Kekasihku
Yang duduk diam
Di pinggir Jalan Sabang yang ramai orang lalu lalang
Dua wedang ronde di meja
Uap panas mengepul ketika tiba seorang penjual buku
Kuliat Tohari, Chairil, Pram, semuanya dalam tumpukan berplastik
“Tak ingin beli?”
Aku menggeleng. “Semua Tohari telah kubaca. Dengan Chairil dan Pram pun tak familier. Dan bukan buku yang kuinginkan sekarang.”
“Lalu apa?”
“Aku ingin bicara. Soal buku. Denganmu di sini.”
Hari ini tanggal satu, besok tanggal tiga. Jika dirasa ada kurang karena terhapusnya tanggal dua, tambahkan saja tiga puluh dua di akhir. Beres.
Tolonglah. Hapus tanggal dua. Untuk bulan ini saja, di tahun sekarang. S sedang tak ingin berulang tahun. Tanggal dua hari Minggu. Orang-orang tengah masyuk dalam rehat dari pekerjaan dan melupakan mereka yang berulang tahun di hari itu. Tinggalah ia sendirian di kamar ini.
Baginya berulang tahun sendirian adalah epitome kesepian yang paling lucu. Tak ada ucapan, tak ada doa-doa. S tak mengharap hadiah, hanya sekadar ucapan penanda kehadirannya diingat orang-orang.
Besok mungkin hanya ayah-ibu yang mengucapinya lewat pesan singkat, juga sobatnya jika dia ingat. Untuk sobatnya ini, S akan memaklumi. Bahkan ia tak butuh ucapan darinya karena tanpa itu pun sobatnya telah menjadi penanda dirinya eksis.
S ingin dirinya diingat orang-orang. Sering kali ia merasa eksistensinya seperti figuran tanpa nama dalam film. Tak banyak yang ia harapkan. Mungkin satu-dua ucapan sudah cukup. Ia ingin dilihat tak hanya oleh orang tua dan sobatnya.
Jam 09.30. Masih setengah hari menuju tanggal dua.
S sudah uring-uringan sejak seminggu lalu. Telah pula mencoba kabur. Gim, D. H. Lawrence, Tatsuro Yamashita. Tetapi begitu semua itu selesai, ia kembali lagi di ruang gelap ini. Kesepian dan tak berdaya.
Memang menyenangkan, seperti rasa riang di permukaan. Tak lebih.
Ia yang kesepian mulai mendapat seorang bicara padanya, juga mendengarkan. Kekosongan itu sementara terisi oleh kesenangan yang sungguh ringan. Ketika pulang, dirinya kembali kosong. Makanya jadilah seorang itu pelarian dari kekosongan.
Hanya itu.
Ia agak tak nyaman dengan posisinya yang ingin bermain-main dengan pengalaman baru ini. Curi-curi pandang, senyum berbeda, kilatan mata mengundang, coba menggoda. Ingin mencoba tetapi tak mau dianggap memancing, karena ini cuma main-main. Maka ia diam di kursinya dan hanya ikut tertawa.
Sadar betul akan kekosongan ini, ia terus mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlarut. Kesepian dapat menipu, tetapi ia sudah cukup bijak untuk tak terjebak di dalamnya.
Dia baik dan menyenangkan, katanya berulang-ulang. Hanya itu.
Ia semakin tak berani memancing ketika dilihatnya cara pandang mata itu dan lengkungan senyumnya sedikit berbeda. Seperti remaja yang sedang kasmaran.
Sial. Apakah ini nyata atau hanya kebiasaan lamanya yang suka meromantisir keadaan?
Ia semakin diam.
Jika ini Barat mungkin tak akan jadi masalah. Orang-orang biasa saling mengenal, menggoda, lalu bubar sebelum ada peresmian. Di sini engkau hanya akan menjadi bulan-bulanan.
Ia menatap mata itu, yang bersinar-sinar seperti anak kecil, dan senyumnya yang tampak percaya diri namun juga ada sedikit malu-malu. Hatinya bungah.
Mungkin... mungkin saja...
Tidak.
