Senang bisa hadir kembali, senang bisa bersuara bebas lagi, walau dalam sunyi.
trying on a metaphor

tannertan36

#extradirty
Stranger Things

Andulka
The Bowery Presents
KIROKAZE
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
hello vonnie

titsay
Sweet Seals For You, Always
EXPECTATIONS

❣ Chile in a Photography ❣

No title available
Noah Kahan
🩵 avery cochrane 🩵

Kiana Khansmith
Mike Driver
Misplaced Lens Cap
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Finland

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Lebanon

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States

seen from South Africa
@ghoidarahmah
Senang bisa hadir kembali, senang bisa bersuara bebas lagi, walau dalam sunyi.
Lelah Menjadi Yang Paling Tahu
Hidup bertahun-tahun dalam pusaran informasi nomor satu membuatmu lelah menjadi yang paling tahu. Kamu menjadi muak melihat sesuatu yang mencitrakan dirinya madu padahal dia lah sebenar-benarnya benalu.
Kamu yang paling tahu adalah yang pertama kali yang kehilangan harapan. Frustrasi dengan keadaan kelam berkepanjangan. Tak ada pilihan selain menelan dan bertahan. Semua melaluinya sendirian, semua perjuangan ini ujungnya tak kelihatan.
Kamu yang paling tahu adalah yang pertama kali akan menyerah. Ini rusak tapi dipaksa tegak. Ini brutal tapi semuanya tampak kebal. Tak ada yang bisa menyelamatkan yang terlampau fatal.
Kamu yang paling tahu pada akhirnya memilih tuli dari apa pun kecuali keheningan. Kamu rindu damai dan tenang berjalan bersisian. Kamu ingin menjauh dari kegelisahan, dari keramaian yang tak aman. Meski itu artinya kamu mendekat pada akhir kehidupan. Meski itu artinya kamu harus meninggalkan angan dan impian yang tak pernah terwujudkan. Kamu memilih melepaskan dan mengikhlaskan.
Yang Tak Terekam
Seperti hidup dalam sekam. Tidak ada rasanya yang benar-benar bisa membuat ocehan di kepala ini diam. Beruntungnya setiap lebam dapat diredam. Setiap kita membawa harap yang pantang padam. Walau badai kehidupan menghantam kejam. Semua berputar dalam roda doa yang dilangitkan setiap malam. Kembali menjalani hari dengan muram yang bersemayam. Kelam yang tak terekam itu menyelam dalam-dalam.
Dear little Sayyid and mini Ghoi, stay healthy inside my belly ya. We’re so happy and excited while expecting you. Thank you for make our life completed. Thank you for grateful feeling that you given to us as a soon to be mom and dad. We love you so much ❤️
Cinta tak sepenuhnya baik. Dia sering mengajarkan luka yang disengaja. Entah mengapa kerap berulang. Bukankah sekali sudah cukup untuk membuat jera.
Cinta membuatmu heran. Dia berubah tanpa sempat kau sadari awalnya. Dia pergi tanpa celah untuk kau pertahankan. Biar dia menyesalinya, biar. Dia pantas ditinggalkan. Dia pantas menyesalinya.
Cinta membuatmu gila. Dia membuatmu ingin memaki sekencang-kencangnya. Dia membuatmu ingin mati seketika itu juga, Biar dia meratapinya. Dia pantas merasa nestapa. Dia pantas merima derita.
Cinta tak selayaknya kau puja demikian hebatnya. Dia hanya pembual belaka. Dia tak pernah menyadari setiap ucapannya. Biar dia tau rasa. Dia pantas sirna. Dia pantas kau tinggalkan.
Stay Insane
Dear tired soul, you know it shall too pass.
When everything become so mean, you know that’s not the ending.
Leave everything behind. Forgive, but not totally healing.
You are loved. Much.
Do not care about people who take everything granted from you.
I am sorry for make you sad, terrible, and feel awful sometimes.
I really don’t mean it.
