Tidak ada bahagia yg kekal 🥀

Origami Around

oozey mess

pixel skylines
noise dept.

★
Show & Tell
Cosimo Galluzzi

tannertan36
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

祝日 / Permanent Vacation

No title available

@theartofmadeline
occasionally subtle
No title available
YOU ARE THE REASON

No title available
Today's Document
Keni

No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from United States

seen from Singapore
seen from Greece

seen from South Africa
seen from South Africa

seen from Germany
seen from South Africa
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@hujantengahari
Tidak ada bahagia yg kekal 🥀
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَLatin:Ulā'ika 'alā hudam mir-rabbihim wa ulā'ika humul-mufliḥūn.Artinya:"Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."Makna Singkat:Ayat ini menjelaskan tentang golongan orang-orang yang bertakwa. Mereka yang beriman dan mengamalkan ajaran agama (seperti mendirikan salat dan bersedekah) dipastikan berada di jalan yang benar dan dianugerahi keberuntungan, baik ketenangan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat
The reminder for myself
It's my 7 year anniversary on Tumblr 🥳
Thrity Six, alhamdulillah
**A Little Heart**
Sometimes I think I feel too quickly—
like I’m translating a language my own heart hasn’t fully learned yet.
A feeling I can’t quite name,
yet somehow can’t ignore.
All I know is this:
my world pauses—just for a moment—
as if time itself is holding its breath.
But my mind… it doesn’t stop.
It runs, even in the quietest places,
even when everything around me is still.
And when the sun slips away,
when the earth gently leans into the night,
I wonder—
do I ever cross your mind
the way you quietly take over mine?
They say, “If he wanted to, he would.”
Such simple words,
yet they echo louder than they should.
What does that make this?
A hesitation? A silence? A truth I’m avoiding?
So now I’m left here, asking the stars—
was this just a wrong turn I took alone,
or is this the universe
softly, secretly,
working its strange kind of magic?
**The Unsent Letter**
I wrote this with you quietly blooming in my thoughts—
the way your smile lingers like morning light,
the gentle rhythm of your hand as you wave,
small moments that turn ordinary days into color.
You arrive like sunlight through my cloudy hours,
soft, steady, undeniable—
and somehow, everything dull fades away.
In your eyes, I find a glimpse of something rare,
a reminder that life can be beautiful
even in silence—
even when no words dare to cross between us.
Because somehow, we understand.
Not in sentences,
but in the quiet spaces where feelings speak louder.
Still, my heart whispers a truth I try to ignore—
that this may not last forever.
That we are only drifting
through a space undefined, unnamed,
held together by a moment we cannot hold.
If I could be brave,
I would tell you this:
thank you for making my days softer,
for painting them just a little brighter.
But my pride trembles,
and my heart hesitates—
wondering if it has chosen the right place to belong.
So I stay here,
caught between hope and fear,
too afraid to reach for something
that might one day break me.
Sejernih air wudhu yang membasuh dan selembut embun dipagi menyapa hari. Kau hadir bagai mentari, memberi sinar di gelapnya hari 🌞
Untukmu yang berpulang ke pangkuan-Nya
Seharusnya hari ini 82 tahun kau ada. Membagi tawa dan duka, bercengkerama dengan mesra seperti biasa.
Seharusnya hari ini kau sesap teh manis di pagi hari. Duduk dengan tenang menikmati hangatnya sinar mentari.
Seharusnya hari ini kau bersuara lantang, memanggil kami dengan riang. Menceritakan pengalaman berulang, bagaimana hidup diperjuangkan.
Seharusnya hari ini kau bertanya, bagaimana hariku. Ratusan hari berlalu namun tak lagi kudengar tentangmu. Rasanya baru kemarin, kau pulang dan tak pernah kembali datang.
