Tentang Bapak, Ibu, dan Cara Cinta Menyambut Kematian
Ibuku meninggal lebih dulu.
Dan sejak hari itu, bapakku tidak pernah benar-benar kembali menjadi orang yang sama.
Aku baru paham sekarang, betapa besar cinta mereka, cinta yang tidak banyak bicara, tapi bertahan seumur hidup. Sejak ibu pergi, bapak sering berkata ingin dimakamkan di samping ibu. Waktu itu aku mengira itu hanya ungkapan duka. Sekarang aku tahu: itu adalah niat pulang.
Setelah ibu meninggal, kesehatan bapak perlahan menurun. Gagal jantung mulai terdiagnosis, stroke datang berulang, tubuhnya melemah. Kaki dan tangannya membengkak. Ia semakin sulit diajak bicara, semakin jauh dari sosok bapak yang dulu logis dan kuat. Dokter mengatakan ini kondisi yang harus dibawa seumur hidup, tidak ada obat untuk menyembuhkan, hanya untuk menahan.
Kami bukan anak-anak yang ideal.
Aku tinggal jauh di Jepang. Kakakku di Indonesia sudah berkeluarga. Adikku merantau untuk bekerja. Bapak tinggal sendiri di rumah. Kami tidak bisa hadir setiap hari, tapi kami tidak meninggalkannya. Kami memastikan ada makan, ada pembantu, ada perawatan medis, dan rawat inap saat dibutuhkan. Kami hadir dengan cara yang kami mampu.
Namun ada kehilangan yang tidak bisa disembuhkan oleh kehadiran anak-anak.
Kami mencoba memberi semangat. Kami bilang bapak harus sehat agar bisa bertemu cucunya kelak. Aku bahkan sudah membeli tiket pulang, berencana pulang bulan Maret untuk menjenguk bapak bersama anakku, Yui. Tapi bapak selalu berkata hal yang sama: ia ingin cepat mati. Ia ingin bertemu ibu. Ia berkata kami tidak mengerti seberapa besar cintanya pada ibu.
Awalnya itu menyakitkan.
Sebagai anak, dan sebagai ibu dari seorang anak kecil, aku berharap kehadiran cucu bisa menjadi alasan untuk bertahan. Aku berharap Yui bisa memberi cahaya baru. Tapi perlahan aku mengerti: Yui bukan obat untuk kehilangan ibu. Anak dan cucu adalah cinta, tapi pasangan hidup adalah rumah. Dan rumah bapak telah pergi lebih dulu.
Bapak sempat mencoba mencari pengalih: teman, urusan bisnis. Tapi itu semua tidak mengembalikan bapak yang dulu. Ia bahkan sempat ditipu orang-orang di sekitarnya. Ia tidur di sofa selama bertahun-tahun, menolak kembali ke kamar yang dulu ia tempati bersama ibu. Seolah tubuhnya masih hidup, tapi batinnya sudah menunggu.
Kini aku paham.
Bapak tidak menyerah pada hidup. Ia sedang menyambut kematian dengan rindu. Yang ia tunggu bukan kami, bukan karena kami kurang, tetapi karena yang ia rindukan ada di tempat lain.
Aku berharap, saat bapak berada di ambang akhir hidupnya, ibu ada di sampingnya. Karena meskipun kami berdiri di sana, yang bapak cari hanyalah ibu. Dan jika benar demikian, aku percaya bapak tidak pergi dengan perih, tapi dengan rindu.
Menerima ini memberiku ketenangan.
Bukan karena aku tidak sedih, tapi karena aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Kami bukan anak-anak yang sempurna, tapi kami mencintai dengan cara yang nyata. Dan bapak mencintai ibu dengan cara yang utuh..sampai akhir.
Bapak meninggal pada hari Senin, 2 Februari 2026, tepat 1 bulan sebelum aku pulang ke Indonesia. Menyakitkan tapi mungkin bapak sudah terlalu rindu pada Ibu. Bapak meninggal karena gagal jantung yang memang sudah menjadi diagnosis terakhir bapak setelah pulang rawat inap berturut turut di rumah sakit. Bapak meninggal di panti jompo, pukul 11.30 dibantu dan didampingi penjaga bapak disana. Setelah sebelumnya pada pukul 10.00 sudah kesulitan bernapas, dan memanggil dokter jaga disekitar sana untuk memeriksa..tapi tidak membaik dan malah semakin buruk, pihak panti berencana membawa bapak ke IGD, tapi bapak sudah lebih dahulu berpulang. Kami sengaja menitipkan bapak di panti sejak desember tahun lalu, karena bapak sudah tidak dapat hidup sendiri.. membiarkannya hidup sendiri di rumah sama saja menelantarkannya. Bapak sudah butuh penjaga 24 jam dan teman serta aktivitas di panti kami harap bisa memberi hari-hari bapak berwarna sesaat sebelum bapak meninggal. Semuanya terasa begitu sempurna setelah bapak kami titipkan di panti, bapak terurus dengan baik, kami juga bisa lebih tenang karena tahu ada yang menjaga bapak. Aku harap sudah menjadi awal yang baru, untuk aku dan anak anak bapak menjenguk bapak secara periodik ke panti, tapi ternyata bapak memilih untuk pulang terlebih dahulu. Pada ibu, yang selalu ia rindukan. Bapak dimakamkan di dekat makam ibu, sesuai pesan bapak. Di pemakaman banjaran, Kab. bandung.
Ini bukan cerita tentang ditinggalkan.
Ini cerita tentang cinta yang selesai dengan sendirinya.











