Kenapa Laron Suka Ngumpul di Cahaya
Cerita ini ditulis atas permintaan sahabat Elizka Norimarna, yang ingin dibuatkan dongeng komedi romantis. Semoga memenuhi kualifikasi.
Pernah melihat laron? Kebanyakan orang hanya tahu laron ketika mereka berkumpul di cahaya lampu rumah ketika maghrib tiba. Laron punya cerita, dahulu ia sendirian dan kesepian. Laron zaman triasik dulu hidup sendirian. Mereka biasa diam di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Laron adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak Laron, yaitu Kecoa tidak pernah mengakuinya sebagai adik. Kecoa memang lebih senang jadi anak tunggal, hingga adiknya lahir. Apalagi setelah melihat adiknya lebih mirip dengan tetangga mereka, yaitu Om Semut. Kecoa selalu mengatai Laron anak tetangga. Sejak kecil Laron seringkali di bully, bahkan oleh kakaknya sendiri. Hal inilah yang membuat laron selalu diam saja dirumah. Ia tidak percaya diri karena tidak mirip dengan kakaknya. Ia tidak seberani kakaknya yang bisa wara-wiri kesana kemari. Kepribadian Laron cenderung lebih introvert.
Tahun pun berganti, Laron dan Kecoak bertambah besar. Orangtua mereka sudah semakin tua dan tidak dapat bertahan. Hingga pada akhirnya di zaman Jurasik, orangtua Laron dan Kecoak pun tidak dapat bertahan. Laron dan Kecoak tidak bisa hidup berdampingan. Mereka benar-benar organisme yang berbeda. Biar bagaimanapun, Kecoak adalah kakak yang baik dengan cara yang tidak dapat dimengerti. Kecoak selalu nyinyir pada Laron agar ia tersadar dan lebih berani. Kecoa tau suatu saat nanti akan tiba saatnya mereka berdua pergi ke jalan masing-masing dan pada waktu itu Kecoa akan sibuk mengejar mimpinya dan Laron akan tetap jadi adik yang manja. Bukan manja….. Lebih tepatnya tidak mandiri, alias lemah.
Zaman Jurasik bukanlah zaman yang mudah untuk dilalui. Cuaca saat itu sangat ekstrim, ditambah lagi banyak sekali Dinosaurus dengan gigi yang besar berkeliaran dimana-mana. Hal yang dikhawatirkan Kecoa pun terjadi. Rumah mereka yang lapuk karena cuaca ekstrim tiba-tiba roboh. Kecoa dan Laron harus segera mengungsi ke tempat aman tanpa terlihat oleh Dinosaurus gigi besar, kaki besar, buntut besar… Semua Dinosaurus besar, pokoknya. Kecoa bergerak dengan cepat, tetapi Laron yang ketakutan hanya berjalan perlahan. Mereka melewati rumput, berbelok di sebuah batu dan berlari terus diantara debu-debu. Kecoa pun semakin terdepan, semantara Laron terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Melihat adiknnya, Kecoa pun segera berbalik arah dan menyelamatkan adiknya dari kaki Dinosaurus besar. Kecoa pun membawa Laron untuk bersembunyi di balik sebatang kayu, mereka pun bermalam disana. Semalam, dua malam, tiga malam, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun mereka cukup lama tinggal di batang kayu. Kecoa adalah pemimpi yang berani. Ia tidak dapat lebih lama lagi menemani Laron. Hari itu, Kecoa memutuskan untuk pergi mengejar mimpinya. Mereka pun berpisah.
Sejak hari itu, Laron pun sendiri. Semalam, dua malam, tiga malam, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun ia tetap tinggal di batang kayu. Ia kesepian. Ia hanya ingin mencari teman. Ia kemudian berdoa pada Tuhan, dan dari setiap doa yang ia naikkan, sesuatu mulai muncul dari punggungnya. Ia menumbuhkan sayap seperti Kecoa. Mungkin tidak sama seperti Kecoa, sayap Laron lebih tipis dan sederhana. Ia pun berlatih terbang. Meskipun sayap Kecoa lebih kuat, entah mengapa sayap Laron bisa menerbangkannya lebih tinggi. Mugkin karena doa-doa yang dipanjatkannya di malam-malam kesepian.