You are not wrong. You are beautiful soul with hard life path.
It’s okay to cry a lot. It’s okay to feel unwanted.
But never say sorry for being you are now.
Keep your head up. You are worthy.
If one day you feeling good, be nice to everyone. Your wound taught you many things.
If no one hug you now, that’s not a big deal. You can go through everything.
Stay insane, stay believe in, your better day waiting.
Rasa bersyukur terbesar hari ini, memiliki seseorang yang mencintai diri ini dengan sepenuh dan seluas hati.
When You Next To Me (4)
#DramaLembur Kita emang udah ngga LDR lagi sih dear, tapi tahu ngga sih kalau rasanya tuh lebih tersiksa ngga bisa ketemu padahal udah di kota yang sama, cuma beda jarak 8-10 km aja, itu mah kecil harusnya kan. Satu kata yang aku lagi benci banget akhir-akhir ini. LEMBUR. Huft. 15.54 Kamu : Ay, nanti abis pulang kantor ketemu yuk. | Aku : Asik, yuk aku kebetulan liputannya udah selesai, di Sarinah aja kali ya. | Kamu : Boleh, atur aja sama kamu di mana. 18.10 Aku : Dear, aku udah mau otw nih, kamu udah selesai kerjanya kan ? | Kamu : Ay maaf ya, aku lembur ternyata. | Aku : *emot hati retak* Gitu aja terus. Aku tau sih agak childish mungkin terdengarnya, mengeluh untuk satu hal terkait pekerjaan kamu, yang mana ya ini kan demi kebaikan kita juga ya. Kalau kamu rajin kerjanya, bagus kerjanya, ujung-ujungnya dapat reward, naik jabatan, dan bla bla bla lainnya, emang aku juga yang kecipratan hasilnya. Tapi kan ya, sebagai wanita yang ingin bermanja-manja, sebagai wanita yang punya hasrat rindu yang menggebu, sebagai wanita yang butuh teman cerita bertatap muka sama orang tersayang, ini tuh tetap aja bikin poteque hati. Syedih. Seperti yang sudah aku tanamkan pada diri ini berkali-kali, diulang-ulang setiap kejadian hampir ketemunya gagal terus, “such a consequences since I date super busy man in this world.” I know dalam istilah akuntansi atau perpajakan yang kamu gelutin sekarang nih, ada banget yang namanya peak season, kayak masa-masa sekarang ini. Terkadang rasa gelisah ngga bisa ketemu ini tuh receh, tapi tetep aja perlu dituntaskan. Kan masih ada hari sabtu, masih ada hari minggu. Ya, kalau nggak ada kondangan, kalau aku ngga harus masuk di weekend, kalau ngga ada acara keluarga, kalau ngga ada kumpul bareng temen, kalau kamu ngga dipanggil boss ke kantor tiba-tiba!! :( Huft, realita. Ya udah kan bisa telfon kan bisa video call, oh I can’t, we can’t. wkwk We did that but still meet up is irreplaceable. Satu yang aku paham sih begini dear. Kita itu udah terbiasa bareng-bareng, ketemu setiap hari dari enam tahun lalu. Sejak pertama kali aku kenal kamu, ngga ada tuh satu hari pun kita ngga ketemu. Di kampus, sarapan, makan siang, makan malem. Ngerjain tugas, organisasi, main, dan lain-lain. Paling-paling ya kepisah pas libur semester atau libur lebaran, kan aku pulang ke Semarang. Emang udah kultur yang kebangun tuh gitu. Kita ngga bisa kalo ngga ketemu. Titik. Mungkin banyak orang tanya, kalian ngga bosen? Kita juga sempat mempertanyakan ini, tapi jawabannya tetap ngga tuh. Ya ini gaya kita, cara kita buat saling menjaga. Ngga ada satu momen yang terlewat. Entah udah ratusan atau mungkin ribuan ‘pertama’ , macam tempat pertama, makanan pertama, film pertama, lagu pertama, sampai tulisan