Murni ditulis karena konsep ini mengubahku, menguatkanku, sehingga kumerasa harus segera membagikannya!
“This is how my parents raised me!” Said someone, in defense.
On other occasion, “Don’t blame me, blame the environment I was brought up.”
And even, “Life shapes me this way.”
Dan banyak bantahan lain yang digunakan ketika orang (tampak) bertanya: kok lo kaya gini sih.
Lalu muncul-lah, segala alasan-alasan atas sikapmu dengan harapan mereka memaklumi dan mengerti.
Ya. Aku pernah berada di titik selalu menyalahkan kejadian-kejadian kelam di masa laluku. Aku pernah dalam posisi terus meratapi memori menyakitkan di usia belia yang tak bisa kuhapus. Aku, menjadikan orang lain sebagai alasan terbentuknya diriku.
Tidak sepenuhnya salah. Memang. Tapi tentang ini, mari kita bicarakan dalam kesempatan lain.
To me, excuses are spaces of comfort.
But it leads me: nowhere. Sibuk menyesali kondisi membuatku tidak produktif. Meredupkan asa.
“Excuses are lies we tell ourselves so that it doesn’t have to be our fault.”
Ketika disadarkan, aku menyesal atas betapa banyak waktu yang dirugikan cuma bersirkulasi dalam grief and sorrow.
(maka itu aku menulisnya, berharap kalian jika merasakan ini akan cepat menemukan jawabannya! bersabar ya dengan panjangnya tulisan)
Ayat ini berkisah tentang seorang wanita. Nah, aku sebagai orang yang kritis (dan bersyukurlah kita atas akal ini) dulu bertanya-tanya: kenapa di antara milyaran kisah, tokoh, hanya satu nama wanita yang disebut secara gamblang di Alquran, bahkan diabadikan jadi nama surat?
Se-spesial apa wanita ini hingga dapat kemuliaan itu? Kan banyak sosok wanita keren kalau kita baca kisah-kisah. MasyaAllah. Allah ternyata pengen ngajarin kita sesuatu! Siapa beliau? Yep, satu-satunya wanita yang disebut di Alquran adalah Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa alaihissalam.
Ibarat guru, yang punya stok kisah murid-muridnya yang sudah jadi alumni. Tapi ketika beliau cerita di depan kelas: “Ini lho satu orang murid saya yang sukses. Kalian belajar ya dari dia. Kalian contoh ya langkah dia. Biar kalian sukses juga.”
Maryam adalah anak yang dinanti pasangan Imran dan Hannah selama bertahun-tahun. Dengan keinginan kuat itu, Hannah pun bernadzar apabila anaknya lahir akan dikhidmatkan untuk menjadi pelayan masjidil Aqsha. Betapa kagetnya ketika lahir anak perempuan. Dalam suatu dialog dengan Allah yang membuktikan kedekatan sang ibu dengan-Nya, ia mengadu. Hingga pada akhirnya beliau tetap menunaikan janjinya.
Singkat cerita, adalah sang Paman, Nabi Zakaria alaihissalam yang dipercayakan mengasuh Maryam.
Now this is where it gets even cooler.
Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
“…Membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik…”
Secara tata bahasa, kalimat seperti ini tidak ladzim didengar. Inilah tingginya level Bahasa Arab yang tidak dapat diterjemahkan semudah itu ke bahasa lain.
Konsep 1: dalam bahasa Arab untuk memberi penekanan pada kalimat digunakan pengulangan kata benda setelah kata kerjanya. Misal: “aku menabung tabungan”, “aku menulis tulisan”. Hal ini pun sering ditemukan di Alquran.
Konsep 2: hampir pada semua bahasa, kata kerja dibagi menjadi transitif dan intransitif. Kata kerja transitif berarti berefek ke orang lain sementara intransitif hanya berefek ke diri sendiri. Nah, penggunaan transitive dan intransitive verb diikuti dengan kata noun yang sesuai. But Alquran breaks this rule! Coba lihat lagi,
Quran mentioned “…he raised her a beautiful growing…”
instead of saying: “he raised her a raising.”
when you say: a plant grow, you’re giving it credit
when you say: I grow a plant, you’re giving yourself credit
the first part of the ayat: “he raised her” gives him (Nabi Zakaria alaihissalam) credit
the second part of the ayat: “a beautiful growing” gives her (Maryam) credit
Kenapa susunan kata demikian yang dipilih? Ternyata untuk menunjukkan satu poin penting dari tumbuhnya Maryam dengan keren.
Yaitu.. keshalihan sosok Maryam adalah hasil dari dua hal: faktor internal dan eksternal.
Seorang pendidik, pengasuh Maryam (Nabi Zakaria alaihissalam) sudah jelas adalah seorang shalih. Beliau adalah seorang Nabi.
Tapi ibarat menumbuhkan tanaman, faktor eksternal seperti menyiapkan tanah terbaik, memberi pupuk, memastikan kondisi cahaya yang tepat, menakar volume air yang diberikan… tidak akan tumbuh tanaman itu apabila bibitnya buruk.
Allah highlighted her awesomeness and his awesomeness together:Â the best environment and the best child come together. Subhanallah.Â
I made a mental note: to never rely on the environment only. IÂ would have to have the nurturing (like the desire to want to grow) and the inherent goodness for this to work.
“Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Mahapengasih.”
and Alhamdulillah, Allah leads me to read a book on how to grow yourself. I’d be sharing this bits of knowledge soon, inshaAllah. Karena.. untuk menulis ini saja butuh beberapa hari, beberapa kali mengulang rekaman, dan meminta pada Allah dimudahkan.
Wallahu’alam bis shawab.
- Buku Maryam, Perempuan Penghulu Surga
- Lecture Ustadz Nouman Ali Khan “Maryam’s Upbringing”