Yang diinginkannya hanyalah lari dari kekosongan. Ia tak peduli soal pribadi, gagasan, atau diskusi. Hanya solusi jangka pendek yang dapat membuatnya sejenak lupa, yang memberinya penghiburan dan mengingatkannya bahwa dirinya bisa juga disukai.
Benar ada rasa, tetapi murni seksual. Biarkanlah itu tetap sebagai fantasi karena ia tak mau seorang pun terluka. Mata dan senyum itu terlalu polos untuk mengalami penolakan.
Ia mundur perlahan, sembari berdoa semoga cepat lupa.
Kali pertama masturbasi dua belas tahun lalu. Masih bocah sekolah dasar. Kelas tiga atau empat. Saat akan tidur siang, mengempit guling di antara paha, lalu tiba-tiba mengalir rasa nikmat. Empat tahun sebelumnya, saat masih lebih bocah atau bahkan balita, kali pertama sadar soal seks.
Sebab sadarnya adalah film lokal di televisi. Ditemani ibu dan bibi menonton kisah seorang lelaki yang memelihara siluman kucing untuk mendapat kekayaan. Suatu hari, istri si lelaki masuk ke ruang ritusnya. Siluman kucing mengambil wujud pemiliknya, menipu si istri, menggodanya. Si istri yang tertipu berkata ya, lalu kamera mengarah ke wajahnya.
Ada sesuatu yang terjadi di ruang ritus itu, pikirnya. Si istri megap-megap, sembari merem melek. Entah apa yang terjadi, kamera hanya menyorot wajah si istri. Tetapi jelas sesuatu itu nikmat.
Sesuatu itu terus terngiang-ngiang di kepala. Karena tak tahu jelas apa yang terjadi, bayangannya hanya sebatas pelukan dan ciuman di kening. Hanya itu yang sanggup dibayangkan bocah empat tahun.
Fantasi berkembang dari satu film ke film lain, satu sosok ke sosok lain, tahun demi tahun, hingga mencoba tidur siang dengan guling di antara paha. Ada sensasi meledak di sana. Tak tahu apa dan bagaimana. Badannya merasa nikmat, tetapi batinnya merasa berdosa. Entah apa yang terjadi tetapi rasanya salah dan memalukan.
Sebelas tahun terombang-ambing dalam rantai candu orgasme dan malu-bersalah. Tiap orgasme diakhirinya dengan doa pertobatan dan janji sembah pada Gusti, tetapi esoknya ia sentuh dirinya lagi. Orgasme, bertobat, orgasme lagi, bertobat lagi. Tuhan akan menghukum orgasmeku dengan kemandulan, katanya pada diri sendiri.
Kini ia telah membebaskan diri dari malu-bersalah. Klitoris dan segala sarafnya diciptakan untuk merasa. Badai hormonal di otak saat orgasme terjadi karena Tuhan mengijinkan.
Tuhan menginginkan makhluknya untuk orgasme, katanya pada diri sendiri.
Ia berbaring. Lubrikan di tangan kiri, vibrator di tangan kanan. Fantasi dibiarkan mengalir. Kali ini di kamar hotel dengan sosok yang tak jelas. Lelaki dan wanita. Di atas tempat tidur. Aneh membayangkan yang tak dikenal, jadi fantasi itu berganti begitu saja.
Z muncul di pikiran. Ia menimbang-nimbang, lalu membiarkan memori soal mimpi seks dengan Z mengalir.
Fantasi itu berakhir dengan orgasme. Ia tak lagi berdoa mohon ampun karena percaya orgasmenya telah Tuhan restui (selain itu neraka-surga tak lagi dipercayai).
Pascaorgasme hanya berbaring menatap langit-langit. Napas perlahan-lahan teratur. Otak kembali jernih. Kemudian kesepian merangkak naik.
Kini badannya beku. Hampa. Seperti ada lubang hitam menganga di dada, menghisap seluruh kepercayaan diri yang tersisa. Tiba-tiba badai emosional menerjang. Dadanya sesak padahal kosong. Badan menggigil padahal cuaca panas.
Ia mendengar dirinya berkata keras-keras, semua itu hanya fantasi!