Setelah memiliki sayap, Laron mulai mengumpulkan keberanian untuk keluar dari batang kayu. Karena tidak terbiasa terbang, Laron tidak sengaja menabrak sesuatu. Ia pun kehilangan kesimbangannya dan terjatuh. Kepalanya pusing karena terbentur ke tanah. Ia pun melihat sekeliling dan itulah pertama kali Laron melihat Laronita. Mata Laron berkedip, bukan karena kelilipan tapi karena tidak percaya apa yang ia lihat. Sosok itu sangat mirip dengan dirinya, bedanya ia cantik dan kuat.
Sejak hari itu, Laron dan Laronita pun menjadi sangat dekat. Laronita setiap hari mengajari Laron untuk terbang. Laron tidak suka terbang, tapi perlahan Laron pun menyukai terbang, seperti ia menyukai Laronita. Melihat sayap Laronita terbuka dan melihatnya terbang tinggi, ada sesuatu dari dalam diri Laron yang mendorongnya untuk mengikuti Laronita, kemanapun ia pergi.
Laronita sangat menyukai Laron. Ia senang berada berdampingan dengan Laron. Ia pun menghabiskan waktunya untuk bersama Laron, meskipun keluarganya tidak menyukai Laron, entah karena apa. Mungkin karena keluarga Laronita sudah memasangkannya dengan serangga lain. Tentu saja ini mimpi buruk bagi Laronita karena ia hanya ingin bersama dengan Laron.
Laron dan Laronita sangat dekat dan tidak dapat berpisah. Suatu senja, Laron pun membulatkan tekad. Esok ia akan menemui keluarga Laronita dan berharap keluarga Laronita akan menerima Laron dan semua akan baik-baik saja. Mereka pun menghabiskan malam itu dengan terbang menuju bulan. Mereka suka dengan cahaya yang bersinar ketika malam. Mengingatkan mereka dengan harapan di masa-masa yang suram. Mengingatkan mereka untuk berharap agar bisa bersama. Mereka pun terbang, terbang menghampiri cahaya bulan yang tidak pernah dapat mereka sentuh.
Keesokan harinya, Laron akhirnya memberanikan diri untuk menemui keluarga Laronita. Benar saja, keluarga Laronita tidak suka dengan Laron. Keluarganya sudah memasangkan Laronita dengan serangga lain yang dianggap lebih kuat dan sebanding dengan Laronita. Mereka pun memisahkan Laron dengan Laronita.
Perasaan Laron dan Laronita terlalu kuat. Mereka berjanji untuk bertemu di bawah cahaya ketika malam hari. Ketika malam tiba, Laron pun menunggu Laronita di bawah cahaya. Sendirian, menunggu Laronita untuk datang. Ia menunggu dan menunggu. Hujan pun turun. Laron berlindung di bawah daun sambil menunggu Laronita. Tapi Laronita tak kunjung datang. Hingga akhirnya tetes hujan terakhir turun di malam itu, Laron pun melihat Laronita terbang dari kejauhan. Begitulah setiap malam, mereka berjanji untuk bertemu di bawah cahaya, di dalam rahasia malam.
Suatu ketika, keluarga Laronita pun mengetahui bahwa Laron dan Laronita sering berjumpa saat malam di bawah cahaya. Ayah Laronita pun segera memerintahkan pasukan untuk diam-diam membuntuti Laronita ketika terbang. Malam itu adalah petaka. Laron dan Laronita yang sedang berjumpa di bawah cahaya pun segera dihampiri oleh keluarga Laronita. Suasana di bawah cahaya tidak seperti malam-malam sebelumnya. Seratus pasang sayap lain pun terbang berputar di bawah cahaya lampu, mencoba untuk memisahkan Laron dan Laronita. Laron pun terjatuh ke tanah, entah menabrak siapa. Malam itu adalah malam terakhir Laron melihat Laronita hilang dibalik sayap-sayap pasukan yang diperintahkan ayah Laronita untuk memisahkan mereka.
Laron pun kembali sendirian, terbang menuju setiap cahaya yang ia temui sambil berharap ia akan menemui Laronita. Ia terus terbang setiap malam dan pulang ke rumah ketika matahari terbit. Hingga zaman Nowdays, Laron terus terbang sambil berharap ia mungkin akan berpapasan dengan Laronita entah di lampu jalan yang mana.
Jika kamu melihat serangga yang terbang di bawah lampu ketika malam, mungkin itu adalah Laron yang sedang menunggu Laronita. Atau jika kamu melihat banyak serangga yang terbang di bawah lampu ketika malam, mungkin itu adalah Laron dan Laronita yang sedang digerebek. Malam itu mungkin sama seperti malam dimana Laron terakhir kali melihat Laronita menghilang dibalik kerumunan.