Anak Bunda Beranjak Dewasa
Hujan baru saja reda ketika terdengar ketukan pelan di pintu kosanku. Aku nyaris tak mendengar di antara suara rintik yang masih menetes dari atap. Pagar besi itu bergetar sedikit, seolah yang mengetuk ragu-ragu. Tapi yang kulihat bukan hanya dia. Wajahnya, sorot matanya, bahkan caranya berdiri membawa sesuatu yang lebih dari sekadar dirinya sendiri. Ia membawa bayangan bundanya.
Saat kubuka, seorang anak laki-laki berdiri di ambang pintu. Tingginya hampir sejajarku, bahunya lebih lebar dari yang kuingat. Tapi matanya… Matanya adalah sesuatu yang sudah pernah kulihat dulu.
"Hai om, ini Ano" katanya, suara beratnya mengisi ruang sempit ini. "Anaknya bunda"
Bukan lagi bocah kecil berseragam SD seperti terakhir kali aku melihatnya. Kini, dia sudah lebih tinggi, lebih tegap, tapi ada sesuatu yang tak berubah: matanya. Aku mengenal sorot itu. Aku pernah melihatnya bertahun-tahun yang lalu, dalam sepasang mata yang dulu menjadi dunia bundanya, mata yang masih hidup di dalam kepalaku meski raganya telah lama pergi.
"Kamu sudah besar," ucapku pelan, masih tak percaya.
Ano tersenyum tipis. "Aku ingin main ke sini, aku ingat pernah ke kosan ini dulu sama bunda."
Aku memberi isyarat agar dia masuk. Kamar kosanku masih sama: ranjang sempit di sudut, meja penuh buku yang tak tersusun rapi, dan poster band tua yang berdengung malas. Tak ada yang berubah, kecuali seseorang yang dulu sering duduk di lantai sambil bercerita tentang mimpi-mimpinya, dia adalaah bundanya.
Ano menatap sekeliling, mungkin mencari sesuatu dari masa lalu yang tersisa. Aku membiarkan dia mengamati, seperti seseorang yang sedang menelusuri jejak di pasir sebelum ombak menghapusnya.
"Maaf om aku baru datang sekarang," katanya. "Dulu bunda gak banyak cerita tentang masa lalunya. Aku cuma tahu ada seseorang yang pernah dekat sama bunda sebelum bunda pergi selamanya."
Aku menghela napas. Ada banyak yang bisa kuceritakan, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Tentang bagaimana bundanya dulu suka mengeluh soal kosanku yang sumpek tapi tetap datang, tentang bagaimana dia menertawakan rencana-rencanaku yang sering berubah, atau tentang bagaimana dia akhirnya memilih jalan lain yang menjauh dariku.
Bagaimana aku bisa menjelaskan bahwa bundanya bukan sekadar seseorang yang pernah "dekat"? Bahwa aku merindukannya dengan cara yang masih tinggal di dadaku, bahkan setelah dunia menghapusnya dari hidupku? Bahwa, bertahun-tahun setelah kepergiannya, setiap hujan turun aku masih merasa seolah dia akan datang mengetuk pintu ini, membawa suara dan senyumnya yang lembut?
"Apa yang mau kamu tahu?" tanyaku.
Ano menatapku dengan mata yang penuh pertanyaan; "Bunda pernah bahagia, gak?"
Aku terdiam. Ingin mengatakan "ya" tanpa ragu, ingin menceritakan tawa-tawa kecil bundanya saat duduk di lantai kosan ini sambil menyeruput teh. Tapi aku juga tahu, kebahagiaan sering kali bukan sesuatu yang bisa kita genggam erat-erat.
"Bundamu selalu mencari kebahagiaannya," jawabku akhirnya.
"Kadang dia menemukannya, kadang tidak. Tapi dia selalu berusaha."
Ano mengangguk pelan, seperti menerima sesuatu yang selama ini ia cari.
Di luar, langit beranjak temaram. Aku menatap anak lelaki di depanku, sebuah jejak yang tak kusangka akan kembali, membawa kenangan yang sempat kupikir sudah terkubur bersama waktu.
Dia tidak tahu bahwa setiap sudut kamar ini masih menyimpan bayang-bayang bundanya, bahwa di malam-malam sunyi aku masih terjaga, mendengar gema suara yang tak lagi ada. Dia tidak tahu bahwa nama bundanya masih kuucapkan dalam doa yang tak pernah berubah, bahwa kepergiannya bukan sekadar kehilangan, tapi luka yang mengendap di tempat terdalam, di ruang yang tak bisa dijangkau siapa pun.
Dia hanya duduk di sana, di kasur dekat jendela, menatap dunia dengan ketenangan seorang anak yang hanya mengenal separuh kisah. Tidak tahu bahwa di hadapannya duduk seseorang yang masih berdiri di tepi senja yang sama, sendirian, memanggil nama yang telah lama larut bersama angin.
Dia tidak tahu. Dan mungkin, lebih baik begitu. Sebab jika dia tahu, dia akan melihat betapa kosongnya aku sejak bundanya pergi.