Peluk, kecup, cium, semua sentuhannya tak nyata dan tak akan mungkin nyata. Selamanya aku akan begini. Orgasme sendirian di malam sepi gelap.
Ia menangis.
(Inspired and triggered by Nymphomaniac Vol. I dir. Lars von Trier)
S berusaha mendapatkan konfirmasi dari Z soal rencana mereka yang menggantung setelah A batal datang. S tahu pasti A tidak akan bisa datang beserta musababnya. Z tidak tahu. S ingin memberitahu tetapi tak ingin bicara seolah-olah mewakili A. Jadi S hanya bilang: A pasti tidak bisa datang.
Z ingin menunggu A.
S kembali membaca pesannya dan yakin telah menulis A tidak bisa datang. Z mungkin ingin menunggu jawaban langsung dari A atau sebenarnya ingin membatalkan rencana karena tak mau berdua dengan S tapi segan jujur.
Kemungkinannya 50-50.
Mungkin Z tak mau berdua dengan S.
(Atau mungkin dia memang ingin menunggu A).
Mungkin Z takut dengan S.
(Hei, mungkin dia tak enak langsung memutuskan).
Mungkin Z segan karena S sungguh-sungguh orang yang tak menyenangkan diajak jalan berdua, membosankan, menakutkan, dan canggung.
(Heiiiiiiii).
S sungguh suka Z.
Kini ia benci.
Atau sesungguhnya S benci diri sendiri.
S duduk di kafetaria sendirian, makan kentang goreng ditemani segelas kola sambil marah hati. Sungguh kekanakan memang, S ini. Ada banyak orang lain. Ada banyak kesempatan lain. Mati satu tumbuh seribu.
Tetapi S tak suka membuka diri. Tak ada yang tahu S benar-benar. Pula S tak tahu dan tak mau tahu orang-orang benar-benar. Baru kali ini S ingin tahu dan coba cari tahu. Tetapi tak pernah berhasil.
(Mati satu tumbuh seribu? Omong kosong!).
S memasukkan sisa kentang goreng ke tas, yang pasti akan membusuk di situ karena lupa dimakan. Sisa kola dibuang. S benci kola. Mengapa ia beli?
Baru tiga puluh menit S di pusat kota, tetapi sudah tak betah. Kusut pikir dan perasaannya.
Merasa pengap di kafetaria, S keluar dan duduk-duduk di trotoar. Mobil-mobil dan motor-motor saling klakson. Debu berhamburan di udara. Untung S pakai masker tebal.
Sungguh tak nyaman duduk di trotoar. Suara-suara berisik, jalanan penuh. Di luar maupun di dalam sama-sama sumpek rupanya. Pemandangan statis, tetapi S rasa ada yang berubah. Marahnya menjelma frustrasi, frustrasi menjelma sedih, sedih menjelma benci.
Benar S benci dirinya. Bawah sadarnya menciptakan marah untuk membodohi atas sadarnya. Dalam sekejap S melankolis.
Perubahan drastis dan dramatis macam ini tak asing bagi S, tetapi hingga kini belum bisa diatasinya. S tiba-tiba ingin pulang. Ia ke stasiun untuk ambil kereta ke barat.
Di perjalanan, S memikirkan rentetan kejadian hari ini.
Bodoh benar ia mengikuti impulsnya. Seharusnya S bisa lebih logis. Tolol betul kau, S! Kau bodoh, tak bisa berpikir jernih, kesepian, dan Z tak mau berdua dengan kau!
S ingin menangis.
S sudah menangis. Air matanya merembes lewat sudut-sudut mata. Ia melirik kiri-kanan. Tak ada yang melihat. Terpujilah Tuhan.
Lelah sekali berubah-ubah seperti ini. S tak tahu kenapa atau bagaimana. Mungkin psikiater tahu.
Itu ide yang bagus, pikir S semangat. Pikirannya meloncat. Drastis dan dramatis.
Kira-kira beginilah alur penerbitan berita di situs penerimaan.com.
Konsep berita dibuat terlebih dahulu oleh penulis, kemudian dimasukkan ke laman administrator situs. Tulisan tersebut tidak langsung diterbitkan, tetapi harus melalui proses moderasi dulu. Proses ini dilakukan dua kali. Yang pertama oleh moderator lokal, baru kemudian naik ke moderator pusat.
