Testing
Phantogram Three
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium
Interview Vampire Daily
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
The Bowery Presents

izzy's playlists!

blake kathryn
Fai_Ryy
tumblr dot com
NASA

#extradirty
hello vonnie
$LAYYYTER
official daine visual archive
untitled
YOU ARE THE REASON

Jimmy Eat World
𓃗
RMH

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye
seen from India

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Peru

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Sweden
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Bangladesh
seen from Philippines
seen from Czechia
seen from Venezuela
seen from Ecuador

seen from United Kingdom
@hannysan-blog
Testing
bun ga nuong @hop ky
Beranda: Paduan Suara KKI Melbourne
Paduan Suara KKI Melbourne
Sudah tidak terlalu kuingat berapa lama aku bergabung dengan Paduan Suara KKI-Melbourne. Mungkin sekitar 3-4 tahun yang lalu ketika masih diasuh oleh Rm. Ardi. Setelah Romo Ardi meninggalkan Melbourne, kusadari tidak ada lagi yang menangani urusan paduan suara ini. Atas inisiatif ku pribadi, aku membantu saja sebisanya. Tidak mempermasalahkan hasil ataupun kualitas, hanya suasana kebersamaan dan keakraban yang aku nikmati dari kerja tak jelas perintah ini.
Perkembangan paduan suara KKI sekarang ini cukup menarik. Kebiasaan yang kami bawa sebelumnya dari tanah air, memang sebagian kami terapkan di sini. Namun setelah sekian lama berkiblat dan terjun di paroki masing-masing, dengan segala keterpaksaan kami mencari jalan untuk menyesuaikan dengan kondisi alam Negara Australia ini, salah satunya adalah dalam membaca not balok yang sebelumnya harus diaransir ke dalam not angka. Cukup memusingkan memang, karena aku yang memang mengerti membaca saja tidak mampu membunyikan nada dengan suara, karena terbiasa dengan memencet tuts. Maka dimulailah pembelajaran sendiri, pelan tapi pasti aku mulai mengerti.
Yang sangat aku rasakan berat dalam menangani paduan suara ini adalah mengumpulkan jumlah peserta. Dari beberapa kali latihan yang sudah direncanakan, biasanya baru terkumpul jumlah yang pasti sehari dua hari menjelang pementasan. Sungguh menyulitkan pelatih yang harus mengulang lagi sebagian lagu-lagu. Target pelatih untuk memberikan polesan dinamika, biasanya sudah tidak terpenuhi, mengingat jumlah peserta yang kadang baru hadir pada saat akhir. Namun kami tetap merasakan kegembiraan, karena memang tujuan utama bukanlah untuk mencari nama atau perang kualitas, tetapi semata-mata untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan talenta yang dimiliki.
Seringkali aku menerima masukan dari beberapa umat yang menyarankan menyajikan lagu yang mudah-mudah saja, agar umat bisa ikut bernyanyi, dan paduan suara tidak perlu terlalu keras berlatih. Aku tidak membantah. Secara pribadi memang aku ingin sekali memiliki kondisi yang demikian nikmat, tanpa kerja berat bisa memenuhi kebutuhan umat. Namun ada beberapa pemikiran yang aku ingin bagikan dan mungkin bisa menjawab pertanyaan beberapa orang atas kekonyolan yang sering aku lakukan dalam memilih bentuk lagu.
Analogi, aku seorang awam yang tidak mengerti music.
Dulu aku senang sekali pergi ke gereja Katedral St. Patrick, yang dipimpin misa oleh Uskup Agung Dennis Hart, setiap Minggu jam 11 pagi. Kenapa? Pasti dimeriahi oleh paduan suara pria dari berbagai umur. Terdengar sangat indah. Aku tidak mengerti lagu-lagu yang dinyanyikan, karena sebagian besar baru untukku. Aku tidak mengerti syairnya, karena kadang dinyanyikan dalam bahasa latin, bahkan dalam bahasa Inggris sekalipun, sering tidak kumengerti. Namun satu hal yang pasti, dalam mendengarkan koor bernyanyi, aku seakan terbuai dalam alam spiritual yang sacral yang membawa dimensi baru dalam suasana doa. Kesan yang sungguh luar biasa dan mendalam.
