Kusadari aku bukanlah yang paling terang, tapi untukmu diriku takkan pernah padam.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
occasionally subtle
taylor price
Xuebing Du
ojovivo
Sweet Seals For You, Always
cherry valley forever
★
almost home
Misplaced Lens Cap
Sade Olutola
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

No title available

No title available

tannertan36
untitled

titsay
Claire Keane
Game of Thrones Daily
The Bowery Presents
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Tunisia

seen from Malaysia
seen from Bulgaria

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Vietnam
seen from Ecuador

seen from United States
seen from Philippines
seen from Bangladesh

seen from Spain
seen from Singapore

seen from Malaysia
@goda-goda
Kusadari aku bukanlah yang paling terang, tapi untukmu diriku takkan pernah padam.
Apakah rindu tercipta agar kita lebih sering mengirim do'a?
Melupakan adalah tipuan, pilihan kata yang tak pernah benar-benar kita lakukan.
kubaca potongan demi potongan puisi Rumi
lagi lagi dan lagi
sukar kupahami
lalu hembusan entah meniup hati
kubaringkan diri
berkaca mataku penuh emosi
sadar diri
hingga lelap tak sadar lagi
-
aku bertemu mimpi
-
bocah arab berlisan fasih kutemui
duduk di dekatku mengamati
lalu meracau seperti menanyai
kutengok tatapnya sungguh untukku ia berbunyi
bahasa arab lancarnya yang tak bisa kuulangi
tak bisa sepenuhnya kumengerti
tapi hatiku seperti memahami
ia mengejekku yang angkuh ini
-
sok sekali dengan miskin yang kumiliki
-
lagi lagi dan lagi
aku sadar diri
bangun dengan goncangan di hati
ah, cinta? bukan lagi
malah penguasanya yang ada kini
-
suara kawanku mengajak menghadap Rabbi
tepat sekali
iya, tunggu aku selesai bersuci
-
takbir aku berdiri
dalam aku selami
mesra aku nikmati
ini
sekali
jangan sekali
aku ingin lagi
tetapkanlah ini
lagi lagi dan lagi
di hatiku yaa Rabbi.
malam Kamis, penghujung Minggu pertama bulan Maret, 20.20 waktu Yaman.
Tiba-Tiba Rindu
Hai! Boleh aku menuliskanmu lagi?
Tak kau jawabpun aku akan menulis di sini. Ya, rumahku, aku bebas menulis semauku. Hehe, maafkan aku.
Aku tiba-tiba rindu. Rindu pada perasaan yang mengundangku untuk menulis di laman biru tua ini. Rindu pada suasana saat aku memilih-milih diksi. Rindu pada baris-baris sajak atau sekedar igauan yang menemaniku di rumah ini.
Rindu itu datang sendiri, tanpa permisi. Lalu aku dibuatnya senyum-senyum sendiri. Ah, aku ini, kenapa harus begini? Tapi biarlah, rindu ini berhasil membuatku menulis lagi. Iya, tanpamu aku masih bisa menulis seperti ini.
Aku tak peduli kau masih bisa menemukan tulisanku ini atau tidak. Masih mau membaca ini atau tidak. Sungguh aku tak mau tahu. Karena... Ah sudahlah, sudah, aku rindu.
Rindu aku yang menulis seperti dulu. Bukan kau, bukan kamu.
Hahaha, bisa-bisanya aku...
Bacalah, Re! (2)
Re, nanti, saat kita telah mengikat janji suci, aku mau kamu mengerti, bahwa aku adalah orang yang menyimpan (dan menulis) banyak hal untuk diingini, aneh-aneh lagi. Lihat saja tulisan sebelum ini, mungkin keinginanku terbaca aneh sekali, kan?
Dan lagi-lagi tulisanku ini akan berisi keinginanku lagi. (Haha, iya, paragraf pertama isinya ingin kamu mengerti, paragraf setelahnya aku ingin apa lagi hayo? Wkwk.) Sabar, lanjutkan saja bacanya, Re!