Umumnya proses moderasi lokal memakan waktu sehari atau hanya beberapa menit jika punya nomor ponsel si moderator. Yang melelahkan adalah menunggu moderasi dari pusat. Jika sedang beruntung hanya satu-dua hari. Jika sedang sial dalam dua minggu pun berita tersangkut di administrator.
Proses moderasi ini sangat tidak efektif, pikir S. Dari total sebelas berita yang ia buat, dua masih menyangkut di pusat, delapan lolos moderasi tetapi hanya mengendap di laman administrator karena keburu basi, dan hanya satu yang diterbitkan dan nongkrong di laman muka penerimaan.com.
Pekerjaan menulis ini memang hanya sampingan S sebagai penata usaha di PT Penerimaan, pun ia menjalaninya dengan setengah terpaksa karena merasa tak pernah bisa menulis berita, tetapi toh ia tetap melakukannya dan bangga dengan setiap tulisannya.
S tahu PT Penerimaan hanya kantor yang melayani penerimaan dan penulisan berita bukan fokus utama mereka, tetapi kehumasan penting bila ingin membangun citra. Tak ada orang yang membaca berita soal sesuatu yang terjadi dua minggu lalu, kecuali berita itu sangat menggemparkan.
S ingin tahu apa yang terjadi di kantor pusat (kantornya sekarang hanyalah kantor cabang), apa yang dilakukan orang-orang di sana hingga mereka begitu sibuk dan tak sempat membaca berita yang isinya hanya tiga-empat paragraf. Mungkin bagian kehumasan punya urusan selain mengurus situs. Mungkin ada banyak kantor cabang lain yang mengirim berita sehingga butuh waktu untuk memoderasi seluruhnya.
S ingin melanjutkan pemikirannya, tetapi ia hampir melanggar janjinya sendiri untuk tidak sarkastik. Ia menyimpan tulisannya, memuatnya di blog pribadi, menamainya corat-coret tidak penting. Tentu ia sudah menyensor banyak bagian.
Tulisan itu termuat di blognya. Ia membacanya baik-baik, mengangguk-angguk, lalu menyipitkan mata ketika membaca tulisan lain yang dimuat sembilan bulan lalu.
Aku merangkak naik. Kau di bawahku. Kutatap bola matamu, lalu kuberalih ke bibirmu. Kurengkuh bibir itu dalam-dalam. Aku berhenti sejenak untuk menghirup aroma yang menguar dari tubuhmu. Darahku berdesir.
Tiba-tiba kau raih bibirku dan mengecupnya pelan. Kurengkuh lehermu dalam kedua lenganku untuk memperdalam ciuman itu. Sayang, janganlah engkau bermain di permukaan. Kau tahu aku butuh sesuatu yang lebih dalam.
Bibirmu di bibirku. Tanganmu di pinggangku. Lenganku di lehermu. (Dan haruskah kutuliskan juga lidahmu di lidahku karena itu nakal sekali kedengarannya).
Tanganku menyelinap ke bawah kaus abu-abumu dan menyeka sedikit bulir keringat di sana. Kuraba-raba sembari mengingat-ingat: inilah perut lelaki. Lalu tanganku beranja ke atas dan kupelajari sesuatu: inilah dada lelaki.
Ciuman kita terlepas. Kau menatapku, sedikit heran. Tetapi aku hanya tersenyum dan kudekatkan wajahku untuk kembali menciummu. Kecup mengecup yang diselingi curi-curi napas. Kuraba kembali perutmu yang kembang kempis.
Kurasakan tanganmu menyelinap ke bawah kaus merah jambuku, lalu meremas pinggangku. Sensasinya membuatku terlonjak dan sejenak ciuman kita terlepas. Bibirmu beralih ke leherku, lalu turun ke bahu, sementara tanganmu bergerak ke atas. Coba-coba menggoda sepasang buah di sana sebelum akhirnya menangkupkan seluruhnya dengan kedua tanganmu.
