Semua rumah tangga punya ujian dan masalahnya masing-masing, baik itu masalah dengan pasangan sendiri, keluarga besar dan pihak luar yg menjadi pengganggu.
Hari ini aku lagi sedih, karna teringat kedua orang tuaku. Memang keluarga kami jauh dari kata harmonis. Ayah sering marah, dan ibu yang sangat luar biasa sabar. Keduanya menjadi cerminan dan mungkin sekaligus mendatangkan trauma tersendiri.
Ketika aku memiliki seorang ayah yg suka marah, walaupun aku tau bahwa beliau sangat mencintai anaknya dan ingin anaknya bahagia. Namun tetap saja melihat sosokny ayah marah membuat trauma dan rasa takut. Takut akan menjadi isteri seperti ibu. Takut jika anakku juga akan bernasib sepertiku.
Itulah yg aku alami saat ini.
Hari ini suamiku marah-marah tanpa sebab. Hanya karna tasnya dibawah dan aku tidak bisa angkat keatas. Hanya karna aku kecapek an dan Khalid diatas bersamaku. Aku awalny ingin mandi, karna capek dan gerah. Tapi karna anakku bersamaku di kamar atas, aku meminta suami utk naik dan membawanya atau menemani dia agar aku bisa mandi.
Namun suami ku jg mau mandi sore, tapi dengan air hangat. Dia memintaku untuk menyiapkan. Karena aku capek, aku meminta dia untuk menyiapkan sendiri dan mandi bersamaku. Khalid tolong dibawa ke bawah karna aku capek.
Namun setelah dia datang ke atas, tiba2 dia marah2 karna aku masih di kamar berbaring sejenak.
Khalid disuruhnya ke bawah, tapi tetap suasana sudah tidak nyaman dan panas.
Dia bertanya mana sabun2 yg dibawa dari RS, aku jawab ditas dan masih dibawah. Lalu dia kesal dan marah. Awalnya aku ingin mandi bersamany, naamun karena dia emosi, aku diam saja. Ditanya pun aku diam. Dia pun makin kesal dan membanting pintu kamar mandi.
Hari sudah senja, adzan pun berkumandang. Anakku dibawah bersama neneknya, dan dia mengantuk. Neneknya memanggilku ke bawah agar ditidurkan di dalam kamar. Namun dia terbangun dan tak jadi tidur.
Anakku yg sangat aktif mengambil semua benda yg menarik baginya. Salah satunya charger hp, dia tarik charger milik papinya. Aku berinisiatif agar charger itu tidak dimainkan, aku menyuruh anakku memberikan kepada ayahnya.
Namun sayang, ketika dia memberikan charger itu, ternyata kabel ujungnya ngangkut di pintu kamar.
Suamiku yg dari tadi emosi dan marah2, tiba berteriak kepada anakku dan memarahinya. Seketika anakku menangis keras, aku pun langsung menggendong lalu memeluknya. Berusaha mendiamkannya, namun aku juga ikut menangis.
Lalu aku teringat kepada sosok ayah yg dulu suka memarahiku. Entah apa yg ada dipikuranku saat ini, sampai saat menulis ini pun aku masih sedih dan tak henti menangis.
Aku tak ingin anakku sepertiku, akupun tak ingin menjadi seperti ibu yg sering dimarahi ayah. Walaupun bukan kekerasan fisik, namun secara mental, aku down.
Apakah aku salah merasa menjadi seperti ini?
Seketika aku berpikir untuk pergi dan meninggalkaan suamiku yg baru saja pulang dari rumah sakit sesudah di operasi.
Biarlah aku hidup dengan anakku saja. Biar anakku tumbuh tanpa ayah yg suka memarahinya. Biar aku hidup tanpa suami yg emosional.
Kejadian ini sudah kedua kali, dan aku sangat berpikir apakah rumah tangga ku akan berakhir seperti ibuku jika aku melanjutkannya.
Aku tidak mau bernasib sama seperti ibuku, dan aku juga tidak mau anakku meradakan hal yg sama sepertiku.
Apakah lebih baik aku hidup sendiri, tanpa suami dan ayah dari anakku. Ingin rasanya pergi saja, hidup sendiri, bebas dan membahagiakan diri. Entahlah, I feel so sad right now.
Dia pun mungkin tidak menyadarinya karna, tak ada kata maaf.
Akankah aku bertahan dengan menahan rasa sedih dan sakit hati karna perlakuan suamiku sore kemarin. Mungkin saja ini akan terulang kembali ketika aku memaafkannya. Namun jika hal itu terjadi, mungkin aku sangat tidak sanggup untuk menjalani rumah tangga ini lagi.