2024: May I be happy?
Di tahun ini, aku terobsesi untuk happy.
Awalnya aku nggak sadar, sampai beberapa minggu yang lalu ketika sedang dalam perjalanan pulang dari dinas di desa, tiba-tiba muncul pertanyaan "kok aku kayak ngebet banget dan harus banget hepi ya?" yang disusul "ini tuh sebenernya pertanda baik atau buruk ya?" di kepala.
Setelah mengalami pertempuran yang cukup lama dan cukup sulit dengan diri sendiri di tahun 2022-2023 kemarin, aku sempat merasa ragu. Apakah aku pantas untuk merasa bahagia? Kok aku merasa agak kesulitan ya untuk menjadi bahagia? Mentok banget di rasa senang aja? Sepertinya aku juga sudah berusaha maksimal untuk merasa bahagia deh? Misalnya menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang aku suka, bertemu dengan teman-teman lama, menonton konser, menonton film, mencoba membaca buku lagi, tetapi aku masih merasa kurang.
Lalu, di seperempat terakhir tahun 2024 ini aku kembali merenung. Apakah hari itu akan datang? Hari dimana aku ngerasa bahagia? Dan kalau hari itu memang datang, apakah aku berhak merasakan dan merayakannya besar-besaran?
Di tahun ini juga, aku merasa bahwa aku sedikit berubah.
Setelah semua yang kulalui di tahun 2024 ini, baik senang maupun sedihku serta tenang maupun marahku, aku merasa jauh lebih bijak dibandingkan diriku satu tahun yang lalu. Mungkin juga, ini adalah bentuk dari sugesti diri karena sudah memasuki usia 25 tahun, yang kata orang-orang adalah usia dewasa muda sehingga aku sedikit banyak menerapkan di kepalaku bahwa semua keputusan-keputusan yang aku coba ambil, konsekuensi-konsekuensi yang akan aku coba hadapi, serta harapan-harapan yang aku coba panjatkan harus bisa sebijak mungkin baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain. Aku masih belajar dan harus mau selalu belajar untuk memilah emosi. Meski pelan tolong doakan ya, semoga aku bisa menjadi lebih bijak—jauh lebih bijak lagi dibandingkan sebelumnya.
Lalu di tahun depan, aku ingin menjadi kuat.
Sejujurnya tahun depan masih sangat abu-abu. Dan sejujurnya juga, aku takut. Berkutat di bidang ini selama 6 tahun ke belakang dan ditata sedemikian rupa alurnya membuatku takut menjadi terlanjur nyaman, sedangkan banyak sekali yang harus aku persiapkan di tahun 2025. Meski takut, aku ingin menghadapi semua abu-abu tersebut dengan berani dan kuat. Apapun yang akan terjadi di tahun depan, meski sesekali menjadi lemah tidak apa-apa, aku ingin selalu berusaha untuk menjadi kuat.
Selain itu di tahun depan juga, aku ingin bahagia.
Jadi, kalau saat ini aku ditanya apakah aku bahagia? Maka jawabannya adalah: belum. Dulu sekali aku pernah menulis, 'jika aku tidak bahagia, maka aku akan mencarinya, dan jika aku tidak bisa menemukannya, maka aku akan menciptakannya meskipun bentuknya sangat kecil', sehingga kalau saat ini aku ditanya apakah aku bisa menciptakan bahagia itu? Maka jawabannya adalah: tidak. Namun, kalau saat ini aku ditanya apakah aku mau belajar untuk bahagia? Maka jawabannya adalah: mau.
Maka semoga, di tahun 2025 selain menjadi kuat—dan selalu dikuatkan, semoga porsi bahagiaku lebih banyak dibandingkan porsi sedihku serta aku merasa berhak dan pantas untuk menerima maupun merayakan rasa bahagia tersebut, sekecil apapun bentuknya.
P.S. Terima kasih DAY6—my band of the year—karena sudah menulis lagu HAPPY. Aku selalu merasa lagu Happy memang ditulis, di-publish, dan ditujukan untukku di tahun ini. Terima kasih karena sudah mengingatkanku kalau aku nggak sendirian dalam pencarian bernama bahagia ini. Semoga di tahun depan dan tahun berikut-berikutnya, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di lirik lagu kalian dengan jawaban paling baik versiku.
















