Just found some random questions in a middle of browsing a few days ago. That’s not for me, but quite interesting to think about and literally take my time on it.
HAPPINESS. Just like most people in the world, I had ever made a happiness as my life purpose. So what about now? Well if people ask me right now, I will answer it clearly and confidently, “No happiness is not purpose of my life”
Mungkin banyak diantara kalian yang langsung berfikir betapa angkuhnya saya, nggak ingin memperjuangkan sebuah kebahagiaan bahkan untuk diri saya sendiri. Bukan berarti saya ingin menderita sepanjang hidup. That’s a Big No. Sebodoh-bodohnya orang di dunia, nggak ada orang yang ingin hidupnya menderita dari segi dan aspek manapun. Bahkan orang yang sekarang rela susah payah, sakit-sakitan pasti ujung-ujungnya mengharap sesuatu yang bisa ia dapat di akhir ceritanya.
Every single body has a chance to find their happiness. Not only a chance, but they have to. Setiap orang sangat amat berhak untuk bahagia. Happiness in a whole life. Well, katakanlah presepsi saya mulai mengalami banyak pergeseran beberapa tahun terakhir.
Sesaat setelah membaca a random question yang nggak sengaja saya temukan (re: pertanyaan di atas) tiba-tiba saat itu juga langsung muncul komentar di dalam kepala saya. Kebahagiaan itu terlalu simple untuk dijadikan sebuah tujuan hidup. Actually you can find your happiness right now and in a whole life. Ingat, di sepanjang hidup. Tergantung kita sendiri yang menentukan, mau bertemu kebahagiaan itu kapan.
Sudah saya katakan tadi, presepsi saya mulai mengalami pergeseran beberapa tahun terakhir. Yang semula menurut saya kebahagiaan adalah suatu tujuan yang susah payah harus diperjuangkan, kini begeser menjadi kebahagiaan adalah suatu efek dari adanya rasa syukur. Bagi saya sekarang dua hal ini tidak bisa dilepaskan. Rasa syukur yang telah Tuhan berikan kepada kita dalam berbagai kondisi. Anggaplah saya terlalu munafik, but I’m trying to be grateful in every condition. Well it’s hard to do for the first time, tapi saya berusaha menjadikannya menjadi sebuah kebiasaan. Yeah, I’m still working on it.
Honestly, ada satu hal yang akhir-akhir ini membuat saya sering melamun dan terkadang berfikir kenapa ini terjadi pada saya. Kalian tahu rasanya dicampakkan? Mungkin kata “dicampakkan” terlalu tinggi untuk perasaan yang saya rasakan, tapi bagi saya hampir semacam itu. Just for a little moment, I still let it affect every portion of my lives. Pikiran-pikiran negatif pasti ada, tapi fokus saya saat itu atau bahkan mungkin juga sekarang adalah bagaimana caranya saya dapat merubah pikiran negatif dan penyesalan yang ada menjadi sebuah pikiran-pikiran positif dan rasa syukur. Kalau kata orang, ambil hikmahnya saja. I pick out every tiny thing I can find in my life for which to be grateful. It seems to set me on a path of gratitude.
Belajar dari apa yang saya alami, when I re-thinking it positively I realized that there were a lot of things I could get from what have been happened. Pencitraan? Terlalu mainstream? No, saya merasakannya sendiri. Banyak hal yang nyatanya dapat saya syukuri daripada saya sesali dan saya benci. Dan saya berterimakasih untuk itu.
Literally banyak hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan, bonusnya saya bisa lebih dekat dengan orang-orang di sekitar saya yang ternyata selama ini mungkin saya tidak peduli sebelumnya, I’m more motivated to be a better person in both attitude and actions, and the most important thing I’m getting closer with God. Well, happy ending right?
Jadi ketika orang bertanya pada saya: Apa tujuan hidupmu? Apakah itu sekadar kata di bawah naungan bahagian? Blah...blah...blah... Sekali lagi saya akan menjawab, “Kebahagiaan bukan tujuan hidup saya, terlalu simple. Saya bahagia dan akan selalu bahagia in my whole life, karena rasa syukur yang akan selalu saya hadirkan setiap hembus nafas dan langkah kaki saya”