"𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐝𝐮𝐥𝐮, 𝐦𝐢𝐞 𝐚𝐲𝐚𝐦 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐞𝐧𝐚𝐤."
— 𝑆𝑒𝑝𝑜𝑟𝑠𝑖 𝑀𝑖𝑒 𝐴𝑦𝑎𝑚 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑀𝑎𝑡𝑖
Mungkin kata-kata di atas adalah hal paling tepat untuk meringkas isi buku ini.
Buku ini menceritakan tentang letihnya menjadi orang dewasa dalam menghadapi hidup di ibu kota. Bangun-kerja-pulang. Gaji numpang mampir. Teman makin sedikit. Depresi akut. Kesepian. Tak dipilih. Selalu menunduk.
Bagi mereka yg selalu bertanya:
- Am I Good Person? - I am replaceable - Nothing special about me - Im tired of always trying - Why I can make people love me - Theres something wrong with me - Im not anyone’s first choice - Its hurt - I want to live
Buku ini wajib kalian baca.
Tidak peduli berapa sering mencoba bertahan, pada akhirnya Ale-- karakter utama di novel ini, tetap ingin menyerah saja. Hidup rasanya tak pernah adil pada orang2 yang terlahir buruk sepertinya.
Namun sebelum mati, Ale memutuskan untuk menikmati seporsi mie ayam lebih dulu. Dan dari situlah, takdir Tuhan bekerja.
Buat mereka2 yg mudah digantikan, yg selalu memilih diam daripada bicara, yg hanya bisa menerima, yg selalu mengalah, yg ingin berhenti tapi tak ingin ibu kecewa, yg menyakiti diri sendiri
Buku ini kubuat khusus untukmu.
Oleh sebab itu, tanpa berlama2 lagi, dengan bangga kupersembahkan:
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
— Novel
— 209 Halaman
— Rp 93.000
📍Location: Sudah tersedia di seluruh Gramedia (ofline/online) terhitung mulai dari 1 Februari 2025