Secangkir kopi susu yang nikmat
Alunan saksofon dan bass
Lagu Jazz yang menyentuh jiwa
Cahaya kuning menghangatkan
Pena di genggaman, kertas di hadapan
“I’m not saying that I regret the past.
And I’m not saying that we’re gonna last.
I’m not saying that this is one time fling.
And I’m definitely not saying that this is gonna be a forever thing,
I’m just saying. Oh, I’m just saying.
I need to see you again.”
Rasa menggebu dan menyesakkan
Juga hampa, semua tenggelam
(sembari menanti Tegal Bahari. 19.16 Nomer 9)
Jangan kau pandangi cahaya jingga kekuningan itu, Nak. Kau akan terjebak dalam masa lalu dan tak bisa lepas darinya.
Jangan kau kagumi pancaran kehangatan langit di ufuk barat itu, Nak. Sesungguhnya hangat itu hanyalah sementara dan membawa dingin malam.
Janganlah kau diam dan hanyut dalam nostalgia, Nak. Kenangan akan membuatmu berjalan mundur dan lukamu akan kembali terbuka.
Masuklah ke dalam rumah, Nak. Kita lihat cahaya itu bersama-sama dan akan kuajari kau makna sesungguhnya langit barat yang mengagumkan itu.
Percayalah kataku, Nak. Langit tidak menyimpan kenangan dan tidak membawa nostalgia. Semuanya ada dalam kepalamu dan akan selalu begitu jika engkau tidak menyadarinya.
Dengarkan aku, Nak. Senja sesungguhnya mengingatkan kita bahwa hari adalah siklus dan begitu pun hidup kita.
Ingatlah nasihatku, Nak. Siklus berjalan sesuka hati dan kita tak punya kuasa atasnya. Langit berubah, begitu juga kita dan orang-orang.
Aku kenal dengan seorang yang ingin selalu berbahagia. Dia berkata bahwa suatu hari nanti dia ingin merasa bahagia. Itu adalah keinginan yang sangat indah, kataku. Tetapi mengapa engkau tidak berbahagia sekarang juga?
Dia menjawab. Tak ada yang membuatku bahagia saat ini. Hidupku penuh dengan kebosanan, hatiku sesak dengan kebencian atas diriku sendiri.
Kutanya mengapa dia membenci dirinya sendiri.
Dia tertawa kecil, terdiam, lalu mendengus pelan. Aku penuh dengan ketidaksempurnaan. Orang-orang berkata bahwa aku kecil dan lemah. Dan aneh. Padahal aku hanya suka bertanya.
Ada alasan lain, kataku. Dirimu jauh lebih dalam daripada itu.
Dia tersenyum. Kurasa memang ada.
Ceritakan padaku.
Dia terdiam selama sepuluh detik.
Aku menatapnya. Engkau sedemikian benci pada dirimu sendiri hingga engkau tak bisa menjelaskan mengapa kebencian itu muncul.
Benar, sahutnya. Kau benar. Bagaimana kau bisa tahu?
Aku bicara lewat pengalaman.
Dia menatapku. Itu pasti sangat berat.
Memang berat, balasku sambil mengangguk setuju. Tetapi tidak seberat saat kau menyadari dan menghadapinya. Apa yang kau rasakan masihlah permulaan. Kau dapat mempercepat prosesmu dengan menghadapi semuanya, tetapi bukankah itu yang kau dan orang-orang takutkan?
Dia tertegun.
Kau bilang kau ingin bahagia, tetapi yang kau lakukan justru memperlama proses penyembuhanmu. Jadi, biar kutanya sekali lagi: apa yang sebenarnya kau inginkan?
Aku tidak tahu, katanya.
Kau bahkan takut untuk bertanya pada dirimu sendiri.
Dia tertawa. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa melakukannya. Menebak semuanya dengan jitu. Mungkin kau yang harus beritahu aku—mengapa hidupku bisa sebegini kompleks.
Kau menganggap dirimu tidak pantas berbahagia.
Mengapa aku berpikir begitu?
Itu pertanyaan yang bagus, balasku sambil tersenyum. Namun, aku tidak tahu jawabannya. Aku juga melakukannya, kau tahu? Begitu juga dengan hampir seluruh orang di muka bumi. Kita melakukannya, tetapi kita tidak tahu mengapa.
