Suratku Untukmu
Kau tahu? Ini surat pertamaku setelah hampir beberapa bulan aku tak lagi menulis surat. Mengagetkan melihat penaku yang kini tumpul tetapi masih bisa menuliskan sesuatu kata yang mereka sebut itu cinta. Aku rasa tak semua orang berubah seperti yang mereka kira. Setiap peristiwa yang mengisi setiap relung tubuh manusia.
Pukul 20.00 tepat saat aku menuliskan kalimat ini. Mungkin hanya kau dan aku yang bisa memahami. Satu sama lain. Untuk setiap canda yang tak juga redam, untuk setiap rahasia yang kita sembunyikan dari cinta.
“Cinta. Untuk apa takut kepada cinta? Sekarang atau tidak sama sekali. Cinta tidak akan menanti,” janjiku meyakinkanmu dulu. Dua kali. Dan dua kali pula aku menyakitimu dan kau mengizinkan aku masuk ke duniamu lagi, yang akan menyusuri isi pikiran serta berkunjung ke sudut-sudut kecil di ruang hatimu.
Apa yang kau pikirkan? Bagaimana perasaanmu? Apa kau memikirkan aku juga?
“Akhir ialah apa yang telah menjadi keputusanmu,” tegasmu meruntuhkan seluruh mimpiku. Mimpi yang kubangun dengan namamu berada di pusatnya.
Namun, sebelum mimpi itu betul-betul mati, aku berjuang sekali lagi. Berteriak lebih keras lagi. Lagi, dan lagi. Agar tanganku sanggup mencapaimu, membangunkanmu dari tidur panjang bernama kesendirian.
Detik sebelum aku tak sanggup berdiri dan betul-betul mati, kau terbangun. Kau mendengar dan menerima aku. Kau memberi kesempatan bagi ‘kita’ untuk ada. Sekali lagi, kau membuatku bermimpi. Cinta ialah penawar bagi pahitnya realitas.
“Sekarang adalah sekarang. Nanti adalah nanti. Lalu, kebahagiaan adalah apa yang ada sekarang, bukan?” ucap kita bersamaan sembari tertawa.
Kau ialah hangat yang pernah hampir di setiap cangkir.
Kau ialah bahagia yang mampu membuat air mata terhapus menjadi tawa.
Kau ialah segala indah yang pernah aku alami.
Kini aku menemukan bayangmu dalam tiap langkahku. Rindu di setiap sudut hati yang telah mati; memori.
Lucunya, aku menulis kata demi kata sambil membayangkan kau dan aku tengah berdiri bersama teman-temanmu serta teman-temanku akan datang. Mereka akan menyantap makanan yang sudah disediakan sembari melontarkan gurauan-gurauan yang memutar kembali ingatan. Lalu, mereka akan mendatangi kita, tersenyum bangga. “Selamat,” ucap mereka tulus sebelum beranjak pergi.
Mungkin mimpi ialah matahari, mewujud pada setiap baris yang menjadikanmu abadi.
Sudah pukul satu pagi, dan surat ini akan berakhir sebentar lagi.
Aku ingin mengakhirinya seperti apa yang sudah seharusnya.
Untuk setiap luka yang kita toreh satu sama lain, untuk setiap beban yang aku tumpahkan padamu, aku meminta maaf.
Aku bersyukur, kau lah orang yang pernah bersamaku.
Tidak dia. Tidak imaji terbaikmu dalam anganku. Tidak yang lain.
Kau, utuh, nyata, apa adanya.
Kau dan aku tumbuh bersama hingga kita menjadi seperti sekarang ini. Berdiri dengan langkah yang sama, bahagia dengan kebahagiaan bersama.
Pada setiap detik yang terus berdetak, aku akan selalu mendoakanmu.
Kau adalah sahabatku hingga akhir.
Kita adalah satu semoga yang diizinkan Semesta.
Kelak kita akan bersama, membangun sebuha dawai yang utuh dan berirama, meski saat ini kita terpisahkan jarak,bukan bererti aku menyerah aku akan menjadi salah seorang temanmu yang hadir di setiap mimpi indahmu. Menyantap makanan yang sudah disediakan olehmu bersama buah hati yang kita impikan. Tenang sayang aku tak lama, aku tak pergi, aku ada di setiap kau melangkah, tertawa dan tertidur. Seperti apa yang sudah seharusnya.