pertama yang aku lewatin, datangin, kunjungin, icipin, tonton, dengerin, dan lain-lainnya sama kamu. Dari dulu udah kayak gitu, jadi ya ketika ada drama-drama kehidupan seperti lembur yang harus memisahkan ini jadi semacam big deal. Kadang suka kepikiran deh, apa perlu ya aku samperin kamu ke kantor, aku temuin bos kamu, terus aku bilang, “Pak izin jemput pacar saya ya, saya rindu berat harus pacaran sekarang juga.” Wagelaseeh kalo beneran kayak gini, ga mungkin pasti. Hahahaha Ya gimana dong kalau udah memuncak tak tertahankan, any other solution selain penjemputan paksa? Wkwk Ngga gampang tau ay nahan rindu, nahan ngga ketemu. Apalagi kalau suasana hati juga lagi sendu, pengen ada yang ngademin, yang ngertiin, even some hug or skinship is matter. Ada hal-hal dan ada orang-orang yang ngga bisa tergantikan posisinya. Ngga bisa ditawar juga. Charging is everything. Kalau gadget butuh stop kontak, aku butuh kamu. *wait for the next scenes*
Pertanyaan Sulit
Sore ini aku sedang terpaku di depan layar laptop. Sibuk berjibaku dengan kata demi kata, tuts keyboard bergantian aku tekan. Biasa, pekerjaan. Ponsel pintar ini berdering. Ummi. Cepat-cepat ku angkat. Di ujung sana terdengar suara adik kecil yang paling ku sayangi, Great. Dia menangis tersedu. Great kenapa? Aku bertanya khawatir. Dia menjawab pelan dengan bahasa polosnya. Great kangen Abi kak. Aku terdiam. Dia kembali melanjutkan kata-katanya, melontarkan pertanyaan yang sulit. Tak terpikirkan jawabnya oleh ku saat itu. Great meninggal aja ya nyusul abi, boleh ya kak?. Air mata ini menetes. Remuk rasanya. Bagaimana aku menjawab pertanyaan dari hati terdalam seorang anak lima tahun yang merindukan ayahnya. Aku saja yang sudah sebesar ini masih sulit menerimanya, terkadang ingat dan masih merasa tak rela. Aku mencoba mengatur kata dan nada bicara. Walau air mata ini deras, suaraku tak boleh parau. Aku harus tenang. Sulit? Sangat. Jangan bilang gitu ya Great. Kalau meninggal nanti Great nggak bisa sekolah lagi, nggak bisa naik sepeda lagi, nggak bisa main sama kakak lagi. Seketika itu jawaban yang terlontar dari mulutku. Dia mulai berhenti menangis dan berpikir. Aku coba memakai bahasa yang bisa kamu pahami Great. Syukurlah kamu anak yang pintar, kamu mengerti. Iya kak, Great mau tetap di sini aja sama Ummi dan kakak. Aku tersenyum di sini, aku merasakan apa yang kamu rasakan juga. Aku mencoba menguatkan. Kita terus kirim doa buat Abi ya, kita semua harus terus saling jaga dan saling sayang. Dia mulai tertawa lagi di sana. Iya kak, katanya. Lalu dia mulai berganti cerita tentang perayaan hari kartini. Pertanyaan sulit berhasil ku lewati. Terkadang, kamu tak menyangka akan ada waktunya tiba, kamu harus menjawab pertanyaan yang tak diduga. Sulit karena melibatkan emosi yang paling dalam. Sulit karena pertanyaan tentang kehilangan. Sederhana sebenarnya, kamu tidak pernah merindukan apa yang tidak kamu miliki. Ketika kamu pernah memiliki, pernah dicintai, pernah disayang, pernah diberikan segalanya, kamu akan merindukannya ketika dia tak lagi ada. Rindu hingga hampir gila. Tapi kamu pasti bisa. Rindu itu bisa menjadi penyemangat, rindu itu tak selalu harus berbalas lewat temu. Rindu itu akan sampai pada cara yang entah bagaimana, ketika kau kembali percaya pada takdirNya.