Dia menghela napas. Lantas apa yang harus aku lakukan?
Menerima.
Hm?
Menerima semuanya. Namun, untuk saat ini kau cukup mengetahui bahwa dirimu berpikir kau tidak pantas bahagia.
Hanya itu?
Terdengar mudah, bukan? Kenyataannya realisasi ini akan membuatmu terbakar. Jiwamu kosong, pikirmu melambat, jantungmu seperti ingin meledak. Kau ingin teriak, tetapi tak ada suara. Lantas tubuhmu lemas dan dalam kekosongan yang menyeruak kau berbisik aku menyerah. Perlahan api yang membakar tubuhmu padam dan kau terlahir kembali dalam keadaan suci.
Berapa lama aku harus terbakar?
Selama yang kau butuhkan untuk berdamai dengan dirimu sendiri. Aku terbakar selama beberapa bulan. Kau bisa lebih cepat, atau lebih lama.
Bagaimana aku bisa berdamai dengan diriku? Aku bahkan tak kenal diriku sendiri.
Lihat ke dalam dirimu. Adakah di sana anak kecil sedang menangis?
Cinta membutakan dan cinta pula yang menyakiti. Bukankah begitu, Nona?
Oh, cinta memang buta. Cinta harus buta. Jika cinta tidak buta, maka ia akan melihat kondisi-kondisi dan mulai memilih. Memilih membawa limitasi, limitasi membawa ilusi, dan ilusi membawa penderitaan.
Wahai Nona yang Bijaksana, apa cinta yang buta itu?
Cinta yang buta menawarkan pembebasan. Cinta yang buta tak tahu kemana arah anak panah yang dilepaskannya tertuju dan tak peduli jika anak panahnya tertancap tidak sempurna. Ia melepaskan anak panah cinta dan baginya itu sudah cukup.
Cinta yang buta adalah cinta tanpa rasa takut. Ia menawarkan dirinya seutuhnya, bulat, tanpa disertai pengharapan. Jikalaupun ia berharap, maka pengharapannya adalah supaya anak panahnya bebas melesat.
Nona, bagaimana caranya melepaskan anak panah tanpa takut akan arah angin?
Kau mengkhawatirkan arah angin. Kau takut kehabisan anak panah. Sebelum memikirkan hal-hal itu, tanyakanlah satu hal pada dirimu sendiri. Bagaimana dengan busur panahmu?
Cinta memiliki jiwa dan jiwa itu mewujud dalam busur panah. Busur panahmu tua, keropos, dan bahkan tak mampu melepaskan sepuluh anak panah secara beruntun. Mengapa tidak kau ganti busur panahmu jika ia sudah rusak? Mengapa kau tetap menggenggam sesuatu yang membuatmu kelelahan?
Rawat busur panahmu, maka jiwamu akan tetap lestari. Perbarui busur panahmu bila sudah terlalu rusak karena sesungguhnya memperbarui tidak berarti melupakan dan menggantikan tidak berarti mengabaikan.
Oh, Nona yang Bijaksana, aku tak ingin membuang busur lamaku karena bagiku itu sama dengan kematian.
Kau takut pada kematian meski sesungguhnya kau telah lama mati. Bercerminlah dan kau akan menemukan kedua matamu yang menggelap, yang tak secerah dulu dan selalu diliputi mendung kesedihan. Bukankah itu kematian bagi busur panahmu?
Jika begitu, maka hidupku sangatlah tragis. Busur panahku hancur dan aku tak lagi punya anak panah.
Kau tak perlu apa-apa untuk membuat busur panah baru selain busur lamamu. Busur lamamu yang hancur itu menyimpan retakan-retakan yang selama ini kau abaikan. Lihatlah retakan-retakan itu dan tanyakan pada dirimu sendiri mengapa busurmu retak. Pemahaman akan retakan-retakan itu akan mengendap dalam jiwamu dan perlahan mewujud menjadi busur panah baru. Bukankah sudah kukatakan tentang itu?
Oh, Nona, kau sungguh bijaksana. Aku bertanya padamu dan kau tak menampikku.
