Beberapa waktu lalu—setelah dua bulan menghilang tanpa kabar dari Instagram—aku akhirnya mengunggah story lagi. Belakangan ini rasanya aku memang sedang nggak pengin terlalu banyak bersentuhan dengan dunia luar.
Tapi hari itu aku baru saja memotong rambut, jadi aku berpikir, "oke deh, upload sesekali gpp deh."
Foto mirror. Sok candid. Estetik? Nggak sama sekali. Backsound-nya lagu Multo tapi versi Indonesia, padahal aslinya cuma suara berisik hair dryer dari salon ini.
Lagi asik replay story diri sendiri, entah yang ke-berapa-puluh kalinya, tiba-tiba muncul notifikasi:
Biasa banget. Tapi nggak biasa juga.
Itu dia.
Akun private.
0 post.
20 followers.
Selama 2 bulan terakhir sebelum aku menghilang, aku ingat dia selalu nonton semua story-ku. TANPA TERKECUALI. Tapi nggak pernah like. Nggak pernah komentar apa-apa. Nggak pernah follow juga. Cuma nonton, seperti silent reader.
Dan yang bikin aku gemas setengah mati adalah: akunku public. Dia bisa lihat semuanya. Setiap story. Setiap lagu galau yang sebenarnya cuma alibi. Sedangkan aku? Cuma punya pengetahuan tentang foto profilnya—siluet seseorang menghadap matahari terbenam. Misterius sekali.
Kenapa hari itu?
Kenapa di story yang biasa-biasa aja?
Kenapa nggak dari dulu?
Karena aku lagi gabut, otakku langsung overthinking. Dan… lucunya, aku menunggu.
Mungkin nanti ada notifikasi follow dari dia?
Mungkin nanti dia DM?
Mungkin ini awal dari sesuatu?
Satu jam.
Dua jam.
Seharian.
Nggak ada apa-apa.
Oke, mungkin kepencet. Tapi terus aku mikir…
Tunggu! Kalau dia nggak follow aku… Gimana dia bisa view story-ku setiap hari?
Berarti dia search namaku. Setiap hari. Se-effort itu, cuma buat nonton story?
Sebagai manusia yang jarang dicari orang, ini rasanya… membingungkan tapi juga sedikit flattering. “Wait… apa ini berarti aku punya stalker?” Dan parahnya, alih-alih takut dan parno, aku malah sedikit bangga. Kayak, “Duh, apa aku cukup menarik sampai ada orang niat search aku tiap hari?”
Kesombonganku langsung naik 100%.
Beberapa hari berikutnya, story-ku berubah jadi eksperimen sosial. Upload random. Upload selfie. Upload quote sok bijak. Cuma buat lihat satu hal: apakah dia masih nonton?
Dan, ya, dia tetap nonton.
Tapi…, setiap kali namanya muncul di viewers list, jantungku ngaco sedikit. Padahal logikanya, ini tuh cuma orang yang nonton story. Itu doang. Sampai akhirnya aku capek sendiri.
Capek mikir. Capek nebak-nebak. Akhirnya, impulsif, aku block dia. Bukan karena takut atau risih. Tapi karena aku sadar aku mulai menginvestasikan perasaan dan mood ke misteri yang mungkin… ya cuma misteri kosong.
Kalau boleh jujur, kadang aku jadi terlena dengan rasa “diperhatiin”. Dan itu jadi berbahaya, karena kita sekarang hidup di zaman di mana satu like bisa bikin berhari-berhari overthinking. Satu view bisa bikin kita ngerasa spesial. Dan satu akun private bisa bikin aku nulis satu cerita ini.
Padahal…
mungkin dia cuma lagi iseng.
Dan aku…?
menganggapnya serius.