Sebelumnya aku mau nanya, (tuh kan lagi, nanya adalah keinginan kedua, wkwk). Sama nggak sih keinginan sama janji? Trus menurutmu tulisan-tulisanku untukmu masuk kategori mana? Kalo aku yang jawab sendiri sih ya menurutku beda, keinginan nggak musti dilakukan, kalo janji, harus. Dan apabila menurutmu tulisanku ini masuk kategori keinginan, alhamdulillah, artinya aku nggak punya hutang. Kalau janji, gak papa juga sih, asal kamu mau ngingetin aku nanti. Mau, kan?
Re, setiap manusia diciptakan berbeda, bukan hanya fisik luarnya, tapi watak, perasaan, cara berfikir, dan hal-hal tak tampak lain dalam diri manusia begitu banyak macamnya, setiap orang memiliki komposisi dan kadar yang tak sama. Menikah adalah bertemu dan bergabungnya dua manusia dengan segala komponen yang dimilikinya, perbedaan dan kesamaan kita digabungkan. Menurutku setelah menikah takkan ada istilah menjadi diriku sendiri, karena ketika memutuskan untuk menggabungkan hidupku denganmu, aku akan menjadi diri kita berdua. Aku tak boleh lagi berbuat seenakku sendiri, karena perbuatanku akan berdampak pada dirimu juga, begitupun sebaliknya.
Tapi itu semua bukan berarti setelah menikah kita akan menjadi orang yang lain dari sebelumnya. Tidak, karakter diri sendirimu dan diri sendiriku tak boleh dihilangkan. Kamu tetap akan menjadi dirimu dengan segala yang kau suka, akupun begitu juga. Tugas kita selanjutnya adalah saling menerima andaikan ada dari kita yang berbeda, aku tak ingin ada paksaan menjadi sepertiku atau sebaliknya.
Dan dalam menjadi diriku dan dirimu kamu musti tahu, tak selamanya yang kita suka benar, tak selamanya karakter kita benar, di situlah letak kita nanti saling memperbaiki. Sekarang aku sendiri bebas menjadi diriku sendiri semauku, ikut aturan yang kutahu, yang kusuka. Tapi nanti, kau boleh (bahkan harus) mengajariku bahwa yang kutahu sekarang bisa jadi salah. Intinya, hidup bersama nanti adalah saling mengerti, saling memperbaiki, saling belajar. Belajar senantiasa memperbaiki diri agar Allah meridhoi. Belajar memaksimalkan hidup yang hanya sekali, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi seluruh makhluk di muka bumi. Sebelum nanti belajarnya bareng aku, kamu sudah belajar juga kan sekarang, Re? Iya, aku harus gitu juga. Selamat berjuang My Dear Future!!!
Gohoom Flat, Tareem, 21 Februari 2018, 20.10
Kita tak pernah tahu bagaimana kematian kita nanti, tapi setidaknya bagaimana perasaan orang yang kita tinggalkan nanti bisa kita usahakan sejak dini.
Tergantung kita bagaimana bersikap sekarang ini.
Terlebih kita tak pernah tahu jadwal kematian yang akan datang nanti.
Maka, apakah yang sudah, sedang dan akan kita lakukan cukup untuk bekal hidup setelah kematian?
Hm, entahlah, semoga, segera, usahakan!
Bacalah, Re! (1)
Re, aku terbayang, bagaimana nanti kita akan bertemu? Di mana? Kapan? Begitu banyak kemungkinan yang telah terfikirkan, namun takkan menambah presentase pengetahuanku atas kenyataan yang akan terjadi di masa depan. Aku suka yang demikian, cara Tuhan menata alur kehidupan yang penuh kejutan.
Re, nanti, entah kapan, saat sentuhanku padamu tertulis sebagai pahala, saat senyummu padaku menabung tiket surga, saat para syetan justru benci melihat kemesraan kita, meski jauh memaksa kita tak mampu bersua, rindu saat itupun akan menumbuhkan pahala.