Alasan berikutnya adalah: aku bangga sebagai umat yang hadir pada jam tersebut. Kenapa? Karena ada sebagian orang-orang yang berlatih demikian giat dan serius, demi untuk umat yang hadir pada jam itu bisa mendapatkan santapan rohani demikian lezat. Suatu bentuk unconditional love yang diajarkan Yesus.
Analogi aku seorang musikus
Bagiku, kesempatan bernyanyi adalah hak istimewa bagi umat yang hadir di misa. Karena misa di hari Minggu biasa lainnya, pasti ada kesempatan bernyanyi. Sejauh mana umat datang secara teratur di acara misa setiap minggu, aku tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas. Yang pasti umat akan berdatangan pada perayaan hari-hari raya besar seperti Natal dan Paskah, pasti ingin ada kesempatan untuk bernyanyi bersama, makanya sering diadakan acara Christmas Carol yang memberikan kesempatan umat bernyanyi.
Pada hari raya besar lainnya, aku mengumpamakan pergi ke tempat pesta, ataupun menyelenggarakan pesta. Seorang tuan rumah mestinya tidak akan membuat acara pesta seperti acara sehari-hari. Mesti akan ada hiasan ruangan, masakan yang istimewa, pakaian yang dikenakanpun mestinya lain dari pakaian kerja sehari-hari. Misalnyapun pakaiannya lama, masih bisa ditambah asesoris lainnya sehingga menimbulkan kesan up to date. Demikian pula dengan perasaan dan jiwa musikus. Yang ingin menamplikan sesuatu lain dari yang lain pada perayaan besar.
Lagu-lagu dipilihkan yang sesuai konteks perayaan, dengan membayangkan paduan suara bernyanyi indah dan umat menikmati pula suasana yang lain dari biasanya. Mungkin memang akan ada beberapa kecenderungan umat hanya mendengarkan dan kurang bisa ikut serta menyanyikan lagu-lagu yang dilantunkan, namun seperti yang aku sebutkan tadi analogiku sebagai umat, mestinya pesan nikmat boleh tersampaikan.
Sebagai anggota paduan suara, aku merasakan kebersamaan yang mendalam. Dari serpih-serpih kecil kami terus menata kebersamaan dalam berpaduan suara, hingga boleh kami sampaikan alunan nada surga yang bertelut pada kekuatan doa dalam perayaan misa.
[Romo Waris Menyapa] Memaafkan Osama bin Laden?
Memaafkan Osama bin Laden?
Perintah Baru
Sebagai seorang Katolik, saya belajar dan terus berusaha melakukan sesuatu seperti yang dikehendaki oleh Yesus junjungan saya. Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, di dalam relasi dengan umat berbeda agama dan keyakinan, saya berusaha menjalankan apa yang dikehendaki oleh Yesus. Hal ini tidak selalu mudah, tetapi saya berusaha menjalankannya. Satu ayat yang menjadi dasar sikap saya ini saya ambil dari Injil Yohanes pasal 13 ayat 34-35. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yesus mengharapkan satu hal, bahwa semua murid-Nya, setiap orang yang percaya kepada-Nya hidup dalam kasih. Bahkan hidup dalam kasih menjadi cirri khas murid-murid Yesus. Hal ini menjadi berat ketika permintaan mengasihi ini jatuh kepada orang yang tidak mengasihi kita. Yesus menegaskan bahwa kasih yang kita bagikan haruslah mengarah juga kepada orang-orang yang bahkan memusuhi kita. Kalau kita hanya mampu mengasihi orang-orang yang mengasihi kita saja, nilai kasih kita itu tidak ada artinya. Nilai kasih yang kita bagikan itu memiliki arti besar karena kita bagikan kepada setiap orang, bahkan mereka yang tidak mengasihi kita atau bahkan mereka yang menyusahkan kita, misalnya para pesaing bisnis dalam dunia bisnis. Contoh yang lain, mengasihi orang yang menjelek-jelekkan nama kita, mereka yang memfitnah kita, mereka yang menipu kita dalam bisnis, dan masih banyak lagi. Kasih kita harus juga melimpah kepada mereka. Di sinilah letak istimewanya perintah Yesus. Di sinilah letak kebaruan perintah Yesus. Ia mengatakan memberikan perintah baru, dan itu memang sungguh baru. Ketika perintah lama masih memperbolehkan membalas dendam, Yesus mengatakan harus mengasihi. Ketika mengasihi dalam perintah lama hanya sekadar kepada orang-orang yang mengasihi kita saja, dalam perintah baru Yesus meminta agar kita mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang membenci kita. Bagaimana caranya?
