Ketakutanku saat ini adalah
Bagaimana jika aku yang menyebutkan namanya dalam sholat malamku nyatanya bukanlah namaku yang ada dalam sholat malamnya. Aku yang meminta pada Allah untuk bersamanya menuju jannah nyatanya bukan aku yang ia pinta untuk berjalan bersamanya menuju jannah.
Jika memang bukan aku maka seperti apakah caraku untuk ikhlas menerimanya. Aku merasa sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit dan bangun untuk memulai dari awal lagi.
Seperti saat aku pertama mengenalnya dalam keadaan nol tanpa mengharapkan lebih dan berharap terlalu tinggi sampai akhirnya aku mengenalnya dengan keadaan yang paling baik di hadapanku hingga tidak ada celah untuk aku tidak bisa tidak menerima kekurangannya.
Tapi bagaimana dengan dirinya ?