Aku telah membayangkan, Re. Saat itu, memutuskan untuk menjadi sepasang zaujiyyah, kita tentu akan saling belajar satu sama lain. Kita akan sama-sama menjadi guru dan murid terdekat setiap harinya. Selalu belajar bersama dari kehidupan yang tak henti-hentinya memberi pelajaran. Aku belajar darimu tentang keahlianmu yang bukan keahlianku, begitupun sebaliknya. Kita akan bersama-sama mempelajari banyak hal yang belum kita kuasai sebelumnya.
Dan jauh sebelum semua itu terjadi. Aku telah memilih pelajaran apa yang akan aku berikan padamu pertama kali nanti. Kau mau mengerti? Baik, catatan ini akan mengingatkan kita nanti kalau-kalau aku lupa.
Re, sebelum belajar banyak hal, aku ingin kita belajar satu, satu yang aku yakin kau tak pernah melewatkannya, satu yang bagimu sudah lebih dari sekedar kebutuhan, satu yang akan pertama kali juga menjadi timbangan hari akhir nanti. Sholat. Iya, aku yakin kita telah menjalankan ritual itu bertahun-tahun, selalu, rutin, tak terlewatkan. Lalu kenapa kita harus belajar lagi?
Re, seorang istri adalah tanggung jawab suami, mendidik, menafkahi, dan masih banyak hal lagi. Dan segalanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Ilahi.
Dulu, saat umurku sudah jauh lebih dari akil baligh, aku tahu sholat adalah kewajiban dan kebutuhan, aku sudah tak terhitung berapa kali melakukannya. Dan kau tahu, setelah bertahun-tahun dengan rutinitas itu, aku bertemu guru yang mengingatkan, bahwa sudahkah kau resapi sholatmu? Sudahkan kau benar melakukan sholatmu? Dengan tata cara yang sempurna? Dan ketika ia mengajarkan sholat padaku, aku sadar betapa tak sempurnanya ternyata sholatku dahulu-dahulu.
Karena sholat sebagai amal yang pertama ditimbang di akherat nanti, Re. Aku takut aku dihukum sebagai seorang suami yang gagal mendidik istri jika ternyata sholatmu belum sempurna. Aku takut timbangan amal sholatmu ternyata tak seberat yang kau kira. Aku takut tiket surgamu rusak karena aku tak mengajarkan sholat yang benar padamu.
Maka izinkan kita belajar bersama. Tak perlu malu, Re! Karena belajar tak mengenal usia, karena belajar tak hanya pada hal-hal besar, begitu banyak hal-hal sederhana yang kadang kita masih kurang tepat dan perlu lebih dalam lagi mempelajarinya. Dan yang terpenting, karena sholat adalah antibodi kita dari perbuatan keji dan munkar. Begitu kata Allah, kan?
Ketika sholat kita benar sempurna dan terjaga, Re. Akan ada perasaan baik yang mendukung kita melakukan kebaikan, juga akan ada perasaan tak enak yang mencegah kita melakukan keburukan. Maka jika sholat kita benar, aku percaya kita akan mudah menuju kebaikan bersama-sama, mudah menemukan kenyamanan bersama. Ketika aku tahu sholatmu baik, sholatku baik, aku yakin aku takkan punya rasa takut atau curiga padamu, begitupun dirimu padaku. Kita akan mudah menyuburkan tanaman percaya, dan aku yakin kita takkan mengenal kata kecewa pada satu sama lain.
Maksudku mengajarimu bukan berarti sholatku telah sempurna, tapi ini akan membuatku selalu berusaha, belajar lagi, lagi dan lagi, praktek lagi, lagi dan lagi, tak berhenti menyiapkan diri untuk menjadi gurumu nanti.
