Assalamu'alaikum mas herri. Maaf bang, mau tanya. Gimana cara menghadapi atasan yg toxic, serba ngandelin, suka marah-marah kalo ada yg ga lancar, pengen menang sendiri, terlalu defensif (selalu membela dan membenarkan dirinya sendiri)? Saya lelah bang, sudah terlalu sering beliau menyalahkan orang lain dan keadaan tanpa evaluasi diri yg entah dengan bicara baik-baik pun sulit diatasi. Beliau tidak mau tau dan memahami bagaimana bawahannya berupaya maksimal menyelesaikan pekerjaannya. Mengapresiasi pekerjaan bawahan ya sekedarnya saja, kalo lembur dan melebihi jam kerja tidak ada uang lembur. Saya ingin resign tapi susah bang, karena saya bagian tim inti. Jadi gimana pendapat mas herri? Makasih sebelumnya 🙏🏻
Maaf baru bales ya, pertanyaan Agustus 2023. Semoga kamu sudah bisa mengatasi persoalan ini dengan baik dan hasil terbaik. Tapi, saya izin bantu jawab POV saya ya.
Sebelumnya saya salut sama kamu atau orang-orang sepertimu yang bisa sabar menghadapi persoalan seperti ini. Kalau tipe saya yang lebih memilih kesehatan mental sendiri, pasti sudah resign lama. Tipe yang sudah kebanyakan problem hidup dan ga mau ditambah lagi.
Tapi, cara lain dari tipe saya yang bijak adalah: pertama, pilihan kamu untuk tetap karena punya posisi penting di situ sudah benar selama kamu mendapatkan imbalan atau upah yang sesuai. Soal lembur ini memang krusial dan kadang kita dieksploitasi. Misalnya, dulu selama kerja di media televisi, saya sering pulang malam dan tidak ada uang lembur. Tempat kerja setelahnya juga tidak ada uang lembur hanya ada makan malam pengganti. Saya tidak merasa keberatan, jadi bukan masalah besar buat saya. Intinya selama kamu bisa menerima keadaan itu, pilihan untuk tetap bekerja itu mungkin sudah tepat.
Kedua, sifat-sifat atasan yang begitu memang sudah jadi problematika umum. Selama tidak masuk ke pem-bully-an, menyentuh fisik, atau merusak kesehatan mental kamu, anggap saja angin lalu. Kamu dengarkan di telinga, tapi kamu lepaskan dari hati. Biasanya, karyawan senior paling jago dalam hal ini. Saya perhatikan, ketika karyawan senior mendapatkan omelan dari bos mereka, keluar dari ruang kantor dia langsung hihi-haha. Seperti tidak terjadi apa-apa. Ternyata jawabannya ya itu, dia bisa mengendalikan emosi dan anggap kentut saja: baunya sebentar, nanti juga hilang.
Jadi, selama kamu masih bisa mengendalikan yang pertama dan kedua, lanjut saja. Tapi, kalau kamu menganggap kentut itu kelewatan dan terhirup sampai ulu hati, waduh, rasanya memang sesak itu dan pasti terbayang berhari-hari, bahkan bikin trauma. Pergi saja dari situ secepatnya. Tentu dengan pilihan dan konsekuensi rasional yang bisa kamu kendalikan, ya.