Memaafkan
Kata yang mudah sekali diucap, dan mudah sekali diingat. Maaf dan memaafkan. Hal yang sangat mudah namun sekaligus berat untuk dilakukan. Mengasihi musuh dan berdoa bagi orang-orang yang membenci kita hanya mungkin dilakukan kalau kita bisa memaafkan mereka. Memaafkan yang bukan hanya di bibir saja, namun memaafkan dari lubuk hati paling dalam. Jika Anda mengatakan ini berat, Anda benar. Namun di sinilah letak keistimewaan kita sebagai murid Yesus, yaitu diberi perintah untuk bisa mengasihi, dan memaafkan adalah tahap pertama dalam mengashi. Kebanyakan orang akan berkata, “enak saja memaafkan, mereka telah menyakiti hati saya!” Dengan ungkapan itu seseorang enggan memaafkan. Mereka lebih memilih rasa sakit hati dan dendam daripada membuang rasa sakit itu dari hati. Menyimpan rasa sakit hati dan dendam itu seumpama menyimpan sampah di dalam tubuh. Ia bisa menjadi penyakit yang sangat mematikan. Sedangkan memaafkan adalah proses membuang sampah tersebut. Proses menghindarkan diri dari kungkungan penyakit. Namun banyak orang lebih memilih menyimpan sampah atau rasa sakit itu. Mengapa memaafkan menjadi begtu berat? Mengapa banyak orang enggan melakukannya? Apakah yang sebenarnya menyulitkan? Yang berat dan menyulitkan adalah kemauan. Kemauan untuk memberi maaf dan membuang kebencian dan dendam. Kebanyak orang memiliki keinginan untuk membalas, meskipun pada akhirnya tindakan membalas ini akan membuahkan hasil yang lebih buruk lagi. Satu pembalasan akan memicu pembalasan yang lain. Tetapi satu pengampunan akan menghentikan seluruh rantai permusuhan dan sakit hati. Meski demikian, kebanyakan orang lebih suka memilih membalas dendam dari pada memaafkan.
Hidup Damai
Hidup damai bukan tercipta karena tiadanya musuh, tetapi karena kemampuan untuk memaafkan dan mengampuni musuh. Ajaran Yesus untuk mendoakan musuh dan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti adalah sebuah bentuk ajakan untuk membangun dunia yang damai. Mendoakan musuh berarti tidak ada musuh lagi. Berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita berarti tidak ada lagi lawan, karena semua telah menajdi teman. Ahhhh, pasti kalian yang membaca catatan ini menganggap saya sedang berkhayal. Membayangkan suatu dunia yang absurd dan jauh dari hidup keseharian kita. Tidak! Yang saya bicarakan adalah kehidupan kita sehari-hari. Menciptakan hidup damai harus dimulai, bukan ditunggu. Hidup damai bukan sesuatu yang akan datang menghampiri kita. Ia akan tercipta ketika diupayakan. Dan mereka yang mengaku pengikut Yesus mestinya menjadi pelopor untuk menciptkan hidup yang penuh dengan damai. Mereka harus menjadi pribadi-pribadi yang penuh maaf dan pengampun. Mereka harus menjadi pribadi-pribadi seperti Yesus, pembawa damai dan pengampun.
Osama bin Laden dan Hidup Beriman
Mari kita membuka hati dan kepala kita dengan apa yang terjadi belakangan ini. Bagaimana sikap kita terhadap kematian Osama bin Laden? Gembirakah kita? Bersukariakah kita? Apakah kita ikut bersama orang-orang yang merayakan kegembiraan karena kematian seseorang? Siapakah kita? Saya tidak ingin memasuki sebuah polemik. Apakah dia sungguh mati, sungguh dimatikan, atau meninggal. Mari kita andaikan bahwa dia sudah meninggal, entah bagaimana caranya. Mari kita memusatkan perhatian kita kepada reaksi atas hal tersebut. Bukan reaksi orang lain, melainkan reaksi kita sendiri. Bolehlah kalau saya bertanya reaksi Anda yang membaca catatan ini. Apa reaksi Anda menanggapi kematian Osama? Apakah Anda larut dalam sukacita atau menjadikan hal ini sebagai sarana untuk berefleksi. Satu pertanyaan yang hendak saya sampaikan. Beranikah kita memaafkan Osama, jika dia memang bersalah. Jika dia memang bersalah, siapakah yang berhak menyatakan bersalah? Pengadilan ataukah kita. Jika pengadilah, sudahkah ia dinyatakan salah oleh pengadilan? Jika kita yang menyatakan dia bersalah, atas dasar apakah kita melakukannya? Mungkin kita akan menjawab, ‘dia menyebarkan terror di mana-mana.’ Seandainya tuduhan kita ini benar, apakah itu sudah cukup untuk mematikannya? Siapakah yang berhak mematikan kehidupan seseorang?
