyelesaikannya. Untuk menutup lukanya agar tidak semakin membesar hingga menjadi penyakit di dalam hati.
Fainna ma'al usri yusro. Innama'al usri yusro.