Kurasa cukuplah catatan ini menjadi pengingat kita, Re! Bahwa nanti, bersamamu, tujuan utama kita adalah surga. Maka kuniatkan sejak dini bahwa aku harus terus berlatih, berusaha, dan bersiap menjadi juru kemudi yang baik untuk kendaraan kita nanti. Aku yakin, ketika aku melakukan itu, kaupun di sana sedang berlatih dan berusaha menjadi navigator yang siap bersama-sama diriku melakukan perjalanan panjang menuju arah yang kita tuju, surga. Semoga keistiqomahan senantiasa menemani langkah kita menyiapkan segalanya. Aaamiiin.
Sekian, terima kasih, My Dear Future!
Gohoom flat, Tareem, 20 Februari 2018, 18.16
Tak pernah ada yang benar-benar berakhir.
Yang ada hanya kelanjutan yang berbeda.
Dan semuanya adalah kehendak-Nya.
Jarak adalah tentang belajar dan perjalanan.
Belajar bersabar, bersabar menunggu, bersabar menghadapi diri sendiri, bersabar menghadapi yang ditunggu, tanpa ada jarak tak ada yang namanya perjalanan.
Long journey often gives you so much lessons.
Dan bagi seseorang jarak adalah masalah.😌
Terima kasih sudah mengecewakan, aku jadi mengerti rasanya kecewa yang tak mengandung sedikitpun kemarahan, meski perih ini begitu menyakitkan.
Kamu tak perlu menghawatirkan aku kedinginan di musim dingin ini, karena rinduku padamu selalu hangat tuk mengusir dingin pergi.
Cinta Platonik
Kamu pasti pernah merasakan bagaimana mengagumi seseorang dengan tiba-tiba. Entah itu karena kamu tanpa sengaja melihatnya berlatih bola basket, membantu kedua orangtuanya berjualan, memiliki prestasi yang baik, bahkan sekadar alasan bahwa dia orang yang dingin, mampu membuat kita menaruh hati kepadanya.
Namun, seperti kata pepatah, tidak semua hal bisa kita dapatkan, begitu pun timbal balik dari perasaan suka, naksir, atau cinta kita. Kadang-kadang penolakan mentah-mentah menimpa kita seandainya berani mengutarakan perasaan kita kepada seseorang itu.
Nah, untuk menghindari bagaimana sakitnya diabaikan dan ditolak, kita bisa memakai konsep Cinta Platonik yang pernah dibicarakan oleh filsuf terkenal Plato ribuan tahun yang lalu. Berikut keuntungan Cinta Platonik yang dikembangkan dari konsep filsafat Plato.
Tidak Diungkapkan
Memendam perasaan bukan hal mudah. Kita akan selalu gelisah karena hati kita sudah jatuh kepada orang tersebut. Kita ingin si dia mengetahui apa yang kita rasakan. Tapi memilih untuk tidak mengungkapkan adalah juga pilihan yang tepat, sebab kita tidak membebankan diri kita untuk mencari banyak cara untuk bisa memilikinya. Hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang mengetahui kadar cinta kita. Yang kita rasakan hanya kebahagiaan.
Tanpa Nafsu
Kadang-kadang kita tertarik dengan fisik seseorang. Bisa karena wajahnya yang cantik dan tampan, atau tubuhnya yang nyaris sempurna. Itu membangkitkan nafsu kita kepadanya. Lantas kita berusaha keras dengan segala cara untuk mendekatinya. Bahkan kita pun berusaha membuat diri kita tampak lebih baik meskipun menghabiskan banyak uang. Nah, dengan cinta platonik, kita dituntut untuk menghilangkan nafsu. Kita mencintanya karena cinta itu sendiri. Bahkan ada ungkapan cinta platonik hanya memandang sebatas ujung rambut kepala hingga leher orang yang dicintai.
Tidak Ada Cemburu
Saat kita memutuskan untuk mencintai dengan cara cinta platonik, kita sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa kita tidak ada hak atas dirinya. Biarkan dia tidak mengetahui apa yang kita rasakan, biarkan dia mencintai siapa pun, dan biarkan dia bahagia dengan dunianya. Beratkah cara ini? Tentu saja. Dalam cinta biasa, cemburu itu wajar, tapi dalam cinta platonik, cemburu itu mengikis cinta. Ingatlah mengapa kita mencintainya? Sebab cinta, bukan sebab cemburu.