Penutup
Sahabat, kita semua mendambakan hidup yang damai. Kehidupan yang penuh damai itu tidak akan datang begitu saja. Dia harus diupayakan. Tuhan Yesus sebelum kembali ke surga senantiasa menyampaikan pesan ini kepada para murid-Nya, ‘damai sejahtera bagi kamu’. Pesan ini jika dikaitkan dengan perintah supaya saling mengasihi akan menjadi jelas bahwa para pengikut-Nya haruslah menjadi pribadi-pribadi penyebar damai. Pribadi-pribadi yang penuh maaf dan ampun. Hal ini harus sungguh mewujud. Maka kematian Osama bisa menjadi tonggak ukur bagi kita sendiri. Sejauh mana kita sungguh bisa menjadi pribadi yang penuh maaf dan ampun tersebut. Beranikah kita memaafkan Osama?
Tuhan memberkati
Fr. Paulus Waris Santono, O.Carm
Pastor Umat Katolik Indonesia di Melbourne
Testing
Testing
Sage and Garlic Chicken with Celeriac Puree and Spinach Ball - MasterChef Australia on TEN
Link
VIDEO: CeBIT previews future tech wonders
Link
Pulang Kampung Day 30: Sate Blackberry dan Bakut Mumu - Sinpasa Gading Serpong
Sorry banget sudah terlalu lama tidak diupdate. Lantaran beres2 rumah bertukang dan berkebun ngurusin sana sini. Masih seputar perjalanan pulang tempo hari selama 5 minggu di Indonesia. Di mana hanya menyisakan 1 minggu di Jakarta (lha mana cukuppppp... hehehe). Benar2 tidak cukup 1 minggu di Jakarta, itupun sudah bela2in tiap hari pagi siang sore ketemu teman2 lama, tiap malam pulang sampai jam 11 malam kayak kerja lembur, tapi tetap saja tidak cukup waktu bertemu dengan semua teman2 dan sahabat2, mohon maaf teman dan sahabat, tahun depan pasti kita bertemu hehehe. Malam terakhir di Jakarta sebelum pulang ke Melbourne, bela2in ke sini di SALSA food court Gading Serpong. Masa dekat tinggal jalan 5 menit nggak dikunjungi. Sate Blackberry dan ini masih ok punya juga, apalagi bagian kabel (intestine) yang memberikan keempukan luar biasa. Aroma Blackberry hilang sama sekali. Kali ini saya tidak memesan bagian casing (kulit) karena sudah habis. Iga bakarnya manis seimbang dengan asin, agak smoky tapi tidak kebablasan. Ada nuansa lembut dari sensasi bumbu yang meresap dari hasil marinate yang cukup bagus kualitasnya. Dan seperti biasa kuah bakutnya memberikan kesegaran yang menyenangkan karena brothnya benar2 fresh.
Pulang Kampung Day 28: Ibu Hajjah Ciganea - Serpong Raya
Duluuuu sekali pernah baca tulisan di KOMPAS saat Cipularang dibuka, dampaknya ke sekitar rumah makan sunda di sepanjang Purwakarta yang pada bangkrut lantaran omset menurun drastis karena semua orang kalau ke Bandung maunya lewat tol. Di Serpong suatu kali tempo hari saya melihat rumah makan baru dengan tulisan malu2 RM Hajjah Ciganea. Langsung ingatan melayang teringat dalam tulisan di KOMPAS tadi. Ya, ini adalah salah satu RM Sunda yang cukup top di Purwakarta, wah kok buka di Serpong? Sudah pasti harus dicoba, daripada jauh2 ke Purwakarta hehehe. Siang2 itu kami bertiga makan Susundaan ini. Overall kualitasnya cukup baik, tidak mengecewakan, walaupun tidk terlalu surprising banget. Sayur asemnya terasa biasa banget. Kurang asin ataupun asam. Ayam Goreng Kuningnya lumayan. Sambelnya satu cobek direken tidak pantes agak keterlaluan (10K). Sepiring ikan kecil2 (bayi Nila?) amat crunchy dan crispy.