Daddy take me with you, I miss you and it's hurt.
Why loving is hurting too much? Why love come with pain? Why love live with lies? Why would I trust this feeling? Why I feel so fool?
Izinkan Aku Membuatmu Bangga dari Surga Teruntuk Abi Sayang, Tak berada di sampingmu ketika detik-detik terakhirmu di dunia masih menyisakan sesak yang tak terhingga. Untaian maaf ini berkali-kali aku ucapkan untukmu, ayahandaku tercinta. Maaf, putrimu sedang melepas sauh, jauh. Putri Abi Sayang sedang berlari, berpeluh 486 kilometer berjarak dari pelukmu, demi memenuhi semua citamu, segenap harapanmu. Abi Sayang, apa yang melekat pada diriku ini tak lain adalah bentuk kasih sayangmu. Sedari dulu, aku selalu berkata lantang setiap kau bertanya mau jadi apa aku nanti. Tentang cita-cita menjadi seorang jurnalis sejati. Jurnalis yang pemberani, jurnalis yang menuliskan kebaikan, jurnalis yang menciptakan perubahan. Aku sudah tiba di sini, Bi. Aku sudah menorehkan berlembar-lembar tulisan, aku sudah mencatatkan nama pemberianmu di koran, majalah, hingga laman online. Seluruh penjuru negeri membaca tulisanku. Aku mempersembahkan setiap mahakarya tulisanku untukmu. Aku menulis untukmu. Andai kau tahu itu. Di setiap tulisan dari jemari ini, selalu terngiang di benakku, aku menulis untuk membanggakanmu. Setiap aku mengenangmu dan merindukanmu, aku kembali menulis untukmu. Aku percaya kau di sana selalu tersenyum bahagia. Bi, aku menulis untuk membayar maafku, yang tak punya cukup waktu bersamamu. Kau yang selalu percaya aku bisa, kau yang selalu percaya aku tak akan pernah mengecewakanmu. Aku mencintaimu. Pintaku yang utama kepada Tuhan, semoga Abi selalu bahagia di surga. Kau tak lagi merasakan sakit, kau tak lagi merasakan sedih. Tuhan ternyata begitu mencintaimu, Bi. Kau mengajariku tak ada kepergian yang terlalu cepat, semua telah diatur dengan tepat. Bi, maaf aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik. Putrimu ini masih berlumur salah dan kekurangan. Maaf untuk kebahagiaan yang tak seberapa dan hanya sebentar. Maaf untuk waktu yang tak kuhabiskan bersamamu, maaf untuk aku yang terlampau sibuk dan asyik dengan pekerjaanku. Maaf untuk pilihanku tinggal jauh darimu. Maaf untuk setiap tetes air matamu yang pernah jatuh karena menyayangiku, dan maaf untuk setiap kekhawatiranmu karena merindukanku. Satu kebangaanku, lahir menjadi putrimu. Tuhan sungguh baik menitipkanku padamu. Aku tak pernah merasa disayang sebegitu luar biasa, sebagaimana caramu menyayangiku, memelukku, merawatku, dan membesarkanku. Kasih sayangmu begitu kokoh, tak tertandingi. Bi, sebagai putri pertamamu, aku sepenuhnya sadar saat ini aku yang menggantikan posisimu. Aku yang akan menggantikanmu menjaga Ummi, Giga, Golden, dan Great. Aku berjanji padamu, aku akan berusaha semampuku, memberikan yang terbaik, seperti yang selalu kau lakukan, kau perlihatkan dan kau ajarkan padaku. Terima kasih ya Bi, begitu banyak bekal yang sudah Abi berikan selama 22 tahun ini aku menjadi Putri Abi Sayang. Abi yang selalu