Tanpa Batas Waktu
Cinta platonik sejalan dengan cinta sejati. Ia akan terus terawetkan, lestari, dan tanpa batas waktu. Meskpun yang dicintai telah tiada atau tubuhnya dimiliki orang lain, cinta platonik akan tetap hidup. Sejak cinta platonik dipilih seseorang untuk mencintai seseorang lain, ia akan selalu bisa merasakan kebahagiaan karena rasa syukur bahwa ada seseorang yang selalu bisa ia cintai.
Tidak Kenal Lelah Berbuat Baik Kepada Banyak Orang
Kekuatan cinta platoniknya kepada seseorang akan ia gunakan untuk berkegiatan yang positif. Atas dasar cinta yang ia rasakan, ia akan membantu banyak orang yang membutuhkan. Sebab energi positif dari cinta itu mampu menggerakannya untuk mengerjakan apa pun yang juga positif. Ia pun menerbar senyum dan kebahagiaan dirinya kepada banyak orang. Menginspirasi anak-anak muda untuk selalu berpikir positif dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Menarik, dan... sepertinya aku benar-benar telah tertarik, tapi bisakah lalalalaku padamu ini menjadi semacam Cinta Platonik, Nona? Hm... Semoga.
Jadilah dirimu!
Tetap dengan kejujuranmu, ketidak mudah setujuanmu, kengototanmu, keras kepalamu.
Karena setahuku, tak banyak yang bisa begitu menghadapiku.
Mengalahkan Diri Sendiri(Lagi)
Waktu adalah emas, adalah uang, adalah pedang, yang intinya jika disia-siakan akan rugi, jika dibiarkan kesempatan baik akan pergi, jika disalah gunakan kita bisa-bisa mati. Mati dalam arti sebenarnya ataupun juga metafora.
Fasih benar teori analogi di atas kutulis, kumengerti, serta kupahami. Sayangnya, aku sendiri menyadari bahwa selama ini aku gagal dalam hal aplikasi, ya, aku benar-benar merasa menjadi orang mati. Pedang waktu terhunus di ulu hati karena aku tak mampu menguasai diri.
Produktifitas adalah ironi, mengaji dan mengkaji tak dijiwai, membaca hanya pada status-status media tak berguna, menonton hanya pada tayangan melompong yang monoton, lalu menulis, hanya kata-kata manis yang nyatanya amis.
Lalu apa para mata memandangku sedang bahagia? Berbangga? Atau mereka iri dibuatnya? Hah, kurasa itu sementara. Sebelum mereka mengetahui aku sebenarnya bagaimana.
Pada cerminpun aku takut, takut karena aku memang penakut, lagi pengecut. Dua sifat bersinonim yang dua-duanya kusebut, menguatkan bahwa aku benar-benar sungguh penakut, lagi pengecut.
Di cermin, aku melihat sosok paling kubenci sedang bersanding dengan sosok yang begitu kucintai. Dan sampai kini aku tak pernah berhasil merebut hatinya dari sosok yang kubenci. Aku tak bernyali.
Menjauh dari cermin aku menyadari, pedang waktu masih saja dikuasai si benci, aku tak berkutik dihunusnya berkali-kali. Aku hidup tapi mati.
Aku mengetahuinya, aku mendengarnya, aku merasakannya, teriakan dukungan keluarga tak henti-hentinya, kobaran semangat orang terdekat yang terus membara, demi aku yang sayangnya masih saja tak bisa apa-apa.
Aku mencintainya, diriku sendiri, namun ia dikuasai sosok yang amat kubenci, yang tak lain adalah diriku sendiri. Masih saja begini, sejak dulu aku selalu berusaha hentikan ini. Pernah berhasil sesekali, namun selebihnya aku gagal mengalahkan diriku sendiri. Aku mati, terhunus pedang waktu yang berulang kali gagal kukuasai.