Photo Album 2009-03-04
Pulang Kampung Day 27 - Jan 2009: TAKIGAWA (with PDCians)
Sudah kelamaan di DRAFT, gak dipublish2 hehehe
Iseng
Pulang Kampung Day 27 - Jan 2009: DECANTER Wine House - Jakarta
Kumsut bersama teman2 dari Komunitas Jalansutra dan Kepsuk BW di Decanter Wine House, Kuningan Plasa Ya ampunnnn... Sudah hampir setahun ya bo acara ini, sorry sudah ngendon terlalu lama di DRAFT folder, lupa dipublish! Thanks buat makan2nya ya teman2, tidak ada yang lebih indah dalam liburan selain bertemu sahabat2 lama terkasih hehehe. Heri, Nath, Grace, LiTa, Alin, Vinke dan Acong, Chica, Heri, Lorentia, TinSus, Acel, Indra, Temen2nya LiTa (sorry lupa namanya), Yohan, Capt. GP, dan Pak BW sendiri. Makanannya gak usah direview hehehe. Sudah pasti top abis. Wine House yang dikemas buat makan secara sharing dengan rekan untuk hang out selepas jam kantor ini benar2 ok banget. Beberapa eksperimen berani dimunculkan, misalnya Lamb Ragu yang lembut disandingkan dengan Tagliatelle! Sampai jumpa lagi di Jakarta!
Pulang Kampung Day 14: Aneka Sarapan Khas Solo
Foto2 dapat diakses di http://hannysanjs.multiply.com/photos/album/243 Hari masih pagi, jam 6 di seberang hotel, ada beberapa warung tradisional yang menyediakan sarapan. Saya paling tidak tahan untuk segera mampir ke warung2 semacam ini. Rasanya tentu saja lebih jujur. Tadinya berencana naik becak untuk mencari sarapan yang agak jauh, akhirnya tidak jadi demi melihat pemandangan beberapa penjaja makanan tradisional di seberang jalan. Seperti halnya daerah Jawa lainnya, Solo juga menawarkan pilihan sarapan yang cukup "berat" karena mengandung nasi plus lauk. Pagi itu saya tertarik banget dengan Warung yang menyediakan Bubur/Nasi Gudeg dan Nasi Tumpang. Bubur Gudeg tentu saja saya pesan, karena sudah lamaaaaa banget nggak makan yang seperti ini. Rasa2nya terakhir waktu masih SMP di Ungaran dulu hehehe. Bubur yang tak terlampau kental, diletakkan di piring disiram dengan gudeg daun singkong dan sambel goreng krecek lengkap dengan Telurnya dan tahu bacem. Tak lupa karena sedang berada di Republik Karak Gendar maka semua makanan akan terasa lebih afdol kalau ditemani dengan Karak Gendar. Gudeg memang cocok pula dimakan dengan bubur. Tekstur bubur yang lembut dan gurih sangat cocok dipadankan dengan kuah opor ayam yang gurih bersantan kekuningan, dan dibuat tambah ramai warnanya dengan semburat kemerahan dari kuah sambel goreng krecek. Karak Gendar menciptakan nuansa asin dan crispy yang sangat tepat dimanfaatkan bila disandingkan dengan makanan bernuansa manis, pedas dan gurih. Seperti halnya kebanyakan warung-warung makan sederhana semacam ini, maka pemilik sekaligus sang koki dan sekaligus penjaja makanannya adalah seorang ibu tua yang sangat ramah. Percakapan dengan Bahasa Jawa Halus sekaligus melancarkan kembali Javanese Skills saya dan lidah2 yang kelu karena selama ini otomatis sangat jarang dipakai setelah lulus SMA hehehe. Ramah, santun dan hangat, adalah aura yang ditampilkan ibu sederhana ini. Senang sekali rasanya masih ada pengusaha2 kecil semacam ini, apalagi kalau berkelana jauh meninggalkan kota asalnya, untuk menjajakan masakan2 kuliner daerahnya. Di sebelah warung ini ada penjaja Sego Liwet keliling yang sedang bersemayam pagi itu. Ibu penjualnya jauh lebih tua, masih mengenakan kebaya dan menggunakan perlatan penjaja yang sangat tradisional. Nasi liwet dan ubo rampenya diatur rapi di atas tampah dan donak(?) Demikian cantik dan eksotis. Sayur labu ada di panci besar yang dipenuhi kuah sambel goreng jingga kemerahan dengan cabe rawit rebus yang berenang kian kemari. Sang ibu duduk di atas dingklik kecil. Maklum, ia menggelar dagangannya di trotoar, di atas paving block di depan toko2 yang masih belum buka. Sang telur dalam