Tentu saja. Karena cinta memang buta, aku juga buta, dan kulepaskan anak panahku ke segala penjuru dunia.
Sesungguhnya aku tak punya niat untuk datang. Aku datang hanya untuk memenuhi undanganmu. Undangan pesta atas kelulusanmu dari Sekolah Kehidupan.
Aku memandangi sekelilingku. Soleram dan Soledad sedang bertengkar tentang musik yang ingin mereka putar. Enrique, yang bahunya sibuk menopang Carmella yang tertidur akibat menenggak vodka terlalu banyak, memandangi Luisa yang sedang menari (dan dari pandangannya, tampaknya dia lebih menyukai Luisa ketimbang kekasihnya sendiri). Jose dan Katarina larut dalam tarian mereka seolah pesta ini adalah pesta pernikahan mereka. Sisanya adalah orang-orang asing yang tak terlalu kupedulikan.
Ah... Apakah ini perlu? Apakah segala perayaan ini perlu?
Kutenggak minumanku yang hanya berupa es limun. Sengaja kupilih sesuatu yang akan membuatku tetap sadar. Aku tak ingin seperti Carmella yang membuat kekasihnya sadar bahwa tidurnya hanya pelampiasan belaka.
Jika dipikir-pikir, memang beginilah sifat manusia. Mereka begitu mendamba pengakuan dan tanpa sadar menumbuhkan ego mereka. Perayaan menjadi sesuatu yang sangat krusial bagi manusia dan mulai mendarah daging hingga menjadi bawaan genetis yang susah sekali dihilangkan, kecuali mungkin dengan mutasi buatan.
Bahkan ketika ada seseorang yang berhasil menyadari ilusi di balik semua ini dan lulus dari Sekolah Kehidupan, ia lantas mendamba suatu acara wisuda dimana ia akan dihadiahi gelar sebagai wisudawan terbaik tahun ini. Kemudian ia akan memberitahu seluruh orang bahwa ia lulus dengan nilai tertinggi.
Kuberi tahu saja, Sayang. Tak ada peringkat pertama di Sekolah Kehidupan. Engkau mungkin lulus lebih dahulu daripada mereka, tetapi tak berarti engkau menduduki peringkat pertama. Tak ada peringkat di Sekolah Kehidupan. Yang ada hanyalah Lulus dan Belum Lulus.
Tahukah kau sesungguhnya perayaan atas kelulusanmu justru membuatmu kembali tinggal kelas? Aku tak berkata bahwa kelulusanmu tak patut dirayakan. Segala sesuatu di dunia ini patut dirayakan, bahkan kematian sekalipun.
Sekali lagi kupandangi sekelilingku. Masih saja pemandangan yang sama. Konflik-konflik terpendam, hasrat yang berusaha dipadamkan, ketakutan luar biasa, hingga sindrom inferior kompleks.
Soledad tertawa girang setelah ia berhasil memutar musik favoritnya. Sementara Soleram, saudara kembarnya, menatap Soledad dengan tatapan penuh kebencian. Oh, ia tidak benci pada Soledad. Ia benci pada dirinya sendiri. Inferioritas memakan harga dirinya perlahan-lahan. Aku dapat melihat jiwanya sedang menangis.
Di sisi lain, Enrique tak henti-hentinya memandangi Luisa. Sesekali ia melirik Carmella yang mulai mendengkur pelan. Kejengahan terlihat di kedua matanya. Dan aku dapat melihat hatinya tengah mengajaknya untuk bermain api.
Lalu, Jose dan Katarina. Mereka masih larut dalam dansa mereka. Pasangan yang romantis, kata orang-orang. Tetapi yang kulihat hanyalah gumpalan ketakutan akan kesendirian. Dan mereka tidak sadar ketakutan itu mulai memakan rasa cinta mereka yang sesungguhnya. Mereka baru akan sadar ketika cinta itu telah habis, lalu mereka akan menangis pedih.
Aku menenggak es limunku untuk yang terakhir kali. Kumain-mainkan gelasnya hingga sisa-sisa es batu di dalamnya saling berbenturan dan mengeluarkan suara layaknya lonceng kecil. Lalu kulihat pantulan lampu yang memendar dari gelasku. Kudongakkan wajahku dan kutatap lampu-lampu di langit-langit.