mengajarkanku agar selalu kuat, ikhlas, semangat, bekerja keras, menyayangi keluarga, dan selalu mengingat Tuhan. Melepasmu untuk selamanya adalah hal terberat dalam hidupku. Maaf jika aku masih menangis, maaf jika aku masih begitu mudah meneteskan air mata. Bi, aku tak tahu perjalanan hidup ke depan akan seperti apa. Tapi, aku percaya Abi akan selalu melihat dan menjaga dari surga. Aku takut Bi, tapi aku harus bisa dan terus melangkah, dengan atau tanpamu. Aku akan membuktikan padamu dan tentunya pada dunia, bahwa aku adalah Putri Abi Sayang yang pemberani. Perlahan aku melangkah sendiri. Aku akan terus menulis, seperti pesanmu untukku. Menulis untuk menyembuhkan, menulis atas nama mereka yang membutuhkan bantuan, menulis untuk menyuarakan kebenaran. Izinkan aku membanggakanmu dari surga. Izinkan aku membuatmu tersenyum bahagia di sana. Aku akan selalu mengingat semua tentangmu, semua nasihatmu, semua bekalmu untukku, semua kasih sayangmu. Aku akan selalu menjadi Putri Abi Sayang, sekarang dan selamanya. Walaupun Abi tak bisa lagi aku sentuh dengan jari, aku percaya Abi selalu menyertai, memelukku dengan hati. Selama beristirahat dengan tenang, Bi. Sampai ketemu lagi nanti. Aku sayang Abi. Salam rindu, Ghoida Rahmah Al’adawiyah (Putri Abi Sayang)
Daddy I Always Miss You
Bi, maafin Ghoi yang masih aja nangis lagi ya bi.. Ghoi ngga bisa ngga ngeluarin air mata kalau lagi kangen Abi. Dua hal yang Ghoi selalu kangen, dipeluk dan disayang Abi. Pelukan Abi buat Ghoi yang selalu hangat, pelukan yang selalu erat. Pelukan kebanggaan, pelukan penuh kasih sayang, pelukan penuh harapan. Ghoi selu kangen pelukan Abi. Sekarang ngga ada lagi yang peluk Ghoi, bi. Ummi jauh, adek-adek juga. Ghoi sendiri. Padahal Ghoi selalu butuh dipeluk setiap hari. Pelukan menguatkan, pelukan yang menegaskan Ghoi ngga sendirian. Ghoi selalu berharap bisa ngerasain dipeluk Abi lagi, walaupun cuma dalam mimpi. Terakhir Ghoi peluk Abi, tapi tanpa balasan apa-apa. Abi diem aja karena udah tidur buat selamanya. Ghoi kangen bi. Nanti siapa yang peluk Ghoi kalau Ghoi sedih. Nanti siapa yang peluk Ghoi kalau Ghoi sakit. Nanti siapa yang peluk Ghoi di hari Ghoi menikah. Ghoi nggak kebayang hidup tanpa peluknya Abi. Tapi Ghoi harus bisa ya bi..
Ghoi kangen Abi yang selalu penyayang dan lemah lembut. Abi dari Ghoi kecil ngga pernah marah-marah, bahkan teriak atau ngebentak Ghoi dan adik-adik. Abi selalu ngajarin kelembutan, kebaikan, ngga boleh main kasar. Abi yang selalu buat Ghoi ngerasa nyaman. Abi yang selalu sabar ngadepin Ghoi. Abi yang tetap bilang sayang senakal apapun Ghoi. Abi yang selalu mengucap doa buat Ghoi. Abi yang kata-katanya selalu indah dan memotivasi Ghoi. Bi, Ghoi kangen Abi. Sekarang Ghoi harus menghadapi dunia yang keras dan kasar. Ghoi kaget bi, Ghoi takut. Ghoi ngga lagi punya tempat berpulang yang menenangkan. Ghoi ngga lagi punya sandaran yang membahagiakan. Ghoi ngga lagi punya Abi di sini. Ghoi akan selalu rindu Abi. Ngga akan pernah berhenti, ngga akan pernah habis rindu ini..
