"Aku tidak mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa."
Umar bin Khattab
$LAYYYTER

shark vs the universe
Peter Solarz

Product Placement

★
🪼
almost home
tumblr dot com
Keni
YOU ARE THE REASON

Kaledo Art
styofa doing anything

#extradirty
Game of Thrones Daily

tannertan36

if i look back, i am lost
noise dept.
Monterey Bay Aquarium
trying on a metaphor
I'd rather be in outer space 🛸
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from France

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Spain

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Croatia
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
@favenoir
"Aku tidak mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa."
Umar bin Khattab
Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya:
Kebingungan yang tiada putusnya
Kesibukan yang tidak ada ujungnya.
Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi.
Keinginan/khayalan yang tidak pernah tercapai.
(HR. Ath-Thabrani)
"Dari semua yang menghuni bumi, manusia lah yang paling tidak bisa diam. Bahkan ketika diam pun, pikirannya masih berisik. Bahkan ketika tidur pun, manusia bermimpi dan berbicara dalam mimpinya."
Leila S. Chudori Dalam buku "Laut Bercerita"
Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.
Pramoedya Ananta Toer
"Ilmu yang diajarkan adalah nyawa kedua manusia yang membuatnya abadi. Usia bisa usai, ketakutan pun dapat rapuh. Akan tetapi, ilmu bisa menghidupkan; makin diberi makin bertambah; makin disebar makin bermekaran."
Edgar Hamas
Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperluas perasaan.
Tan Malaka
Sesungguhnya shalat—di samping fungsi utama nya sebagai sarana beribadah kepada-Nya, mengembangkan keimanan kepada suatu Zat Mahakuasa dan Maha Penyayang yang kepada-Nya kita dapat mempertautkan kecintaan dan keimanan, serta memperhalus akhlak—adalah fasilitas yang dianugerahkan-Nya kepada kita untuk meningkatkan kualitas hidup kita sehari-hari. Maka, masihkah kita akan menyia-nyiakan shalat dengan tidak menjalankannya?
Haidar Bagir Dalam buku "Buat Apa Shalat?!" Hlm. 27
Semoga lekas membaik. Percayalah, dibalik pedihnya sakit ini, Allah sedang menyiapkan rimbun kebahagiaan untukmu. Meski aku tak mahir menenangkan hati dengan kata-kata, doaku takkan terbendung melangit demi kesembuhanmu.
Jangan merasa sendirian, ada banyak doa yang sedang mengetuk pintu langit untukmu hari ini dan hari hari berikutnya.
You will never understand how the land remembers, how deep the roots grow
Land by Maggie O Farrel
The great theologian Abu Hamid al-Ghazali wrote:
“Knowledge without action is insanity, and action without knowledge is vanity.”
Bagi al-Ghazali, ilmu bukan sekadar sesuatu untuk dikumpulkan. Ilmu adalah sesuatu yang seharusnya mentransformasi (mengubah) hati.
Lucuu bangett ada game gini sekarang di Tumblr 🤣
Kuncup daun baru mahoni sudah mulai bertumbuh menghiasi dahan dengan rona hijau muda menyala yang khas, dalam hitungan hari, ia akan tumbuh semakin rimbun lalu akan bersalin rupa, bergeser perlahan menuju semburat teal yang teduh.
Para daun tua yang pernah merasakan hidup dibawah nafas langit, gagah memayungi bumi dan dimanja sepoi angin kini meringkuk dibawah kaki pohon, menguning dan lembap, kering terbawa angin, beberapa ada yang membusuk karena masanya telah usai.
Hidup mereka di atas dahan telah purna,
kini mereka kembali ke pelukan asal, menyatu dengan rahim tanah.
Jika dari kaca mata manusia yang sok tau ini, aku melihat, ada keberanian yang luar biasa dari daun-daun tua yang melepaskan rantingnya itu; mereka tidak melawan musim, mereka mengalir bersamanya.
Mereka tidak pula membenci angin yang menerbangkan daun-daun kesana kemari, membiarkan diri mereka menari nari jatuh dengan pasrah.
Siapakah sang Pelukis yang Tak Berkuas itu?
melukiskan wajah daun-daun bertunas muda menuju daun yang habis masanya, siapa yang mengendalikan musim agar kita belajar untuk tetap tegar dalam layu dan gempita saat mekar? Ya! Tak ada nakhoda bagi musim yang kalut ini, kecuali tanpa kendali Tuhan-Mu yang menggenggam detak jantung semesta.
Oh Allah, musim apa pun yang akan menyapa hariku, biarkan aku luruh dalam kepasrahan kepada-Mu. Karena aku hanyalah seorang pemungut dari remah-remah kebijaksanaan-Mu yang Engkau tebarkan di sepanjang jalan. Perjalankan aku melewati segala musim dalam hidupku, dan mohon, jangan pernah lepaskan genggaman-Mu atas diriku.
Orang bilang, aku hanya menulis saat terluka. Bahwa penaku hanya menari di atas kertas saat jiwaku sedang berdarah.
Mungkin dulu begitu. Tapi keheninganku akhir-akhir ini bukanlah pertanda damai. Aku tidak sedang sibuk merayakan bahagia hingga lupa cara merangkai kata. Justru sebaliknya. Aku diam karena aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku selalu menulis tentang apa yang nyata. Riak perasaan, badai pikiran, atau setidaknya gema dari apa yang tersirat di benakku. Aku tak pernah mengarang.
