“Aku itu orang yang selalu pake topeng kemanapun aku pergi. Aku bisa jadi aku yang lain dimana aku bisa jadi orang yang berbeda dari aku yang sebenernya” -kata si Mbak sebelah kamar yang sukses bikin aku mikir berkali-kali karena ngerasa kaya ada yang nggak srek di kalimat itu
Hari itu malam Jum’at, ntah Kliwon, ntah Pon, ntah Legi, ntah Wage, serem. Gak kok sebenernya nggak serem. Jadi, malam Jum’at (23/04/15) teranggap sebagai malam bebas tugas dan akhirnya mengusung niat buat baca buku Perkembangan yang dilanjutin sama nonton film. Fix, nyetting schedule selesai. Eh baru baca satu halaman, si Mbak sebelah kamar ngajak ngobrol yang awalnya ntah ngobrolin apa. Perlu diketahui cara kita berkomunikasi selama ini adalah via wall-to-wall, mirip facebook, tapi yang ini wall (dinding) beneran.
Pembicaraan kita (yang beneran) dimulai dari pencarian Tuhan, agak berat sih, berlanjut kepada (aku) yang bahasa lebaynya kehilangan identitas. Bukan KTP / SIM. Ok. Abis itu ngomongin background seorang “Alda” dan seorang “Mbak sebelah kamar kost Alda”. Ok, well mbak ini backgroundnya adalah anak sasindo UNS yang kalo ngomong puitis banget. Kita sama-sama klop banget kalo cerita. Kata dia energi aku sama dia sama-sama kuat. Skip.
Selama kuliah ini emang aku ngerasa kayak kehilangan suatu identitas yang dulunya melekat banget di aku selama SMA. Aku yang bertingkah sebagai anak cerewet, anak yang suka main, anak yang kadang bertingkah sebagai pemimpin, dan banyak lagi yang bikin aku sendiri ngebenerin fakta bahwa SMA adalah masa-masa terindah. Kebalikannya, sekarang aku lebih sering mengambil inisiatif untuk diam daripada memberikan suatu pernyataan, saran, atau apapun itu, lebih menyukai pembicaraan person-to-person, spending much time for doing me time, dan masih banyak lagi lah. Aku sadar seorang “aku” yang ada di SMA, bukan “aku” saat ini. Dari situ mulai ada kegalauan tentang ‘aku itu sebenarnya siapa’. Dan well, pertanyaan terbesar adalah ‘apakah aku telat puber?’ -_-
Setelah dapet materi-materi perkembangan, kepribadian, blablabla, aku mengambil kesimpulan bahwa aku adalah anak dengan latar belakang introversi yang sangat tinggi, yang kehidupannya direkayasa oleh orangtuaku menjadi anak yang (harus) tumbuh dengan sikap ekstrovert. Ini sebenernya suatu hal yang baik sih menurutku. Kalaupun aku nanti jadi orangtua dan menemui kasus bahwa anakku bersifat introvert, aku juga bakal mengkondisikan bagaimana caranya anak tersebut tumbuh untuk (tidak) menjadi introvert, walaupun tidak ada manusia satupun yang benar-benar introvert / ekstrovert. Tapi hal ini cukup mengganggu juga sih, since aku mulai merasa hidup bukan dengan diri aku lagi dan ingin mengembalikan sosok “aku” yang dulu.
Balik ke mbak sebelah kamar. Dia dengerin semua ceritaku dan mulai ngerasa tertarik. Dia bilang “Ceritamu itu nggak jauh beda sama aku”. Setelah cerita banyak dia bilang kalau aku bukan seperti yang ia tebak pas awal ketemu. Dia tanya tentang apakah aku melakukan hal itu di setiap kali pertemuan walaupun bukan dengan dia. Dia mulai menceritakan tentang “topeng-topengnya” lagi. Dengan kesok-tahuan seorang aku, aku jawab “Mbak, kayaknya kok aku lebih setuju memandang “topeng-topeng”mu itu suatu peran yang kita ambil di setiap kondisinya. Setiap orang pasti ingin membuat kesan ideal di awal kali pertemuannya agar bisa diterima oleh lingkungan. Ada peran dimana aku menjadi seorang mahasiswa, menjadi seorang anak, menjadi seorang pendengar, menjadi orang-orang lain yang harus aku bedakan caraku untuk melakukan peran-peran tersebut. Mbak, aku selalu mengambil peran yang berbeda-beda disetiap situasinya ntah itu baik apa buruk, tapi aku sendiri nggak merasa bahwa itu adalah hal yang mengganggu buat aku”
Dia cuma bilang, “Dek, kamu itu bunglon”. Aku kaget. Nggak sih, cuma agak kaget. “Dengan kebunglonan kamu, kamu seharusnya bisa mengatasi krisis identitas yang bisa aku bilang kamu ‘buat-buat’ sendiri. Berperanlah sebagaimana kamu seharusnya berperan”. Aku kicep.
“Dek, harimau itu memang kuat, tapi kamu tau siapa yang selalu menang?”. Aku diem bingung. “Bunglon” (Ima, 2015)