Bi, baik-baik di sana ya. Abi yang selalu peluk Ghoi saat suka ataupun duka. Abi yang selalu mengucap lembut di mana pun Abi berada. Ghoi sayang abi. Ghoi selalu jadi putri Abi sayang. Maafin Ghoi ya bi, Ghoi cengeng. Ghoi janji akan terus kuat dengan atau tanpa Abi di sini. Terus melihat Ghoi dari atas sana ya Bi. Salam sayang, Ghoi.
Percaya
Aku sungguh ingin mempercayai semua kata-katamu. Aku sungguh ingin mengangguk setuju tanpa perlu ada rasa ragu. Aku sungguh ingin tak lagi mempertanyakan semua tindakanmu. Aku sungguh ingin bisa memelukmu semauku. Aku sungguh ingin bisa menceritakan semua hal tentangku padamu. Aku sungguh ingin bisa seperti itu. Aku ingin bisa mencintai dan dicintai dengan balutan rasa percaya. Aku ingin bisa mencintai dan dicintai tanpa perlu merasa takut akan kehilangan. Aku ingin bisa mencintai dan dicintai tanpa harus ada bayang kekhawatiran kegagalan. Aku ingin bisa mencintaimu dan dicintaimu seluruhnya, sepenuhnya, dan selamanya. Andai kamu tahu, betapa rasa takut dan khawatir ini begitu menyiksa. Hingga selalu saja yang terpikir merelakanmu lebih awal akan lebih baik. Bukannya aku tak mau berjuang, aku takut. Butuh lebih dari sekedar keyakinan untuk terus melangkah maju. Masa lalu begitu dalam membelenggu. Andai kamu tahu betapa inginnya aku mempunyai kisah cinta biasa. Andai kamu tahu aku ingin memeluk punggungmu lebih erat dari siapapun. Andai kamu tahu aku ingin selalu mendengar suaramu, tak peduli batas jarak dan waktu. Aku menginginkanmu untuk ada di sini bersamaku. Entah aku harus seperti apa menjalaninya. Terus di sampingmu, setidaknya itu yang aku bisa. Dengan atau tanpa rasa percaya. Hati ini tak ada daya untuk berlaku apa-apa. Terima kasih sudah memelukku dengan erat. Terima kasih untuk tidak pernah menyerah dengan mudah. Terima kasih telah menjanjikan hal yang tak mudah. Hingga akhirnya ketika kamu lelah, aku tak bisa mencegah, semua akan berubah. Yang mencintai dan dicintai akan sama-sama tersakiti.
Daddy tell me, who will love me much like you always do ? Daddy I miss you much, so many things I want to ask you, so many things I want to tell you...
Dear abi sayang, tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya agar air mata ini tidak menetes ketika rindu ini begitu menyesakkan. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya agar tetap bisa tersenyum ketika melihat setiap anak perempuan lain masih bisa bermanja dan memeluk ayahnya. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya tetap berdiri tegak ketika kaki ini lemas melihat ketidakadilan dan kemunafikan dunia. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya tetap bisa melangkah walau hati ini perih hingga tak tahu arah. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya bisa percaya lagi ketika pengkhianatan terulang kembali. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana caranya bisa memberikan maaf ketika rasa dendam begitu menguasai. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana melewati badai kehidupan tanpa harus mengotori hati ini. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana bisa tetap berbuat baik walau dunia seisinya begitu kejam menghakimi. Tolong beri tahu Ghoi bagaimana agar bisa tetap berharap ketika rasa kecewa terus datang menghantui. Tolong beri tahu Ghoi, Abi selalu ada di sini, di hati Ghoi, mendampingi, mengawasi, melindungi, mencintai, dan menyayangi. Walau Abi tak lagi bisa Ghoi sentuh dengan jari, Ghoi percaya Abi selalu menyertai, memeluk Ghoi dengan hati.
Kangen. Dear lion pulang nanti saya minta scene ini yah! Sekian dan terima kasih.. "When we're apart, I just miss every single small things, each silly gestures, and sure our precious moments..." #WhenWeAreApart