genangan kuah opor ayam, yang tentu saja dari wajahnya sudah nampak sekali tingkat kegurihannya. Saat akan dipotong menjadi 2 atau 4 bagian, saya menjadi tersenyum-senyum sendiri melihat pemandangan yang sudah lama sekali tak saya dapatkan, dengan peralatan sederhana, masih seperti berpuluh2 tahun yang lalu, yaitu dengan memanfaatkan seutas benang jahit biasa yang diikatkan pada sang donak. Benar-benar praktis, tanpa menggunakan pisau lagi. Masih dengan Bahasa Jawa Halus sang ibu juga menawarkan penganan desert khas Solo dan Semarang untuk sarapan (Di daerah2 ini, untuk sarapan pun selain main meal yang demikian bergizi, juga ada rangkaian pilihan desert aneka rupa yang cantik2), ia menjual Ketan Bubuk dan Ketan Kinco. Siapa yang tahan untuk tidak membeli? Hmmm.... Ketan yang diberi parutan kelapa dan disiram kuah kinco (kinca, gula merah/aren yang direbus) adalah makanan yang sangat memanjakan lidaj saya di masa lalu. It never fails. Sudah pasti saya pesan juga. Harga makanan di sini sangat reasonable, tidak seperti Nasi Liwet Wongso Lemu Keprabon yang kalkulatornya lebih sering rusak. Walaupun mungkin secara kualitas agak berbeda. Tampil pula seorang ibu yang juga bermodalkan donak dan tampah, menjajakan Sego Pecel Ndeso. Ini adalah varian Pecel yang unik, karena tidak mengandalkan bumbu kacang secagai dressing, malahan menampilkan dressing dengan bahan dasar wijen. Nuansa kehitaman kental muncul untuk menggantikan bumbu pecel yang biasanya berwarna kecoklatan. Sayur2an yang diusung biasanya juga unik, bukan tipikal yang biasa (Bayam Kangkung Kol Tauge) tetapi ada pahitan daun singkong, daun pepaya, hati pisang, kembang turi dan sebagainya. Ini merupakan ciri khas Pecel Ndeso yang kedua. Ciri khas ketiga adalah dengan penggunaan Nasi dari Beras Merah. Rasanya mungkin tidak setajam Pecel yang biasa. Kepedasanpun tingkatnya tidak bisa dicapai dengan sempurna bila dibandingkan dengan dressing bumbu kacang yang dapat saja didominasi dengan aneka cabe merah. Dinamakan Pecel Ndeso karena secara historis memang hidangan ini dimakan orang2 di desa, dengan bahan2 yang tergolong "lebih murah" dan ala kadarnya semacam ini (sayuran ala kadarnya, bumbu wijen lebih murah biayanya, maupun beras merah). Agak berbeda dengan "Premium Grade" Pecel yang biasa. Tumpang adalah masakan yang selalu mengingatkan saya dengan Salatiga, tempat kelahiran saya, dan Mami tercinta, yang selalu mampu menampilkan Sayur Tumpang dengan hasil yang sempurna. Sayur Tumpang di daerah Jawa Tengah barangkali agak sedikit berbeda dengan di Jatim. Penggunaan Tempe Bosok (Tempe Semangit), sehingga mengeluarkan aroma yang lebih keras lagi, menjadi andalan bumbu utama untuk Sayur Tumpang yang sukses. Sering disebut Sambal Goreng Tumpang karena mirip dengan sambal goreng, yaitu menggunakan kuah santan dan cabai yang dominan. Di Salatiga seringkali Tumpang identik dengan pemakaian daging sapi dari distrik Pipi/Wajah senantiasa ikut dicampurkan. Nuansa yang ditimbulkan tentu saja empuk tapi tidak meleleh di mulut, masih ada sensasi kenyal yang menyenangkan. Bumbu sambal goreng akan sangat meresap dan tahu kulit dan tahu putih makin memperkaya rasa dengan menciptakan sensasi gurih. Telur juga kadang dimasukkan dalam Sambal Goreng Tumpang ini. Serpihan tahu dan tempe bosok senantiasa menaikkan tingkat kekentalan masakan ini secara alami setelah mengalami proses perebusan. Sayur Tumpang biasanya hadir untuk menggantikan dressing bumbu kacang pada sayuran rebus pecel. Tetapi sayur tumpang juga bisa tampil sendiri menjadi lauk yang sangat bisa diandalkan. Bagi saya, Sayur Tumpang lebih cantik bila tampil sendirian, ditemani nasi putih hangat dan tentu saja Karak Gendar. Ah, sarapan yang manis di Solo, ingin kuulangi lagi suatu hari nanti.
