aku bertemu dengan dia, pertama kali - aku masih sangat ingat, saat itu malam sudah, aku berjalan dari luar menuju sebuah restoran cepat saji. dari pintu kaca saat ku akan masuk, aku sudah bisa lihat dia. aku tak kenal siapa dia, begitu juga dia. tapi, malam itu entah mengapa tatapan kita terus saling beradu. aku sempat bingung, apa dia seseorang yang aku kenal tapi aku sudah lupa. ah ya sudahlah pikirku saat itu.. aku terus berjalan ke kasir, hanya memesan ice cream dan kopi hitam sebagai teman merokokku malam itu. aku memang sedang tak ingin makan berat, tapi ingin numpang merokok sebentar, hanya saja tak enak jika tiba-tiba ku duduk tanpa memesan sesuatu.
sambil menunggu pesanan, ku berdiri di dekat kasir, dia masih melihatku, aku mulai tak nyaman saat itu. aku sangat ingat jika aku mulai memasang wajah jutekku. memasang wajah jutek tapi ku masih curi-curi pandang ke arah dia.
Pesananku akhirnya datang, aku langsung bergegas menuju smoking area, mengambil meja yang agak jauh dari jangkauan pandang dirinya. Ahh sambil menyeruput kopi panasku, dan menghisap rokokku, rasanya lega menghindari tatapan tajam dari seorang laki-laki yang aku tidak kenal.
Namun tiba-tiba, ada seseorang laki laki menghampiriku, berdiri di depan mejaku , ya itu dia, laki-laki yang sejak awal ku datang sudah saling curi-curi pandang denganku.
“Hai, Bangku ini kosong ga ya? atau ada orang?” Tanya dia dengan sangat percaya diri
“Eh hai, hmm kosong kok.”
“Boleh duduk disini?”
“hmm ya silahkan.”
Entah mengapa aku mempersilahkan dia duduk begitu saja di mejaku. sambil mengisap rokokku aku sama sekali tak memulai perbincangan. Dan dia duduk disusul dengan satu teman laki-lakinya. Aku masih diam sambil melihat orang-orang yang hilir mudik.
“Hi, boleh kenalan? Saya Bima.. Kamu?”
dan malam itu akhirnya kita berkenalan, bertukar cerita pedahal baru pertama kali bertemu, dan memang ku akui dia pandai mendengarkan menghadapi aku yang sangat senang bercerita, dia tau caranya merespon, dia tau caranya memperhatikan, ya dia sangat pandai membuat seseorang nyaman pedahal itu adalah kali pertamanya kita bertemu.. Berawal dari situ sepertinya tidak ada yg salah jika kita bertukar nomor..
Singkat cerita, akhirnya kita dekat, saling bertukar cerita lewat chat, atau kadang dia mengajakku ngopi. Dia sangat tau kalau aku pecinta kopi, sering dia mengajakku ke tempat kopi yang menurutnya patut dicoba.
Sampai pada suatu waktu notif instagramku muncul.. Someone was follow me, ku lihat oh ternyata dia, Bima. Seketika aku kaget, muncul rasa heran juga.. Oh ternyata dia sudah memiliki kekasih.. Aku terdiam, ah bodoh juga diriku, sekian lama dekat baru tau kalau ternyata dia sudah memiliki kekasih, terpampang mesra foto mereka berdua di profil instagramnya..
Sempat beberapa waktu aku mulai sedikit mundur, aku tidak ingin merusak hubungan orang lain pikirku saat itu, tapi dia seperti lelaki yang pantang menyerah, atau mungkin lebih tepatnya tidak tahu malu, atau memang dia pada dasarnya memang berengsek.
dan seorang wanita lebih mudah jatuh pada lelaki bangsat alias brengsek.. Laki-laki yang tau bagaimana membuat wanita jatuh hati, sampai akhirnya wanita itu yaitu aku sudah tak peduli jika dia memiliki kekasih..
Banyak hal yang sudah dilalui, pergi ke berbagai tempat kopi, ke Bandung bersama naik busway dan primajasa walaupun pake acara nyasar dulu, ngopi hingga subuh dan saling bertukar cerita.. rasanya nyaman, walaupun aku tau dia sudah ada yang punya..
dan kita semakin dekat, sangat dekat, seperti sepasang kekasih, dia semakin menjauh dengan kekasihnya.. Hingga tiba masanya, dihadapanku dia meninggalkan kekasihnya, ya, di hadapanku.
Saat itu aku terdiam, bingung, dan dia menangis dihadapanku.. aku kaget, seorang lelaki menangis saat memutuskan kekasihnya. atau memang sepertinya dia masih menyayangi kekasihnya? Tiba-tiba saja aku merasa jadi wanita yang jahat, telah merebut kekasih orang lain.. tetapi kenapa dia tega mendekatiku jika dia masih menyayangi kekasihnya, kenapa dia tetap mengejarku disaat aku sudah mulai menjauh.. dan akhirnya aku yang terjebak dalam pelukan dia..
Disaat itu juga, di hari yang sama saat dia memutuskan kekasihnya, dia mengutarakan cintanya kepadaku.. aku terdiam, bingung, aku mulai menyayanginya, tapi salahkah aku jika menerima dia? atau lebih salahkah aku jika tidak menerima dia?
Ya wanita memang bodoh saat jatuh cinta. Malam itu disaat dia memutuskan kekasihnya, disaat itu pula aku resmi menjadi kekasihnya. Aku merasa bersalah tapi ternyata hati dan rasa ini lebih egois..
hari itu 25 Februari 2018 aku resmi menjadi kekasihnya..