Ketika Tumblr punya cerita
Untukmu yang tak lelah kujamah dalam jarak*
Entah sampai kapan ada rindu yang tak mengharapkan temu. Entah sampai kapan ada kata tunggu di depan pintu rindu. Dan entah sampai kapan cerita ini beringsut pada muara waktu.
Segala tanya memasung akal juga logika. Bagaimana bisa? Kerinduan tanpa hadirnya indra di dalamnya. Menyeruak begitu saja dalam detik yang memilin kata, derap menuju satu masa. Entah bagaimana awalnya, semua perkataan kita telah sampai pada satu cerita. Yang pasti aku telah menemukanmu dalam jutaan rasa yg terselip dalam satu media; Tumblr. Yang dari sana aku belajar memahami tanpa mengenal nama juga rupa. Ya, cukup kurasakan saja.
Kamu siapa ? sampai saat ini aku masih bertanya. Bagaimana bisa perjumpaan menyeret pada masa lalu yang hampir membatu. Sementara selayaknya, pertemuan akan menghasilkan buah pikir masa depan yang selalu saja teriring harapan juga perasaan; bahagia tentunya.
Kamu adalah satu, yang mebuatku kembali menjadi aku. Perkenalan menuntut mengenali satu sama lain. Namun denganmu tak begitu. Aku tau, kau tak memberi pintu untuk mengenalmu, seperti dilebihkan waktu.** Namun darimu aku kembali mengenal aku. Bagaimana aku telah jauh keluar dari jalurku.
Aku adalah protagonis yang menyusun cerita dalam lembaran tipis. Sementara kamu tiba-tiba menjelma antagonis, dan menyeretku kembali pada lembar awal ceritaku yang mulai tiris. Kenapa ? Sedikit saja berharap, adalah karena kau tak hadir di awal cerita, dan kau ingin aku menyusun kembali semuanya bersama.
(waitt, ini maksudnya apa? Cerita ini terlalu melebar kemana-mana :D )
Entah bagaimana, mengenalmu membuatku kembali bertanya siapa aku ini, lalu untuk apa aku di sini, sampai pada titik ini. Bercerita dengan mu membuatku ingin kembali pada halaman pertama. Dimana aku masih disebut dengan jumawa, aku masih terbalut orang-orang yang kucinta. Dan terkadang disana disebutkan akhir bahagia dalam bingkisan cerita.
Protagonis-Antagonis, dalam cerita, mereka tak pernah berbagi rasa. Selalu saja menyulut bara. Tapi kali ini ijinkan aku melihatnya berbeda. Sepanas apa bara yang terasa tapi mereka selalu bersama. Sepelik apapun perseteruan mereka, sejujurnya antagonis adalah alasan protagonis bahagia diakhir cerita.
Karena mengenalmu bukan sesuatu yang aku rencanakan, maka melupakanmu bukan menjadi hal yang aku inginkan. Entah dalam berapa lapis kemustahilan, bisikan ini lirih menembus tebalnya kabut malam dalam kesunyian. Entah dalam berapa lapis ketidakmungkinan, perjumpaan ini akan berakhir pada muara waktu; menyatu atau menjadi satu-satu yang tak kan ada rindu apalagi temu.
Bekasi, 01 Februari 2018. Larut pagi, ketika hawa dingin masih tersenyum malu pada embun yang berangsur menyatu.
*diambil dari penggalan puisi Moammar Emka âDear Youâ.
**terinspirasi oleh puisi Fira Basuki. âMencintaimu seperti dilebihkan waktu, setiap pagi bertambah rasakuâ.