Pulang Kampung Day 13: Warung Kita, Jalan Honggowongso, SOLO
Foto2 dapat diakses di http://hannysanjs.multiply.com Warung ini sudah banyak yang mereview. Sudah berkali2 sangat pula terkenal dengan sizenya yang di luar batas kewajaran (istilahnya Acel: porsi biadab, istilah saya: porsi jumawa). Pak BW juga pernah secara khusus menyinggung masakan di sini yang namanya Goyang Lidah (masakan unik yang hanya ada di sini, campuran Lidah, Otak Sapi, dan bahan2 organik lainnya) dalam salah satu kolomnya di JS. Jangan pernah nekat kalau pesan makanan di sini. Apalagi pesan seorang satu masakan untuk di makan sendiri. Warung kita ini benar2 ber interior warung sederhana. Situasinya nampaknya selalu penuh. Meja2 penuh pengunjung dan turnovernya nampaknya tinggi. Seperti halnya pemandangan yang sangat umum di warung2 kecil di Jawa, maka kadang2 meja untuk bahan2 baku kadang2 ada pula berdampingan dengan meja pelanggan. Di meja paling belakang terhampar mie kuning untuk stok masakan mienya dalam 3 tray besar. Besar di sini artinya tidak main2, tapi benar2 besaaaarrrr. Tumpukan caysim juga ada. Di meja sisi jalan, salah seorang karyawan dengan sigap dan tangkas membuat sosis solo, semacam dadar gulung khas solo yang rasanya agak asin, dipadukan dengan isian minced beef dengan tarikan manis. Suatu penganan pembuka yang tasty, savoury, manis dan asin, yang mungkin bisa disandingkan dengan Cha Gio kalau di Restoran Vietnam. Bedanya kalau Cha Gio dimakan dengan dibalut Iceberg Lettuce dan dippingnya Nuoc Mam (Fish Sauce) yang rasanya manis-sedikit asam, maka Sosis Solo di makan dengan Cabe Rawit saja, karena dianggap semacam gorengan, tak jauh beda dengan Tahu Susur (Tahu isi sayur), Tahu/Tempe Bacem, dsb. Warung Kita ini adalah rumah makan yang mengusung masakan Tionghoa dengan pengaruh Tionghoa ala Solo. Dapat diterima masyarakat Jawa pada umumnya, sehingga mungkin bisa disebut juga masakan Chinese Jawa. Tak jauh berbeda dengan aliran Semarang, di Warung ini juga memasukkan unsur potongan2 Kekian ke dalam banyak masakannya sebagai lauk selain penggunaan plain meat beruap daging ayam dan sapi ataupun aneka seafood, dan didominasi dengan rasa manis yang diperoleh dengan penggunaan kecap manis ataupun saus tomat. Malam itu kami memesan menu standar, back-to-basic, karena kami sangat ingin mengetahui seperti apakah Bakmi Goreng, Cap Jae Goreng, Cap Jae Godhog unggulan ala Tionghoa Food - Solo. Lalu kami memesan juga Rollade Sapi. Cap Jae adalah pelafalan terhadap Cap Cay. Lidah Jawa yang terlalu banyak minum gula dan menelan kecap manis membuat lidah orang Jawa medhok dan menyebutnya Cap jae atau bahkan Cap je. Di Tegal lain lagi, Tegalensis menyebutnya Jap Cae (lho kok jadi masakan Korea, soun goreng hehehe...) Bakmi Gorengnya datang dengan porsi yang benar2 jumawa. Piring lebar diameter sekitar 25cm dipenuhi masakan dengan ketinggian sekitar 15-20cm. Bagi yang mengidap kelainan jantung disarankan tidak kemari. Capjae Gorengnya datang juga dengan ukuran piring yang tak jauh berbeda. Muncul dengan saus merah yang sama banget stylenya dengan Capjae Goreng Semarang. Capjae Godhognya benar2 menjadi pamungkas keterhenyakan malam itu karena porsinya