Sekali lagi aku bertanya, apakah perayaan ini perlu? Engkau tak butuh orang lain untuk merayakan kelulusanmu. Cukuplah dengan memandangi lampu-lampu di langit-langit rumahmu yang berpendar seperti gugusan bintang di langit malam sambil tersenyum. Atau menikmati alunan musik jazz lembut yang diputar Soledad dengan mata tertutup. Atau menarik napas sambil menikmati setiap detik yang kaulalui.
Kepada langit yang tak henti-hentinya menangis? Kepada ulat dalam kepompong yang sedang merajut sayapnya? Atau kepada biji yang sedang menanti kelahirannya sendiri?
Apakah yang kutulis ini?
Oh, bukan sesuatu yang istimewa. Bukan pula sesuatu yang menarik. Dan kuyakin tak seorang pun peduli tentangnya.
Kertas yang kutulisi ini berwarna pucat dengan tepian yang sudah tak lagi rata. Kulipat kertas itu menjadi dua bagian. Lipatannya meninggalkan sisa seperti terkoyak. Terlalu lama kusimpan kertas itu dalam keadaan terlipat.
Kapankah akan kukirimkan surat ini?
Mungkin esok, lusa, atau tahun depan. Atau kukirimkan saja setelah kematianku sebagai suatu wasiat. Angin berkata keinginan orang mati lebih mudah terwujud. “Manusia lebih menghargai penyesalan ketimbang rasa terima kasih,” bisiknya lagi.
Bagaimanakah kukirimkah surat ini?
Menitipkannya kepada Pak Pos? Memasukkannya ke dalam botol lalu melarungnya ke laut? Atau melipatnya menjadi pesawat dan menerbangkannya ke awan?
Aku bimbang.
Mungkin suratku yang lusuh ini, yang tinta di atas kertasnya telah perlahan memudar, tak sebaiknya kuposkan. Karena siapakah yang sudi membacanya?
Surat ini penuh dengan pertanyaan, teori-teori yang menyimpang, hingga paragraf hitam tentang kematian. Aku telah menghapus sebagian besar percakapan manis dan intrik-intrik membosankan tentang kehidupan manusia, dan menggantinya dengan sesuatu yang provokatif, sesuatu yang membuat resah seseorang karena kuganggu tidur panjangnya.
Sekali lagi aku merasa bimbang.
Namun, tetap kuraih amplop putih polos itu. Kumasukkan suratku yang lusuh ini ke dalamnya dan kutempelkan sebuah perangko di sudut kanan atasnya. Kutuliskan nama seseorang dan tempat ia tinggal. Lalu kutitipkan surat itu kepada Pak Pos yang lewat depan rumahku.
Sekujur tubuhku terbakar dalam rindu yang tak berkesudahan. Panasnya begitu menyiksa, namun aku menikmatinya bagai seorang masokis. Aku bahkan memercikinya dengan sedikit minyak dan dalam sekejap aku meledak. Terbakar habis dalam rindu yang membara.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Mendengar peribahasa itu membuatku meringis. Beginikah takdir manusia? Harus bertahan dalam hadangan badai kesedihan sebelum ahirnya bisa menatap langit cerah penuh kebahagiaan?
Jika dipikir-pikir, siklus hidup manusia selalu sama. Lahir, tumbuh menjadi bayi, berjalan menuju kedewasaan, menua, lalu mati sebagai bangkai.
Tetapi aku ingin membuat siklus hidupku berbeda dari manusia-manusia lain. Aku akan lahir, tumbuh menjadi bayi, berjalan menuju kedewasaan, menjadi bayi kembali, lalu aku akan hidup selamanya dalam kebahagiaan.
Aku teringat perkataan seseorang—entah siapa—“Penderitaan akan selalu ada di dunia. Tetapi menderita adalah pilihan.”
Maka biarlah aku mengganti peribahasa di atas.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Mengapa harus bersakit-sakit dahulu dan tidak langsung bahagia saja sekalian?