Saat aku menuliskan ini, sejatinya pertarungan sengit terjadi, aku vs diriku sendiri, semoga dari tulisan ini bisa menggambarkan sengitnya pertempuran diri yang seperti imajinasi.
Akhirnya, demi diriku, dirimu, dan segala yang membuat ini terjadi, aku berjanji, takkan berhenti berusaha mengalahkan diriku sendiri.
Lagi, kudeklarasikan bahwa aku adalah manusia yang selalu ingin mengalahkan diri sendiri.
Yaman, 18.51
©goda-goda
Tak lagi pernah, entahlah, kurasa hatikupun bisa lelah, ahhh, ayolah... jangan buat aku merasa bersalah! Atau kamu yang nantinya akan ikut merasa bersalah?
Ada yang Memerhatikanmu
Ada yang memerhatikanmu dari kejauhan, ia begitu memahami apa yang menjadi kesukaanmu dan juga apa yang menjadi ketidaksukaanmu. Semua dilakukannya tanpa bertanya, tapi dengan mudahnya ia bisa mengetahui semuanya. Maka, diam-diam ia sedang menyusun rencana sedemikian rupa untuk memberi apa yang kamu suka, meski sesekali ingin mengetahui reaksimu dengan memberi apa yang tidak kamu suka.
Tanpa ada likes, comment, reblog, atau jejak lain pada setiap postinganmu di sosial media, ia diam-diam mengetahui setiap detailnya. Entahlah, mungkin ia memasang fitur ‘get notification’ untuk setiap postingmu, tapi rasanya ia tak perlu bersusah payah melakaukan itu. Bahkan, bisa saja jika ternyata ia bahkan tak memiliki akun di sosial media sama sekali. Selain itu, tak seperti orang lain yang mungkin lantang mengatakan kekagumannya terhadapmu, ia hanya diam saja. Tapi, tanpa kamu ketahui, ia sedang dan selalu mengupayakan kebaikan yang banyak untukmu, banyak sekali, hingga suatu ketika rasa syukur dan ucapan terima kasih pun rasanya tak cukup lagi untuk menjadi ganti atas semuanya.
Magis! Tanpa perlu membaca apa yang ditulis olehmu dalam buku-buku, tanpa perlu menghadiri setiap majelis ilmu yang kamu ada di dalamnya, tanpa perlu bertanya pada teman-temanmu tentang hidupmu, juga tanpa perlu selalu bertukar pesan denganmu, ia memahami seluruh dirimu, lengkap dengan bagaimana pola-polamu dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Setelah mengetahui semuanya itu, meski mungkin banyak salah dan kurang yang ada padamu, tak sedikit pun ia meninggalkanmu. Jangankan benar-benar meninggalkan, berniat meninggalkan pun tidak.
Saat kamu sedih, ia mengetahuinya. Saat kamu bahagia, ia mengetahuinya. Saar kamu berpura-pura, ia mengetahuinya. Saat kamu kecewa, marah, atau bahkan putus asa, ia mengetahuinya. Bahkan, saat apa-apa yang kamu lakukan dan katakan tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatimu, ia juga mengetahuinya. Bagaimana bisa? Ah, bisa saja! Tanpa kamu menunjukkan, mengatakan, atau bahkan memamerkannya, dengan mudah ia tetap bisa mengetahui semuanya.
Sayangnya, kamu seringkali menganggapnya tidak ada dan kamu pun sibuk mencari-cari yang lain selainnya. Padahal, pada akhirnya, ia adalah tempatmu berpulang untuk selama-lamanya. Tunggu, masihkah kamu berpikir bahwa sosoknya adalah personifikasi seorang manusia? Tolonglah, jelas saja bukan! Otak dan hatimu itu nyata sekali terlalu banyak terisi roman picisan!
Astaghfirulloh...