benar2 di luar batas2 kemanusiaan. Mangkok saji yang demikian besar dan dalam, yang biasanya digunakan untuk acara2 di pernikahan. Dipakai apik dan terasa serasi penggunaannya di warung ini untuk menghidangkan Capjae Godhognya. Sekali lagi awas bagi penderita penyakit jantung sebaiknya tidak menyaksikan adegan ini =)) Rollade Daging datang dengan saus tomat berwarna merah yang kental, mengiringi 4 potong rollade daging yang cukup tebal dan aneka potongan wortel, kentang, buncis dan selada. Untuk rasa, Bakmi gorengnya kualitasnya cukup bagus. Keseimbangan rasa manis dengan asin cukup terjaga. Efek smoky keluar karena Bakmi digoreng dengan tingkat kematangan yang pas. Bakminya tipis dan pipih (http://poison.multiply.com). Walaupun saya menduga pemakaian MSG di sini cukup liberal. Kekiannya dipotong dengan tanpa memperhitungkan estetika saa sekali dalam arti yang positif (dipotong besar dan tebal :)). Rasa2nya rumah makan ini memang cocok ditujukan bagi keluarga yang sudah 3 hari tidak makan. Saus tomat di Capjay goreng dan Rollade bagi saya terlalu "tebal" dan kental. Nuansa manisnya sangat keterlaluan. Tapi untuk lidah orang Solo mungkin masih dalam tataran kewajaran. Antrian pembeli sangat panjang. Baik yang makan di tempat (dine in), maupun makan tanpa tempat (take away). Konsep Open Kitchen diterapkan di sini. Semua pembeli dapat menyaksikan sendiri para chefnya memasak dengan wajan2 besar di pintu masuk. Maupun asisten chef yang dengan lincah menyiapkan bahan2 untuk setiap masakan dalam piring2 bahan. Nah di pintu masuk saja kita bisa menyaksikan bahan mentah sebelum dimasak yang demikian jumawa di piring2 persiapan! (silakan lihat gambar) Saat pulang setelah membayar, ternyata harganya di sini sangat amat bersahabat. Rata2 masakan hanya dibandrol sekitar`15-20K saja. Untuk ukuran yang sedemikian besar, nampaknya RM ini bisa dibilang value for money. Kaget yang kedua adalah adanya becak yang diparkir di pintu masuk, dan ternyata berfungsi sebagai traficker yang mengirimkan stok2 logistik dari front-end ke back-endnya. Di atas becak itu, terdapat pemandangan yang membuatku sampai sekarang masih terkenang-kenang, yaitu beberapa tumpuk lonjoran Kekian hingga becaknya penuh, terbuai di bawah sinaran rembulan malam... benar2 Kekian Alfresco...
Crispy Asparagus Soldiers
Pictures: http://hannysanjs.multiply.com Stealing this recipe from one of Jamie Oliver's book. Pancetta or Prosciutto is highly recommended instead of mid bacon since the first two is used to be thinner than the last one. Very tempting, energizing, and quick to serve. Cook this dish as a starter, light snack or just a simple finger food. Even it can be used for a brekkie. What you need: * Medium Asparagus stalks, remove the woody ends *keep the woodpecker on* * Couple of thinly slices Pancetta/Prosciutto (I am not recommending using Bacon - such in these pictures) * Olive oil How to cook: * Preheat the oven to 220C. * Wrap the asparagus stalk with pancetta/prosciutto. * Drizzle with olive oil * Roast in the preheated oven aroun 10-15 minutes, check occasionally, until pancetta is silent (silent is golden kan?) and looks crispy enough to fulfill your taste