Tapi akhir-akhir ini, hidup terasa seperti siklus cuaca yang membosankan: mengalir, menguap, lalu jatuh kembali sebagai gerimis kelabu yang sama. Tak ada yang istimewa. Tak ada puncak, tak ada jurang. Hanya sebuah dataran rendah yang monoton. Sudah begitu akrab hingga nyaris tak terlihat, dikaburkan oleh penerimaan yang pasrah. Entah ini sebuah kedewasaan, atau sekadar bentuk lain dari mati rasa. Yang jelas, tak ada lagi percikan api. Tak ada lagi energi untuk mengelak, tak ada lagi keinginan untuk melawan.
Ya, itulah jawabannya. Aku tidak menulis bukan karena tak ada cerita. Aku tidak menulis karena aku telah berhenti menjadi tokoh utama dalam ceritaku sendiri. Aku hanya menjadi latar, membiarkan hari-hari berlalu tanpa perlawanan, tanpa pertanyaan. Dan di dalam kehampaan yang datar ini, bahkan kata-kata pun kehilangan alasan untuk ada.
Namun, jiwa ini mulai resah dalam ketenangan yang mematikan ini. Aku merindukan sebuah gelombang, apa pun itu, yang cukup kuat untuk membangunkanku dari tidur panjang ini. Aku menanti sebuah sentakan yang akan kembali melemparkan pena ke tanganku. Dan jika semesta mendengar, aku berharap kali ini yang datang bukanlah badai yang menghancurkan, melainkan sebuah pasang kebahagiaan yang cukup riuh untuk membuatku ingin menceritakannya pada dunia.
Orang bilang, aku hanya menulis saat terluka. Bahwa penaku hanya menari di atas kertas saat jiwaku sedang berdarah.
Mungkin dulu begitu. Tapi keheninganku akhir-akhir ini bukanlah pertanda damai. Aku tidak sedang sibuk merayakan bahagia hingga lupa cara merangkai kata. Justru sebaliknya. Aku diam karena aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku selalu menulis tentang apa yang nyata. Riak perasaan, badai pikiran, atau setidaknya gema dari apa yang tersirat di benakku. Aku tak pernah mengarang.
Tapi akhir-akhir ini, hidup terasa seperti siklus cuaca yang membosankan: mengalir, menguap, lalu jatuh kembali sebagai gerimis kelabu yang sama. Tak ada yang istimewa. Tak ada puncak, tak ada jurang. Hanya sebuah dataran rendah yang monoton. Sudah begitu akrab hingga nyaris tak terlihat, dikaburkan oleh penerimaan yang pasrah. Entah ini sebuah kedewasaan, atau sekadar bentuk lain dari mati rasa. Yang jelas, tak ada lagi percikan api. Tak ada lagi energi untuk mengelak, tak ada lagi keinginan untuk melawan.
Ya, itulah jawabannya. Aku tidak menulis bukan karena tak ada cerita. Aku tidak menulis karena aku telah berhenti menjadi tokoh utama dalam ceritaku sendiri. Aku hanya menjadi latar, membiarkan hari-hari berlalu tanpa perlawanan, tanpa pertanyaan. Dan di dalam kehampaan yang datar ini, bahkan kata-kata pun kehilangan alasan untuk ada.
Namun, jiwa ini mulai resah dalam ketenangan yang mematikan ini. Aku merindukan sebuah gelombang, apa pun itu, yang cukup kuat untuk membangunkanku dari tidur panjang ini. Aku menanti sebuah sentakan yang akan kembali melemparkan pena ke tanganku. Dan jika semesta mendengar, aku berharap kali ini yang datang bukanlah badai yang menghancurkan, melainkan sebuah pasang kebahagiaan yang cukup riuh untuk membuatku ingin menceritakannya pada dunia.
Yang Retak Bukan Perasaan, Tapi Cara Kita Bicara..
Tidak semua konflik berakar dari kebencian. Sebagian justru tumbuh pelan dari kata-kata yang tak selesai, nada yang disalahartikan dan kelelahan yang tak sempat dijelaskan.
Sering kali kita mengira seseorang menjauh karena tak peduli, padahal mungkin ia hanya tak tahu bagaimana harus menjelaskan isi kepalanya atau kita merasa diserang, padahal yang datang hanyalah pesan yang gagal dipahami dengan utuh. Aku belajar bahwa banyak masalah membesar bukan karena niat buruk, melainkan karena komunikasi yang terpotong di tengah jalan. Kita mendengar untuk menjawab, bukan untuk mengerti. Kita bereaksi sebelum benar-benar memahami.
Andai lebih banyak ruang untuk bertanya? lebih sedikit asumsi dan lebih banyak keinginan untuk mendengar tanpa bersiap membela diri, mungkin tak semua hubungan harus retak.
Karena kadang, yang rusak bukan perasaannya melainkan cara kita menyampaikannya.
Barangkali tidak semua harus diselesaikan hari ini. Kadang, memahami perlahan sudah cukup untuk tidak saling menyakiti.
Kalaupun masih ada jarak, semoga suatu saat kita bisa belajar menjembataninya dengan pelan.
🍁🌼🌊
---TAKALAR KOTA || Selasa, 03 Februari 2026. Pukul: 14.43 WITA---
selamat datang di musium ingatan °°
Mungkin dalam musium ingatan ku, terekam jejak tersembunyi mu.
Aku mulai percaya, kedewasaan itu kadang sesederhana tahu kapan harus bicara tentang harapan, dan kapan cukup duduk sebentar, menarik napas, menutup layar, lalu membiarkan pergantian waktu lewat tanpa perlu menambahkan apa-apa.
Ruang Imaji dalam "Biarkan Tahun Berganti"