Sedetik
Sedetik, aku berpikir ingin terlahir kaya, sedetik kemudian aku bersyukur tidak terlahir sebagai fakir.
Sedetik, aku ingin terlahir cantik dan rupawan, sedetik kemudian aku bersyukur terlahir tidak buruk rupa.
Sedetik, aku menginginkan rumah yang megah dan nyaman, sedetik kemudian aku bersyukur memiliki rumah beratap dan berlantai ubin mengkilap.
Sedetik, aku membayangkan andai aku termasuk orang yang jenius, sedetik kemudian aku bersyukur tidak terlahir bodoh.
Sedetik, aku berangan-angan untuk dapat keliling dunia tanpa beban, sedetik kemudian aku bersyukur telah dapat menginjakkan kaki di pulau-pulau besar Indonesia.
Sedetik, aku ingin memiliki tubuh ramping dan tinggi semampai, sedetik kemudian aku bersyukur tidak mengidap obesitas.
Sedetik, aku ingin merasakan menjadi populer, sedetik kemudian aku bersyukur memiliki banyak teman yang setia.
Sedetik, aku mengharapkan hadirnya sesosok kesatria yang meringankan hidupku, sedetik kemudian aku bersyukur dapat menikmati dan menggunakan waktuku sepuasnya.
Sedetik, aku ingin dapat saling berbalas cinta dan kasih sayang, sedetik kemudian aku bersyukur walau hanya bisa menerima dan mensyukurinya.
Sedetik, aku berpikir untuk pekerjaan yang fancy atau bergengsi, sedetik kemudian aku bersyukur dapat bekerja di perusahaan negara.
Sedetik, aku ingin seperti mereka dengan setelan kemeja anggun lengkap dengan tas dan sepatu cantiknya, sedetik kemudian aku bersyukur mengenakan setelan seragam keren.
Sedetik, aku iri dengan mereka yang berada di kota besar dan bermain dengan teman-temannya, sedetik kemudian aku bersyukur masih dapat berbalas pesan dan suara dengan rekanku.
Sedetik, aku tidak ingin ditinggalkan, sedetik kemudian aku bersyukur bahwa mereka telah singgah.
Sedetik, aku tidak berharap terlahir sebagai anak sulung, sedetik kemudian aku bersyukur memiliki adik yang lucu dan menjadi kakak yang tidak mengecewakan.
Sedetik, aku ingin sesekali menjadi lemah, sedetik kemudian aku bersyukur tumbuh dengan kuat.
Sedetik, aku berharap memiliki ayah yang sehat dan sukses, sedetik kemudian aku bersyukur masih memiliki ibu yang super.
Hidup seakan hanyalah sugesti, lalu bagaimana jika sugesti itu melelahkan? Boleh kah aku lelah?