Seharusnya hari ini kuucapkan selamat, ditaburi segala doa untuk kesehatan dan kebaikan, keselamatn dunia dan akhirat. Jika menatapmu adalah dunia, maka berdoa adalah untaian rindu dan harap di pangkuan-Nya
*to my dearest Bapak, wish you happily forever ever 💐
Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu
Mengenangmu dalam diam. Setiap langkah adalah kamu. Senyummu, tuturmu sangat melekat di kepalaku. Kemana akan kubawa kenangan? Sampai kapan?
Tanyaku pun tak mereda, tak juga bisa kuterka. Apakah hadirmu adalah kutukan? Membawa pasung jiwa berkelana
Kamu yang jauh dikenang, tapi melekat di kening. Berputar tanpa henti bagai cakram bergerigi. Mengolah rasa bak rembulan yang didamba.
Kamu yang berisik dikepala, tapi jauh dipandang mata. Hadirmu antara ada dan tiada buat hati jadi merana. Andai bulan bisa kudekap, kiranya engkau datang mendekat.
Jenuh, jenuh aku menunggu, kepastian yang terasa semu. Senyummu candu, tapi layu ditelan waktu. Adakah jiwa yang jadi tandu? Membawaku sampai padamu.
Malam jadi terang, siang pun padam tanpa alasan. Engkau yang dulu riang dikenang, sekarang hilang bertemu pandang. Jika 1000 tahun terasa lama, bawalah aku ikut bersama.
Tidak ada kesulitan yang abadi. Satu urusan selesai, akan ada urusan lainnya, tugas manusia adalah berserah dan berharap pada Yang Maha Kuasa. Insya Allah, Allah mudahkan. Aamiin
Pada suatu masa, kita sempat merasa hampa. Tidak tahu apa yang kita lakukan ini apakah jalan-Nya atau labirin fana. Kadang kita terjeda, mencoba menerka tentang arti dari dunia. Berjalan, berlari bahkan berhenti dalam satu titik dimensi tanpa muara.
Kita bertanya, sampai kapan pencarian ini bisa diterka? Sungguh tak sanggup hati ini menjawab tanya. Tawa yang bergema tangis yang menderu dan diam tanpa suara. Jika memulai begitu mudah, kenapa akhir belum bisa diraih ?
Aku, menunggu, termangu untuk memulai tentang arti siapa kita.
Feeding my soul
Akhir-akhir ini sering merasa jengkel dan ingin marah. Kadang hanya karena hal sepele. Parahnya, kadang tanpa alasan atau mengingat kembali yang telah terlewati. Sungguh keterlaluan.
Harusnya aku bisa menahannya. Tapi malah meluapkannya hanya karena emosi semata. Atau bisikan setan yang tak mampu kutahan? Aku mencoba berpikir jernih, mengurai semua perlahan. Tapi kadang hati tak berkompromi, terlalu banyak rasa yang jadi penghalang.
Kali ini bukan karena sok alim. Justru karena jauh dari itu, saatnya tombol reset itu kutekan lagi. Mengobati semua luka dan membasuh seluruh prasangka. It's time to feed my soul for a better me.
Selain rawon, sop brenebon adalah signature dish Ibu yang sangat istimewa ❤️
Hari Raya Bersama Ibu
Menuju 2 tahun merayakan hari raya tanpa Bapak. Sekarang hanya tinggal Ibu, yang selalu kudoakan kesehatannya dan ku usahakan kebahagiannya. Ibu yang selalu repot kalau dapat kabar aku akan pulang. Bukan aku yang minta, tapi nalurinya. Otomatis "bekerja" demi anak yang tidak setiap hari bisa didekapnya.
Makin kesini, ada saja berita terkait kesehatan ibu. Kalau dihitung-hitung sudah hampir 5 kali lebaran aku selalu menjadi 'head chef' dirumah. Meskipun begitu, ibu selalu menawarkan bantuan. Sekedar mencuci sayuran atau menyiapkan bahan yang dibutuhkan. Dengan seksama kuperhatikan gerakannya mulai melambat. Tak selincah dulu.
Kadang aku tidak sabar, menunggu ibu menyiapkan bahan yang dibutuhkan. Tak jarang, membuat sedikit perselisihan. Menyesal sudah pasti karena hal sepele yang harusnya bisa kuselesaikan sendiri.
Dan aku mulai tersadar, dalam perenunganku bahwa terlalu banyak menuntut. Aku belum siap, bahwa ibu semakin menua. Fisiknya renta, geraknya lama dan memori yang seadanya. Rasanya setiap pulang, ibuku semakin tua. Gurat-gurat bijaknya bisa bercerita tanpa ku minta.
Bu, kalau waktu bisa dijeda aku ingin ibuku selalu dalam keadaan prima. Kadang aku takut jika ibuku semakin tua, karena banyak hal yang masih ingin kubagi bersama.