Setahun lebih pandemi ini berlangsung di Indonesia. Kondisi yang tidak kunjung membaik namun sebaliknya. Takut dan sedih rasanya kalau dengar kabar dari teman-teman. Apalagi dari teman-teman di Jakarta. Sampai aku nggak sanggup buka instagram (tapi muncul juga berita di whatsapp :'().
Di Tuban agak berbeda. Di sini terasa seperti biasa-biasa saja. Memakai masker dua lapis pun masih dilirik heran oleh orang-orang. Rasanya aku khawatir setiap keluar rumah.
Selama pandemi aku memang masih keluar rumah. Ke pasar, ke supermarket, ke toko kue --beli stock cemilan, ke warung makan --untuk take away, ATM, pom bensin. Ya paling itu-itu saja. Awal pandemi memang aku bertekad benar-benar tidak keluar rumah sama sekali. Untuk belanja bahan makanan aku titip ke ART, menyoba belanja di pasar secara online, belanja bulanan minta tolong suami. Tapiii, ada saja nggak pas nya. Ya kualitas sayurnya kurang bagus lah; ya sayur atau ikan titipannya nggak dibeliin lah; ya kebanyakan bahan titipan nggak ada --padahal kalau aku beli di pasar ada--; ya yang paling mengenaskan adalah ikan belanja online udah bau karena ikannya baru diterima sore hari. Hahaha aku kapok. Mungkin karena rumahnya kejauhan. Kalau belanja bulanan in syaa Allah aman. Suami ku lebih on track kalau belanja bulanan daripada aku. Hahaha. Daripada makin pusing dan uring-uringan di bulan agustus tahun lalu di saat kasus mulai turun aku mulai memberanikan diri ke pasar, supermarket, dan sebagainya. Setiap hari maka cukup kuatkan niat bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah. Aku keluar bukan untuk main-main. Selesai belanja langsung pulang. Sampai rumah pun bersih-bersih. Aku nggak punya pilihan lain. Kondisi ku tidak ideal seperti kalian yang tinggal di kota.
Jika ada pilihan belanja sayur mayur, buah, ikan online yang terpercaya tentu akan memilih untuk belanja online. Jika ada tukang sayur yang bisa dititipi belanja ini itu tentu akan memilih untuk titip ke tukang sayur, meskipun ujungnya harus keluar rumah juga karena nggak ada tukang sayur keliling yang masuk komplek rumah dinas. Jika ada gofood dan grabfood atau semacamnya yang bisa menjangkau rumah dinas, tentu aku akan memilih itu. Kalau ada drive thru, aku akan drive thru-- tapi nggak ada.
Jadi, sekarang ditengah kasus melonjak tinggi aku pun galau mau belanja di mana dan bagaimana. Di satu sisi pun ingin ke pasar, di satu sisi takut. Kalau ke supermartket masih mending ya karena pengunjung wajib prokes dan aku pasti ke sana di jam-jam sepi supermarket baru buka. Tapi di supermarket sini nggak ada ikan, daging sapi, dan ayam yang segar. Sungguh aku dilema. Sebenarnya cuma terpikir sama menu makan anak yang masih perlu belajar makan. Mau seadanya masa telur terus ya? Untuk frozen food aku masih belum berani, kecuali homemade. Anak ku kebetulan lebih suka ikan daripada ayam dan daging sapi.
Bagi ibu-ibu yang punya pilihan dan kesempatan untuk di rumah saja, di rumah saja lah. Bagi yang nggak punya, bismillah, keluar rumah dengan menerapkan prokes. Semoga semuanya selalu diberi kesehatan, keselamatan,dan lindungan Allah.
Hah! Sungguh curhatan ibu rumah tangga.